
Lari dari keburukan jauh lebih berat dari mengejar kebaikan.
- Yahya bin Muadz ar-Razi -
🌹
Ita akhirnya pasrah mengikuti ajakan Rehan untuk mengecek keadaan bagas. Bagi ita, rasanya kesal sekali melihat seseorang yang jelas bersalah ada didepannya namun ita bisa melakuakan apapun.
"Selamat malam pak bagas? Anda belum istirahat?" Sapa rehan saat memasuki ruangnnya.
Itat hanya memalingkan wajahnya, lebih baik ita berlagak sibuk saja memerhatikan setiap detil ruangan bagas.
"Ah dokter Rehan" ucap Bagas saat melihat Rehan masuk.
"Dan... dokter Ita" ucap bagas dengan pelan saat melihat dokter di belakang Rehan.
"Bagaimana keadaan anda pak?" Tanya Rehan dengan ramah,setidaknya dia adalah pasien yang tidak mengetahui hubungan Rehan dan Ita.
"saya baik-baik saja,untuk itu saya ingin segera keluar dari sini" jawab Bagas.
Baru saja Ita Rehan ingin memberikan saran agar Bagas segwra istirahat, namun Ita sudah menyambar suluan, "ya... setidaknya kalau sudah kwluar segara menyerahkan diri ke polisi" sahut Ita sinis.
Sontak Rehan menatap Ita debgan pandangan tajam mematikan, Ita sampai dibuat takit olwh tatapan itu, "maaf" ucap Ita sedikit membungkukkan badan, saat melihat tatapan membunuh Rehan.
"Anda harus istirahat agar anda bisa segera keluar dari sini" Ujar Rehan membenarkan ucapan Ita.
"Saya akan mencari anak saya terlebih dahulu,setelah itu saya akan menyerahkan diri sayabke polisi" ujar Bagas dengan suara yang tiba-tiba menjadi parau.
Hati ita seakan tersentuh mendengar ucapan Bagas,
"memangnya kemana anak anda" tanya Ita penasaran namun pura-pura tak peduli.
"saya tidak bisa menyerahkan diri saya ke polisi,karna anak saya dalam bahaya," suara Bagas mulai terdengar parau menahan tangis.
"Beberapa hari yang lalu Ia menelpon saya dan bilang dia telah menemukan anak saya yang hilang karna kecelakaan bus beberapa tahun yang lalu, aku harus membukkan kebenaran ucapannya, atau itu hanya swbuah kebohongan untuk mengendalikan saya,"
"Jadi saya mohon dokter Ita, saya harus mencaritahu kebenarannya tentang anak saya terlebih dahulu, meski rasanya mustahil kabat itu benar, karna kejadian kecelakaan itu sudah bertahun-tahun lamanya terjadi,korban dalam kecelakaan bus itupun sudah dinyatakan meninggal semua" jelas Bagas dengan kepala yang sedari tadi menunduk.
Hati Iita tertampar, sepertinya ayahnya selalu mengganggu hidup bagas, "apa dia selalu mengncanmu?" Tabya Ita yang mulai peduli.
"Beberapa tahun ini,ancamannya tidak terlalu membebaniku, karna ia hanya mengancam akan membunuhku, tapi beberapa hari kemarin,ancamannya berhasil membebaniku saat ia bilang ia nemukan anak saya."
penjelasan Bagas sudah cukup membuat Ita dan Rehan naik pitam akan kelakuan bedebah ita, ternyata masih ada orang yang ia dzolimi.
"Apa penyerangan 3 minggu yang lalu,saat aku disini,apa dia pelakunya?" Ita mulai menanyakan penyerangan beberapa minggu lalu yang berhasil melukai tangan Ita.
"Ya, tentu menyuruh seorang yang sedang gila uang akan mudah sekali ia lakukan" jawab Bagas.
Ita menghela napas panjang, mengeluarkannya dengan perlahan, hampir saja air matanya jatuh, namun masih bisa ia tahan saat ia harus ingat kalau ia harus kuat dan tegar dalam masalah ini.
