You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
18



"Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun maka hatinya akan kembali putih. . . "


H.R. Ibnu Majah ; 4234


🌹


Rehan telah kembali ke Rumah sakit meninggalka Ita di Ruangan Rehan, setelah lama berfikiran tentang ayahnya, lebih baik ita mencari bukti terlebih dahulu sebelum berfikiran butuk, apalagi dengan ayahnya sendiri.


Ita menenteng tasnya berjalan keluar menuju lapangan yayasan tempat ia memarkirkan mobil, pangkah ita terhenti di koridor saat mendengar suara isakan tangis, Ita terhenti mencari sumber suara tangisan itu.


Sampai Ita menemukan seorang perempuan sedang menangis bersandar di tembok koridor, perawakan wanita itu seperti ita kenal, jadi Ita memilih menghampirinya.


Benar dugaan Ita, dia adalah bu heni atau ibu dari adam pasien Rehan, Ita segera menghampirinya, "bu. . . Ibu heni kenapa?" tanya ita memegang pundak bu heni yang gemetar karna menangis.


Heni terkejut menadapati keberadaan Ita, segera heni menghapus air matanya,


"apa ada sesuatu dengan Adam?" Tabya Ita lagi saat heni tak menjawab pertanyaannya.


"Ng..nggak bu dokter, Adam masih di Rumah Sakit" jawab heni masih debgan nada terisak.


"Lalu kenapa ibu menangis?."


Tanpa menjelaskan apapun, heni malah berhambur memeluk Ita, tangisnya kembali pecah saat memeluk Ita,


"maafkan saya dok, maafkan saya" ucapnya pada Ita.


Ita hanya menerima pelukan Itu, Ita hanya bingung apa yang terjadi debgan bu Heni, "Semua akan baik-baik saja bu, kalau ibu punya masalah, ibu bisa cerita ke saya" Ita masih menenangkan heni dengan mengelus pundak heni.


Kini heni melepas pelukan Ita, dan mulai menghapus air matanya, "saya ngga bisa cerita ke dokter, tapi saya benar-benar minta maaf dok" ucapnya terisak.


Lebih baik ita tidak memaksa heni untuk cerita sekarang, Ita kini mengalihkan pembicaraan.


"Ibu bisa bantu saya?" Tanya Ita pada heni yabg masih sibuk menghapus air matanya.


"Apa dokter, saya pasti bantu selagi saya mampu."


"Tolong temani ibu mertua saya, dia kesepian setelah kepergian abi yusuf, jadi saya sedang mencarikan asisten rumah tangga, ya sebenarnya lebih ke teman ngobrol sih" jelas Ita.


Tapi penjelasan Ita, malah disambut dengan isakan tangis heni yang kembali pecah, Ita semakin bingung dibuatnya, memabgnya apa yang terjadi,


"saya ngga bisa dokter saya ngga bisa"ucap heni lengkap dengan suarau paraunya.


"Kenapa bu?."


"Saya bukan orang baik"ucap heni yang masuh menangis tergugu.


"Ibu ini ngomong apa? Setidaknya jika ibu ada bersama umi yasmin, beliau tidak akan merasa kesepian saat saya dan kak Rehan bekerja." Jelas Ita.


"Kakian semua orang baik dokter, tapi saya bukan."


"Maksud ibu apa?, saya minta tolong saya ibu, bantu saya, bantu ummi saya, bantu kelaurga saya" pinta Ita kepada heni. Sampai akhirnya Ita berhasil membujuk heni untuk bekerja si Rumahnya.


Ita kemudian mengantar heni ke Rumah Ita, "bu, kalau ibu ingin ke Rumah Sakit untuk jenguk Adam, ibu bisa minta ijin pasti di ijinkan sama ummi" jelas Ita di dalam mobil.


Dan Heni hanya menimoali dengan anggukan kecil.


"Kalau ada apa-apa ibu ngga perlu sungkan, lagsubg bilang saja ke saya ya."


(. . . ) diam, heni hanya menanggapi dengan anggukan.


"Oh iya bu, kita ke rumah ayah saya dulu ya, sebentar aja kok."


"Mau ngapain bu dokter" Heni akhirnya angkat suara, wajahnya sangat cemas saat ita bilang ia akan ke rumah pras.


"Ada urusan sebentar, sebentar aja kok bu" jelas Ita.


Wajah Heni berubah jadi sangat cemas, berharap ia tidak bertemu dengan pras, itulah doa heni.


Sesampainya memarkirkan mobil di halaman rumah Ita, ita segera bergegas turun, tapi sebelumnya ia bertanya dulu kepada heni, "ikut keluar atau di mobil aja bu?."


"Saya tunggu di mobil saja bu doktet" jawab heni dengan nada gemetar.


KemudiannIta menibggalkan heni di mobil, ita akan menemui ayahnya untuk membicarakan maslah kebijakan yayasan.


"Assalamualaikum ayah?mbok jah?" Ita sudah masuk terlebih dahulu ke Rumah.


"Wa'alaikumussalam" sahut seseorang dari dapur, itu pasti suara mbok jah.


