You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
11



Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Karenanya, bertaqwa-lah pada Allah pada separuh yang lain-nya.


(H.R. Al-Baihaqi dalam Sya'abul iman dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 625)


🌹


Kini keluarga Rehan dan Ita sedang menentukan tanggal yang tepat untuk pernikahan mereka, hari yang bersejarah dalam hidup Rehan dan Ita.


"Bagaimana jika 2 bulan lagi" usul Rizal yang tak lain adalah om dari Rehan.


Terlihat raut pras sedang mempertimbangkan usulan Rizal yang tak lain adalah om dari Rehan.


"Eemmm, 2 bulan lagi juga tidak apa, bagaimana Yas menurutmu?" Tanya Pras. Kini mereka saling melempar pertanyaan, sedangkan kelurga yang lain yang ikut hadir hanya menyimak sembari memakan hidangan.


"Kita tanya saja pada anak-anak kita, kapan mereka siap." Yasmin lebih senang menyerahkan urusan tanggal pada mereka yang akan menjalaninya.


Merasa terpanggil, Rehan akhirnya buka suara, "Menurut Rehan, semakin cepat maka semakin baik, jika Ita setuju, saya ingin menikahinya satu minggu lagi."


Duuugggg... seperti itulah ucapan Rehan terdengar di telinga ita, kenapa ia terburu-butu sekali, batin ita.


"Bukan karna terburu-buru, tapi karna Rehan ingin segera menyelesaikannya, selagi Rehan sanggup dan masih ada waktu,dan bukankah niatan baik harus segera dilaksanakan?" ucap rehan meluruskan daripada ada yang menerka-nerka kenapa ia terburu-buru sekali.


Ha?? Apa dia bisa baca pikiran aku? Kok jawabannya pas sih sama pertanyaanku guman ita dalam hati.


"Ta? Kalau kamu bagaimana?" Tanya yasmin melihat ita yabg swdari tadi diam.


"Ah, ita ikut saja." Itulah jawaban singkat dari ita. Baginya semakin cepat halal maka semakin baik,


"Baiklah, hari sudah ditetapkan, yaitu jum'at depan" ucap pras mengumumkan hari pernikahan Rehan dan Ita.


🌹


Ita tak bisa menahan senyumnya, di ruangan ternyamannya yang tak lain kamarnya sendiri.


Memori beberapa jam yang lalu berputar kembali di otaknya, saat ia mulai melihat Rehan, Allah... jangan sampai hamba terlena akan ini semua . Sudah jam 10 malam, tapi ita tak kunjung bisa menutup matanya, padahal hari ini adalah hari yang melelahkan karna sangat menguras emosi.


Karna begitu indahnya malam hari ini, sampai ita tak sadar ia kini sudah larut dalam tidurnya. Tepat jam 2 dini hari ita tebangun untuk sholat malam, dan masih dalam keadaan menggunakan mukenah ia tertidur kembali,sampai suara adzan shubuh membangunkannya.


Entah ada angin apa, tapi yang jelas pagi ini ita sangat bersemangat, ia segera turun ke bwah untuk sarapan,di sana sudah ada si mbok yang sibuk berkutat di dapur.


"Masak apa mbok?" Tanya ita mengagetkan mbok jah, tidak biasanya nonanya itu bertanya ia sedang masak apa, karna bisanya Ita buru-buru ke Rumah Sakit dan kadang tak sempat sarapan apalagi tanya sedang masak apa.


"Nasi goreng non" jawab mbok jah.


Bola mata ita berbinar mendengar mbok jah sedang masak nasi goreng, ita jadi ingat kalau Rehan pecinta nasi goreng, "ita mau bantu buat mbok" kata ita bersemangat.


"Nggak usah non, non duduk aja nunggu mateng" ucap mbok mmepersilahkannita duduk. Bukannya apa-apa,tapi firasat mbok jah, kalau ita ikut masak yang ada bukan bantu tapi ngrecokin. Kan selama mbok jah kerja ngga pernah lihat ita ke dapur.


Tapi ita masih saja keukeh ingin ikut masak, alhasil mbok jah hanya bisa mengiyakan permintaanya, selama ini Ita sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mbok jah, begitu juga ita yang sudah menganggap mbok jah seperti ibu sendiri, karna semenjak ibu ita meninggal, ita kalau ada masalah ceritanya sama mbok jah.


Karna ita juga hampir tidak pernah curhat dengan ayahnya.


Mbok jah menepis saat ita mau mengambil alih wawal yang dipegang mbok jah. Ita seperti dilarang memegangnya.


"Non ita ambil garamnya aja" perintah mbok jah.


