
Nasehat hikmah Umar bin khattab :
"Tinggalkanlah hal-hal yang menyakitimu, bertemanlah denagn orang Yang shalih walaupun engkau akna sulit mendapatkannya, dan bermusyawarah lah tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah."
( Hilyatul Auliya no. 8996 )
🌹
"Permisi dokter" ucap petugas yag mengantarkan makanan untuk ita.
"Ah iya," ita menoleh ke arahnya, "
panggil sja sperti pasien-pasien biasanya" ujar Ita.
Petugas tersebut menaruh makann di atas nakas ita, "mana bisa saya asal panggil dolter teladan di runah sakit ini" ujar wanita yang mengantarkan makanan untuk ita.
"Yaah, kamu ini" ujar ita.
"Eumm... Suster," panggil Ita.
"Ya??."
"Tidak ada yang tahu kan kalau saya dirawat disini??" Tanya Ita memastikan karna rehan sendiri yang meninta satu orang tetap yang terus mengantarkan makanan untuk ita.
"Tenang saja aman doketr" ujar Wanita tersebut sembari mengacungkan jempolnya pertanda semua baik-baik saja.
"Bagus" sahut ita juga mengacungkan jempolnya.
"Segera dimakan ya dokter" pesn wanita tersebut sebelum ia keluar.
Waktu berjalan dengan cepat, seakan baru saja tadi pagi Rehan pergi kini waktu sudah menunjukan jam 2 siang, dan Rehan tak kunjung datang kepada ita. Makanan yang sudah diantar suster 2 jam lalau juga belum ita makan, ita menunghu kalau Rehan datang untuk menyuapi Ita, namun sepetinya Rehan tidak akan datang dan Ita faham akan posisi Rehan, lagipula Ita sendiri yang bilang kalau jangan memksakan datang kalau memang tidak bisa.
Ita mulai meraih makan yang berada di atas nakas, sedikit demi sedikit ita mulai memakan. Makanan yang sudah dari tadi diantarkan.
Setelah itu ita melanjutkan dengan tidur, biasanya Ita akan lebih senang berjalan-jalan mengelilingi Rumah Sakit tapi kali ini ita lebih senang menunggu kedatangan Rehan kemudian menghabiskan waktu bersama.
Baru saja ita berniat akan tidur, pintu ruangannya diketuk, "siapa yang masuk dengan mengetuk pintu?? Apa ada orang lain yang mengtahui kalah ita dirawat disini??" Batin ita
Tok tok.. tok . Pintu terus saja diketuk, "wah?? Atau jangan-jangan kak rehan memberitahu ummi lagi??" Ita membulatkan matanya sempurna, bagaiman bisa rehsn memberitahu ummi, bahkan ita tidak ingin membuat ummi khawatir.
Tok...tok.. ketuknya lagi, ita terus saja melamun smapai lupa memepersilhkan yang diluar untuk masuk,
"masuk" ujar Ita memepersilahkan.
"Assalamualaikum" sapa laki-laki yang datang ke ruangan ita.
"Huhhh" ita menghela napas lega saat melihat yang datang buaknlah umminya.
"Wa'alaikumussalam" Ita menjawab salam dari hammam.
"Ita..." Sapa hamam dengan semangatnya.
"Dokter..." Ita juga menyambut kedatangan hammam dengan semangat.
"Bagaimana kedaan kamu sekarang??" Tanya Hammam pada ita.
"Bagaimana dokter bisa tahu kalau saya ada disini??" Tanya ita balik.
"Hei.. bagiamna bisa saya tidak tau sedangkan suamimu itu adalah belahan hatiku" ucap hammam dengan gaya lawaknya itu.
"diih dokter, istrinya ada disini tauukk" jawab ita menanggapi guyonan Hammam.
"Ta... Serius ini gimana keadaan kamu??" Tanya hammam lagi.
"Iya ngga apa-apa kok dokter, makasih ya sudah khawatirin ita," ujar Ita.
"Tau nggak, aku tuh sampe kaget banget denger kamu sakit, apalagi pas Rehan bilang MRI yang dia tunjukin itu milik kmau" ujar Hammam.
"Iya maaf ya dokter, udah buat khawatir, makanya ita ngga pingin semua tau kalau ita sakit, ita ya gini ngga pingin buat mereka khawatir" ujar Hammam.
"Ya sih ita, tapi tetep kamu juga butuh doa mereka semua biar kamu bisa cepet sembuh" ujar Hamam.
