
Rehan mengelurkan ponselnya,ia mencari kontak Hammam, ia harus bekerja sama juga denagn hammam.
"Assalamu'alaikum mam?" Salam Rehan saat Hammam sudah mengangkat telponya.
"Wa'alaikumussalam bro ada apa?" Jawab Hamam.
"Gue bisa minta tolong sama lu, bisa nggak bisa lo harus bisa" ujar Rehan sesikit memaksa.
"Yakali, minta tolong maksa, yaudah apa ngomong."
"Tolong siapin ruang rawat buat gue ya, yang VIP sekarang lo siapin" titah rehan.
"hah?? Apa apa?, ngga salah denger ni gue?? Lo sakit han?" Tanya hammam yang malah khawatir akan keadaan Rehan.
"His. . . Dengerin gue dulu si, ngga gue sehat, pokoknya gue butuh bantuan lo, cepet lah lo urus ruangan VIP buat gue."
"Buat apa sih, gue juga pengen tau" hammam mendengus kesal saat Rehan tak memberi tahu maksutnya.
"Iya udah nnati kalau gue sampai, gue kasih tau deh, sekarang lo bantu gue pliisss cepet lo siapin."
"Ah iya-iya, janji kasih tau gue ya."
"Brisik lu, iya2."
Rehan kemudian menutup panggilannya dengan Hammam, Rehan dan Ita akan segera memainkan skenario mereka.
"Nah bu heni, sekarang bu heni telpon pak Pras, ibu heni bilang aja kalau ibu sudah memberi racun di makanan Rehan, ngga bohong dong, toh ibu memang udah ngasi racun itu kan,"
"Nah, nanti tugas saya dan Ita adalah berakting, pokoknya ibu telpon kasih tau aja kalau udah nagasi racun plus ibu juga harus ikut acting ya, pura-pura aja gitu panik" ujar Rehan panjang lebar menjelaskan kepada bu Heni.
"pokoknya ibu harus yakin, saya dan Ita juga sayang Adam, kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk adam."
Heni mengangguk yakin, benar kata ita, ia harus kuat untuk menghadapi ini, ia tidak boleh lemah oleh bedebah itu.
Heni segera mengeluarkan ponselnya, ia mencari nomor pras yang selalu menerornya itu. Heni menunjukkan pada Rehan kalau ia sudah menemukan nomor Pras.
"Oke,ita siap?."
"Siap!." Ita mengangguk pasti.
"Bu Heni siap?" Tanya Rehan.
"He em!!." Bu Heni mengangguk siap.
"Kalau begitu kita muali sekarang, bu Heni cepat telpon bedebah itu" titah Rehan, heni kemudian menekan tombol panggil untuk nomer pras.
Tak perlu menunggu lama, Pras segera mengangkat panggilan Heni.
Melihat panggilan yang sudah tersambung, Ita segera memulai actingnya. Ia mulai menangis hiateris menangisi Rehan yang tengah pingsan ( pura-pura ).
"Hi hi hi hi. . .kak. . . Bangun kak" tangis Ita histeris.
Baru mengangkat telpon, Pras sudah bisa mendengar tangisan Ita, pras paham betul suara tangisan itu.
"Apa kau sudah meksanak tugasmu?" Tanya pras to the point setelah mendengar tangisan Ita.
Heni memsanag nada menyesal dan ketakutan seperti biasanya, "apa kau tidak mendengar bagaimana sedihnya dokter Ita?" Sentak Heni dengan nada terputus-putus seolah ia sangat menyesali perbuatannya.
"Hahaha,bagus kalau benar-benar melakukannya."
"Kak, kita harus ke Rumah sakit sekatang, Ita akan bantu kakak berdiri hiks.. hiks.. hiks.." ucap Ita keras, ia sengja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh pras di telpon.
"Apa? Apa bocah itu akan membawa Rehan ke Rumah aakit?" Tanya pras.
"Tentu saja itu yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dokter Rehan" jawab Heni dengan nada gemetar.
"Hah,omong kosong, bocah itu tidak akan bertahan lama, sebentar lagi dia juga akan mati."
"Dokter Ita segera membawanya ke Rumah sakit, itu bisa saja menyelamatkan dokter Rehan" ujar Heni menimpali ucapan Pras.
