
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Terjemah
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
🌹
Rehan masuk ke ruangan yusuf dengan penuh perasaan cemas "Abi... gimana keadaan abi."
"Wa'alaikumussalam." Sindir yusuf saat melihat putranya masuk tanpa memberi salam.
"Abiiii, rehan khawatir sama abi."
"Makanya ucapkan salam sama abi dan umi, dengan begitu kamu mendoakan keselamatan bagi abi dan umi." Jelas yusuf.
"Kata dokter, abi baik-baik saja,abi hanya butuh istirahat, dan vitamin." Sahut umi yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di ruangan VIP tempat yusuf di rawat.
"Padahal umi sudah siapkan vitamin di tas kerja abi, umi juga sudah ingatkan abi untuk minum vitamin itu, tapi ngga pernah diminum abi." Ucap yasmin sedikit ketus pada suaminya.
Yusuf malah tertawa geli melihat yasmin yang merajuk seperti itu. Melihat suaminya tertawa yasmin swmakin geram dan mencubit perut suaminya itu.
"Aduuh umi sakit." Keluh yusuf.
Yasmin membelalak kaget saat suaminya mengaduh sakit, yasmin kini mengusap bagian yanv ia cubit tadi. "Aduuh abi, sakit ya,maafin umi."
Dan yusuf masih saja tersenyum jahil. Rehan yang melihat tingkah abinya jadi geleng-geleng kepala.
"Yaudah deh kalau abi sama umi mau pacaran dulu, rehan balik kerja lagi,"
"Assalamualaikum." Salam rehan sembari mulai melangkah ke arah pintu.
"Wa'alaikumussalam."
🌹
Waktu menunjukkan pukul setengah 10 malam, rehan duduk di shofa ruang kerjanya, cacing di perut rehan seakan protes karna dari tadi siang dia belum makan.
Rehan melepas jas dokternya, ia berniat akan makan di restoran depan rumah sakit, itu adalah restoran terkenal di kalangan dokter rumah sakit tempatnya bekerja, restoran itu buka sampai larut malam seolah pemilik restoran itu memang menyediakan restorannya itu para pekerja di rumah sakit. Dan restoran itu juga ramai di larut malam oleh para pekerja rumah sakit, karna kami punya waktu makan ketika sudah mulai larut malam.
🌹
Sampai di ambang pintu restoran, rehan mencari tempat kosong untuknya duduk, tapi sepertinya para tenaga medis sedang kelaparan sekali malam ini, sampai tidak ada kursi kosong.
"Han." Seseorang mengageti rehan dari belakang, tapi tak berhasil.
"Apa sih lo." Rehan sudah sudah mau berbalik, ia hendak makan di tempat lain.
"Mau kemana lo, nga mau makan?." Tanya hammam.
Rehan memutar bola matanya jengah. "mau makan dimana?? Lesehan??." Jawab rehan malas.
"Lah? Kalau bisa kenapa ngga?, ayok lah bro sini gue udah nyiapin tempat lesehan." Hammam main tarik lengan rehan ke depan restoran, benar saja, hammam dan kawan-kawannya sudah menyiapkan tempat tikar di halaman depan restoran. Mau tidak mau, rehan hanya bisa menurut.
"Buukk, pesan nasi goreng + teh hangat ya." Seru hammam pada ibu restoran.
"Buat siapa?." Tanya rehan pada hammam
"Buat lo lah."
"Emang gue bilang mau pesen itu?."
"Ya ngga sih, tapi lo pasti mau makan itu kan."
Hammam sahabat rehan memang hafal menu yang biasa rehan pesan, hammam adalah teman rehan dari SMA. Mereka berdua berjanji untuk masuk kedokteran bersama, tapi sayangnya hammam harus gapyear karna ia gagal masuk FK saat itu, jadi hammam sedikit tertinggal dari rehan.