"Sudah kok, sebelum ita ambil cuti, ita pamitan sama semua orang dan eminta doanya ya keculai pamitan sama dokter hammam sama kak Rehan" ujar Ita.
"Yasudah kmau istirahat ya, oiya jangan lupa, Rehan tadi bilang kalau operasi kamu mungkin akan di jadwalkan 3 hari lagi" ujar Hamam memberi tahu ita jadwal operasinya.
"Memangnya kak rehan kemana sekarang??" Tanya ita.
"Ia masih ada pasien rawat jalan, kamu tau sendiri kan kalau pasiennya itu banyak banget" ujar Hamamm.
Ita mengangguk mengerti ucapan Hamamnm, tak heran karna Rahan adalah dokter paling sibuk di rumah sakit ini, "oya jangan lupa kamu harus puasa jangan makan terus biar cepet bisa dioperasi," unar hammam.
"Iya dokter siap, pasti kok."
"Ya jaga-jaga aja kalau kamu sampe lupa kan parah, tau sendiri kamu makannya super banyak" sindir Hammam.
"Dih apaan."
"Oiya dokter hamam ada yang mau ita tanya."
"Iya apa?."
Ita mulai merubah raut wajahnya menjadi serius,
"Kalau misal ita operasi apa kemungkinan besar ita akan buta??" Tanya ita.
"Ta, jangan pikir yang buruk dulu, untuk itulah kita harus cepat mengoperasi agar tumornya tidak berkembang sampai menekan saraf optik, jadi kamu harus tetap posilitif thinking, semua akan baik-baik saja,"
"Aku tau apa yang sedang kamu khawatirkan, kamu bakal tetap bisa jadi dokter saat kamu sudah pulih total, pemulihannya kan cepat kalau kamu percaya kamu bisa melewati ini kamu terus berpositif thinking" ujar Hamamm memberikan ungkapan positif untuk ita.
"Yakin kamu pasti bisa sembuh total" Ujar Rehan menguatkan ita.
Setelah bercakap cakap dengan ita, Hammam kemudian pergi dari ruangan ita saat mendapat panggilan darurat dari pasien.
Seharian ita terus memikirkan nasibnya kalau sampai ia selesai operasi, apa ia bisa melewati masa pemulihannya hingga ia bisa sembuh total??semua kana terasa berat bagi ita.
🌹
Pikiran ita terus saja melayang jauh ke hari-hari yang belum datang, ia memikirkannya sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Assalamualaikum??" Salam Rehan yang langsung masuk ke ruangan ita.
Ita langsung menoleh ke arah datangnya suara, benar saja "wa'alaikumussalam" jawab ita.
Rehan menatap wajah sayu ita yang terlihat kosong menatap ke arah jendela, rehan mendekati ita yang sedang melamun menatap ke arah jendela.
Ita kemudian menoleh ke arah rehan yang kini duduk disebelahnya, ita terdiam ia hanya melihat Rehan sekilas.
"Apa yang mengganggu pikiranmu??" Rehan menyenderkan dagunya di pundak ita.
"Ita hanya mengkhawatirkan hari-hari yang belum terjadi" ujar Ita lirih.
Kini rehan menangkap apa yang sedang ita khawatirkan, Rehan merangkul tubuh Ita dari belakang, merangkul tubuh mungil ita.
"Bukankah kamu sudah mempercayakannya sama kakak?? Jadi kakak mohon kamu jangan seperti itu" ujar Rehan.
"Kakak akan lakukan yang terbaik untuk kamu, kita sebagai manusia harus berikhtiar, berdoa dan jangan lupa untuk berbaik sangka dengan apa yang sudah Allah rencanakan untuk kita" ujar Rehan lembut tepat di telinga Ita.
Ita kini menolehkan wajahnya ke arah Rehan, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti, rehan bisa merasakan deru napas ita.
"ita tajut kalau ita tidak bisa pulih lagi seperti biasanya" Ita menangis dipelukan Rehan, Rehan mengerti betul apa yang Ita rasakan.
Rehan hanya bisa membelai lembut kepala Ita, sembari menguatkannya, "kakak janji akan lakukan yang terbaik untuk ita.
"kakak juga yakin kalau pasca operasi, setelah semua pemulihan berhasil, kamu pasti bisa sembuh kembali normal dan tetap bisa jadi dokter hebat" peluk Rehan semakin kuat.
tak perlu banyak yang harus Rehan lakukan, ucapan Rehan yang menguatkan Ita sudah cukup untuk membuat Ita tenang.
perlahan Ita mengurai pelukan Rehan, mengusap air mata yang sedari tadi menetes dari pelupuknya.
ita menatap lekat ke bola mata Rehan, Ita menghirup napas panjang, menguatkan dirinya sebelum ia mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
setelah merasa tenang, perlahan Ita mulai melepas jilbabnya, Rehan hanya menatap ita dengan tatapan tak mengerti tanpa berbicara sepatah katapun.
Ita mengurai rambut yang ia ikat, kilau hitam rambut Ita, juga wangi shampo mawar Ita langsung tercium oleh Rehan, Rambut yang selalu Ita jaga, dan hanya Rehan yang boleh melihat rambut indah Ita.
Ita menyisir rambut hitam panjangnya, dengan segera Rehan mengambil alih kegiatan Ita, Rehan mengambil alih sisir, Ita kemudian duduk berbalik arah menjadi membelakangi Rehan, ia menatap sendu jendela luar. kini Rehan sendiri yang menyisir Rambut panjang nan lebat Ita.
"Cantik" ujar Rehan lirik sembari terus menyisir rambut Ita.
Ita hanya menatap sendu ke arah langit malam, Ita menghirup napas panjang "apa kakak suka rambut Ita??" Tanya Ita tanpa merubah sesiktpin posisinya.
Rehan tertawa kecil, "apapun yang ada pada dirimu, kakak suka" ujar Rehan jujur dan tulus dari hati.
"Meskipun penampilan Ita tak lagi sama dengan wanita lain, apa kakak akan tetap suka?" Tanya Ita lagi.
"Bagi kakak, kamu tidak pernah sama dengan wanita lain, kamu adalah tata kesayangan kakak yang berbeda dari wanita lainnya yang bisa buat kakak jatuh hati setiap harinya" Rehan masih meneruskan kegiatan menyisir rambut panjang Ita.
Ita meraih tangan Rehan yang sedang menyisir sehelai rambut Ita, Ita membalikkan badannya menghadap Rehan, Ita tetap membiarkan Rehan memegang sehelai rambut Ita, begitu juga tangan ita yang memegang tangan Rehan yang tengah menggenggam sehelai rambut panjang Ita.
Tangan Kanan ita mulai meraih barang di atas nakas, ia meraih gunting di atas nakas, Ita mengangkat tangan Rehan yang tengan menggenggam sehelai rambut Ita sampai berada tepat di depan dada Rehan juga Ita, tanpa Ragu Ita mengarahkan gunting tersebut ke rambutnya, dan memotong sehelai rambut yang Rehan pegang.
Rehan menatap tak percaya dengan apa yang Ita lakukan, Rehan bahkan sampai tak bisa menelan ludah melihat Ita yang begitu mudahnya menggunting sehelai rambut panjangnya. Kini tangan Rehan menggenggm sehelai potongan rambut Ita.
Ita meraih tangan kanan Rehan, memberikan gunting yang ia pakai kepada Rehan, "kakak akan tetap mencintai Ita meskipun ita tak lagi seperti wanita pada umunya kan?? Jadi ita tak ragu melakukan ini" ujar Ita sembari tersenyum pada Rehan.
Namun Rehan masih tak mengerti dengan apa yang Ita lakukan dan apa yang ia inginkan sampai memberikan gunting itu kepada Rehan.
"Tolong, ita minta minta kakak sendiri yang memotong rambut Ita" ucapnya dengan senyum ketir, matanya berkaca-kaca, suaranya sedikit parau, bagaimanapun juga, sebagai seorang perempuan, rambut mereka sudah seperti mahkota yang selalu ingin mereka jaga.
"Sayang??" Rehan tidak mengerti dengan keinginna Ita.
Ita tersenyum kembali, "bukankah ita aka segera dioperasi" ita menghela napas, "itu artinya ita juga harus segera membotaki kepala Ita," ucapnya diakhiri dengan senyum, Rehan yakin itu adalah senyum yang berat bagi Ita.
Hati Rehan terenyuh mendengar ucapan Ita, bagaimana bisa ia membotaki rambut istrinya sendiri, sedangkan wanita lain sangat menyukai rambut mereka sendiri dengan selalu menjaga.
"Ta.." panggil Rehan dengan suara parau, ia sangat tidak bisa melakukan hal ini, melakukannya sama saja seperti melukai diri Rehan sendiri.