"Ya! Tentu! Kalau begitu akan kesana, kita lihat seberapa lama Rehan dapat bertahan" dengan sangat percaya diri pras mengatakan hal itu.
Heni segera mematikan saluran telponnya.
"Yaaahhhh" Rehan mmeberikan tos kepada Ita.
"Istriku ini pandai sekali ber Acting rupanya" Rehan menepuk lembut pucuk kepala Ita.
"Iya dong istrinya siapa dulu" balas Ita membanggakan diri.
"Kalau begitu, kita harus segera ke Rumah sakit, kita harus lebih dulu datang sebelum Bedebah itu" Reha segera bangkit, mereka bertiga segera masuk ke Dalam mobil.
Rehan menyetir mobilnya denagn kecepatan tinggi,ini agar ia datang kesana tepat waktu dan dapat memepersiapkan dengan matang.
Sebelum itu,Rehan juga sudah menyiapkan kejutan untuk pras,Rehan sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi Pras saat menerima kejutan Rehan.
Sesampainya di rumah sakit,Rehan segera ganti baju pasien, dibantu Ita ia segera berpura-pura memsang alat medis, seperti infus dan alat rekam jantung untuk memberi kesan Rehan sekarat saat ini.
Ita sudah mengabari hammam kalau ia dan Rehan sudah berada di rumah sakit, hammam segera berlari ke ruangan vip yang sudah hemmam siapkan.
"Hah? Han? Lo kenapa han?" Ujar Hammam khwatir saat memasuki ruangan vip, ia sudah melihat Rehan terbaring di ranjang pesakitan lengkap denagn alat-alat medis.
"Rehan kenapa ta?" Tanya Hammam, melihat Rehan sedang tak sadarkan diri.
"Ngga apa-apa" jawab Ita santai.
"Ta serius,ini Rehan kenapa?? Kenapa pingsan? Perasaan tadi telpon gue dia ngga apa-apa" Ujar Hammam panik.
Ita ingin sekali tertawa melihat kepanikan dr.Hammam, apa iya suaminya sebagus itu dalam ber acting?sampai hammam tidak tau kalau Rehan hanya acting, atau mingkin Reha justru menikmati actingnya sampai tertidur di ranjang pesakitannya.
"Hih ngga apa-apa dokter Hammam" ita tetap memberikan jawaban kalau ia tidak apa-apa.
Hammam mengernyitkan dahi, kenapa Ita jadintak perhatian begini melihat Rehan yang terkulai di ranjang pesakitan?. Kini Hammam mengeluarkan stetoscopenya, ia segera menempelkannya ke dada Rehan.
Ita semakin tak bisa menahan senyumnya,rasanya Ita sekali tertawa.
"aneh,Jantungnya normal, semuanya normal, lalu kenapa harus pakai ini semua" ucapHammam keheranan, hammam melihat tubuh Rehan yang sudah banyak terpasang alat medis.
"Apa sebagus itu aku ber acting ha?" Ucap Rehan mengejutkan Hammam.
"Allah" pekik Hamam kaget, bagaimana ia tidak kaget, Rehan tiba-tabia saja membuka mata dan langsung berbicara.
"Aaaishhhh... serius saja kau ini!!" Pekik hammam kesal dengan memukul dada Rehan sampai Rehan benar-benar merasa sakit karna pukulan Hammam.
"Aaa, sakit mam" ucap Rehan mengelus bagian yang Hammam pukul tadi.
"Maksut lo apaan kayak gini, bikin gue jantungan tau gak!!" Ujar Hammam sangat kesal terlihat dari raut wajahnya.
"Ya, maaf mam."
"Pokoknya gue ngga mau tau, lo harus jelasin ini semua ke gue titik!."
"Iya-iya gue jelasin tapi lo jangan ngedumel gitu dong" rayu Rehan agar hammam tak alagi marah kepadanya.
"Jadi gini Ham, gue bakal ngadain ftv gitu disini, nah lo kebagian oeran di ftv gue" ucapan Rehan benar-benar tidak bisa dipercaya Hammam kali ini.
"Ngaco lo, kayaknya otak lo hari ini lagi ngga beres" sanggah Hamam.
"Aishh, kata mau gue jelasin, udahlah jangan protes dulu. Pokoknya tugas lo adalah, bilang aja kalau keadaan gue itu sekarat karna keracunan, lo tinggak jelasin itu ke Ita, intinya nih ya, lo di ftv gue berperan sebagai dokter yang nanganin gue" Rehan menjelaskan panjang lebar kepada Hammam.
tapi hammam malah menganggap ini lelucon.
hammam tertawa mendengar penjelasna ngalor ngidul dari Rehan, entah dari mana anak ini sampai bisa ngmong se absurd itu, "Sumpah gue ga ngerti, yang benar aja kalo ngmong han."
Rshan mengangkat tangannya, ia hamoir saja teroancing ingin menjitak kepala hammam, "Aishhh" Rehan dibuat kesal dengan hammam.
"Gue serius ini, udah lab lo turutin aja, omongan gue plis gue mohon ya"pinta Rehan, hammam masih tidak yakin kalau Rehan serius akan melakukan hal yang tak masuk akal oleh hamam, apa ambisinya coba.
"Dokter, Pras sudah datang ke Rumah sakit, 3 menit lagi ia akan sampai di ruaangan ini" ucap Heni saat masuk ke ruangan.
"Oke mam akan dimulai, gue percaya sama lo" Ucap Rehan menepuk pundak Hammam, dan kemudian Rehan kembali tertidur di ranjang pesakitannya.
"Hah?" Hammam masih melongo bingung.
Sedangkan Ita sudah menyiapkan obat tetes mata, ia sedang menetesi matanya dengan obat tetes mata jaga-jaga kalau air matanya tak bisa keluar.
Ita tersenyum, "dokter hammam lakukan saja apa yang dokter Rehan pinta ya, sebentar lagi kamera akan hidup" jawab Ita.
Hamam kini mengamati sekeliling ruangan, ia sama sekali tak melihat kamera, apa kameranya tersembunyi? Apa yang mereka lakukan??.
"Hiks.. hikss.. hikss... kak Rehan" tangis Ita dengan histeris.
"Hah? Ta ngapain?" Tanya hammam yang keget melihat kelakuan Ita menangisi Rehan yang jelas-jelas ia tidak apa.
terdengar Suara kenop pintu ruang rawat vip sedang diputar, sesorang masuk ke ruangan.
Ita segera memberi kode Hammam untuk melakuakn tugasnyanseperti perintah Rehan. Mata ita melotot ke arah hammam sebagai kode.
"Hiks.. hikss.. hiks..." ita masih meneruskan tangisnya.
"Apa Rehan akan mati sekarang Ta?" Tanya seorang yang baru masuk, taknalain itu adalah pras.
Ita mengalihkan pandangannya ke arah pras, ita tersenyum pahit kepada pras, "apa kau pikir kak Rehan akan mati?, hah, tidak! Ita yakin dia akan sembuh" ucap Ita, actingnya patut diacungi jempol.
"Dokter, bagaiman keadaan suami saya sokter?" Tanya Ita pada hamam, ia masih saja dengan ekspresi bingungnya.
Tapi mungkin ini waktunya Hammam ber acting seperti perintah Rrhan tadi, jadi hammam mulai angkat bicara, "dokter Rehan keadaanya sedang kritis, ini karna sistem pernapasan dan sistwm peredaran darah ke jantung dokter rehan sedang terganggu" jelas hammam.
"Apa? Apa yang menyebabkan itu terjadi?" Tanya Ita.
Hamam terdiam sejenak untuk berpikir,Rehan tak memberikannya naskah untik ftv nya, apa ini ftv yang mengandalkan improvisasi??- batin Hammam.
"Emmm,belum tau, kami baru bisa mengetahuinya setelah kami melihat hasil labnya, jadi mohon ditunggu" jawab Hammam lancar, ia mulai menikmati perannya.
"Tidak usah tunggu hasil labnya dokter, sepertinya ia tidak akan bertahan lama, ia tidak bisa bertahan sebelum hasil lab itu keluar" sahut Pras.
Ita mulai menunjukkan acting marahnya kepada Pra.
"Apa maksutmu berbicara seperti itu?" Sanggah Ita dengan nada kesal.
"Apalagi?? Tentu aku senang melihat Rehan yang sebentar lagi akan mati, kemudian giliran kau" tunjuk pras tepat di wajah Ita.
