You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
15



Cinta kita adalah yang terbaik karna imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karna itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga


-Anonim


🌹


"Mandi dulu sebelum istirahat" ucap Rehan saat telah mendudukan ita di Ranjang.


Ita yang kikuk dan grogi hanya bisa mengangguk. Setelah melihat anggukan dari Ita, Rehan sudah mau keluar dari kamar.


"Mau kemana,"


"Kak?" Lanjutnya masih dengan nada kikuk.


Pertanyaan Ita berhasil menghentikan langkah Rehan dan berbalik ke arahnya.


"Masih banyak tamu kan?" Ucap rehan diakhiri senyuman dibibirnya.


"Aah, jadi gini malam per-"


"di tinggal sendiri? Haisshhh" ita mendengus kesal.


Ita kemudian pergi ke kamar mandi, badannya sudah lengket, ia butuh siaraman air untuk menyegarkan kembali badannya.


Karna saking capeknya, dan punggungnyapun sudah meronta-ronta ingin rebahan, akhirnya ita terlelap dalam tidur. Tanpa Rehan disisinya.


Jika biasanya ita tidak menisakan tempat saat tidur, kini ia harus berbagi tempat, karna sekarang bukan hanya dia saja yang akan tidur, tapi akan Rehan yang akan tidur di sampingnya.


Pukul setengah 2 dini hari, Ita terbangun, Ita mengerjapkan matanya sembari mengumpulkan nyawanya. Sampai mata ia merarayapi seluruh isi kamarnya,ia melihat Rehan yang kini tengah tidur di shofa kamarnya.


"Ya Allah,kak Rehan ngapain tidur disitu?" Pekik Ita sembari menghampiri Rehan.


Karna brisik mendengar suara Ita, Rehanpun terbangun. Masih mengerjap.


"Hah? Astaghfirullah sudah shubuh ya" pekik Rehan.


Ita mengehela napas dengan kasar, ia tidak menjawab pertanyaan Ita.


"Belum, masih jam setengah 2" jawab Ita lembut disisi Rehan.


Rehan kemudian bergegas pergi kamar mandi untuk mengambil air wudlu.


"Hisss" ucap ita gemas saat melihat tubuh suaminya hilang dibalik pintu kamar mandi, menjengkelkan sekali,ia masih saja megabaikannya.


Baru beberapa jam saja Rehan menjadi suaminya, Rehan sangat menjengkelkan, masih sama seperti biasanya, cuek dan anti-Romantis.


Ita mendengus kesal saat suaminya keluar dari kamar mandi, dan Ita Mulai berjalan ke Kamar mandi,Rehan sendiri bingung dibuatnya, "kenapa bibirnya manyun seprti itu" ucap Rehan polos.


Rehan kemudian memakai sarung dan baju kokonya, Ia juga sudah menyiapkan mukenah dan sajadah yang ia siapkan di belakang sajadahnya. Itu adalah sajadah untuk makmumnya pagi ini.


Rehan masih menunggu Ita keluar dari kamar mandi. Melihat kenop kamar mandi yang mulai diputar, Rehan langsung berbalim badan, tak mau Ita tau kalau ia sedang menunggunya.


Jantung ita serasa mau copot melihat sajadah dan mukenah yang sudah ditata,


"apa kakak yang menyiapakn ini?" Tanya ita terkesan dengan perlakuan suaminya, meski hanya sekedar menyiapkan perlengkapan sholat, namun itu sudah bisa membuat Ita luluh.


"Apa kamu senang melihat imammu menunggu?" Tanya Rehan sembari mengambil mukenah dan mengulurkannya pada ita.


"Aah maaf kak." Ita mengambil mukenah itu dan segera memakainya, Ita tak ingin membuat Imamnya menunggu lagi.


Dini hari, untuk pertama kalinya sholat yang biasa mereka lakukan sendiri-sendiri, kini mereka lakukan bersama, dan doa yang biasanya mereka mereka panjatkan sendiri-sendiri, kini doa itu dijadikan satu, diucap sang imam, dan Makmum yang mengamini.


Seusai berdzikir dan berdoa, Rehan membalikkan badannya mengahadap Ita, Ita meraih tanga kanan Rehan dan mencium punggung tangannya. Rehan membelai lembut pucuk kepala Ita.


"Ita, segala puji pagi Allah tuhan semesta Alam yang sudah mempersatukan kita dalam suatu ikatan yang halal, sekarang, dirimu halal bagiku begitu juga diriku,"


"Bolehkan aku membuka mukenahmu? Melihat keindahan cioataan Allah?."


