
Manakah diantara kaum mukminin yang paling cerdas??"
Beliau (Rasulullah) menjawab :
"Yang paling banyak mengungat kematian dan yang paking bagus memepersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paking cerdas."
(H.R. ibnu majah no. 4259. Hadis hasan. Lihat Ash shahihah, no. 1384)
🌹
"Jadi gini ham" rehan masih ragu memberitahukn Hammam.
"Aishh" Hammam ingin menjitak kepala Rehan yang tak kunjung bicara alasan mengapa ia tidak bisa mengoprasi pasien tersebut.
"Pasien itu Ita," jawba Rehan akhirnya, Rehan menunduk saat telah mengucapkan nama ita. Sedangkan hammam masih terdiam tak percaya dengan apa yang barusan rehan katakan.
"Lo tau kan mam, mana bisa gue operasi istri gue sendiri" ujar Rehan sembari mengacak acak rambutnya frustasi.
"Tunggu-tunggu, gue masih spechless asli" Hamam mencoba menelaah apa yang Rehan tadi katakan.
"Maksud lo, ini" hammam menunjukkan foto hasil MRI, "ini punya Ita??" Hammam membulatkan matanya sempurna ia masih tidak yakin kalau yang sakit adalah Ita.
"Iya, makanya gue minta lo yang operasi Ita secepatany,gue minta tolong banget sama lo, gue ngga bisa nglakuin itu mam" pinta Rehan memelas pada Hammam.
hammam masih menganga tak percaya dengan ucapan Rehan.
"lo mau kan" Rehan memelas kepada hammam, namun hammam malah seperti orang melamun, "Woyy!!" sentak Rehan menyadarkan hammam.
"Oke!!" Hammam langsung mengiyakan padahal jadwal satu minggu kedepan begitu padat dan tidak ada hari kosong.
"Serius??" Mata Rehan berbinar ssaat Hamam m ngiyakan permintaannya.
"Oke, gue bakal atur jadwalnya dalam satu minngu ini, operasi tengah malam juga ngga apa-apa, yang penting Ita harus segera mendapatakan operasinya sebelum ini tambah parah" ujar Hamma yang begitu peduli debgan Ita, mau bagaimanapun juga, Ita juga sangat dekat dengan hammam, bukan hanya kedekatan sebagai rekan kerja.
"Makasih mam makasih" Rehan meraih tangan hammma ia begitu gembira saat ini.
"Iya sudah lah, sama-sama, yang sabar ya bro, gue yakin lo sama ita bisa lewatin ini semua bareng-bareng, dan gue janji gue bakal lakuin yang terbaik buat kesembuhan ita" hammam menepuk pundak Rehan sebagai rasa care Hamam terhadap Rehan.
"Iya makasih, makasih banget" ujar hammam.
Setelah percakpan Rehan dan hammam di kantin, Rehan kemblai lagi ke ruangan VIP tempat Ita di rawat.
****
"asslamualaikum" salam rehan saat masuk ke ruangan.
Ia mendapati seorang suster yang sedang mengirimkan makanan ke Ita, "makasih" ujar Ita saat menerima makanan dari suster. Setelah memberikan makanan. Susterpun keluar dari ruangan, tak lupa Rehan juga berterimakasih kepada Suster.
"Kak Rehan??" Panggil Ita sumringah mengetahui kedatangan Rehan. Rehan kemudian berjalan ke mendekati Ita.
"Udah slam kah?!" Tanya Ita yang tidak sadar kedtangan Rehan tadi.
"Sudahlah, kamu aja yang ngga denger" sahut Rehan, yang langsung duduk di ranjang bersebelahan dengan Ita.
"Wa'alaikumussalam kalau begitu" ita menjawab salam yang terlewatkan, bagaimapun juga menjawab salam. Itu wajib bagi setiap muslim.
"gimana keadaan kamu sekarang hm?" tanya Rehan dengan lembut sembari mengelus pipi mulus Ita.
Ita tersenyum mendengar pertanyaan yang rasanya lama sekali Ita tak pernah dengar. "masih tiba-tiba sakit nyut-nyutan sih kak di kepala, trus pandangan ita langsung kabur pas kepala Ita sakit" jawab ita dengan jujur.
Rehan menghela napas panjang, ingin rasanya Rehan menghilangkan rasa sakit itu, agar Ita tidak merasakannya lagi.
"berarti tandanya kamu harus makan dulu"
Rehan mengambil mangkok yang berisi bubur untuk sarapan Ita, Rehan berniat akan menyuapi Ita.
"lah mana ada kayak gitu??" timpal Ita.
"lah emang kayak gitu, kalau pusing mending makan aja" jawab Rehan terkekeh.
"Bismillahirrahmanirrahim" rehan mulai mengaduk makanan ita.
"Haaak" ucap Rehan memancing Ita agar membuka mulutnya. Itapun hanya menurut.
"Kak? Kenapa kakak terus yang nyuapin ita tapi Ita malah ngga pernah ngurus kak rehan" ujar Ita yang begitu merasa tak ada gunanya menjadi istri.
"Kamu ini ngmong apa??kamu mau kaka sakit ya?."
"Ish" ita menampar punggung Rehan,
"aw" pekik Rehan, padahal pukulan Ita sama sekali tak ada apa-apanya bagi punggung kekar Rehan.
"Kalau ngmong hati-hati kak, mana mungkin ita pingin kakak sakit, emang nyuapin kalau sakit aja" gerutu ita yang tak suka dengan becandaan Rehan, tentu saja karna ucapan adalah doa.
"Iya-iya maap ya" ujar Rehan, ia melanjutkan suapan kedua untuk Ita.
"Ta??" Panggil Rehan.
"Hm?."
"Apa kakak cuti aja ya buat ngurusin kamu dulu" ujar Reha serius kepada Ita.
Plaakkk ita memukul pundak Rehan lagi, "yah!" Pekik rehan saat ita memukuknya lagi.
"Kak plis deh, jangan ngmong yang ngga ngga, ita ngga apa-apa ngapain pake cuti buat ngurusin ita" protes Ita kesal dengan usulan Rehan.
"Heii.. gitu aja ngambek ya," sahut Rehan yang melihat bibir Ita sudah maju beberapa centi.
"Makanya jangan aneh-aneh deh" jawab ita dengan kesal.
"Iya-iya maap deh."
"Maap lagi, ntar ngomongnya nglantur lagi" ita melpat kedua tangannya di depan, ia pura-pura kesal dengan Rehan, usulannya memang tak masuk di akal Ita. Ingat! Hanya tidak masuk diakal ita, kalau di mata istri-istri lain si ya kalau suaminya sampe bela-belain gitu harusnya seneng, tapi ini nggak bagi Ita, ia malah bisa marah kayak gini.
"Ta??" Panggil Rehan lagi.
"Hm??."
Ita menoleh ke arah Rehan, "setelah ita pikir-pikir, memang sebiknya ita harus segera mendapatkan operasi, Ita selalu bilang ke pasien ita untuk optimis untuk kesembuhannya jadi ita juga akan menerapkan pada diri ita sendiri, ita harus ikhtiar dan optimis untuk kesehatan ita" ujar Ita yang sejak bangun tadi sudah memikirkan hal tersebut.
"Utututuu... pinternya istri Dokter Rehan, kakak seneng banget dengernya" Rehan menaruh mangkoknya dan memeluk Ita erat.
"Makasih ya sayang, terimakasih karena kamu tidak menyerah sampai saat ini" ujar Rehan sembari memeluk ita.
"Ita juga terimaksih kakak selalu ada untuk ita, ya meskipun suka telat" sindir ita.
Mendengar ucapan Ita, Rehan mau mengurai pelukannya namun ita menyambung lagi ucapannya, "tapi ita tetep sayang" lanjut Ita semakin erat memeluk Rehan , begitu juga rehan yang semkain erat memeluk Ita.
Setelah puas bepelukan seperti teletubbies mereka kemudian mengurai pelukan mereka, kini ita yang mulai ingin bicara serius dengan rehan, ada yang ita inginkan dari Rehan.
"Kak?."
"Ya?."
"Tapi ita minta sesuatu sama kakak" ujar Ita, wajahnya berubah jadi serius saat berbiacara, tentu Rehan yang melihatnya juga akan mendengarkan ucapan Ita yang tampak serius.
"Apa."
"Ita ingin kakak sendiri yang mengoperasi Ita, ita mohon sama kakak," ujar Ita dengan tatapan memelas.
"Nggak" rehan langsung menolak permintaan Ita, manabisa Rehan melakukan hal itu.
"Ta, kakak juga mohon jangan minta hal itu, kaka ngga bisa"
"Yang ada kakak malah ngga bisa fokus karna terlalu fokus sama kamu" ujar Rehan, ia benar-benar tidak bisa melakukan operasi dengan orang yang begitu dekat dengannya, apalgi ini adalah ita, mana tega Rehan.
"Kamu salah kalau meminta kakak melakukan itu, ta, Hammam sudah setuju untuk melakukannya dan kakak yakin percaya sama dia." Rehan meraih tangan Ita dan menggenggamnya erat.
"Apa kakak mau mempercayakan ita untuk orang lain??" Ucap Ita menatap sepasang retina Rehan, tatapan yang begitu lekat.
Dan rehan hanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan ita. Ita kini menenmpatkan tangannya diatas tangan Rehan, kini italah yang memegang erat tangan Rehan.
"Kak, Ita akan merasa aman kalau kakak sendiri yang melakukannya," ujar ita lembut, ita ingin rehan sendiri yang melakukan operasinya.
"Nggak ita, kamu nggak boleh percayain ini sama kakak, kakak ngga bisa" Rehan masih juga menolak, karna ia benar-benar tidak bisa melakukannya ini sangat sulit bagi Rehan meskipun kasusnya mudah, namun ini karna ita yang harus ia operasi.
"Kak, ita percaya sama kakak, ita hanya percaya sma kakak, jadi ita mohon lakukan ini untuk ita" pinta ita dengan sungguh-sungguh.
"Ita akan merasa aman kalau kakak sendiri yang melakaukan" ita menatap rehan dengam pandangan yang sangat lekat, berharap rehan mengiyakan permintaan ita.
"Ita mohon" ujar Ita lirih masih memohon kepada Rehhn untuk melakukannya.
"...." hening tak ada jawaban, Rehan tertunduk.
Setelah lama terdiam, dan hanya memnadang bola mata Ita yang begitu berharap rehan mengiyakan, akhirnya Rehan memutuskan. "ya akan kakak lakukan" ujar Rehan yang akhirnya mengiyakan permintaan sulit dari Ita.
"Aaaaaah" mata ita berbinar bahagia akhirnya Rehan mengiyakan permintaan Ita, tanpa aba-aba Ita langsung memeluk tubuh Rehan.
"Euummmn makasih kakak, Ita pasti akan merasa anagat aman kalau kaka sendirj yang melakukan itu pada ita, ita sangat percaya dengan kak rehan" ujar Ita bahagia sembari memeluk Rehan.
Sedangkan rehan hanya pasrah menerima pelukan ita, ini ia lakukan karna ita yang meminta dan karna ita yang berkata kalau ia percaya pada dirinya, jadi rehan tak boleh merusak keprcayaan ita, ia akan melakukan yang terbaik bagi ita, rehan juga harus menjaga persaannya agar semuanya bisa berjalan lancar nantinya.
Ita mengurai pelukannya, ia menatap Rehan lekat, dan penuh tanda tanya, "apa??" Tanya Rehan sat ita manatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Rehan.
"Bukannya jadwal kakak selalu penuh smpai satu bulan kedepan?? Jangan sampai kakak mengubah jadwal operasi yang lainnya" ujar ita, ita akan sangat tidak senang kalau hrus membuat pasien lainnya menunggu karna jadwal harus diubah.
"Kita bisa lakukan operasi tengah malam" jawab Rehan pasrah , ia masih pasrah karna telah mengiyakan permintaan Ita.
"Berarti tidak akan merubah jadwal operasi pasien lain kan??" Mata ita berbinar saat mendengar ucapan Rehan.
"Yaa" jawab rehan malas.
"Eeuuummm" ita memeluk kembali tubuh rehan, "ita bahagia sekali, bisa mendapatkan operasi dari dokter bedah saraf terbaik di negeri ini" ujar Ita bahagia di pelukannya.
"iissshhhh" ujar Rehan pasrah dengan pelukan Ita.
"Tapi ita kasihan juga sama kak rehan pasti capek banget, operasi ini kan biaa sampai 13 jam" ujar Ita yang kasihan karna suaminya pasti akan tidak tidur seharian karna harus melakukan dua operasi dalam sehari.
"Makanya jangan kakak ya" rehan masih berharap ita berubah pikiran.
"No no no, ita maunya tetap kaka ynag mengoprasi ita, Ita percayakan saraf ita sama kakak" ujar Ita memeluk Rehan semakin erat, dan Rehan masih pasrah, ia masih memikirkan nasibnya kalau dia harus berhadapan dengan ita di ruang operasi, apa yang harus rehan lakukan?.
"Yasudah kak sana cepat pergi, pasti sudah banyak pasien rawat jalan kakak yang menunggu."
Rehan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, "belum si, ini masih jam berapa??" Ujar Rehan.
Rehan kembali mengambil mangkok yang masih berisi bubur, rehan kembali menyuapi ita.
"Nggak kak ita udah kenyang" tolak ita dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Eitz, kali ini kamu harus turuti kakak, kakak udah mau loh nurutin kamu, padahal itu permintaan yang susah sekali buat kakak, jadi kamu harus makan demi kakak wajib!!" Perintah Rehan seakan tak bisa diganggu gugat lagi.
Berhubung Rehan sudah mau menuruti permintaan ita, jadi itapun harus memabalasnya, ini adalah semacam balas budi ya meskipun ngga seimbang ya, tapi tetep aja, yang penting adalah nurutin aja apa yang Rehan mau.
"Iya iya aaakkkk" Ita meembuka mulutnya lebar.
Rehan juga langsung menyuapi Ita. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang Rshan mehyuapi ita dengan penuh telaten sampai makannanya habis, itulah yang rehan perintahkan, jadi meskipun ita merasa sudah kenyang, mau tidak mau ia harus menghabiskan makanannya karna perintah Rahan.
"Habis alhamdulillah" ujar Rehan dan ita, reha. Kemudian mengmbilkab segelas air putih yang ada di atas nakas, Rehan membantu ita meminum air putihnya.
Tak hanya itu, rehan juga membantu ita meminum obatnya, seperti yang rehan Ketahui, Ita memanglah sangat susah kalau harus minum obat tablet.
Setelah selesai mengurus ita, rehan melihat jam yang melingkar di lebgannya, "tepat sekali" ucap Rehan.
"Yasudah, kaka pergi dulu ya, jangan lupa istirahat, nanti siang kakak datang lagi buat nyuapin kamu lagi" ujar Rehna bersemangat.
"Kalau ngga ada waktu, ngga apa-apa ngga usah dipaksain, ita malh sesih klau kakka sering maksain diri buat ita, ita ngga suka kayak gitu" unar Ita sebelum rehan pergi.
"Iya kak tahu, aku pergi dulu ya" rehan mengelus pucuk kepala ita.
"Assalamualaikum" ucap rehan."wa'alaikumussalam" jawab Ita.