"Anda tak perlu menunggu anda keluar dari runah sakit, saya sendiri yang akan mencari tau akan kebenaran hal itu" Ucapan Ita berhasil membuat Rehan tersenyum bangga pada Ita yang mulai dewasa menyikapi masalah ini.
Ita tak lagi memandang dari sudut pandangnya, ia juga harus mulai belajar menempatkan posisi saat ia berada di posisi orang lain, tentu orang lain punya motivasi mereka masing-masing yang membuat mereka melakukannya.
"Dokter.." Bagas tak tau lagi harus bagaimana membalas rasa terimakasih pada Ita.
"Aku minta maaf karna tidak bisa memahami keadaanmu" ujar Ita tulus meminta maaf.
"Tidak seharusnya kau minta maaf, akulah yang seharusnya minta maaf, bahkan sepertinya minta maaf pun tidak cukup untuk menebus kesalahan saya" Bagas mulai menitikkan air mata.
"Saya hanya makhluk Allah yang Maha Pengampun, jadi tak seoantasnya saya tidak memaafkan kesalahan orang yang sudah menyesali kesalahnnya" Ita mulai bisa membuka hatinya, ita mulai menyingkirkan egonya, bagaimanpun juga bukan hanya ia yang terluka disini.
Ita menatap Rehan seperti tatapan detektif yang menemukan tugas baru, Mereka sampai kompak mengaggukkan kepala bersamaan.
"kalau begitu istirahatlah, kami yang akan mencari tahu kabar anakmu" ucap Rehan yang kemudian pamit keluar dari Ruangan.
🌹
Ita dan Rehan mulai keluar dari Ruangan pak bagas, dan mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Aku akan ke rumahku yang dulu untuk memastikan kebenarannya, kalau memang Ia menyembunyikan putri pak Bagas, tentu akan ada sedikit petunjuk di Rumah" jelas Ita sembari berjalan beriringan dengan Rehan.
"sepertinya kau harus kesana saat ia tak ada di rumah" rehan memberikan saran yang tepat.
"Ya tentu saja, dengan begitu aku bisa bebas masuk ke ruangan manapun, bertanya pada mbok jah sepuasku dan aku juga bisa memerksa cctv di rumah,siapa tau ada yang bisa menunjukkan kebenarannya" ujar Ita memberitahu apa yang akan Ita lakukan.
"Kau sepertinya akan benar-banar ganti profesi menjadi detektif" Sindir Rehan dengan tawanya itu.
"Kita tidak bisa mmebiarkannya teres menerus" ujar Ita melipat kedua tangannya didepan.
Diikuti Rehan yang muali mengikuti gaya Ita, "tepat sekali."
"Besok pagi aku tidak ada jadwal,dan pagi adalah waktu yang tepat karna ia pasti berada di Yayasan" tebak Ita.
"Kalaupun besok ia tidak ada jadwal ke yayasan, aku sendiri yang akan membuatkannya jadwal agar pergi ke Yayasan,jangn lupakan suamimu ini yang punya pengaruh besar terhadap yayasan" ujar rehan disertai candanya.
Ita memberikan kepalan tangan untuk tos dengan Rehan, "kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan" ucap mereka kompak sembari tos.
"Memangnya apa yang akan kalian lakukan tengah malam begini ha?" Sambar hammam yang tiba-tiba lewat si hadapan Ita dan Rehan.
"Tentu saja pekerjaan suami istri" jawab Rehan sedikit ngalntur yang membuat jiwa jomblo hammam meronta-ronta.
"Hah! Apa kalian mau-" hammam tak meneruskan ucapannya, ia sudah keburu illfeel duluan. Dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Ita dan Rehan terkekeh geli melihat ekspresi hammam, "apa sebenarnya lanjutan ucapannya?? Kenapa ia tak melanjutkan ucapannya" Ita masih tak biaa menahan tawanya.
Rehanpun sama tak bisa menahan tawanya melihat eskpresi hammam sebelum pergi, "Entahlah, dia tak bisa terbuka saat membicarakan jodoh"
"Sepertinya dia perlu belajar banyak masalah itu kepadaku" ucap Rehan.
"sudah selesaikan tugasmu??" TanyanRehan pada Ita yang masih saja mengembangkan senyumnya.
