
Jangan gunakan mulutmu untuk mencibir aib seseorang, sebab setiap engkau punya aib dan semua orang punya mulut. Namun bila matamu melihat suatu aib, maka biarkan saja! Lalu katakanlah bahwa orang lain punya mata
Imam Assyafi'i
🌹
Dari balik jendela kamar Ita dan Rehan, mulai terdengar suara kicauan burung yang memberi ciri khas waktu shubuh, Adzan pun juga mulai berkumandang, terdengar dengan indah dari telinga Rehan Ita, suara yang selalu masuk dengan nikmat ke dalam sanubari.
Ita bangun dari duduknya, ia mulai berjalan ke arah almari tempat pakaian Ita maupun Rehan, Ita mengambilkan baju koko untuk Rehan sholat shubuh di masjid, Ita juga.
"Mau pakai koko warna apa kak?" Tanya Ita sembari fokus menatap deretan baju yang tertata rapi di almari.
"Apa aja, yang penting yang lengan panjang ya, kakak lagi pingin pakai yang lengan panjang ya" jawab Rehan sembari berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
"Oke, euumm" ita mulai membuka satu persatu baju koko panjang milik Rehan, pilihan Ita jatuh di baju koko lengan panjang dengan motif di sekujur jalan kancing baju, koko berwarna putih bersih.
Selama apapun Ita memilih pakaian, entah kenapa pada akhirnya pilihannya jatuh pada warna putih.
Ita kemudian menyiapkan sajadah, koko, sarung juga peci di atas kasur, Ita kebawah sebentar mengambil tasnya yang ia tinggal di bawah.
Rehan selesai bersih-bersih dan wudhlu ia keluar dari kamar mandi, namun kali ini ia tak melihat Ita, namun semua perlengkapan sholat Rehan sudah Ita siapkan.
rehan segera memakai pakaian yang sudah disiapkan Ita, saat semua sudah terpakai rapi di badan Rehan sampai ketampanan Rehan bertambah 100 persen. Tapi ia melupakan sesuatu, ia belum memakai parfumenya.
"Aishh dimana ya" gumam Rehan sembari membuka laci atas bawah, namun tak juga ia dapatkan parfume miliknya yang selalu ia pakai saat berjamaah.
Entah sudah beberapa kali Rehan melakukanya, namun sedari tadi Rehan hanya membuka laci atas dan bawah, Rehan dibuat frustasi.
Ita yang sudah mengambil tasnya, iapun kembali lagi ke kamar, saat ia masuk, ia melihat suaminya yang belum berangkat jamaah, ia malah jongkok dideoan laci sembari membuka, mengacak-acak, dan kemudian menutup lagi lacinya.
"Haiiiihhh..." Ita menggelengkan kepalanya, mana bisa ia mendapatkan barang ia cari jika ia hanya memeriksa satu tempat saja?.
"Cari apa kak?" Tanya Ita mendekat.
"Parfume kakak mana ya, kakak yakin taruh disini??" Ujarnya sembari mengulang pekerjannya.
"Sudah dicari memang??" Tanya Ita menyelidik.
"Karna aku taruhnya disini jadi nggak mungkin kalau ada di tempat lain" jawab Rehan.
Ita mengambil sesuatu di atas nakas, ia mengambil parfume miliknya, "pakai ini aja" ita menyodorkan parfume miliknya yang tidak pernah ia gunakan.
Rehan menatap parfume dalam genggaman Ita, "ah aku tidak mau parfume cewe" ujar Rehan yang kemudian fokus mencari parfumnya lagi.
Ita menghela napas panjang, tanpa persetujuan Rehan, Ita langsung saja menyemprotkan minyak wanginya ke tubuh Rehan.
Tentu saja itu membuat Rehan kaget, "yaahh... Kan aku udah bilang ngga mau pakai parfume cewe" rengak Rehan saat Ita sudah yerlanjut menyemprotkan parfumenya.
Ita terkekeh geli melihat ekspresi imut Rehan, "sudah sana cepat berangkat, keburu telat lho."
"Aiihh..." Rehan menciumi kokonya yang telah disemprot parfume oleh Ita.
"Mau nyari sampai kapan?? Kalau parfumnya ada di Bandung??" Ita terkekh geli saat mengucapkan hal itu.