Pertanyaan itu membuat Ita tersentak, Ita hanya bisa menjawab permintaan Rehan dengan anggukan kecil. Memang sudah sepantasnya Rehan melihat apa yang Ita jaga.


kini jantungnya tak karuan, berdetak lebih kencang dari biasanya. Sedangkan Rehan sudah mulai membuka peniti jilbab Ita. Dan mulai dibukanya jilbab yang menutup rambut Ita.


aroma sampo mawar yang biasa Ita pakai,kini dapat dicium oleh Rehan.


"Subahanallah, maha suci Allah" ucap Rehan saat melihat keindahan dalam diri Ita.


Malam itu berlalu dengan indah


🌹


pagi ini, setelah Ita sholat Shubuh, Ita segera ke dapur,berharap ada sesuatu yang bisa Ita lakukan disana. Sebelum Rehan pulang dari jamaah shubuhnya.


"Mbok? Mau masak apa?" Tanya ita pada mbok jah yang sudah lebih dulu berkutat di dapur.


"Pak Rehan suka apa non?" Tany mbok jah.


Ita berpikir sejenak, Ita belum terlalu kenal Rehan, ia hanya tau kalau Rehan suka nasi goreng.


"Nasi goreng mbok" jawab Ita.


"Yasudah, kita masak nasi goreng ya."


"Kita?" Tanya ita mengulang pertanyaan mbok jah, mata ita berbinar mendengar kata 'kita'.


"Jadi Ita boleh bantuin masak nih"ucap Ita begitu antusias.


"Boleh, taoi bantu potong-potong aja dulu ya,jangan ikut bumbuin" titah mbok jah.


"Asyiiiiiaaaapp." Ita segera mengambil pisau.


-


"Assalamu'alaikum" salam Rehan saat masuk ke dalam Rumah.


"Wa'alaikumussalam" jawab ita bersemangat, saking semangatnya sampai Ita lupa kalau ia sedang memotong bawang, pisaunyapun meleset dan alhasil melukai pucuk jari telunjuk Ita.


"Awwww.." pekik Ita meringis.


Rehan yang melihat istrinya kesakitan langsung menghampiri Ita, meraih telunjuk Ita, dengan cekatan Rehan mengecup telujuk ita, Meniupnya berharap Ita tidak merasa perih.


Ita sudah melupakan sakit di telinjuknya, ia kini memperhatikan wajah tampan Rehan, tangan kiri Ita memainkan rambut tebal hitam milik Rehan yang tengah bersimpuh mengobati lukanya.


"Ngga papa kan?" Tanya Rehan khawatir.


"Ya karna sudah kakak obati" jawab Ita dengan senyum yang mengembang.


Rehan bangkit dari poisisnya, "lain kali,kalau belum bisa masak jangan sok-sokan" ucap Rehan terdengar ketus di telingan Ita.


"Hisss, kok sok-sokan sih, kan Ita mau jadi istri sholihah buat kakak" bela Ita.


Rehan menaruh P3K di nakas, kemudian berdiri di depan Ita yang masih duduk di tempatnya "Iya makasih ya" ucap rehan lembut sembari menepuk lembut pucuk kepala Ita.


Deeeggggg begitulah yang Ita rasakan saat melakukan hal itu.


"Allah, jantung Ita gini lagii" ucap Ita dalam hati.


Sejurus dengan itu, gawai Ita berbunyi, Ita melihat gawainya, disana tertera nama Salwa di layar smartphonenya.


Ah hari ini Itakan sedang cuti sehari setelah menikah, lalu untuk apa salwa menelpon.


"Angkat" titah Rehan melihat Ita yang malas mengangkat telpon.


Ita menurut, dengan malas-malasan Ita mengangkat panggilan Salwa si Perawat cantik.


"Assalamualaikum salwa?."


"Wa'alaikumussalam dokter, pasien laki-laki 50 tahun kemarin tiba-tiba anfal, dokter kiki sudah melakukan CT-scan" jelas perawat Salwa.


Ita dan Rehan beradu tatap, dan Rehan mengangguk sebagai isyarat agar Ita segera ke Rumah Sakit.


"Ya,saya segera datang" ucap Ita menutup panggilan.


Cuti Rehan dan Ita membuat Rumah Sakit kekosongan sepaket dokter bedah syaraf yang kompeten, itu alasannya mengapa mereka berdua harusnya tetap di Rumah Sakit.


"Aku antar" Rehan segera mengganti baju kokonya dengan kemeja putih, dan bergegas melajukan mobilnya ke Rumah Sakit.


🌹


"Sudah dok."


-


Ita duduk dikursi kerjanya sedang mengamati hasil CT-scan pasien di monitor, dan Rehan asik memperhatikan wajah serius Ita di kursi yang biasa dibuat pasien Ita konsultasi.


"Jadi, kenapa bisa terjadi perdarahan?" Tanya Rehan memecah konsentrasi Ita.


Ita kemudian menunjukkan hasil CT-scan pada Rehan.


"Awalnya ini hanya kasus CKR, dan selama masa obervasi masih aman tapi ini terjadi perdarahan" ucap ita sembari menunjuk hasil CT-scan. Rehan semakin tertarik dengan pembicaraan.


"Dimana lapisan mana perdarahannya?" Tanya rehan lagi.


"Perdarahannya ada di lapisan dalam."


"Namanya?" Tanya Rehan lagi, seakan sedang menguji Ita.


"Subdural Hematome periodenya sadar ga sadar,awalnya pasien sudah sadar,tapi beberapa hari kemudian pasien pingsan, padahal awalnya di CT-scan normal-normal saja, jadi itulah mengapa jangan menyepelekan kasus gegar otak yang ringan" jelas ita,


Rehan mendengarkan sekilas jawaban Ita, selebihnya Rehan hanya memperhatikan wajah serius Ita yang sedang membahas pasiennya.


"Pintar" Ucap Rehan menepuk lembut kepala Ita sembari mengembangkan senyumnya.


Ita tak bisa menahan senyumnya, rona wajah ita sudah berubah merah padam karna malu di puji Rehan.


"Kak serius" ucap Ita malu-malu kucing.


"Ya sudah, aku saya siap jadi asisten dokter Ita" ucap Rwhan tegas dengan sedikit menggoda.


"Kebalik" Ita bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangnnya,karna Ita tak bisa lagi menahan senyumnya,tak ingin Rehan semakin membuatnya salah tingkah, Ita memilih untuk bergegas ganti baju oprasi.


🌹


Sebelum Ita melakukan tindakan, Ita harus terlebih dahulu menemui keluarga pasien untuk segera diberikan tindakan.


Ita berniat akan menemui kelurga pasien, saat ita berada di depan pintu pasien, ita terhenti mengurungkan niatnya membuka pintu saat mendengar seorang sedang berbicara di dalam.


"Harusnya kamu mati, karna keberadaan kamu kini membahayakanku."


Deggggg.... siapa yang sedang berbicara di Ruangan itu? Kenapa ia ingin pasien itu mati?.


"Dokter Ita."


"Hah" ucap ita refleks, jantungnya hampir saja copot melihat kedatangan salwa, Ita segera membungkam mulut salwa dan menariknya ke jauh dari pintu pasien.


Sadar ada sesorang diluar,laki-laki yang berada di ruangan segera keluar. Ita tambah kaget ketika melihat sosok ayah tirinya keluar dari dalam ruangan itu.


Apa benar ayah yang tadi mengatakan itu? ~batin ita


"Dokter Ita kenapa sih" protes Salwa yang bingung dengan perlakuan Ita membekapnya tadi.


( . . . . . ) tak ada jawaban dari Ita, ia masih memperhatikan ayahnya yang baru kekuar dari ruangan pasien itu.


"Dokter Ita" sentak salwa membuyarkan fokus Ita.


"Hah." Ita segeara mengalihkan perhatiannya ke Salwa saat melihat ayahnya mulai berjalan ke arahnya.


"eumm Sal, pasien yang 50 tahun itu namanya siapa sal?" Tanya Ita.


"Pak Bagas."


"Ah, keluarganya mana ya?" Tanya ita lagi.


"Dari kemarin ngga ada kelurganya, kayaknya beliau hidup sebatang kara, kasian dok" jawab salwa denga nada simpatinya.


Ita semakin keras berpikir,lalu kenapa ayahnya menengok dia? Apa ada hubungan kelaurga? Atau temannya? Tapi kenapa ita tidak pernah melihat laki-laki itu?.


"Ita?" Sapa Pras berhasil membuyarkan fikiran Ita.