"Sudah" Ita mengangguk pasti.
"Kakak besok pagi ada jadwal operasi, jadi maaf kakak tidak bisa menemanimu."
"Itu artinya. . .?" Ita membulatkan matanya.
"Ah tidak-tidak, kali ini kakak tidak akan memintamu menjadi asisten kakak, jadi jadwal siangmu beaok tetap berlaku, dan jadwal detektifmu besok tetap bisa berjalan" Ucap Rehan yang begitu mengerti Ita.
Semburat merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Ita, "sejak kapan aku sungguhan akan menjdai detektif" ucap Ita malu-malu.
"Memangnya siapa yang akan operasi, kenapa mendadak sekali sepertinya kemarin-kemarin kakak tidak ada jadwal pagi" tanya Ita penasaran saat kemarin ia baru saja melihat jadwal Rehan.
"Sampai seperti itu?" Ita melongo mendengar penjelasan Rehan.
"Ya! Karna sahabat sangatlah berarti bagi kehidupan kita" sahut Rehan.
"Sudahlah, tak perlu Ita pikirkan, lebih baik sekarang kita pulang" Rehan begitu saja melingkarkan tangannya di pundak Ita dan menariknya untuk segera ke parkiran.
🌹
Ita pulang bersama Rehan dini hari seperti biasanya, lelah tubuh mereka harua secepatnya terobati dengan rebahan.
"Sudah pulang non aden?" Sapa Heninyang membukakan pintu untuk Rehan dan Ita.
"Bu heni belum tidur?" Tanya Rehan semabari berjalan masuk.
"Saya masih ingin menyelesaikan seauatu dokter" jawab Heni yang berjalan di belakang Rehan.
"Lanjutkan besok saja ya bu, sekarang lebih baik ibu tidur sekarang" ucap Rehan perhatian pada Heni, heni kemudian menuruti titah Rehan.
-
Keesokan harinya.
"Assalamualaikum mbok jah?" Salam Ita pada seseorang di telpon.
"Iya non Ita? Tumben telpon mbok, bukannya biasanya nelpon nomor Rumah."
"Pagi ini tuan ada di Runah ngga mbok?" Tanya Ita.
"Tuan sudah pergi barusan, seperti biasanya iaberangkat ke Yayasan" jawab mbok Jah.
"Oh oke, Ita kesana." Ita mematikan saluran telponnya dan segera siap-siap ke Rumahnya yang dulu.
sesampainya ita memarkirkan mobilnya di halaman, Ita begegas masuk ke dalam. Ruang pertama yang pertama ia tuju adalah ruang keamanan rumah alias ruangannya pak satpam rumah Ita.
"Assalamualaikum, Pak" Ita langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu membuat jantung pak Burhan satpam rumah kaget.
"Wa'alaikumussalam" jawab Burhan kaget.
"Haisshh non Ita ngagetin bapak saja."
Ita terkekeh melihat ekspresi kaget pak burhan, "maaf pak" ucap Ita sembari langsung duduk di kursi sebelah pak burhan.
"Tumben non ita kemari."
"Euumm.. pak bisa tunjukin ke Ita rekaman CCTV dua hari yang lalu waktu malam hari" pinta Ita.
"Ya bisa lah buat non Ita mah pokoknya bisa, mau cctv yang dimana nih."
"Yang dikamar tuan aja, atau di mana ajalah yang penting ada Tuan" jawab Ita.
Pak Burhan secepatnya mencari rekaman cctv yang Ita minta, "yang ini coba non" ucap pak Burhan sembaari memberikan headset pada Ita.
Seluruh cctv di Rumah Ita sudah menggunakan fitur mic audio yang dapat merekam juga pembicaraan.
Ita segera mengamati rekaman cctv malam hari saat Pras sedang menelpon seseorang.
Rekaman yang ita pilih tepat, ia mendengar semua ancaman yang ayahnya berikan kepada Bagas, itu sudah bisa membuat hati ita ikut sakit mendengarnya.
tak sampai pras menutup telponnya, setelah menelpon pras bicara sesuatu pada dirinya sendiri. Ita mendengarkan seksama audio terbesebut.