"Apa?" Sahut Rehan.
"Bukannya kakak sendiri yang ngasih parfume itu pas dokter Hammam mau ke Bandung??" Ujar Ita santai sembari memainkan parfume miliknya.
"Hish" gerutu Rehan, kenapa ita tidak mengingatkannya dari tadi!?. Ia menyipitkan tatapanyan ke arah Ita, tatapan sipit Rehan mungkin terasa membunuh di mata orang lain, namun bagi Ita, itu adalah tatapan yang sexi.
Ita tak bisa menahan tawanya lagi, tawanyapun akhirnya membunch "jhahahah."
Rehan mendekati Ita dengan sangat kaku, jarak mereka sekitar satu langkah. "Cepat semprotkan" titah Rehan dengan ekspresi kaku, tak ingin bersikap manis saat meminta karna tak ingin imagenya jatuh wkwkkw.
"Iyaaaaa..." Ita menahan senyumnya sembari menyemprotkan parfumnya ke badan Rehan.
"Dah" lanjut Ita.
"Yasudah, kakak berangkat dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" jawab Ita tersenyum lebar menatap kepergian suaminya dari balik pintu.
Baru juga Rehan keluar dari kamar dan masih meninggalkan aroma parfume Ita, tiba-tiba saja Ita lembali merasa mual, dan lagi-lagi ia ingin sekali mutah.
Ita segera berlari menuju kamar mandi, mengeluarkan apapun yang bisa dikeluarkan, namun apa yang terjadi, tak ada sesuatupun yang keluar kecuali air, tapi kenapa rasanya mual dari kemarin??.
Ita juga merasa badannya kini mudah lelah, apapun yang ia kerjakan rasanya berat karna sedikit-sedikit Ita merasa mual dan pusing, badannyapun lemas.
Ita kemudian keluar dari kamar mandi saat sudah berwudlu, ia akan melaksanakan sholat Shubuh terlebih dahulu kemudian memasak, karna hari ini ia dan Rehan akan seharian di Rumah.
Setelah sholat shubuh dan berdzikitlr, baru saja ita melepas mukenahnya dan berniat akan melipat mukenahnya, tiba-tiba lagi dan lagi, ia ingin utah, Ita segera berlari ke kamar mandi, dan seperti biasa, hanya air.
Setelah perutnya terasa aman, Itapun keluar dari kamar mandi, ia menutup pintu mlkamar mandi dengan lemas, apa iya ini masuk angin?? Batin Ita mulai bertanya-tanya.
Saat ita berjalan begitu lemas menuju kasur, kaki Ita terhenti saat ia berhenti tepat di depan nakas yang berada di sampng kamar mandi.
Ada yang mengganjal sampai Ita menghentikan kakinya disini, ita merasa sudah beberapa bulan ini ia tidak pernah membuka nakas itu. Padahal sudah dapat dipastikan ia kan membukanya setiap bulan, karna apa, karna itu tempat Uta menyimpan barang untuk tamu bulanannya.
Ita mulai menghitung-hitung, jari jemarinya terus menghitung, dan baru Ita sadari, kalau Ita suda telat beberapa bulan ini.
"Hah" Ita membulatkan matanya lebar, tangannya juga tefleks menutup mulutnya yang menganga karna tidak percaya dengn suatu kemungkinan.
"Apa??.." ita kembali menutup mulutnya, ia masih tidak percaya dengan k mungkinan ini, karna ini adalah suatu kebahagiaan yang besar.
Ita kemudian segera mengambil alat tes kehamilan yang pernah ia beli satu tahun yang lalu, Ita segera mengecek tentang kemungkinan tersebut, Ita tak ingin banyak berharap karna tahun kemarin, saat Ita juga telat beberapa bulan dan Ita mengeceknya namun hasilnya negatif, jadi kali ini ita tak ingin banyak berharap.
"Assalamualaikum??" Salam Rehan saat masuk kamar, tak ada Ita yang manjawan salamnya, kemana dia?.
"Ta?? Tata?? Dimana??" Panggil Rehan sembari menaruh sajadahnya di kasur.
