
.
"Tiap kali iman melemah maka saat itu akan terasa sepele kemaksiatan dalam hati seseorang. Dia akan menganggap kemaksiatan itu hal ringan (juga akan) meremehkan juga bermalas-malasan dalam perkara wajib. Dia tidak mau peduli dengan kewajiban karna dia lemah iman."
(Syarah Riyadhus Shalihin, 1/496)
🌹
Bukan hanya saat berangkat, Rehan juga mengawal Ita saat dirinya pulang, tak mungkin juga Rehan bisa membiarkan Ita pulang malam tanpa pengawalan dari Rehan. Ita tetaplah istrinya, seorang yang akan menemaninya, bersamanya selamanya dalam ibadah pernikahan.
Rehan mengawasi Ita dari kejauhan melihat mobil Ita masuk ke rumah, Rehan kemudian mendekatkan mobilnya sampai ke deoan gerbang rumah Ita, Rehan juga harus memastikan Ita masuk ke rumah dengan selamat.
Rehan tersenyum melihat tubuh mungil Ita yang mulai masuk ke dalam rumah, memastikan dia sampai dengan selamat, membuat Rehan bisa tersenyum meski terlihat senyuman yang getir, "aku merindukanmu" ujar Rehan dibalik gerbang rumah Ita, ia kemudian meinggalkan rumah Ita dan pulang ke rumah.
****
Ita melempar tasnya dengan kasar, sebelum tidur, Ita mencuci wajahnya paling tidak, basuhna air wudlu ini bisa membuat Ita tenang.
Ita melepas jilbabnya, ia menghemoaskan tubuhnya di ranjang, lama ia terdiam hanya menatap langit-langit atap.
"Sampai kapan lukanya bisa sembuh?? Dengan begitu aku bisa memeluknya dengan erat" gumam Ita. Setelah lama ita melamun, tiba-tiba ita merasakan sakit yang luarbiasa di bagian kepalanya. "Aarrghhh" Ita menekan kesakitan kepalanya.
Sakit sekali bukan sakit karan pusing, ita menekan kuat kepalanya, "aaarrrghhh" pekik Ita kesakitan. Ita juga merasa ingin muntah, dengan segera Ita berlari ke kemae mandi, baru juga membuka pintu kamar mandi, ita sudah menyemburkan muntahannya.
Ini muntah yang berbeda seperti muntah mabuk perjalanan atau muntah mual karna hamil, Ita muntah menyembur jauh dari tubuhnya, "astaghfirullahal'adziim," ucap Ita refleks.
"Ah tidak-tidak, banyak sekali hal yang bisa menyebabkan muntah proyektil" gumam Ita mencoba berpositif thinking.
"Iya.. bukan, bukan karna itu" ita menguatkan dirinya sendiri dengan car mengucapkan kalimat positif thinking.
Ita kembali ke tempat tidurnya, ia harus istirahat agar besok pagi ia bisa ke rumha sakit seperti biasanya. Tak luoa ota berdoa aebelum tidur, berdoa kepada Dzat pemilik hidup dan Mati seluruh makhluk di semesta alam.
🌹
Kukuruyuuukkk... Ayam jantan berkokok tanda shubuh telah datang, Ita sedang berhalagan, jadi ia lebih memperbanyak dzikir kepada Allah.
Ita mulai bangun dari tempat tidurnya, badannya terasa lemah sekali, rasa sakit dikepalanya juga masih terasa kuat, ita mencoba menahan rasa sakit di kepalanya, ia bangkit dan mulai bersih-bersih badan bersiap ke Rumah Sakit.
"Non, sarapan dulu" panggil mbok jah yang sudah menyiapkan makanan di atas meja. Ita tersenyum menimpali senyum mbok jah, namun secara tiba-tiba saat Ita menuruni tangga, ia merasa kakinya terasa kebas, "aw" pekik Ita.
"Kenapa non??" Mbok jah langsung menghampiri Ita yang mengaduh di saat menuruni tangga. Mbok jah membantu Ita berjalan menuruni tangga. Ia kemudian mendudukkan Ita di kursi runag makan. "Kaki non sakit??" Tanya mbok jah begitu khawatir, mbok jah jongkok memijat kaki Ita.
"Aah mbok jah jangan, ngga usah" ita mencoba meminta mbok jah berdiri, "tolong jangan lakukan hal yang membuat ita mersa tidak sopan terhadap mbok jah" pinta Ita.
"Bahkan seorang ibu yang sangat dihormati anaknyapun, akan melaukan hal ini saat anaknya mengaduh kesakitan" mbok jah masih bertahan di posisi jongkoknya dan memijat kaki Ita, mencari bagian mana yang sakit, "apa masih sakit?."
"Tidak bi, tadi hanya tiba-tiba saja kaki Ita terasa kebas."
"Lebih baik mbok jah temenin Ita makan aja ya" ita tersenyum lebar, Mbok jahpun akhirnya menuruti permintaan Ita, ia menemani sarapan Ita pagi ini.
*****
Setelah sarapan, Ita melajukan mobilnya bukan ke Angkasa hospital Center, melainkan ke Seruni hospital, Ita sengaja berangkat pagi sekali untuk datang terlebih dahulu ke Seruni hospital.
Ita merasa ia perku memeriksankan kondisi tubuhnya, Ita tau fasilitas rumah sakit ini kalah jauh dari fasilitas kesehatan di Angkasa hospital center yang merupakan rumah sakit terbaik di negeri ini tempat Ita bekerja, namun Ita lebih memilih memeriksan kondisi kesehatannya di Rumah sakit lain, tak lain adalah ia tak ingin membuat orang lain khawatir apalagi kalau sampai Rehan tau.
Meskipun Ita tak ingin sesutu yang buruk terjadi, namun berjaga-jaga itu perlu karna kemungkinan terburukpun bisa terjadi padanya. Ita menunggu antrian di bagian bedah saraf. Ita diarahkan untuk melakukan tes MRI,
"anda bisa datang kemari lagi untuk mengetahui hasilnya, nanti siang anda bisa datang" ujar dokter perempuan itu kepada Ita.
"Eumm.. maaf dokter, apa saya bisa datang kemari nanti malam?" Tanya Ita.
"Tentu saja, nanti malam saya masih disini, jadi kalau anda ingin bertemu saya nanti malam silahkan" ujar dokter.
"Baik, terimakasih dokter" ucap Ita berterimakasih, ia kemudian pamit untuk pergi, Ita harus segera ke Rumah Sakit.
Ada rasa was-was yang menyelimuti hati ita, "Ya Allah semoga sekua baik-baik saja" ucap Ita di dalam mobil, Ita mencoba positif thinking terhadapa apapun, itu akan membuat pikurannya tetap sehat.
****
"Pagi nurs Salwa" sapa Ita.
"Iya pagi dokter" sahut Salwa dengan senyum mengembang kepada Ita.
Ita menerima beberapa pasien, ia juga melakukan round visit seperti biasanya, mengganti perban pasiennya, juga memastikan kondisi pasien baik-baik saja.
"Aahh" pekik Ita keaakitan secara tiba-tiba, ia menekam kembali kepalanya, sontak Kiki dan Rangga yang berada di belakang Itapun segera menangkap tubuh Ita.
"Dokter Ita sakit?? Wajah dokter pucat sekali" ucap kiki khawatir.
"Kita bawa dokter Ita ke UGD sekarang" ujar Rangga.
"Tidak!" Tolak Ita langsung tanpa basa-basi.
"Tapii wajah terlihat sekali sedang sakit" sahut Rangga.
"Bisa tolong urus pasien yang belum ku periksa?? Aku hanyabingin istirahat di ruang kerjaku" pinta Ita.
Rangga dan kiki akhirnya menurut,kiki membantu Ita berjakan menuju ke ruang kerjanya, dan kini giliran Rangga dan Kiki untuknmelajukan tugas yang diberikan Ita.
"Apa kita tidak perlu memriksa keadaan dokter Ita?" Tanya Rangga kepada Kiki saat mereka berdua telah meninggalkan ruangan dokter Ita.
"Mau bagimana lagi, dokter Ita keukeuh tidak mau memeriksakan kedaannya,"
"Hah aku heran dengan dokter Ita, ia sangat pasiennya, tapi apa pernah ia peduli terhadap dirunya sendiri??" Gumam Kiki sembari berjalan seirama denagn Rangga, ucapan Kiki juga diangguki oleh Rangga, ia setuju dengan Kiki kali ini, bahkan bukan hanya Rangga yang setuju, mungkin semua petugas medis disini juga menyetujui ungkapan kiki tadi.
Ita merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya, untung saja Airin sedang ada di ruang prakteknya jadi Ita tak perlu berpura-pura kuat dihadapan Airin. Ita melirik jam yang melingkar di pergelangannya, waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Ita mengirim pesan kepada kiki dan Rangga kalau ia harus pulang duluan, Kiki dan Rangga bisa menerima alasan Ita yang memang wajhnya terlihat begitu pucat. Semoga dokter Ita memeriksakan keadaannya.
****
Ita berjalan menuju rumah sakit menuju parkiran mobilnya, kepalanya yang sedari tadi terasa sakit kini semakin menjadi-jadi, pandangannya juga terasa kabur,"astaghfirullahaladzim" hitam merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.
Ita mencoba menenangkan dirinya di dalam mobil, ia menghela nafas panjang, juga kita meminum obat pereda sakit,setelah istirahat sebentar dalam mobil dan ia merasa siap untuk menyetir ita kemudian segera keluar dari parkiran dan menuju ke seruni hospital untuk mengetahui hasil MRI nya.
Karena itu sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter saraf di seruni hospital jadi kita hanya perlu menghubungi dokter tersebut kalau ita sudah datang.
"Gimana dokter apa masih di rumah sakit kan?" Tanya ita dalam sambungan ponsel nya.
"Ya ibu, saya masih di rumah sakit silahkan bisa langsung menuju ke ruangan sayang."
Ita duduk di depan tempat tersebut, ita membaca name tag dokter tersebut bernama dokter Alya, Jika biasanya ita yang memberi kabar kepada pasien, kini ita merasakan bertanya bertanya adiknya dirinya saat dokter akan men diagnosa penyakitnya.
"Bagaimana dokter"tanya kita ragu-ragu, namun ia harus mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuhnya, penyakit apa yang sedang ia derita.
Alya menunjukkan monitor yang berisi hasil MRI dari otak Ita, Ita segera memperhatikan MRI otaknya, deg.. begitulah perasaan Ita melihat hasil MRI nya sendiri "Meningioma??" Ceplos Ita refleks saat melihat MRI nya.
"Wuaahh.. bagaimana anda tau kalau meningioma??" Sahut Alya.
"Ya benar, ini meningioma dan letaknya.."
"Dekat tulang sphenoid" potong Ita saat Alya ingin menjelaskan, pandangannya masih terpaku pada monitor, badannya gemetar melihat hasil MRI nya sendiri.
"Bagaimana bisa anda tau??" Tanya Alya terheran, bahkn Alya belum menjelaskan apa-apa namun dia sudah mengetahuinya.
"Apa kau sudah memeriksakan ini di rumah sakit lain??" Tanya Alya penasara.
"Tidak, ah maksudku belum, ini kali pertama saya periksa" ujar Ita, suaranya terdengar parau seperti menahan tangis.
"Dokter? Bukankah ini sangat besar??" Ujar Ita khawatir, baru kali ini ia merasa khawatir terhadap dirinya sendiri.
"Iya ini ukurab yang besar, apa anda mengalami absence seizures?? Ah tidak, itu terlalu susah anda mengerti, absence seizures adalah.."
"Tidak dokter, saya belum mengalami kejang yang biasanya berlangsung beberapa detik, saya merasakan sakit kepala, juga pandangan yang mulai kabur, bahkan saya kesusahan dalam mengingat beberapa hal" potong Ita lagi.
"Wuahh... Apakah anda dokter?" Tanya Alya karna penasaran dengan kemampuan Ita.
"Tidak! saya hanya mengetahuinya dari internet" jawab Ita.
"Hang terpenting sekarang adalah anda harus segera diobati sebelum tumor menjadi lebih parah" ujar Alya.
"Hari ini juga anda harus melakukan rawat inap, namun untuk operasi saya sarankan agar anda operasi di Angkasa hospital center, disana ada dokter bedah saraf yang hebat bernama dokter Rehan, fasilitas medis disana juga aangat lengkap, jadi saya akan buat surat rujukan agar anda bisa segera operasi disana" jelas Alya..
Tentu sajaa Ita akan langsung menolak dengan saran dokter Alya. Ita periksa disini supaya tidak ada orang Rumah Sakit yang tau, lalau apa jadinya kalau Ita akan operasi disana,?? "Tidak dokter, tidak!."
"Kenapa?? Anda harus segera mendapatkan operasi."
"Saya akan menjalani rawat jalan disini" ujar Ita.
"Tidak, anda harus segera mendapatkan operasi, dan kenapa anda malah memilih rawat jalan??" Tanya Alya.