"Kamu sangat lemah dibohongi tentang anakmu, jelas-jelas kau ikut menguburkan anakmu dan kau masih percaya tentang anakmu yabg tiba-tiba muncul lagi?,"
"Dasar bodoh!" Lanjutnya yabg kemudian ia beranjak menuju ranjang untuk tidur.
Ita menghentikan rekamannya. "Pak, saya mau salinan rekaman yang ini, tolong salinkan ya" pinta pinta kepada pak Burhan yang segera menyalinkan rekaman itu.
Ita tau sekarang, kenapa bedebah itu harus segera masuk ke dalam bui, karna ia begitu membahayakan, dia tak segan melukai orang-orang yang menurutnya akan membahayakan dirinya.
beberapa menit kemudian, rekaman itu sudah di copy oleh pak Burhan, "ini non" Burhan menyerahkan flash disk pada Ita, Ita segera mwnerimanya dan pamit pergi segera ke Runah sakit,sebenarnya jadwanya ke Runah sakit masih 1 jam lagi, tapi ia ingin segera memberitahukan ini pada pak Bagas.
"Makasih banyak pak, ita belik dulu Assalamua'alaikum pak."
"Jaga kesehatan ya" Ita menepuk pundak laki-laki 50 tahunan itu.
"Wa'alaikumussalam."
-
Ita bergegas ke Rumah Sakit, sesampainya di Rumah sakit, ota segera ke ruangan pak Bagas.
"Dokter Ita?" Panggil Pak Bagas kaget saat melihat ita begitu terburu-buru masuk ruang inapnya.
Ita hanya tersenyum sekilas, ia langsung membuka lapotopnya, memasang flashdisk dan memutarkan rekaman cctv untuk pak Bagas.
"Apa ini dok?" Tanya Bagas pwnuh tanya melihat Ita.
"Bapak lihat dulu ya" Ita sibuk mencari filenya. Setelah menemukannya, ia tak langsung memtar rekaman, ia bicara dulu dengan Pak Bagas agar kuat mendengarkan ini,
"Pak, ini yang bapak ingin cari, tapi sebelum itu Ita mau bilang, kalau bapak harus kuat dengan apapun kenyataan yang ada."
Bagas bisa menangkap apa yang dibicarakan Ita, Ia menimpali ucapan Ita dengan anggukan pasti.
Setelah melihat pak bagas siap, Ita segera memutar rekamannya, beberapa menit berlalu dan Bagas sudah mendengar semuanya, mata Bagas mulai berkaca-kaca, ia seharusnya tidak sesih mendengar ini, toh ia sudah kehilangan anaknya beberapa tahun yang lalu, tapi yang membuat hati bagas miris adalah saat Pras menggunakan anaknya untuk mengendalikan Bagas.
"Bapak yang sabar, jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" ujar Ita mengelus pundak pak Bagas.
Pak bagas mulai menatap Ita dengan mata yang masih berkaca-kaca, "kalau begitu, saya akan segera membuat laporan penyerahan diri atas kasus kecelakaan itu" uajar pak Bagas pasrah.
Entah kenapa pernyataan itu seharusnya menjadi pernyataan yang membahagiakan bagi Ita, tapi kenapa kali ini, hatinya malah terasa teriris saat mendengarnya.
Bagaimana bisa Ita tega melaporkan seorang laki-laki yang tak lagi muda, yang terpaksa melakukan hal itu karna desekan, dan ia juga sebatang kara tanpa keluarga, anak dan istrinya meninggal bersamaan, bagaimana ita biaa senang atas orang yang sebenarnya menjadi korban atas kejadian ini.
Air mata ita mulai menumpuk dipelupuk mata indahnya, ita mengehmbuskan napas panjang, ini berat bagi Ita,
"bapak tidak usah pikirkan itu, anda istirahat saja dan fokus pada pemulihan" ujar Ita yang menahan tangisnya.
Ita kemudian permisi keluar dari ruangan pak bagas, Ita menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruangan 405.
"Allah. . . Apa Ita sejahat itu" ucap Ita dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya.