You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
47



15.


Jangan jadikan cita-citamu agar manusia cinta kepadmu, karena hati manusia itu berbolak-balik. Jadikanlah cita-citamu agar Allah mencintaimu, karna jika Allah sudah cinta kepadamu, Alangkah mudahnya Allah menjadikan hati manusia berbonding-bondong untuk mencintaimu.


SYAIKH M. MUTAWALLI ASY-SYA'ROWI


🌹


Pagi setelah Rehan pulang dari jama'ah sholat shubuh, ia melihat Ita yang tertidur di atas sajakan masih lengkap dengan mukenahnya.


Rehan geleng-geleng melihat Ita yang tertidur di bawah, bagaimana bisa ia tidur nyenyak di atas ubin dingin dan hanya beralaskan sajadah?.


Rehan mengangkat tubuh Ita dan menidurkannya di atas kasur, tidak biasanya ia tidur setelah sholat shubuh, pasti kejadian kemarin begitu menguras tenaganya.


"Sehat-sehat ya sayang." Rehan mengelus perut Ita yang masih terlihat datar.


Rehan memutuskan untuk membangunkan Ita, ia ingin membuat ijin agar Ita bisa dapat cuti selama hamil.


***


Setelah bersiap-siap tanpa bantuan dari Ita, Rehan kemudian turun dari kamarnya, seperti biasa, Yasmin sudah memanggilnya untuk sarapan.


"Rehaaaannn!!" Panggim Yasmin.


Rehan segera berlari keluar dadi kamar, melihat umminya yang terus berteriak memanggilnya, "ssssstttt!!!!" Rehan meletakkan jari telunjuknya di tangan bibirnya memberi isyarat kepada Yasmin agar tidak berteriak.


Mengerti kode dari Rehan, Yasminpun berhenti berteriak memanggil Rehan.


"Ita mana??" Tanya Yasmin dengan suara berbisik saat Rehan sudah duduk di kursi meja makan.


"Lagi tidur, Pokoknya jangan sampai dia bangun ummi, kalau bangun dia pasti pingin ke Rumah Sakit" ucap Rehan sembari mengambil nasi.


"Plaaakkk!" Yasmin memukul dengan kertas bagian belakang kepala Rehan.


"Yah! Ummi!!" Ucap Rehan tak trima. Memang apa salah Rehan.


"Apa maksudmu Ita jangan sampai bangun ha!!?" Ucap Yasmin sinis.


"Umki kuno ah, maksutnya jangan bangun buat sekarang-sekarang." Rehan mengeles.


"Bisa nggak?? Kamu bilangnya gitu aja, jangan pakai kata jangan sampai bangun?? Ingat! Ucapan itu doa" Yasmin mulai menerocos kalau sudah bertutur.


"Ya Ya!" Ujar Rehan pasrah.


"Ummi!!! Kak Rehan!! Kenapa nggak bangunin?!!."


"Uhukk... Uhukk.." rehan seketika tersedak mendengar suara itu, secepat kilat Rehan menatap ke belakang.


Benar saja, Ita tengah setengah berlari saat menuruni tangga. Rehan segera berlari, "hati-hati."


Rehan berlari ke arah Ita, dan langsung memegangi tangan Ita saat sedang turun dari tangga.


"Kenapa kakak ngga bangunin Ita, padahal lihat Ita lagi tidur" protes Ita karna tidak dibangunkan.


"Karna kakak maunya kamu istirahat di rumah, hari ini kakak bakal buat ijin cuti buat kamu," tegas Rehan.


"Kaaaakk...." Panggil Ita kecewa.


"Nggak, ini final dan nggak bisa diganggu gugat."


Rehan menutup pembicaraan dengan langsung pergi, ia tidak ingin memperpanjang debat dengan Ita, tentu semakin diperpanjang, mungkin Rehan akan menyakiti hati Ita.


Huuuuhhh... Ita terduduk di kursi, ia kecewa karna Rehan membuat keputusan sepihak, tentu saja Ita tidak setuju dengan keputusannya, Ita masih ada banyak tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.


Ita terdiam sembari mendengus kesal karena sikap egois rehan terhadapnya.


"Ta... emang hai kamu dirumah saja dulu kamu butuh istirahat supaya kesehatan kamu dan janin kamu juga baik" ucap Yasmi kepada Ita yang begitu kesal terlihat dari raut wajahnya.


"Tapi kamu bisa harus dibicarakan dulu, jangan langsung mengambil keputusan."


Ita memang anak yang keras kepala, yasmin mengetahui itu dari dulu, dia punya keinginan yang kuat apalagi menjadi seorang dokter itu adalah keinginannya sejak dulu, jadi yasmin bisa memahami kalau ita kecewa dengan keputusan sepihak dari rehan.


Yasmin memilih untuk diam supaya Ita bisa tenang terlebih dahulu, " ta, mending kamu sarapan dulu gih."


Ita menghela napas panjang, ia mencoba untuk memperbaiki moodnya, "iya ummi."


ita kemudian mengambil sepotong roti itu untuk sarapannya pagi ini.


Pagi ini, Ita tidak merasakan mual dan muntah seperti yang ia rasakan kemarin. Jadi ia bisa menikmati rotinya dengan tenang tanpa rasa mual.


Tak lama setelah ia menghabiskan sarapannya, telpon Ita berbunyi ada panggilan masuk dari kiki, segera Ita mengangkat panggilan tersebut.


"Dokter ngga berangkat pagi ini?" Tanya Kiki.


" memangnya ada apa ki."


"Dokter iita yang tahu keadaan pasien kemarin setelah operasi,apa dokter tidak bisa memeriksanya hari ini??."


"Bisa saya segera kesana." Ita yang memang sudah siap dan tinggal berangkat, Ita pamit terlebih dahulu kepada yasmin.


" kamu berangkat nak?." Tanya Yasmin cemas.


"Iya ummi, masih ada yang harus Ita selesaikan." Ita mencium punggung tangan Yasmin.


"Jangan capek-capek." Pesan Yasmin saat Ita mulai berjalan keluar.


Sahut Ita sembari sedikit berlari keluar dari rumah.


Setelah sampai di rumah sakit ita  sekarang sedang memarkirkan mobilnya. Ita bergegas untuk menuju perawatan pasien pasca operasi di ICU.


Setelah menggunakan untuk masuk ke ruang ICU, ita bergegas masuk ke dalam, tubuhnya membeku saat melihat orang laki-laki sedang memeriksa pasien. Perawakan laki-laki yang sangat Ita kenal.


Merasa ada yang masuk, si laki-laki itu langsung menoleh ke belakang. Dan apa yang ia lihat sekarang? Ia melihat ita tengah berdiri berjarakbeberapa langkah dari dirinya.


Rehan menghela nafas panjang, ia tidak ingin berdebat dengan Ita di ruang ICU seperti ini.


Haduh kenapa harus kak Rehan yang memeriksa pasien?? kenapa kiki nggak bilang kalau pasien sudah ada  yang periksa??.


Sekarang apa lagi? Rehan pasti sangat marah kepada Ita, karena telah mengabaikan perintahnya lagi.


"Untuk apa berdiri di situ" ucap rehan dengan nada yang dingin.


"Ah!." ita dibuat  kelagapan dengan pertanyaan rehan.


" kemarilah kalau kau ingin memeriksa keadaan pasien."


Daripada berdiri di situ terus, Ita memutuskan untuk mendekat, lagipula niatnya ke sini juga ingin memeriksa keadaan pasien.


"Aku juga baru saja sampai disini, belum sempat memeriksanya." Rehan mengeluarkan senter kecilnya dari dalan saku.


Rehan mulai memeriksa kedua pupil pasien.


"Dia kehilangan banyak darah," ucap Ita saat Rehan memeriksa pasien.


"Kalau begitu, lakukan CT dalam 12 jam" sahut Rehan.


"Lakukan juga ABGA (aorterial blood gos analysis) ketika dia diintubasi."


Ita mengangguk. "Cek perban dan keringkan juga" tambah Rehan.


"Iya dokter" dengan cepat Ita mengiyakan saat berhubungan dengan pekerjaan, namun tak langsung ia Iyakan saat Rehan memintanya untuk kesehatanya.


Rehan dibuat geleng-geleng kepala dengan wanita keras kepala ini.