🌹
Hari ini hamam sedang ulang tahun, jadi ia mentraktir semua rekan kerjanya, termasuk seorang gadis berjilbab kopi susu yang baru saja detang dengan langkah tergesa-gesa.
"Assalamualaikum." Salam gadis itu dengan segera mengambil posisi duduk di tikar yang sudah hammam siapkan.
"Aduh maaf ya dokter hammam saya telat datang." Ia meminta maaf dengan polosnya. Tangannya masih sibuk merapikan jilbab yang ia kenakan.
"Ngga papa ta, ini juga baru ngumpul kok." Jawab hammam.
"Kenalin han, ini namanya ita." Hammam memeprkenalkan ita kepada rehan.
Rehan menatap malas gadis ceroboh itu.
"Lah? Kalian udah kenal?." Tanya hammam.
"Ngga kenal." Jawab rehan singkat.
Ngga kenal?? Bukannya dari kemarin dia panggil gue pake nama ya? Hisshhh dasar belagu gerutu ita dalam hati.
🌹
Seorang perempuan paruh baya mengantarkan makanan di tempat rehan duduk, wajahnya tak asing bagi rehan, itu adalah ibunya adam.
"Lho.. ibu adam kerja disini?." Tanya rehan.
Ibu adam kaget mendengar seorang dokter menyapanya "Dokter rehan?? Iya dok, saya kerja dimana saja." Jawabnya dengan senyum yang selu mengembang.
Hati rehan sangat tersentuh dengan kerja keras ibu adam, ia harus bekerja siang malam pasti karna tuntutan biaya rumah sakit adam.
Baru saja rehan memakan nasi goreng favoritnya, tiga orang laki-laki berjaket hitam khas preman datang ke restoran, rehan hanya melihat sekilas dan kembali melanjutkan makannya.
Tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari dalam restoran. Rehan dan hammam beradu tatap dan segera masuk ke restoran, memastikan apa yang sedang terjadi.
"Sampai kapan ha!?? Dari kemarin bisanya janji doang Lo."sentak laki-laki itu.
Ibu adam hanya bisa menangis dan memohon untuk diberi keringanan beruapa perpanjangan waktu. Begitulah yang rehan dan hammam dengar saat berdiri di ambang pintu restoran.
Salah satu dari ketiga laki-laki itu hendak menampar ibu adam, segera rehan berlari dan menangkis tamparannya.
"Jangan anda kasar dengan perempuan,apalagi yang lebih tua dari kalian."
Tanpa basa-basi, karna emosi, laki-laki mengepalkan tangannya dan menonjok rehan, hingga terjadiladh pdrkelahian antara ketkga laki-laki preman dan juga rehan dan juga hammam yang ikut membantu.
Mereka bertiga kalah telak dengan rehan dan hammam, bela diri mereka lebih bagus ketimbang ketiga preman itu.
"Dokter, dokter tidak apa-apa kan?? Saya ambilkan obat dulu." Ucao ibu adam yang begitu khawatir melihat memar di pipi rehan karna tonjokan preman tadi.
Namun rehan menahan ibu adam. "Ngga papa bu, saya ngga papa."
"Saya minta maaf dok, seharusnya dokter tidak usah membela saya, itu tadi salah saya karan telat bayar utang."katanya dengan menunduk malu.
Rehan menghirup napas panjang, "ibu hutang sama rentenir?." Tanya rehan.
"Bukan saya dok, almarhum suami saya dulu hutang dengan rentenir,jadi sekarang hutang itu menjadi tanggung jawab saya." Jelasnya dengan tangis tergugu.
Rehan benar-benar tak tega dengan keadaan seperti ini, ia sudah berkali-kali menawarkan bantuan kepada ibu adam tapi selalu ditolak,kalau ia menawarinya lagi bantuan untuknya pasti juga ditolak.
Rehan ingat tadi ada sesorang yang memberikan selebaran berupa bantuan biaya rumah sakit untuk anak kurang mampu. Rehan pun memberikan selebaran itu.
"Ini buk, ibu bisa ke alamat yang ada disini, siapa tahu bisa membantu."
Ibu adam menerima brosur yang diberikan rehan. "Terimakasih dok, besok saya akan coba kesana, terima kasih banyak."
Hammam dan Rehan kembali ke tempat duduknya.
"Ngga apa-apa han?." Tanya hammam melihat rehan yang meringis saat hammam menyentuh luka lebam di pipi rehan.
"Ngga apa-apa kalau ngga lo sentuh." Jawab rehan.
"Gue serius perhatian sama lo han."
"Iya mam makasih perhatiannya,tapi serius ini ngga apa-apa kok." Jawab rehan.
"Apa ngga sebaiknya di bersihkan dulu lukanya dok?." Kata ita yang dari tadi juga melihat pertarungan hebat rehan saat membela ibu pasiennya.
Sikap rehan dari awal sudah mempu membuat ita jatuh hati padanya,namun ita hanya bisa memendam perasaanya, karan rasanya mustahil ia bisa bersanding dengan rehan.
Semenjak ita bertemu dengan rehan di ruang UGD, saat itu pula setiap sholat di sepertiga malam ita selalu menyebut nama rehan agar Allah menjodohkan Rehan dengan ita.
"Ini luka kecil, jadi ngga apa-apa." Jawab rehan dingin.
"Tapi bener kata ita han, lebih baik dibersihin dulu lukanya." Saran hammam.
"Iyalah nanti aja di rumah sakit."
Ita mencari sesuatu didalam tasnya, dan ia mengeluarkan kotak p3k. "Sekarang aja dok dibersihinnya."
Ita menyodorkan kotak p3k tersebut kepada rehan.
Sebernarnya ita juga ingin sekali yang membantu rehan mengobati lukanya, tapi pasti rehan tidak mau. Dan lebih memilih hammam lah yang mengobati lukanya.
🌹
Setelah makan malam itu, Rehan kembali lagi ke Rumah sakit, kali ini ia todak pulangbke Rumah, karna abi dan uminya ada di Rumah sakit.
"Han?? Kamu ngga pulang ke Rumah?." Tanya umi.
"Ngga umi, kan abi sama umi ada disini,jadi ngapain rehan pulang."
"Kata dokter,abi beaok juga bisa pulang kok, kamu pulang aja ya, istirahat di rumah, kamu pasti capek." Kata umi dengan mengelus kepala putranya dengan lembut.
Dan sepertinya rehan berubah pikiran, ia memang butuh sekali istirahat sekarang, apalagi saat mwndengar abinya besok boleh pulang.
"Oh iya han, besok pagi umi mau pulang dulu sebentar karna ada urusan, jadi...."
"Iya umi nanti rehan yang jaga abi." Potong rehan mengerti apa yang ingin uminya katakan.
"Ngga gitu han, umi sebenernya mau bilang gitu, tapi kamu pasti besok kan sibuk, jadi umi minta tolong tante sabil yang jagain abi."
"lho? Emngya tante sabil ngga sibuk umi, kan dia super sibuk."
"Tadi umi udah telepon dan dia bilang iya."
"Oiya umi, dokter yang nanganin abi siapa ya umi?." Tanya rehan penasaran.
"Ohh itu namanya kalau ngga salah anindhita, dokternya cantik, lembut juga,kamu harus kenalan sama dia han, siapa tahu jodoh." Goda umi.
"Umi apaan sih."
Yasmin tersenyum menggoda pada putranya itu.
"Yaudah kalau ngga mau kenalan, tapi tolong sampaikan terimakasih dari umi ya."
"Ngapain maksih umi,kan emang kewajiban dia."
"Loh-loh,sejak kapan rehannya umi jadi sombong dan ngga mau bilang terima kasih."
Rehan menghembuskan napas panjang. "Huuhhh iya umi, kalau ketemu rehan sampaikan."
"Bagus." Yasmin menepuk kepala rehan dengan lembut.