You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
52



"Bila engkau ingin berdoa, sementara waktu yang kau miliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi oleh begitu banyak keinginan, maka jadikan seluruh isi doamu istighfar, agar Allah memaafkanmu. Karna bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.


Ibnul Qayyim-Rahimahullah.


🌹


Ita, Rangga dan Kiki masih berada di kantin, mereka belum menyelesaikan waktu makan sianganya, lagipula masih aman karna tidak ada panggilan darurat masuk.


"Eh dokter Rehan" panggil kiki saaf melihat dokter Rehan sedang mencari duduk bersama dokter dokter Hammam. Ita sontak membalikkan tubuhnya ke arah Kiki memanggil.


Ternyata benar Rehan sedang berdiri sembari menenteng nampan, "ah ki, kita cari meja lain saja," ucap Rehan.


Ita kemudian sadar kalau hanya sisa satu kursi, sedangkan dokter Rehan sedang bersama dokter Hammam. "Aaahh" kiki bangun dafi duduknya.


"Mau ngapain ni anak" batin Rangga.


"Ini, dokter Rehan duduk saja di kursi ini, biar saya yang cari tempat duduk lain ngga apa-apa" ucap Kiki menawarkan tempat duduknya, dengan begitu akan sisa dua tempat duduk yang bisa Rehan dab Hammam gunakan.


"Ah nggak usah dokter Kiki, kamu duduk saja, saya sama sudah sama dokter hamman kok" ujar Rehan yang kemudian permisi untuk duduk di kursi lain.


Ita membiarkan Rehan pergi, bahkan ia tak peduli Rehan yang sedari tadi bicara, Ita lebih memilih menikamati makanannya, meskipun hatinya begitu peduli, namun darinluar Ita harus nampak bisa tanpa Rehan.


"Dokter??" Panggil kiki.


"Ya?."


"Kok dokter ngga tahan sih" ucap Kiki, tak biasanya kiki melihat ita yang manatap Rehan dengan tatapan diam-siam sembari senyum-senyum, "kenapa dokter nampak cuek sekali dengan dokter Rehan?? Aoa ada masalah??" Ceplos kiki.


"uhukkk uhukk." Rangga sontak tersedak mendengar pertanyaan kiki, pertanyaan amacam apa itu, itu kan sudah privasinya dokter Ita.


Tentu saja Ita langsung menepis pertanyaan Kiki dengan mencoba bersikap santai,


"ah ahahha," tawa Ita renyah.


"Masalah apa?? Tidaklah, baik-baik saja kok, nggak ada apa-apa" jawab Ita gugup, Ita fau dirinya telah berbohong, tapi istri adalah pakaian suaminya, ia harus menjaga martabat suaminya, juga pantang bagi Ita untuk mengumbar masalah dalam keluarganya apapun itu alasannya.


"Aahh syukurlah, kiki kira ada masalah karna dokter kehilangan janin dokter" ceplos Kiki lagi, anak ini memang ngga ada akhkak, mulutnya suka sembarang ceplos tanpa dipikir dulu.


Plaaakkk.. rangga memukul leher bagian kepala kiki denagn selembar kertas yang tergulung, "apa sik" pekik kiki kesal.


"Kalau ngmong bisa bener dikit nggak sih" tatapan Rangga terlihat tajam, Kiki segera sadar dengan apa ynag ia katakan, ia kininmenatap Ita yang langsung menunduk, wajahnya terlihat murung.


"Ah bodoh" gumam kiki pelan sembari menepuk mulutnya beberapa kali ini, "hih mulut bodoh" Kiki terus menepuk mulutnya,


"Dokter, maaf bukan maksut kiki" ucap kiki penuh penyesalan.


"Ahh ..." Ita masih bisa tersenyum kepada Kiki, "nggak apa-apa, saya tau kamu tidak ada maksut aoa-apa mengatakannya."


Kiki semakin merasa bersalah dengan kata-kata Ita yang mencoba tidak apa-apa padahal jelas kata-kata kiki barusan menyakiti Ita.


Karna suasan ayang menjadi canggung, Rangga berpikir untuk mengalihkan pembicaraan, "oh iya, bukannya nanti malam bagian bedah saraf bakal mgadain dinner kan??" Ucap Rangga.


Kiki langsung saja menanggapi ucapan Rangga, "ah iya nanti malam kan ya," mata kiki berbinar, memang kiki ini mudah sekali dalan nyeplos dan mudah sekali meluoakan ceplosannya.


"Dokter Ita nanti malam ikut kan??" Tanya Rangga.


"Ha?" Ita tersadar dari lamunan kesedihannya.


"Iya, insyaAllah nanti malam saya datang."


"Siipp, nanti malam pasti rame banget, apalagi bagian bedah saraf malah kebanyakan yang saraf ya" rangga tertawa renyah diikuti Ita dan Kiki yang ikut tertawa dengan guyonan Rangga.


