You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
34



"Ada dua cara untuk menjalani hidup menyenangkan. Entah itu ada di dalam hati seseorang ataukah dalam doa seseorang"


- Ali Bin Abi Thalib -


🌹


Percakapan antara Yasmin, ita dan Rehan di gazebo belakang rumah masih berlanjut. Setelah puas menggida Ita, kini Yasmin mulai membuka pembicaraan yang lebi serius.


"Ita, Rehan" panggil Yasmin kepada anak dan menantu kesayangannya dengan nada lembut.


"Iya ummi" sahut rehan dan Ita bersamaan.


"Kalian pergi lah sekali-kali berdua, jangan terlalu sibuk bekerja, ummi tau pekerjaan kalian itu bukanlah hanya sekedar pekerjaan, tapi sudah seperti panggilan kemanusiaan bagi diri kalian, memberi semangat dan kebahagiaan bagi orang lain,"


"Tapi bolehkah ummi minta kalian supaya jangan lupa membahagiakab diri kalian juga" tutur Yasmin lembut rak ingin nasehatnya menyakiti hati siapapun.


Suasana tiba-tiba mnjadi sunyi, Rehan tak bisa menanggapi ucapan Umminya, di dalam hati Rehan juga ingin sekali menikmati hari dimana hanya ada dia dan Ita, namun hal itu sudah seperti hal yang mustahil, karna diakhir pekanpun, saat Rehan tak ada jadwal, Ita bisa mendadak mendapat panggilan darurat atau sebaliknya.


Dan Ita hanya bisa menunduk diam mendengar tutur kata dari ummi Yasmin, bagi Yasmin mungkin ini adalah nasehat lembut yang sudah dipilih betul kata-katanya agar tidak menyakiti hati Ita, tapi tetap saja, bagi Ita,kata-kata Yasmin seperti tamparan baginya karna sebagai istri, Ita selalu sibuk sampai tidak ada waktu untuk mengurus Rehan.


Melihat Rehan dan Ita yang hanya diam tidak menanggapi ucapan Yasmin, Yasmin rasa ucapannya membuat mereka berdua tidak nyaman, "aaahh kalian ini,jangan terlalu serius, sudahlah masuk yuk, sudah mau maghrib" ucap Yasmin mencairkan suasana.


Sontak kedua mata Ita menuju ke wajah sumringah yasmin, Yasmin menarik lengan Ita dan menggandengnya masuk ke dalam.


Yasmin menggandeng tangan Ita dengan erat menuju ke dalam rumah, Yasmin berhenti di ruang makan, Yasmin menghadapkan dirinya didepan Ita, tangan Yasmin mulai terulur menyentuh pipi Ita.


"Maafkan ummi ya sayang,ummi sama sekali tidak ada niat menyampuri urusan kalian" ujar Yasmin.


Dengan segera Ita menyanggah ucapan mertuanya itu, "ah tidak ummi, ummi kenapa harus minta maaf? Ita selalu senang mendengar nasehat ummi" Ita menggapai tangan Yasmin di tangkuokna di wajahnya, Ita mencium punggung tangan wanita kesayangannya itu; "Ita minta bimbingan ummi, supaya bisa menjadi istri yang baik" ujar Ita dengan tulus.


Yasmin hanya menimpali dengan anggukan kecil juga senyum yang mngembang di sudut bibir Yasmin.


🌹


Seuisai sholat maghrib dan isya, Yasmin segera turun kr dapur untuk mrmbantu bi Heni menyiapkan makan malam, setelah semua siap, Yasmin memanggil Rehan, Ita juga Sabil yang beberapa hari kedrpna akan menginap disini.


"Rehannn... Itaa... turun sayang kita makan malam" suara Yasmin mempu memggema ke seluruh rumah bahkan sampai ke lantai atas.


Ita sedang membatu Rehan membuka kancing baju kokonya setelah pulang dari jamaah isya'.


"Sabilll... bill turun bill" teriak yasmin lagi.


Rehan terkekeh mendengar suara melengking dari umminya itu, "ummi suaranya ngga berubah, selalu aja super cerewet kalau masalah jadwal makan buat anak, semangat pula kalau ngrecokin kita" ujar Ita tersenyum sembari mengambilkan kaos putih polos untuk Rehan.