"Ah tidak, bukan anda dokter Ita, biar dokter Kiki atau lainnya yang akan melakukannya," Rehan meralat perkatannya.


"Gimana? Ah tidak dokter, biar saya saja."


Benarkan, lagi-lagi Ita keras kepala kalau soal kesehatannya, apa dia tidak paham kalau ini artinya, Rehan ingin Ita untuk beristirahat saja.


Rehan sudah tidak habis pikir pola pikir Ita.


Rehan keluar terlebih dahulu dan meninggalkan Ita,  semoga saja Ita mengerti  kalu Rehan tidak suka dengan sikap Itaa yang selalu mementingkan pekerjaan daripada kesehatannya. Meskipun ia selalu beralasan kalau ini adalah tanggung jawab. Namun Bukankah tanggung jawab juga harus dibarengi dengan menjaga diri?.


Kita menatap bingung punggung Rehan yang menghilang dari balik pintu ruang ICU. "Apa dia marah??" Batin Ita.


Ita segera mengikuti Rehan yang keluar terlebih dahulu dari ICU.


Ita melihat Rehan yang begitu saja pergi, ia bahkan melawati keluarga pasien tapi tidak berhenti dahulu entah untuk menyapa atau mengobrol sebentar.


Memang benar pasien itu bukan pasien Rehan, namun meskipun begitu, Rehan biasanya tidak mengabaikna keluarga pasien begitu saja.


Ita kemudian berjalan menuju ke keluarga pasien. "Bagaimana dokter?? Kenapa anak saya tidak kunjung sadar?? Kenapa ia tidak bangun-bangun?."


"Itu mungkin karna ia masih dibawah pengaruh anestesi, ini belum lama, jadi kami mohon tunggulah sedikit lebih lama" jelas Ita tentang kegelisahan keluarga pasien.


"Apa dia akan baik-baik saja??."


"Kita berdoa semoga akan baik-baik saja, untuk sampai sekarang ini, kedaan pasien baik-baik saja, semoga kesehatannya terus membaik."


Keluarga pasien mengangguk mengerti sembari mebgaminkan ucapan Ita, "terimakasih dokter, terimakasih banyak."


"Iya, saya permisi dahulu."


Ita sudah hendak meninggalkan kelurga pasien, namun urung saat keluarga pasien kembali memanggil Ita.


"Tapi dokter.."


Ita membalikkan badannya, "iya??."


"Siapa dokter tadi?? Kenapa dia sombong sekali," keluh pasien.


"Siapa?" Ita kebingungan saat menyebut dokter tadi alias Rehan dikaitkan dengan kata sombong, sungguh sangat kontras.


"Dokter yang barusaja keluar sebelum dokter, saya menanyakan keadaan anak saya, tapi ia malah diam dan melanjutkan jalannya" raut wajah ibu itu terlihat kesal dengan perlakuan Rehan. "Sombong sekali dia, beda dengan dokter cantik ini,"lanjut si ibu memuni Ita.


"Ah tidak bu, bukan seperti yang ibu lihat, dokter tadi tidak sombong, sama sekali tidak. Namun, ia bukan dokter yang menangani pasien, jadi ia merasa tidak haknya untuk memberitahu keluarga sedangkan saya selaku dokter yang menanganinya akan menjelaskan kepada keluarga, begitu." Ita menjelaskan panjang lebar, tentu saja Ita tidak ingin suaminya dibilang sombong oleh orang lain.


"Tapi dia kan bisa bilang untuk tunggu sebentar, menunggu dokter Ita menjelaskan, bukannya main pergi begitu saja" omel ibu tadi masih saja menjelekkan Rehan, membuat telinga Ita panas saja.


"Aiisshhhh..." Ita mendengus kesal.


"Saya kan sudah bilang, ini bukan tugasnya memberitahu ibu, kenapa ibu terus menyalahkan dokter Rehan" Ita keceplosan membela Rehan secara terang-terangan.


"Kenapa jadi dokter yang ngeGas" gumam si ibu pelan, namun masih bisa didengar oleh Ita. Ita mencoba lebih bersabar, megelus dada.


"Saya permisi dulu ibuuk" ucap Ita dimanis-maniskan kepada ibu itu. Tak lupa senyum lebar yang terkesan terpaksa Ita pasang juga.