Ita segera menghampiri mbok jah yang berada di dapur, "ayah mana mbok?" Tanya Ita.


"Ada di atas non" jawab mbok jah yabg kemudian tetdengar suara langkah kakai menuruni tangga, dan itu adalah Pras.


-


"Ada apa ta?" Tabya Pras sembari menuruni tangga dan mengambil posisi duduk di Ruang tengah.


Ita segera mengikuti ayahnya dan ikut duduk di Ruang tengah, "ada yang mau Ita bahas sama ayah."


"Ini masalah yayasan,"


"Ayah tau kan kebijakan untuk tidak menarik biaya spp sekolah untuk anak biasa dan biaya spp sekolah + pondok untuk anak yatim/piatu, kebijakan itu sudah berlangsung lama dan membantu semua pihak yah, lalu kenapa ayah menghapus kwbijakan itu."


"Apa Rehan menyuruhmu mengatakan ini?" Tanya Pras dengan nada dinginnya.


"Aahh bukan yah, bukan kak Rehan yang menyuruh Ita."


"Kamu dengar ya ta, kalau kebijakan tersenut tidak dihapus, yayasan bisa saja rugi, sudah cukup selama ini yayasan memberi, sekarang waktunya diberi."


Kini Ita mulai tau sifat materialistis ayahnya, ia melakukan ini karna uang, ia ingin mendapat untung dari yayasan ini, Ita hanya bisa beristighfar dalam hati, "yah, banyak dari siswa di Yayasan yabg membutuhkan bantuan tersebut, apalagi mereka yang yatim piatu."


"Sudahlah Ta, kamu tau ayah tidak akan mengembalikan kebijakan itu," Pras bersiri dan kemudian pergi meninggalkan Ita yang masih duduk.


Pyaarrrrrrrrr..... suara pecahan itu terdengar di teras, debgan segera Ita dan mbok jah menuju ke sumber suara.


"Ada apa?" Tanya pras yang juga ikut keluar melihat apa yang terjadi, tapi bukannya kaget karna vas bunga pecah, tapi Pras kaget dengan kehadiran Heni di rumahnya.


"Ngga apa-apa bu, yang penting ibu ngga baik-baik aja kan?" Tanya Ita memastikan keadaan heni.


Heni hanya menunduk yang terkesan takut, heni takut kalau pras mengenalinya.


"Yaudah ngga apa-apa, mbok jah tolong nanti dibersihkan ya."


"Iya non" jawab mbok jah. Mbok jah kemudian pergi mengambil alat bersih-bersih.


"Kita balik sekarang ya bu" ucap ita sembari memapak heni yang masih saja menunduk.


"Ta?" Panggil ayahnya.


Ita segera membalikkan badan. "Itu siapa?" Tanya Pras menunjuk perempuan yang Ita papak.


"Ini asisten rumah tangga baru di rumah, dia mulanya bekerja di yayasan tapi sekarang ita beliau akan bekerja di rumah" jawab Ita yang kemudian mengucapkan salam pamit untuk pulang.


🌹


Malam ini, setelah heni menyelesaikan srmua pekerjaannya, heni terdiam di kamarnya, menatap pilu jendela yang memperlihatkan langit malam.


Sudah dua hari berlalu heni menjadi asisten rumah tangga di rumah Rehan, Heni yang awalnya menolak dengan keras untuk hal ini, heni tidak ingin berhutang budi lagi kepada keluarga Rehan, selama ini keluarga Rehan sudah baik sekali kepada Heni.


Mulai dari Ita yang menolongnya saat ia ingin bunuh diri, rehan yang memberinya pekerjaan, dan Yusuf yang bersedia memberikan biaya pengobatan untuk adam, dan kini Yasmin yang sangat baik kepadanya.


Lalu apa yang heni lakukan? Ia justru menghianati kebaikan mereka semua.


Awalnya semua baik-baik saja, namun semenjak pras mengambil alih yayasan, dan sejak kejadian malam itu, saat heni tidak sengaja memergoki, Pras an suruhannya berbicara tentang niat mereka ingin membunuh tuan Yusuf.


Sungguh heni tidak ingin mengetahui ini semua, tapi ia sudah terlanjur mengetahuinya, dan bodohnya heni, ia tidak sengaja menjatuhkan barang saat mendengar obrolan mereka, sampai pras tau kalau heni mendengar percakapan mereka.


(malam itu)


"Suntikkan ketamine ini ke infus yusuf, lakukan ini dengan hati-hati, jangan sampai ada yabg mengetaui" ucap Pras pada laki-laki suruhannya.


Pyarrr... sesuatu jatuh dan mengagetkan mereka berdua, dengan segera pras dan suruhannya memeriksa ke sumber suara, ia mendapati Heni yang sedang mematung takut.


Pras menarik jilbab bagian belakang heni, "kalau kamu sampai angkat bicara mengenai hal ini, saya akan menghentikan biaya pengobatan adam, tentu kamu masih ingin anakmu panjang umur kan? Atau lebih parahnya saya akan melakukan hal yang sama pada adam!" Ancam Pras kepada heni.