Ita memasang ekspresi kaget, "apa kau yang melakukan ini?" Tanya Ita dengan terisak.
"Apa kau berpikir seperti itu?" Pras bertanya balik.
"Ya! Siapa lagi kalau bukan kau" ucap Ita denga tersenyum pahit, air matanya terus menetes.
"Kenapa kau lakukan ini!! Kenapa kau setega ini melakukan hal ini kepada suamiku ha!!" Tangis Ita semakin histeris membuat susana ruangan jadi menecekam.
Hamam terdiam bingug menatap Ita, apa ini juga bagian dari skenario?? Tapi kenapa Ita seperti sangat mendalaminya??.
"Ta, orang yang mengetahui rahasiaku dan dia macam-macam, tentu tak akan lama lagi umurnya" ucap Pras dengan senyum liciknya.
"Dan kau tinggu saja giliranmu, karna sekarang hanya kamu saja yang menegtahui rahasiaku dan jelas-jelas menentangku" tambah Pras.
"Kau!!" Tunjuk ita tepat di wajah Pras.
"Kau harusnya mempertanggung jawabkan semua kelakuanmu" ucap Ita dengan nada terisak.
"Ita ita, aku sudah berjalan sejauh ini, lalu kau bilang aku harus mempertanggungbjawabkan perbuatanku??,"
"Hah," Pras membuang muka.
"Kau ini yang benar saja, akan sia-sia semua yang aku lakukan kalau aku menyerahkan diri kepolisi.
"kau tau, aku sudah memtuskan untuk tidak melanjutkan masalah kecelakaan meaki jelas kau merencanakan, tapi kini apa yang kau lakukan??! Kau malah ingin membunuh kak Rehan!!" Teriak Ita telat di depan wajah Pras.
"Itu karna suamimu sendiri yang menantang, ia ingin melaporkanku ke polisi dengan tuduhan peracunan yusuf."
"Kalau kau benar, tentu kau tidak akan takut dengan ancaman Kak Rehan, apalagi kau sampai meracuni Kak Rehan! Apalagi yang akan kau lakukan ha?!" Tangis Ita pecah dicampur emosi yang meledak-ledak.
"akan kupikirkan jalan apa yang tepat untuk mengahabisi anak tak tau terimakasuh sepertimu, setelah aku merencanakan kecelakaan ibumu 12 tahun silam, meracuni Yusuf sampai ia meninggal,dan kini aku juga meracuni Rehan sampai sekarat, tentu untuk menghabisimu juga akan kuberikan opsi, kau hanya perlu memilih, seperti ibumu atau seperti mertuamu??" Ucap Pras dengan tanpa bersalah.
Ita lega akhirnya ia bisa memancing ucapan itu. Ita masih meneruskan sandiwaranya, ia masih menangis terisak.
"Sebenarnya Ita, kecelakaan 12 tahun silam yang menewaskan ibunumu, sebenarnya kau juga adalah sasaranku, tapi kau beruntung bisa hidup sampai sekarang, tapi kini? Kau malah melawanku" ujar Pras denga memegang dagu Ita.
Ita segera menghempas tangan Pras,ia tak sudi disentuh orang seperti pras.
"Kau tau? Aku sudah handal melakukan ini semua, kecelakaan itu ditutup dengan putuaan kecelakaan tunggal, dan maslah yusuf, ia sudah dianggao meninggal dengan wajar, padahal jelas aku yang telah menyuruh suruhanku malam itu untuk meracuninya tapi kalian tak punya bukti untuk melaporkan kasus itu, dan yang sekarang, Rehan sekarat dan sebentar lagi akan tersebar kabar kematiannya, kau juga tidak bisa melaporkanku, aku sudah rapi menyusun ini semua sampai kau tidak bisa menemukan bukti apaoun, dan ya, jika kau pikir cctv di ruangan ini hidup, kau salah Ita, aku sudah menyuruh anak buahku untuk mematikannya sebelum kesini" Pras tertawa keras setelah mengucapkan itu.
"Ah iya, tentu saja kau kurang pintar dalam menemukan kami" ucap seorang polisi yang keluar dari balik pintu kamar mandi. Ia menunjukkan handphone yang sudah merekam semua ucapan Pras.
Mata pras membulaf sempurna mendapati seorang polisi kini ada didepannya.
