You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
41



Tidak tidurnya mata untuk selain mencari keridhaan-Mu adalah sia-sia. Dan menangisinya mata karena selain kehilangan-Mu adalah tidak berguna.


Imam Ghazali


Ayyuhal walad, 6.


🌹


"Kak, Ita hari ini ada siff malam" ketik Ita kepada Rehan.


Rehan yang memang sudah bersiap-siap untuk pulang, ia segera memabaca chat masuk dari Ita. "Kalau gitu, kakak temenin aja ya, kakak ngga pulang, kakak bantu kamu" balas Rehan.


"Ngga usah kak, kakak istirahat aja di Rumah, Ita akan sangat senang kalau kakak bisa istirahat di Rumah" jawab Ita, saat mengetik pesan, Ita sedang berada di Ruang kerjanya.


Kleekkk.. suara kenop pintu ruang kerjanya dibuka, Ita segera menutup telponnya, entah siapa yang berani langsung masuk ke ruangna kerja tanpa mengetuk pintu, yang jelas pasti dokter senior.


"Assalamualaikum" ucap seseorang keluar dari balik pintu.


"Kak Rehan" panggil Ita kaget melihat siapa yang datang.


"Kan ita sudah bilang, kakk pulang aja istirahat" ujar Ita dengan nada kesal, kalau tidak pura-pura kesal, Rehan pasti tidak akan pulang.


"Memangnya siapa yang mau sini" ujar Rehan.


"Trus?."


Cupp... Satu kecupan di kening Ita, "kakak cuma mau bilang, selamat ya... Kakak pingin ngucapin selamat sebagai seorang suami yang bangga dengan pencapain istrinya." Rehan tersenyum Lebar kepada Ita.


Dan Ita, tak bisa menahan senyumannnya, bagaimanapun itu, Rehan selalu bisa membuat jantung Ita berdetak tak karuan dan buat dirinya jadi salah tingkah.


"Makasih kak, Ita baghagia sekali punya kakak dihidup Ita" ujar Ita, kemudian Ita bangkit dari duduknya, menghampiri Rehan dan memeluknya erat.


Rehan menerima pelukan erat Ita, rasanya selalu ada ketenangan saat memeluk tubuh Ita.


"Nggak pingin lepas" ucap Ita yang mulai menunjukkan siis manjanya kepada Rehan.


"Uuu... Dedek tata" peluk Rehan semakin erat.


"Udah ah," Rehan mulai mengurai pelukannya, "nanti ke gep lagi, kalau ada yang tiba-tiba datang gimana" lanjut Rehan.


Ita menghembyskan napas kecewa, "haahh, padahal ita kangen sama kaka" ujarnya dengan mengerucutkan bibirnya 5 senti kedepan.


Rehan terkekeh geli saat melihat ekspresi tersebut dari wajah Ita, "yasudah kakak temenin kamu jaga."


"Ehh jangan-jangan, kakak tetep harus istirahat" Ita segera menolak tawaran Rehan, ita tidak ingin mengurai jadwal istirahat Rehan.


"Besokkan akhir pekan, kita habiskan waktu bersama, kita nikmati akhir pekan bersama, kita nikmati setiap waktu bersama" ujar Rehan kepada Ita.


Dengan Pasti Ita menganggum, "Iya kak."


"Kakak pulang dulu ya, Asslamualaikum" pamit Rehan, sebelumnya ia memeluk Ita sekali lagi.


.


Ita mulai pekerjaan jaga malamnya ditemani Rangga, Ita dan Rangga melakukan round visit, memastikan semu pasien baik-baik saja.


"Dokter" panggil Rangga sembari berjalan di belakang Ita.


"Iya?."


"Menurut dokter enak siff pagi atau malam?" Tanya Rangga untuk sekedar membuka obrolan agar setap pertemuan mereka tidak terkesan garing.


"Eumm, menurut saya enak tidur di rumah" cletuk Ita jujur.


"Hah" Rangga menahan ketawanya.


"Kalau gitu kenapa dokter memilih pekerjaan dokter" tanya Rangga lagi, secara kalau tidak ingin pekerjaan yang lelah da penuh tanggung jawab, bisa saja ia tidak ambil jurusan kedokteran semasa kuliah.