Ita kemudian keluar dari kamar mandi, Rehan melihat wajah Ita yang begitu lesu, "heii ada apa lagi ini??" Tanya Rehan sembari mengelus rambut Ita yang terurai panjang.
Ita tak menjawab pertanyaan Rehan, ia masih saja diam, "kenapa?? Kamu sakit?? Cerita dong" pinta Rehan sembari menangkupkn kedua tangannya ke wajah Ita.
Waktu itu menang sedikit membuat Rehan kecewa, namun banyak membuat Ita kecewa sampai tidak makan beberapa hari, bahkan ia merasa tidak pantas sebagai seorang istri.
Untuk Itu Rehan tak ingin kejadian itu terulang, kalau memang belum diberi amanah oleh Allah, Rehan bisa menerima dengan ikhlas legowo
"Sudahlah" Rehan menampis dengan halus barang yang ta sodorkan.
Dan Ita kembali menyodorkannya, secara tersirat, Ita memaksa Rehan untuk mengetahui hasilnya.
Akhirnya Rehanpun mengambil barang yang Ita sodorkan, Rehan mengerjap sekali lagi, memastikan apa yang ia lihat. Dua garis biru, Rehan masih mengerjap dan mengusap matanya, tidak ingin ia berhalusinasi atau matanya yang salah lihat.
Ita mencubit pipi Rehan, "hei.. ini bukan mimpi" ucap Ita dengan semangat, saat meliht wajah Rehan yng masih tidak percaya
Rehan masih terpaku dengan apa yang ia lihat, Rehan tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini,
"Ini??" Rehan menatap Ita, mata Rehan membulat sempurna penuh kebahagiaan.
"Ha'aa" ita Membalas Rehan dengan anggukan pasti, kedua tangan Ita ia gantungkan di leher bagian belakang Rehan sembari tersenyum lebar, kebahagian di hati Ita rasanya membuncah saat ia memberitahu Rehan.
Rehan langsung mengangkat tubuh Ita, tubuh Ita terasa ringan dalam genggaman Rehan. Rehan memutar tubuhnya bersama Ita, suara tawa mereka terus-terusan bersautan tiada henti.
"Alhamdulillah" kalimat syukur juga terus Ita dan Rehan ucapkan, begitu bahagianya Rehan dan Ita kali ini, sesuatu yang sudah ia tunggu sejak dulu akhirnya Allah kabulkan.
"Ahhahah sudah kak turunin Ita" ujar Ita sembari menepuk-neouk punggung Rehan, Ita masih dalam pelukan Rehan yang terus memutar-mutar dirinya, Rehan menjatuhkan tubuh Ita di atas ranjang.
Begitupula Rehan ikut menjatuhkan dirinya di atas tubuh Ita, mereka tertawa bersama, Ita mulai menyentuh wajah Rehan, jarinya menyentuh sepanjang hidung Rehan.
"Bahkan aku tidak ingin hari ini cepat beralalu" ujar Rehan lembut , napas Rehan bahkan menyapu wajah mulus Ita.
Ita tersenyum menatap lekat wajah Rehan, "aku juga" jawab Ita.
Rehan kemudian membalikkan tubuhnya, kini ia berbaring di sebelah Ita. Menatap langit-langit atap, yang terlihat biasa, namun untuk hari ini, sesuatu yang biasa pun terlihat indah dimata mereka berdua.
"Hari ini, Ita harus terus sama kakak, ngga boleh jauh-jauh dari kakak" ujar Rehan.
"Bukannya harusnya Ita yang ngomong kayak gitu" Ita terkekeh geli mendengar ucapan Rehan.
"Hari ini kita ngabisin waktu di rumah aja, ngga usah kemana-mana, lagipula kakak ngga mau kamu kecapean, hari in kamu istirahat aja" titah Rehan, kali ini titahnya tidak boleh diganggu gugat.
"Tapi Ita kan pingin nonton film" rengek Ita, tangan Ita ia letakkan di atas dada bidang Rehan.
"Nggak."
"Yaaah..." Ita mengalah.
"Oh iya" Rehan teringat sesuatu, ia segera bangkit dari rebahannya, Rehan meraih tangan Ita, ita pun terduduk, sedangkan Rehan sudah berdiri di depan Ita.