"Keluar semua, kita sudah banyak buang waktu mendengar ocehan bedebah ini" ujar polisi itu.
setelah ia mengucapkan itu,seketika semua polisi keluar dai persembunyiannya, jadi bukan hanya satu polisi tapi 5 polisi kini keluar dari persembunyiannya dan mengepung Pras dengan menodongkan senjata 4pi "angkat tangan!!" Ucap salah satu polisi.
Bukan hanya pras yang di buat kaget, hammam ikut kaget bukan main aaat melihat polisi tiba-tiba keluar dari balik pintu kamar mandi, shofa, dan dari sudut-sudut tak terduga.
Bahkan ita juga di buat kaget karna Rehan tak memberitahukan ini sebelumnya, jadi ini yag Rehan maksut kejutan untuk Pras.
wajah Pras seketika berubah 180 drajat, ia tmapak ketakutan"Apa-apaan ini."
"Apa!? Kau sudah tertangkap basah, lagipula kau sudah memberiakb keterangan secara gamblang barusan" ucap polisi memperlihatkan hasil rekaman.
"tidak! Tidak! Apa yang aku katakan itu tadi hanyalah kebohongan" Pras mencoba mencari alasan, namun tentu polisi bukanlah orang bodoh yang percaya ucapannya.
"Sepertinya kau masih ada kurangnya dalam melakukan kejahatanmu" ucap Rehan yang tiba-tiba bangun menegjutkan Pras.
"Hah? Tidak mungkin kau??" Pras membelalak tak percaya, melihat Rehan baik-baik saja Pras segera mengalihkan pandangannya ke Heninyang sedari tadi diam.
"Kau?" Pras menunjuk tepat ke arah Heni, "apa kau lupa nasib anakmu!!?" Ancam Pras.
Heni hanya bisa terdiam takut mendengar gertakan Pras, nemun tentu saja gertakan pras kini tak ada harganya lagi.
"Kau tak perlu mengurus adam, adam lebih aman dengan ibunya" ucap seorang polisi yang masuk ke rungan dengan menggendong Adam,dibelakangnya diikuti pula beberapa polisi yang berhasul meringkus anak buah Pras.
"Apa?" Pras melongo tak percaya, kenapa bisa semuanya jadi begini??.
"Adaammm" panggil Heni saat melihat adam baik-baik saja dalam gendongan polisi.
"Ibuuuukkk" panggil adam dengan tangisnya,tak lama kemudian, adam sudah beralih di gendongan Heni.
Heni menciumi anaknya, rasa khawatirnya hilang seketika saat bisa memeluk Adam kembali, kininrak ada yang perlu heni khwatirkan.
"Ngga mungkin" Pras masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Ah banyak yang tidak mungkin menurutmu tapi menurut kami" ucap seorang polisi yang mendekati Pras dan langsung meringkusnya,ia langsungmmeborgol kedua tangan Pras.
"Ngga-ngga saya tidak melalukan apappun pak" Pras maih saja mengelak.
"Nanti kita cerita di kantor polisi ya" ( wedehh udah kayak story Ig. Aja hheheh)
Polisi tersebut kemudian meringkus pras dan para antek-anteknya untik segera dibawa ke kantor polisi.
"Terimakasih banyak sudah meringankan tugas kami pak" ucap komandan polisi.
Rehan segera turun dari ranjang dan berjabat tangan dengannya,
"saya yang harusnya berterimakasih kepada bapak" Rehan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan disambut baik oleh bapak polisi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakaih untuk semua pembaca yang sudah sudi membaca cerita saya yang jauh sekali darinkata bagus ataupun menarik, saya betul-betul sangat berterima kasih kepada kalian tanpa kalian, cerita ini bukanlah apa-apa.
Saya juga berterima kasih untuk selalu sudi memberikan like atau komentar di cerita ini, saya harap saya terus bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya kedepannya.
Terimakasih kalian semua, tanpa kalian saya tidak terpacu untuk menyelesaikan tulisan ini.
saya sangat menyadari banyaknya kesalahan dan kekurangan dalam tulisan saya dikarnakan kurangnya ilmu pengethuan saya.
untuk itu saya sangat terbuka atas segala masukan kalian
Salam hangat,
Maulida662.