Ita berbalik badan secara tiba-tiba, sontk saja membuat rngga keget dibuatnya.


"Dengar Rangga, ini memang pekerjaan yang melelahkan karna banyak pasien yang membutuhkna ulura tangan kita, tapi janga sampai kita senang dengan kelelahan, karna semakin kita lelah itu artinya banyak pasien yang bertambah" tutur Ita.


Meski kata-kata Ita sulit dipahami oleh Rangga, tapi Rangga tetap mengngguk memberi kode kalau dirinya mengerti, toh ia akan memikirknanya sambil berjalan, ia hanya butuh waktu memahami kata-kata Ita.


Round visit bisa diseleaaikan Ita dan Rangga di jam 12 malam, Ita kemudian kembali ke ruang kerjanya, dan Rangga pamit ke doctor dormitory.


Di rung kerjanya yang penuh dengan buku-buku, dan jurnal medis, Ita menyempatkan diri untuk menyeduh kopi, di malam seperti ini, kopi adalah minuman yang cocok untuk menemani malam panjang baginya.


Ita menarih kopinya di meja, sebelum meminum, ia menghirup aroma khas kopi yang menenagkan baginya.


Baru saja ingin meminum, pintu Ita diketuk, Itu pasti Rangga. "Masuk" ucap Ita mempersilahkan.


Rangga masuk ke Ruangan Ita dengan semangat dan senyum merekah, kedua tangannya sibuk membawa dua cup coffe yang baru saja ia beli, namun seketika senyum Rangga sirna saat melihat segelas kopi di tangan Ita.


Rangga berbalik badan, ia berniat akan membuang kopi yang ia belikan untuk Ita. Karna Rangga sadar, Ita adalah Ita yang selalu menolak pemberiannya.


Ita tak takin apa tebakan benar atau tidak, rapi Ita yakin Rangga membelikan saru kopi itu untuknya, dan mungkin ia akan membuangnya saat melihat dirinya yang sudah memegang segelas kopi.


"Rangga tunggu!."


Rangga terdiam memating saat Ita memanggilnya, Rangga mencoba menarik napas panjang l, mencoba mengatur hatinya yang tak karuan saat dihadapkan dengan keadaan seperti ini, Rangga mulai membalikkan badanya, "Iya dokter??" Tanya Rangga tersenyum.


Ita kemudian berdiri dari tempat duduknya, ia mulai berjalan menghampiri Rangga, Rangga sampai dibuat tahan napas saat Ita mulai berjalna ke arahnya.


Saat sudah berada di depan Rangga, tanpa basa-basi Ita mengambil kedua cup coffe yang Rangga pegang, kali ini kedua coffe otu sudah beralih di tangan Ita.


Ita mengambilnya dan menaruhnya di meja depan sofa ruangannya, "eeumm.. dokter Rangga, maaf sekali, tapi apa boleh saya meminta satu kopi yang anda beli?? Satu kopi sepertinya tidak cukup untuk begadang malam ini," ujar Ita sembari menata meja sofa yang penuh dengan tumpukan kertas.


Hati Ranggapun luluh, meski Rangga tau dari kiki kalau dokter Ita tidak bisa minum 2 gelas kopi,tapi kali ini bilang satu kopi tidak cukup, itu artinya ia menghargai pemberiannya kali ini.


Rangga mulai bisa tersenyum kembali, ia mulai berjalan menuju ke sofa dan duduk di seberang Ita.


"Tentu saja boleh dokter, saya sangat senqng kalau dokter Ita meminta itu tanpa saya harus tawari" ujar Rangga malu.


"Eum dokter" pnaggil Rehan ingin menanyakan sesuatu.


"Iya?."


"Kenapa dokter selalu menjaga jarak dengan laki-laki?? Apa dengan laki-laki siapapun dokter akan terus menjaga jarak??" Tanya Rangga penasaran, terlebih ia sangat penasaran karna sepertinya Ita hanya menjaga jarak dengannya saja


"Tidak, saya tidak pernah jaga jarak dengan laki-laki, saya hanya bergaul dengan laki-laki yang memang mahram saya" jawab Ita tegas namun santai sembari sesekali meminum kopi panasnya.