"Karna masih ada yang harus saya lakukan, kalau begitu saya akan menjalani rawat inap mulai besok, saya akan datang malam hari dijam yang sama lagi dokter."
Arka menghela napas panjang, baru kali ini ia mendapati pasien yang keras kepala dan tidak mengikuti saran alya, "sebenarnya anda menyyangi diri anda sendiri atau tidak?? Kenapa masih mengkhawatirkan sesuatu yang akan kau lakukan itu, sampai menunda rawat inap?? Dan juga kenapa anda menolak rujukan ke rumah sakit terbaik di negeri ini??" Tanya Alya menyelidik.
"Euummm itu.. ya begitulah" ita tak bisa menjawab pertanyaan Arka, lebih tepatnya ia tidak tahu pertanyaan mana dulu yang harus ia jawab.
"Dengar bu, kalau anda mengkhawatirkan biaya anda tetap bisa melakukan perawatan dengan bantuan dinas sosial, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya, anda hanya perlu fokus terhadap kesehatan anda, itu yang terpenting."
"Terima kasih atas sarannya dokter, tapi saya lebih memilih dirawat di rumah sakit ini" Ita membuat keputusan tersebut.
"Saya permisi selamat malam" salam Ita.
****
Setelah ita keluar, Alya segera menghubungi temannya yang bekerja di angkasa hospital center yang tak lain adalah rehan senior BEM masa kuliahnya dulu. Sudahlama Alya menyimpan nomor Rehan, namun tak pernah sekalipun Alya menelpon Rehan.
Alya mengirimkan beberapa foto MRI ita kepada Rehan. Kemudian baru setelah itu Alya menelpon rehan.
"Halo siapa ya?" Tanya Rehan saat mengangkat telpon.
"Ini saya dokter Alya dari seruni hospital,saya menanyakan pendapat anda mengenai gambar yang saya kirim ke anda" ujar Alya.
" yang kamu kirim ke whatsapp aku itu foto pasien kamu kah?" Tanya rehan. Dari nada bicaranya, sepertinya Rehan tak mengingat Alya.
"Iya dokter itu foto hasil MRI pasien saya, saya menyarankan dirinya untuk rujuk ke angkasa Hospital Center, namun masih begitu keras kepala sekali dan menolak usulan sayang, takkan ya menunda rawat inap nya yang saya jadwalkan hari ini."
"Dokter tau sendiri kan, kalau angkasa hospital center bisa melakukan operasi ini baik dari segi kompetensi dokternya maupun peralatan medisnya yang lengkap" tambah Alya yang curhat mengenai pasiennya.
"Iya dokter Alya saya sudah melihat fotonya, saya rasa dia memang harus secepatnya mendapatkan operasi sebelum semua menjadi lebih parah lagi" jawab Rehan yang sejalur dengan Alya.
"tapi kalau pasien masih menolak dan ingin menjalani rawat inap di rumah sakit itu lakukan saja dulu, sembari membujuk pasien untuk mau melakukan operasi" tambah Rehan.
"Ya dokter, saya akan terus membujuk pasien untuk segera mendapatkan operasi di angkasa hospital center, maaf sudah mengganggu waktu dokter Rehan."
"Ah, tidak apa-apa, kebetulan saya juga mau pulang, Iyasudah kalau begitu."
🌹
Ita kemudian pulang kerumah dengan perasaan takut, entah takut apa yang ia rasakan, ia hanya takut dan tidak menemaninya di sehat semua terasa sulit bagi ita.
"Assalamualaikum" salam ita saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam non Ita sudah pulang, sini duduk" titah Mbok jah, Ita menurut dengan duduk di kursi meja makan.
"Ini mbok jah sudah siapkan teh untuk tuan putri."
"Teerimakasih ya mbok" ucap Ita ynag kemudian meminum tesh buatan mbok jah.
"Oiya mbok, mulai besok Ita ngga nginep disni lagi, ngga apa-apa kan?."
Mata Mbok jah berbinar, "akhirnya... Ngga apa-apa, mbok jah ngga apa-apa kalau harus jaga rumah ini sendiri, yang penting non ita baik-baik saja" ujar mbok jah yang salah paham kalau Ita akan pulang kembali ke Rumahnya Rehan.
Ita langsung memeluk tubuh mbok gemuk mbok jah, "uuwww makasih ya mbok, udah jagain Ita sampai saat ini."
"Iyaa, mbok seneng bisa jagain non Ita."