"Kak" ita menggenggam tangan Rehan, berusaha menguatkan Rehan, agar Rehan mau menuruti keinginan ita.
"Kakak sendiri yang bilang akan tetap menyukai Ita meskipun Ita tak sama seperti wanita umumnya kan??" Ujar Ita, tangan kanannya menyentuh pipi Rehan, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Rehan.
"Ita akan merasa kuat jika kakak sendiri yang melakukannya, Ita mohon" ujar Ita lagi.
"Nggak ita, kakak nggak bisa" rehan melepas gunting dari genggamannya.
"Kak," ita menyentuh pundak bidang Rehan, "bagi seorang wanita, rambut adalah mahkota mereka, suatu yang berharga bagi mereka, jadi Ita ingin suatu yang berharga bagi ita ada pada tangan yang benar, seorang yang hanya bisa melihat rambut Ita, Ita ingin kakak melakukannya" ujar Ita menguatkan.
"Bagaimana bisa kakak mengambil suatu yang berharga bagi kamu" sahut Rehan yang terus tertunduk menyembunyikan sorot matanya.
"Akan tidak berharga lagi saat rambut itu jatuh berceceran, dan saat itu, ita tidak akan menangisi sesuatu yang sudah tidak berharga lagi" ujar ita, perlahan Rehan mulai mengangkat kepalanya menatap retina Ita yang begitu kuat menghadapi semua ini.
Bukankah itu artinya Rehan harus lebih kuat dari Ita?? Rehan harus menjadi kuat untuk ita, memberinya support dan melakukan yang terbaik untuk istrinya.
"lagipula nantinya juga bisa tumbuh lahi kok" tambah ita.
"Ya??" Ita menatap Rehan membari tanya tenatang kesanggupan Rehan.
Dengan berat, Rehan mengangguk, sudah menjadi pilihannya, ia harus lebih kuat dari Ita, meski sadar kelemahannya adalah melihat orang yang sayangi kesakitan.
Ita tersenyum lebar saat Rehan mengangguk mengiyakan permintannya, dengan semangat Ita berbalik badan, bersiap untuk rehan menggunting rambut Ita helai demi helai.
Dengan tangan yang bergetar, Rehan mulai menggunting sehelai rambut Ita, dengan begitu, sehelai rambut Itapun jatuh berguguran di lantai, meski dada Ita terasa sesak melihatnya sampai membuat matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha tegar dan berusaha untuk menyembunyikan isakannya agar Rehan bisa meneruskan pekerjaannya.
5 menit berlalalu, Rehan kini sudah membawa alat untuk membotaki tambut, lagi-lagi Ita yang menyuruh Rehan untuk membawa barang itu.
"Ekhem" ita berdaham selagi Rehan masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kenapa??" Tanya Rehan.
"Jadi gini rasanya pasien wanita saat ita memintanya untuk segera membotaki rambut mereka, kalau Ita ingat-ingat sepertinya ita terlalu egois kalau harus menyuruh mereka cepet-cepat melakukan hal itu" ujar Ita sembari tersenyum menatap jendela di depannya, pemandangan di balik jendela ada langit malam disertai gedung pencakar langit yang menjulang dan lampu yang bersinar.
"Hahha" ita tertawa renyah, "mungkin Ita tak bisa meminta pasien melakukan hal itu lagi, setelah ini ita tidak bisa jadi dokter mereka lagi" lanjut Ita lagi.
Rehan sudah menyelesaikan oekerjaannya, dari belakang, Rehan memeluk tubuh mungil Ita, Rehan mendekap erat tubuh Ita, meletakkan dagunya diatas pundak Ita.
"Kakak yakin, setelah kamu benar-benar pulih kamu akan jadi dokter mereka lagi, kakak yakin itu" ujar Rehan tepat ditelinga Ita.
"Jangan berpikir negatif, kakak ini dokter yang akan mengoperasi kamu, masih ragu sama dokter bedah terbaik di negeri ini hm?" ujar Rehan berniat menghibur Ita.
"Hahha" ita terkekeh.
"Hih mulai sombongnya" sahut Ita, meski hanya candaan sederhana, sekejap bisa menghilangkan beban dan kekhawatiran ita.
Begitu juga dengan Rehan, meski hanya mendengar tawa sederhana dari Ita, itu bisa menghibur hari Rehan yang juga merasa berat.
Malam Ita ia habiskan dalam dekapan Rehan, begitu juga dengan Rehan, malam ini ia habiskna dengan mendekap orang yang ia cintai "Atma Anindhita."