"Mahram??" Tanya Rangga tidak mengerti dengn istilah itu.


"Iya mahram, jangan bilang kalau kamu tidak tau mahram itu apa." Tanya Ita menelisik.


"Maaf dokter, sepertinya masih banyak yang saya tidak ketahui dalam Islam" ujarnya.


Ita tersenyum menunduk, dengan senang hati Ita akan memberitahu Rehan, "pengertian mahram dalam ajaran agama islam, yaitu beradal dari kata bahasa Arab yang berarti artinya Haram dinikahi baik itu nikah secara resmi ataupun nikah secara tidak resmi seperti nikah sirih. Mahram juga berasal dari makna haram, yaitu para wanita yang haram untuk dinikahi dan disini yang dimaksut dengan bentuk dari keharamannya itu sendiri adalah bersangkutan boleh atau tidaknya melihat aurat dari laki-laki atau wanita tersebut, baik secara langsung ataupun tidak langsung" jelas Ita panjang lebar.


Ita melihat raut kebingungan dari Rangga yang tidak mengerti apa yang Ita bicarakan, "intinya adalah, Islam selalu menjaga dan menjunjung tinggi kehormatan seorang perempuan, untuk itu hanya seorang yang mahram lah yang bisa melihat aurat dari si wanita, untuk itu saya mencoba menjaga apa yang Allah muliakan untuk wanita, saya menjaga diri sayaa dari laki-laki yang bukan mahram saya" lanjut Ita.


Untuk kali ini, pengertian yang diberikan Ita bisa ditangkap dengan baik oleh Rangga. Ita terkekeh saat melihat Rangga yang mengangguk anggukkan kepalanya.


"Dokter Rangga ini jangan-jangan pas pelajaran agama suka tidur ya" sindir Ita dengan maksud bercanda.


Rangga hanya bisa membalas dengan tawa renyahnya.


"Dokter," panggil Rangga.


"Iya?."


"Apa saya boleh meminta sesuatu kepada dokter Ita?."


"Katakan, kalau saya sanggup akan saya beri" jawab Ita.


"Saya ingin untuk malam ini saja," Rangga menghentikn perkataannya, sedangkan Ita menunggu lanjutan dari permintaan Rangga.


"Saya minta dokter berbicara sperti biasa kepada teman, tanpa menggunakan embel-embel dokter, saya ingin dokter Ita memanggil dengan nama saya saja, dan saya emmanggil dokter dengan 'Ita' " pinta Rangga, ia berbicara sembari menunduk, tidak seperti hiasanya, semua orang tau ini hal yang mudah dilakukan, jadi Rangga meminta hak tersebut.


Ita terdiam, belum ada jawabn dari Ita, dari awl Ita sadar kalau Rangga sepertinya ada rasa dengannya , Ita adalah wanita yang peka soal perasaan.


Ita menghirup napas panjang sebelum menjawab, "TIDAK" ujar Ita singkat, sebisa mungkin ia mencari kata yang tidak akan menyakiti hari Rangga. Tapi sepertinya Ita tidak bis melkukan itu.


Sontak jawaban singkat padat dan jelas dari Ita membuat hati Rangga hancur, namun belum sepenuhnya hancur, karna kehancuran sepenuhnya akan ia rasakan setelah ini.


"Dokter, kalau memang saya bukan mahram saya, kalau begitu ijinkan saya menjadi mahram dokter" ujar Rangga dengan tiba-tiba, sampai ke membuat Ita tersedak.


Ita mengambil tissu dan mengelap mulutnya setelah tersedak, "ekehmm" ita berdaham.


"Saya menyukai dokter Ita."


Tok.. tok.. tok.. hanya ada suara detik jam yng berbunyi setelah Rangga mengucapkn isi hatinya, ini sudah Ita prediksi, ia berusaha agar Rngga jangan sampai mengungkapkan perasaanya, karna Ita tidak ingin membuat Rangga sakit hati, i sudah seperti adik bagi Ita.


"Jawabannya ada di kalimat saya sebelumnya" ujar Ita dengan tatapan kosong.


"Tidak??" Ulang Rangga.


"Hm."