Heni ketakutak mendengar hal itu, ia berada dipilhan yang sulit, antara anak dan penolong anaknya. Heni hany mengangguk dengan ketakutan.


Usai kejadian itu, Heni hanya ingin melupakan kejadian itu, ia ingin berlagak tidak tahu apa-apa, ia tidak ingin mengingat semuanya, sampai akhirnya kabar kematian Yusuf mulai tersebar di Yayasan, rasa bersalah kembali menyelimuti diri Heni.


Heni hanya biaa menangis menyesali apa yang telah ia lakukan, sesorang yang sudah sangat baik kepadanya, haeus meninggal dengan cara dibunuh, sejak kematian Yusuf, heni bukanlah heni yang selalu bersemangat menjalani hidup, rasa bersalah selalu menghantui dirinya.


Apalagi pras yang selalu mengancamnya apabila heni sampai membicarakan ini pada Rehan.


Sampai suaru hari, Ita mengahampiro heni yang tengah menangis di koridor yayasan, dan menawarinya menjadi art disana, Heni merasa tidak pantas berada di rumah orang sebaik mereka, namun Heni juga berfikir, mingkin dengan menjaga dan menemani Yasmin, ia bisa sedikit membantu kesepian yasmin karna suaminya yang telah tiada.


-


Lamunan heni tentang masalalu itu bubar saat nada ponselnya berbunyi, di layar ponselnya terpamoang nomor tak dikenal, Heni segera menghapus air matanya dengan kasar, mengatur suara dan muali mengangkat telponnya.


"Assalamu'alikum?" Salam Ita membuka pembicaraan.


"Kalau kamu memberitahu keluarga Rehan tentang hal itu, malam ini juga aku tidak segan-segan akan membunuh adam,


"Ucapan dingin itu menampar jantung heni, siapalagi kalau bukan ancaman dari pras.


Heni tak mampu bersuara, ia hanya mendengarkan lanjutan suara itu,


"tentu kau ingin anakmu berumur panjang,dan pengorbananmu tidak sia-sia untuk anakmu, jadi sekarang kau hafus memberitahu apapun aktivitas Rehan, besok kau harus mengabariku kemana Rehan akan pergi,"


"Ku tunggu kabarmu besok, kalau kau tidak mengabarinya, ingat nasib adam" ancam Pras.


Heni semakin ketakutan hidup dalam ancaman Pras,apalagi yang akan ia lakukan pada Keluarga baik ini? Apa dia juga akan mencelakai Rehan?. Heni semakin takut dibuatnya, ia hany bisa menangis ketakutan di bilik kamarnya.


🌹


"Kak" panggil Ita pada Rehan yang tengah mengganti perban tabgan Ita.


"Iya?" Sahut Rehan tanpa melihat Ita, Rehan masih sibuk mengobati tangan Ita.


"Ada yang mau ita katakan" ucap Ita dengan nada serius.


Kini Rehan segera menyelesaikan pekerjaannya, dan mengembalikan peralatan P3K di atas nakas. Lalu Rehan kembali duduk di sisi Ita, untuk mendengarkan apa yang ingin ita kakatakan.


"Katakan saja."


"Ini masalah obat yang abi minun" kata ita menatap serius bola mata Rehan.


"Bukannya,kita sudah sepakat untuk membahsa obat itu, kamu sendiri yang bilang itu obat biasa,dan kakak percaya padamu," ucap Rehan dengan menggenggam erat tangan Ita.


"Tentang itu, ternyata Ita salah kak, obat itu memang ada kandungan zat lain, Ita sudah meminta Airin untuk menguji kandungan obat itu, dan diobat itu sudah dicampur ketamine" jelas ita dengan menundukkan kepalanya.


Dan tentu penjelasan Ita berhasil membuka Rehan tersentak kaget, Rehan tak bisa berkata-kata apapun, ternyata dugaan kalau ada sesorang yang ingin mencelakai abinya itu benar, tapi siapa yang tega melakukan ini sedangkan abinya saja tidak punya musuh.


Ita merangkul pundak bidang Rehan, ita tau ini kenyataan yang berat, tapi bagaimnapun Ita harus memberitahukan kebenarannya,


"La Tahzan kak, Ita akan selalu membantu kakak, kita akan temukan pelakunya."


(. . . ) diam, tak ada jawaban dari Rehan, ia masih terpukul dengan kenyataan ini,namun dilubuk hati Rehan, ia sangat bersyukur punya Ita dihidupnya.


"Ita akan selalu membantu kakak sebisa Ita" ucap Ita sembari mengelus lembut pundak bidang Rehan.


Yusuf memang tidak perhah punya atau mencari musuh, tapi tentu, kekuasaan akan membuat seorang menjadi buta, untuk itu, ita punya prasangka buruk tentang ayahnya,dan untuk mengetahuinya, ita akan membuktikannya sendiri, dan semoga prasangkanya ini salah.


"Terimakasih sayang" Ucap Rehan bersyukur mempunyai Istri seperti Ita.