"Ha, iya ayah? Kok ayah ada disini?ayah sakit?" Tanya Ita memastikan apa yang sedang ayahnya lakukan disini.


"Ayah cuma mau lihat kamu aja" jawab pras santai seperti tak ada yang ditutupi.


"Emm,ayah ngga habis jenguk teman atau apa?" Tanya Ita memastikan.


"Tidak."


Kenapa ayah berbohong? Jelas-jelas ia habis dari ruangan pak bagas


"Dokter Ita, bagaimana dengan pasien atas nama pak bagas? Ia harus segera dapat tindakan, tapi tak ada satupun keluarganya" ucap Salwa kepokok permasalahan.


"Kalau tidak ada keluarga yang menyetujui seharusnya tidak usah ada tindakan" jawab pras.


Entah kenapa Ita semakin yakin kalau ayahnya ingin sesuatu yang buruk terjadi pada pak bagas, firasat Iya semakin diperkuat saat mendengar apa yang ayahnya katakan di Ruangan pak bagas.


"Tetap lakukan tindakan, keselamatan pasien adalah prioritas utama" ucap Ita tegas.


"tapi dokter," potong Salwa.


"Saya yang akan bertanggung jawab" sahut Ita yang kemudian bergeas bersiap ke Ruang oprasi.


🌹


Di depan Ruang Oprasi, ita masih kepikiran dengan prilaku ayahnya tadi, apa yang sebenarnya disembinyikan ayahnya, apa ada rahasia yang besar sedang ditutupi ayahnya.


"Tata" sapaan itu berhasil membuat ita mengerjap dan sadar.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Rehan perhatian.


"Ngga kak" jawab ita tak ingin Rehan khawatir.


Rehan tersenyum, meskipun ia tau ada yang mengganggu pikiran Ita,namun Rehan lebih memilih diam, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk ita bercerita.


-


Pukul 11 siang oprasi selesai,Ita dan Rehan keluar bersamaan.


"Hah, alhamdulillah lancar" ucap Ita lega.


Rehan tersenyum melihat Ita, Rehan menatap lekat wajah Ita, melihat wajah Ita saat selesai oprasi sudah bisa menghilangkan tegang ototnya.


"Ita bekerja dengan keras, pasti capek kan?" ucap Rehan.


Ita menatap wajah suaminya, "kakak lebih bekerja dengan keras, kakak terlihat sangat sexi tadi" goda Ita dengan senyuman menggodanya.


"Ah sexi lagi" protes Rehan yang tak suka dibilang sexi.


Ita terkekeh geli melihat wajah suaminya kalau sedang kesal, wajah itu tak pertah ditampakkan pada Ita sebelumnya.


Tubuh Ita yang kalah jauh dari Rehan memaksa merangkul tubuh tinggi Rehan. Kini Ita glendotan dengan Rehan seperti anak pada ibunya.


"Kalau lagi kesel lucu" goda ita lagi masih merangkuk erat Rehan.


Tak mau kalah, kini Rehan melingkarkan lengannya di kepala Ita,


"A awww kak lepas" pekik ita mendapati posisinya seperti mau dicekik Rehan.


"Lebay, emang sakit?" Tanya Rehan.


"Ngga sih, tapi jangan gini dong kak, lepas" pinta Ita. Merasa Iba, Rehanpun mengakhiri kejahilannya itu.


Rehan tertawa lepas saat melihat Ita batuk-batuk seperti benar habis dicekik saja.


"Hebat ngartisnya" puji Rehan tak lupa dengan senyum mengembangnya. Kaki jenjang Rehan mulai melangkah dan diikuti oleh Ita dari belakang.


Ita tak ingin memperlihatkan hubungan suami istri mereka dilingkungan Rumah Sakit, kecuali kalau hanya ada Ita dan Rehan saja, ia pasti akan bermanja dengan Rehan.


"Kok ngga pulang sekarang kak" tanya Ita sembari berusaha menyamakan langkahnya dengan Rehan.


"Ke taman dulu ya" ajak Rehan dengan melihat Ita sekilas, dan jangan lupa senyumannya.


Akhir-akhir ini setelah mereka menikah, ita selalu melihat rehan tersenyum saat berbicara dengannya, itu adalah hal yang tak pernah Ita lihat sebelumnya.dan tentu saja, saat Rehan berbicara dengan wanita lain, Rehan akan pasang wajah datarnya. Ita jadi merasa special karna hanya dia dan ummi Yasmin yang dapat perlakuan sperti itu.