Dengan cekatan ita mengambil garam dapur, "aduh non ita jangaaannnnn" seru mbok jah saat melihat ita menuangkan garamnya. Mbok jah tadi hanya menyuruhnya untuk ambil garam bukan menuangkannya juga.


Dan kini ita menungkan setengah garam dari wadah garam yang awalnya penuh itu, sudah bisa dibayangkan gimana asinnya.


"Yaah non ita, mana bisa dimanakan" keluh mbok jah.


Karna merasa bersalah telah merusak masakan mbok jah, ita memutuskan untuk tetap memakannya.


"Ah mbok jah apaan sihh, mbok jah bikin nasi goreng yang baru aja, itu biar ita makan."


Ita mengambil nasi goreng itu penggorengan, dan meletakannya di meja makan. Ita mengambil posis duduk dan tak lupa berdoa saat mau makan.


dengan perlahan ita mulai memasukkan nasi goreng itu ke mulutnya,berharap itu tidak terlalu buruk untuk pencernaannya.


Asiiiinn, parah memang benar-benar asinn. Itulah yang ita rasakan di suapan pertamanya, tapi mau tidak mau ita tetap mengunyah dan pura-pura baik-baik saja.


"Gimana non?" Tanya mbok jah.


"Emmmm ini sih emang cocok si mbok sama keadaan ita,"


"Keasinan tanda pengen buru-buru nikah wkwkkw" tambah ita.


Mbok jah menghela napas panjang, ia mengambil sepiring nasi goreng dihadapan ita dan menyingkirkannya.


"Non ita makan nasi goreng yang baru aja, mbok bikinin lagi tapi syaratnya non ita udah duduk manis aja disana" titah mbok jah.


Daripada merusak masakan mbok jah lagi,ita lebih baik menurut saja. Tapi karna dasarnya ita tidak bisa diam ditempat,ia kini menghampiri kulkas, berharap ada yang ia bisa minum.


ada sebotol besar air dingin dan sebotol susu, tentu lebih menarik sebotol susu, Ita mengambilnya dan mulai meminumnya sambil duduk. Satu tegukan terasa aneh rasanya seperti bukan susu. Ita melihat lagi botol susu itu, tulisannya jelas susu sapi, tapi rasanya aneh.


Tak menggubris,ita meneruskan minumnya. Rasanya masih sama, seperti bukan rasa susu sapi. "Mbok? Ita ngga habis minum susu ini" ucap ita sambil memperhatikan botol susu yabg ia pegang kini masih setengah.


"Kalau udah dibuka ya harus dihabisin non" ucap mbok jah tanpa melihat ita, ia masih meneruskan pekerjaanya.


Mau tidak mau itapun menghabiskan minuman itu, setelah habis ita masih penasaran itu sebenarnya minuman apa, rasanya familiar tapi ita tidak biaa menebak apa, masa susu keledai? Salah! Maksutnya kedelai?.


"Mbok? Ini susu apa sih? Kok rasanya aneh?."


Mbok jah melihat botol yang ita tunjukkan padanya, sontak mbok jah terbelalak kaget.


"Non ita minim itu tadi?."


"Iya."


"Semuanya?."


"Astaghfirullah Nonn,itu santan bukan susu" tegas mbok jah memberitahu.


"Hah?kok mbok ngga bilang ini santan??" Pekik ita yang juga kaget.


"Aduuh mbok jahh gimana sihh naruh santan di botol susu."


"Yah non maaf, ngga ada wadah lain waktu itu."


"Aduuh bii, ini tadi sebotol santan berapa lemak bii??? Seminggu lagi ita mau nikah, kalau ita gendut gimanaaa" rengek ita memikirkan berapa banyak lemak yang telah ia minum pagi ini.


"Astaghfirullahal'adziimm" ita beristighfar menenagkan diri.


"Yaudah bi,ita ngga jadi makan lah, lemak yang ita minum tadi cukup buat sarapan 3 hari" ucap ita yabg merasa menyesal telah meminum sebotol santan pagi ini.


Sampai teras rumah ita masih kepikiran santan yang ia minum tadi, bagaimna kalu badan ita jadi gendut tiba-tiba?? "Aduuh seminggu lagi kan nikahh" gumam ita sambil menepuk jidad.


Ita kini berpikir untuk membakar lemaknya pagi ini juga. Ia memutuskan untik naik transportasi umum,ia tidak bawa mobil pribadinya,ia akan berjalan kaki dari rumah sampai keujung kompleks yang jaraknya 400 m. Ia hitung-hitung joging pagi.


Baru setengah perjalanan ita berlari santai. Suara nada gawainya berbunyi. Dari dokter ichal seniornya, di rumah sakit ita masihlah junior yang sering melakukakn kesalahan.


"Aduuh ngapain telpon ya" gumam ita sebelum mengangkat telpon itu, ia kemudian berhenti dari lari kecilnya,mengatur nafas dan mengangkat telponnya.


"Iya pak selamat pagi" sapa ita.


"Oiya pagi dokter ita" jawabnya sinis. Batin ita mulai tidak enak, seperti dia akan marah-marah.


"Pagi-pagi dari hongkong, ini sudah jam berapa ta belum sampai rumah sakit" bentak ichal. Ita tersentak dan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Astaghfirullah, jam 8???" Ucapan ita terdengar oleh ichal.


"Jam 8? Ya Allah ita belum mandi, belum makan pagi, belum sarapan" ucap ichal menyindir ita.


"Makan pagi sama sarapan apa bedanya pak" sahut ita keceplosan. Aduuhh keceplosan ya Allah ita menutup mulutnya yang kadang tak bisa dikontrol ini.


Kini ichal semakin kesal dengan ita yang masih saja menjawab. tak ingin mendengar ocehannya ita segera mematikan saluran telponnya, ia tau itu akan jadi masalah besar baginya nanti.tapi yasudahlah ita juga harus buru-buru ke Rumah sakit.


-


Pukul 8 lebih 30 ita baru sampai di teras rumah sakit. Ternyata melelahkan sekali jalan kaki 400 m, padahal sewaktu SMA ita pernah ikut pramuka yabg waktu iyu long march 21 KM. Tapi kom capek ini ya?.


Baru juga sampai, sudah ada perawat yang menghampirinya.


"Dokter Ita dicari dokter Ichal" ucap auster berperawakan langsing itu.


"Kok dokter ichal tau kalau saya sudah sampai?."


"Tadi katanya kalau ada dokter ita,segera suruh ke ruangannya" jelas perawat itu, ia kemudian pergi melakukan pekerjaannya.


Ita menelan ludah, ia harus siap dengan omelan seniornya itu, dengan tarikan napas panjang ita mempersiapkan diri saat mau mengetuk pintu ruangan Ichal.


saat sudah merasa siap, ita kemudian mengetuk pintunya.


"Masuk."


Ita bersiap,memutar kenop dan masuk ke ruangannya.


Ichal terkejut melihat siapa yang datang.


"Bagusss siapa suruh matiin telpon saya duluan." Itu adalh omelannya yang pertama.


"Maaf pak, buru-buru."


"Kamu tahu keslalahan kamu apa?" Pertanyaannya terdengar membentak.


"Siap tau pak, saya terlambat" jawab ita masih menunduk.


Braakkkkk.... ichal menggebrak meja kerjanya. Membuat ita kaget dibuatnya.


"Saya juga tau kamu telat" bentaknya lagi.


"Semua orang dirumah sakit juga tau kamu telat" lanjutnya.


Ita benar-benar tak bisa lama-lama di ruangan senior darah tinggi ini, ia tidak betah berdiri di hadapannya, ita berharap akan ada seorang perawat atau pasien yang masuk dan membutuhkannya.


Ceklekk.. suara kenop pintu ruangan ichal dibuka. Ita tak berani berbalik badan,itu hanya menambah masalah.


Ichal pasti bilang "saya lagi ngmong sama kamu, kamu ngapain malah tengok2 dia" huhhh ita sudah hapal nada bicara yang itu.


"Ngapain sih chal, kedengeran tau ngga dari luar" ucap laki-laki yabg baru masuk ke ruangan.


Ita menyadari kalau itu adalah suara Rehan, huh.. ita harus bagaimana ini, Rehan pasti menCap buruk ita kalau tau ichal memarahinya karna terlambat.


Rehan memperhatikan dokter perempuan yang sedang ichal sidang, seperti rehan tau wanita yang terus menunduk ini.


"Ita, kenapa kamu nunduk terus" bentak ichal lagi.


Aduh.. ni orang pake sebut merek gumam ita kesal.


"Dokter ita, ada pasien yang sudah menunggu bantuan anda" ucap Rehan seakan mempersilahkan Ita untuk pergi dari kandang harimau ini.


"Lah han, belum seleaai gue ngomong sama dia" ucap Ichal.


"Gue ada urusan sama lo" ucap Rehan.


"Oke ita, berhubung saya ada urusan dan kamu juga sudah ditunggu pasien kamu, jadi yasudahlah sana" ucap ichal membiarkan ita pergi.


"Ha? Boleh keluar dok" mata ita berbinar.


"Ah, makasih dok, selamat pagi selamat bekerja" salam ita kemudian ia bergegas keluar dari ruangan ichal tak ingin berurusan lagi dengan harimau itu.