Bagi Ita mungkin jawaban ridak sudah cukup, tapi bagi Rangga itu tidaklah cukup, ditolak tanpa alasan, bukankah ia harus menjelaskan kurangnya Rangga agar rangga bisa memperbaiki dirinya dan kembali memperjuangkan cintanya?.


"Kau tau kenapa aku melarangmu memanggilku dengan hanya nama saja?" Tanya Ita.


"Karna dokter menjaga kehormatan, dan memang seharusnya yang muda menghargai yang tua salah satunya dengan tatakrama memanggil" jawab rangga sesuai dugaanya.


"Tidak" tepis Ita.


"Aku bukanlah seorang yang gila kehormatan sampai tidak mau dipanggil nama oleh junior, jadi bukan itu masalanya."


"..."


"Lalu?" Tanya Rangga.


"Karna aku tau akan berakhir seperti ini" jawab Ita.


Rangga mengernyitkan dahi, kali ini jawaban ita benar-benar ambigu, mengerti akan kebingungan Ita, Itapun mulai menjelaska maksutnya.


"Selama ini aku mencoba untuk menghindari diriku dari ungkapan perasaanmu.,"


"Jadi selama ini dokter tau kalau saya punya perasaan spesial ke dokter?? Dan dokter malah selalu menghindar??! Dan untuk itu dokter selalu menolak setiap apa yang ingin saya berikan??.". Benar-benar diluar dugaan Rangga, dihindari lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.


"Karna aku tau, dihindari akan lebih menyakitkan darpida penolakan, kau sadar itu sekarang kan? Kalau kau menyatakan perasaanmu, akan besar kemungkinan aku akan menghindarimu, bersikap sangat formal kepadamu, suasana canggung akan membuat ketidaknyaman" jelas Ita.


"Untuk itu aku selalu berusaha menghindari perasaanmu itu."


"Lalu apa dokter kau akan melakukan hal itu?? Menghindariku??" Tanya Rangga tak ingin Ita menghindarinya, dan menciptakan susana canggung atas mereka berdua.


"Ya! Rangga dengarkan aku, jangan jatuh hati padaku, aku minta jangan jatuh cinta padaku" ucao Ita serius namun tidak meninggalkan sifat lembutnya.


"Tapi kenapa kau harus menghindariku?? Apa mengungkapkan persaan adalah suatu kejahatan??" Tanya Rangga yang merasa tak adil.


"Tidak, itu bukanlah suatu kejahantan,justru hal itu aka membuat hatimu merasa tenang,"


"Tapi bukankah memberi memberi harapan palsu juga akan membuat sesorang merasa dipermainkan, aku yang tidak bisa kau miliki, lalu yang kuperbuat selalu memberimu harapan, apa menurutmu itu tidak menyakitkan?" Tutur Ita lembut dan tak lupa senyum yabg menghiasi kedua sudut bibir Ita.


"Lebih baik tidak diberi harapan oleh sesuatu yang mustahil, dan l vih baik tidak usah berharap kepada siapapun kecuali kepada Allah, karan berharap selalin keoada Allah hanya akan menyisakan sakit dan patah hati" tutup Ita, ia berhrap Rangga mengerti apa yang Ita katakan, semoga kata-kata Ita tidak meninggalkan kesan jahat yang dalam, semoga ia bisa menerima keputusan Ita.


Ita kemudian berdiri dari duduknya, ia tidak bisa berdua di ruang ini bersama Rangga, "saya permisi."


Sosok Ita menghilang dibalik pintu, ia sudah pergi mebibggalkan Rangga, dan ini adalah awal baru Hubungan Rangga dan Ita yang akan terasa canggung, memang benar kata Ita, mungkin lbih baik Rangga tidak meyatakan oerasaanya jika akhirnya seperti ini, mungkin dianggap sebagai adik dari orang ia cintai lebih baik daripada tidak dianggap siapapun dalam hidupnya.


Tapi bila ditanya, "apakah kau menyesali telah menyatakan perasaanmu??" Tentu jawaban Rangga adalah "TIDAK!" lebih baik terus terang, seperti kata Ita, terus terang akan persaan akan membuat hatimu lebih tenang, jadi tak ada yang perlu disesali, hidup ini memang sebuh pilihan yang akan menghadirkan konsekuensi di setiap pilihannya.