"jadi pingin ngrecokin anak juga" ucap Rehan sembari terkekeh lebar. tanpa ia sadari, ucapannya mampu membuat Ita tertegun di depan lemari baju, entah kenapa akhir-akhir ini Ita merasa sensitif bila membicarakan soal anak ataupun kesibukannya.


Melihat Ita yang diam mematung di depan almari membuat Rehan tersadar akan ucapannya barusan, Rehan segera menghampiri Ita, mengambil alih kaos putih di tangan Ita, segera memakai kaosnya kemudian merangkul tubuh ramping Ita, "kita makan sekarang ya" ucap Rehan lembut tepat di telinga Ita.


Rehan membawa tubuh Ita keluar dari kamar menuju ruang makan. Di meja panjang berisi 6 kursi ini biasanya keluarga mereka berkumpul untuk makan malam. seperti biasa, Rehan duduk di sebelah Ita, kali ini ada sabil adik sepupu Yusuf yang ikut makan malam, beberapa hari kedepan ia akan tinggal di Rumah Yasmin.


"Om Iky ( suami sabil ) kapan balik tante?" Tanya Rehan membuka percakapan sembari Ita sedang menyiapkan seporsi makanan untuk Rehan.


"Seminggu lagi kali han" jawab Sabil.


Rehan mengangguk menanggapi jawaban tantenya, kemudian percakapan Rehan dan sabil berlanjut ke arah pekerjaan Iky, dengan semangatnya Sabil menceritakan pekerjaan suaminya yang tak lain adalah seorang pengusaha sukses.


Setelah mengambilkan makanan untuk Rehan, Ita kemudian berniat akan mengambilkan makanan untuk mertuanya itu, namun segera diambil alih oleh Yasmin, "biar ummi sendiri saja ya" jar Yasmin.


"Ah iya ummi" jawab Ita sopan.


"Uhuk uhuk uhukk" Yasmin tiba-tiba saja terbatuk-batuk, dengan cemas Rehan segera menyodorkan air putih untuk umminya, "ummi ngga apa-apa?" Tanya Rehan cemas.


Yasmin berdaham mencoba mengkontrol batuknya, "ngga... ngga apa-apa kok."


"Ummi sakit?" Tanya Ita yang ikut cemas.


"Mbak, tenggorokannya kenapa?" Tanya sabil pula yang tak lain juga seorang doker, namun ia memutuskan untuk berhenti setelah menikah.


"Uhuk.. uhukk.. ekhemmmm" Yasmin meminum kembali air yang diberikan Rehan.


"Kalian ini kenapa?? Cuma batuk biasa" ujar Yasmin santai.


"Mbak. . . Mbak jangan lupa kalau mbak ini dikelilingi oleh tiga dokter, jadi kalau ada keluhan apapun mbak langsung aja bilang ya" ujar Sabil dengan wajah cemasnya.


Yasmin mengangguk pasti dengan senyum melebar di bibirnya.


"Keluhan sekecil apapun, ummi harus bilang ke kita, jangan diabaikan saja ummi meskipun cuma batuk" sahut Rehan menggenggam erat tangan umminya.


"Iya-iya ummi paham, tapi ummi benar-benar ngga apa-apa kok,"


"Oh iya, kalian Rehan sama Ita, gimana kalau kalian besok ke rumah Ita saja ya? Bukannya apa-apa, tapi kasihan mbok yang kerja di rumahnya Ita pasti kesepian" tutur Yasmin dengan lembut, tentu maksut lain dari perintah Yasmin adalah ingin mereka berdua bisa punya waktu berdua.


"Tapi ummi..." sanggah Ita.


"Disini kan ada tante sabil, ada mbak heni juga jadi ngga apa-apa, lah kalau mbok jah?? Di rumah sama siapa?."


Kini Ita mengerti, Ita memang rindu sekali dengan mbok jah yabg sudah merawatnya sejak kecil,ia juga rindu dengan susana rumahnya, sudah lama ia tidak berada di Rumah.


Sekilas Rehan menatap Ita dan Ita mengangguk mengiyakan.


🌹


( ke-esokan harinya )


Seperti biasanya, Rehan dan Ita segera bersiap-siap untuk berangkat ke Rumah sakit dengan mengendarai mobil sendiri-sendiri, itu karna perbedaan jadwal antara Ita dan Rehan, terkadang diantara mereka ada yang seharian penuh di Rumah sakit.