Tanpa berkata apa-apa, Rehan dengan begitu saja menggendong Ita, menggendong Ita bukanlah apa-apa bagi tubuh kekar Rehan.
"Kak ngapain" pekik Ita saat Rehan dengan tiba-tiba menggendongnya.
Rehan hanya terkekeh sembari terus menggendong Ita, Rehan dengan tegap terus saja berjalan meskipun Ita terus meminta turun.
Rehan menuruni tangga, lalu keluar dari Rumah, Rehan berjalan menuju garasi mobil, Rehan membuka pintu mobilnya dan memasukkan Ita ke mobil.
"Hishh" gerutu Ita saat Rehan sudah berada di jok kemudi. Ita melirik Rehan dengan tatapan membunuh.
Rehan justru terkekeh melihat bibir Ita yang sudah maju beberapa senti, wajah Rehan benar-benar tanpa menunjukkan rasa bersalah.
Ita diam saja selama Rehan mengemudikan mobilnya, sepertinya ia marah dengan sikap Rehan tadi.
"Kamu ngga mau tanya mau kemana?" Tanya Rehan membuka obrolan.
"..." Diam, Ita tak menjawab pertanyaan Rehan.
"Yakin ngga penasaran kita mau kemana??" Tanya Rehan lagi memancing Ita agar bicara.
"..." Tak ada jawaban lagi, biasanya kalau Ita sudah diam saja, Rehan tau apa yang harus ia lakukan.
Rehan kemudian ikut diam, suasana mobil benar-benar senyap, tak ada yang mengoceh di dalam mobil.
Rehan sampai di Angkasa hospital center, tempat mereka bekerja. Rehan turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Ita.
Ita hanya menurut, ia turun dari mobil. Rehan berniat akan menggandeng tangan Ita, dan yang membuat Rehan, Ita justru menepis genggaman Rehan.
Rehan terdiam, karna Ita menolak genggamannya, Rehan kemudian jalan terlebih dahulu, dan Ita mulai mengikuti Rehan dari belakang.
Baru satu langkah Ita berjalan, Rehan tiba-tiba berbalik arah dan langsung memeluk erat tubuh mungil Ita, "kakak tau kok kamu lagi sensitif, maafin kakak ya.." rehan membelai lembut kepala Ita.
"Kakak juga tau ini bukan keinginan kamu untuk bersikap seperti ini sama kakak, kakak ngerti" lanjut Rehan, akhir-akhir ini Ita pernah bilang kalau ia jadi lebih sensitif, dan Rehan mengerti sekarang, karna Ita sedang hamil.
Rehan mengurai pelukannya, menepuk pelan pucuk kepala Ita sembari tersenyum lebar. Rehan kemudian melanjutkan jalannya, meninggalkan Ita yang masih diam belum juga berjalan mengikuti Rehan.
"Buuuukkk!!" suara tubuh Ita yang tiba-tiba memeluk Rehan dari belakang.
"Maaf" ujar Ita lembut dalam pelukannya. Rehan tak bisa menahan senyumnya. Ini pertama kalinya Ita memeluk Rehan di tempat yang ramai orang bisa melihat.
"Iyaa... Tata nggak salah kok."
Ita mengurai pelukannya dari Rehan, tangan Ita mulai meraih tangan Rehan, Ita menggenggam erat tangan Rehan.
Ita menatap Rehan yang tingginya kalah jauh darinya. Rehan yang terkejut saat Ita menggenggam tangannya, sekita menatap Ita.
Mereka berdua tersenyum lebar dengan bersamaan, "ayo" ujar Rehan sembari mengeratkan genggamannya, Ita mengangguk pasti, mereka berdua berjalan bersama.
"Apa ada panggilan darurat kak?" Tanya Ita penasaran saat Rehan mengajak Ita ke Rumah Sakit.
"Nggak, kakak mau kita ke dokter kandungan, kakak pingin tau umur juga kedaan janin kita" ujar Rehan sembari terus berjalan.
Janin kita? Batin Ita dalan hati, rasanya senang sekali mendengar kata 'janin kita' itu seperti Ita tidak sedang mengandung sendirian, ia ada Rehan yang akan selalu ada untuk Ita.
Ita tak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang mulai merah merona karna malu.