"Kak, pakai kemeja putih?? Ita sudah setrika kemarin" Ita mengambilkan kemeja putih Rehan, dan membantunya memakaikan kemejanya.


"Makasih sayang" Rehan mengecup kening Ita dan segera bergrgas turun ke bawah, Rehan sudah mendapat panggilan untuk segera datang ke Rumah Sakit.


"Han?? Sarapan dulu!" Panggil Yasmin saat melihat Rehan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Maaf ummik, Rehan sarapan di sana aja ya" Rehan menyium punggung tangan Yasmin juga kening yasmin dan segera keluar dari Rumah.


"Pagi sayang" Yasmin memeluk menantu kesayangannya dengan hangat.


"Sarapan dulu ya" titah Yasmin. Ita melihat sekilas jam yang melingkar dipergelangannya, "aahhh iya ummi."


"Oiya bi Heni? adam gimana keadaannya?" Tanya Ita saat bi heni sedang menaruh lauk ke meja makan.


"Adam masih suka ngeluh sakit di kepalanya non."


"Euummm... jadi, karna sel tumor otak pada Adam sangat dekat dengan saraf sehat dan berisiko terganggu bila sel tumor tersebut diambil jadi dokter tidak mengangkat sepenuhnya tumor adam dengan pertimbangan untuk kesehatan sarafnya..." belum selesai bicara, Bi Heni sudah syok terlebih dahulu mendengar penjelasan Ita, "jadi maksudnya dokter? Masih ada tumor di otak Adam?" Mata Bi heni mulai berkaca-kaca,dengan cekatan Yasmin merangkul tubuh Heni.


"Aahh bi Heni tidak perlu khawatir, Adam selalu rutin menjalani radioterapi dan kemoterapinya kan??" Tanya Ita.


"Dokter, saya selalu tidak tega melihat Adam kecil selalu meringis kesakitan saat menjalani radioterapi apalagi kemoterapi, kalau bisa saya ingin sekali menggantikan sakit yang adam rasakan saat menjalaninya" Air mata mulai menetes dari oelupuk heni saat teringat rintihan Adam.


Ita menghirup napas panjang, sebagai seorang dokter, Ita bukan diajarkan untuk simpati saja tapi harus bisa berempati. ia yakin ini bukan suatu yang mudah, melihat anak tersayang harus kesakitan dan seorang ibu tak bisa melakukan apa-apa.


Ita menggapai tangan Heni, "bi, pengobatan dengan cara itu penting untuk Adam, dengan itu bisa menghancurkan sel-sel tumor yang tidak bisa diangkat, Ita yakin adam akan segera sembuh total, ibu harus tetap ada di sisi Adam, memberinya semangat dan dukungan agar ia semangat menjalaninya, Ita yakin adam kuat" ucap Ita diakhiri senyum yang lebar.


"Terimaksih non" Ucap Heni sesegukan di pelukan Yasmin.


"Yasudah, Ita harus berangkat sekarang, Ita pamit dulu ya Assalamualaikum" pamit Ita yang kemudian mulai berjalan keluar dari rumah.


🌹


Angkasa Hospital Center


"Nah itu dokter Ita sudah datang" ujar Kiki kepada seorang laki-laki ber snelli di sebelahnya.


"Pagi!" Sapa Ita.


"Ah pagi dokter."


"Dokter Ita perkenalkan, ini dokter Rangga, ia akan memulai masa intership disini" Kiki memperkenalkan laki-laki muda disebelahnya.


"Dokter Rangga perkenalkan, ini profesor bedah saraf di rumah sakit ini, namanya dokter Ita, diusia mudanya ia berhasil menyelesaikan studi spesialis bedah saraf" ucap Kiki bangga memperkenalkan Ita kepada Rangga.


Ita tersenyum sembari mengangguk tanda menyambut kedatangan Rangga.


"Halo dokter" Rangga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ita.


Ita sempat tersentak saat mendapati Rangga mengulurkan tangannya, Ita kikuk mau merespon bagaimana.


"Ah Iya, Halo selamat datang semoga selesai sampai akhir" Ita menangkupkan kedua telapak tangannya.


Merasa jabat tangannya diacuhkan, Rangga segera menarik uluran tangannya dan mencoba bersikap biasa saja guna mencairkan suasana. "Mohon bantuannya prof" ujar Rangga.


"Iya pasti, kamu harus lebih semangat, karna dokter di sebelahmu dokter Kiki sebentar lagi akan menyelesaikan masa intershipnya" ujar Ita memberi semangat.


"Dokter Ita?! sudah ada pasien yang menunggu" ujar salwa yang datang dengan tergsa-gesa.


"Kita ke Ruangan saya sekarang ya" ujar Ita bersemangat, Ita selalu bersemangat saat ia bisa berbagi Ilmu dengan yang lain.


Rangga dan Kiki segera mengikuti Ita dari belakang berjalan dengan langkah panjang. Mereka berjalan dengan penuh wibawa, senyum selalu mereka tebar saat berpapasan dengan orang yang mereka temui.


Ita mulai duduk di tempatnya, memanggil pasien demi pasien yang masuk dengan berbagai keluhan mereka. Sebagai dokter, Ita harus pandai menjelaskan dengan sopan penyakit pasiennya.


"Pasien selanjutnya" panggil Kiki yang sedang berdiri dibelakang Ita bersama Rangga.


Seorang wanita paruh baya diantar seorang putri berusia 20 tahunan, mereka sudah datang beberapa waktu lalu untuk memeriksa keadaan sang ibu.


"Assalamualaikum dok" salam putri kepada dokter-dokter yang ada di Ruangan Ita.


"Wa'alaikumussalam" jawab Ita, kiki dan Rangga bersamaan.


"Silahkan duduk."


Ita memperlihatkan monitor di mejanya ke arah sang ibu dan putrinya, itu adalah hasil pindai MRI ibu itu waktu lalu.


"Bisa dilihat, ada benjolan dibagian ini, setelah melalui berbagai pemeriksaan kami bisa menyimpulkan itu adalah tumor."


Sontak sang putri terkejut dan menangis, "hahhh ibuu... ibu bagaimana ini bisa terjadi" tangis putrinya sembari menangkupkan telapak tangannya ke wajah sang ibu.


"Jangan khawatir, setiap penyakit sudah ada obatnya, yang terpenting kita harus ikhtiar, kita harus secepatnya mengangkat tumor tersebut."


"Lakukan dokter, saya mohon lakukan apapun agar ibu saya bisa sehat kembali" sang anak meraih tangan Ita dan menggenggam erat.


Ita mengangguk pasti, "kita bisa jadwalkan kapan ibu bisa segera dioperasi" ujar Ita.


Sang putri mengiyakan dengan pasti, "iya doker, terimaksih" ujar sang anak dengan deraian air mata.


Sedangkan sang ibu, hanya diam saja tak berbicara sepatah katapun seperti ada yang mengganggu dipikirannya.


"Dokter" panggil sang ibu dengan suara lemah.


"Iya bu?."


"Saya tidak bisa melakukan operasi itu, saya lebih baik seperti ini saja" ujar sang ibu.


"Ibu!" Sentak anaknya, tidak segera menjalankan pengobatan tentu akan berdampak buruk bagi kesehatannya.


"Dokter, saya dengar setiap seorang yang telah melakukan bedah saraf, mereka tidak bisa lagi mengenali keluarganya, saya tidak ingin seperti itu dokter, saya tidak ingin" ujar sang ibu dengan nada memelas, air matanyapun mulai bercucuran.


"Buu...!!" Panggil si anak sembari menatap miris pada ibunya


"Lebih baik saya hidup dengan rasa sakit bersama kelurga dan setiap krnangan dalam keluarga saya, daripada hidup tanpa sakit lagi namun tak mengingat keluarga saya, itu lebih menyakitkan hiks.. hikss.. hikss...." ujar ibu itu dengan tulus.


Hening, hanya ada suara tangis antara ibu itu dan anaknya yang mengisi ruangan Ita. Ita terdiam, sampai mereka bisa tenang terlebih dahulu, baru ia akan mulai menjelaskan.


"Bu.." ita meraih tangan pasiennya. "Teknologi bedah saraf saat ini sudah sangat maju, kita bisa memonitor keamanan saraf selama proses pengangkatan sel tumor otak."


*bersambung*