Kini mereka mulai menyaut hingga menciptakan tawa dari guyonan-guyonan mereka.


Rehan menatap wajah bahagia istrinya, "apa dia bisa bahagia seperti ini?? Apa dia mudah sekali melupakannya?? Atau aku yang terlalu mengingatnya sampai tak bisa melupakan kejadian pahit itu??" Batin Rehan dalam hati saat pandangannya terus saja mengawasi Ita yang tenagh haha hihi dengan rekan-rekannya.


"Han... Jangan terlalu menyiksa diri dengan menjauh dari orang yang lu sayang" ucap hamam yang sedari tadi memperhatikan Rehan yang tak hentinya mengawasi Ita.


"Kalian hanya perlu menghadapinya bersama, tak perlu diungkit untuk mencari siapa yang salah" lanjut hammam.


"Apa mungkin dia tak punya hati?? Sampai bisa tertawa lepas bahkan saat kejadian itu belum genap seminggu berlalu" gumam Rehan.


"Lu nggak pernah tau apa isi hati Ita, kalau gue kenal lu sebagia orang yang langsung mengekapresikan perasaan lu. tapi bagaimana dengan Ita?? Apa dia seorang yang seperti itu? jujur sama diri sendiri?? Apa ita seperti itu??" Tanya Hammam, tentu Rehanlah yang tau jawaban dari pertanyaan itu, dia yang lebih mengenal istrinya.


Pertanyaan hamam begitu mudah masuk ke hati Rehan, memori kenanagannya dengan Ita kembali berputar, dimana saat Ita berpura-pura kuat ketika dihadapan orang lain, namun begitu dihadapan Rehan, ia langsung jatuh kepelukan Rehan menumpahkan kesedihan yang ia tahan, begitulah Rehan mengenal Ita.


"Jadi apa yang aku lihat ini hanya kepalsuan, apa kau merasakan kerapuhan di dalam jiwamu??" Tanya Rehan kepada Ita, meskipun ia tau Ita tak mendengar suara hati Rehan.


Rehan hanya memandang dari kejauhan tawa Ita yang sudah lama tidak Rehan lihat, sejurus dengan pandangan Rehan, Ita secara tiba-tiba menoleh ke belakang ke arah Rehan, bola mata mereka bertemu, saat itu waktu seakan berhenti, lagu "lebih dari egoku" dari mawar eva berputar saat retin mereka saling bertemu, tak saling bicara namun seerti bisa menyampaikan maksud hati masing-masing.


🌹


Setelah makan siang selesai, Ita dan kawan-kawan kembali menyelesaikan round visit, juga beberapa pasien rawat jalannya. Sore hari, pukul 4 sore Ita sudah bisa pulang, lagipula malam ini ada dinner bersama para staff bagian bedah saraf.


Ita manatap malas ke arah lemarinya, ia sebenarnya malas sekali untuk datang dinner malam ini, tanpa Rehan, hidup Ita seperti tak berwarna lagi.


Ita menutup kembali pintu lemarinya, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, mengusap kasar wajahnya, teringat kemblai saat retina Rehan dan diri ya bertemu, "apa dia masih merasa kehilangan?? Apa dia bisa melupakannya?? Apa dia akan lebih cepat melupakannya dibanding aku?" Gumam Ita dalam Hati.


Pikiran Ita pecah saat suara gawainya berbunyi, dengan malas Ita meraih gawainya, ada panggilan masuk dari Kiki, "iya halo ki?."


"Dokter kenapa belum datang?? Udah banyak lho ini yang datang" Ucap Kiki dalam sambungan telpon.


"Tapi dokter datang kan??" Tanya Kiki memastikan.


"Iya datang kok tenang aja." Setelah menerima panggolan dadi kiki, Ita segera bangkit dari rebanhannya, ia harus segera bersiap-siap.


*****


Setelah Rehan siap untuk berangkat, Reha segera pamit kepada Yasmin, "Rehan berangkat dulu ya ummi" ujar Rehan pamit.


"Haann..?."


"Ya ummi?."


"Kamu harus tetap jaga rumh tanggamu, jangan sampai orang lain tau masalah rumah tanggamu, itu adalah masalah kalian berdua, jangan sampai aib dumah tanggamu tersebar, tetap jaga meratabat keluargamu" pesan Yasmin sebelum Rehan pergi.


Rehan terdiam memahami nasehat Yasmin, kemudian ia hanya mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Yasmin "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Rehan melajukan mobilnya, namun bukan langsung menuju restoran depan rumah sakit, melainkan ia berhenti tak jauh dari rumah Ita, ia menunggu Ita keluar namun jangan sampai Ita mengetahuinya.


30 menit Rehan menunggu, akhirnya mobil Ita keluar dari gerbang rumahnya, Rehan segera mengikuti Ita, bagaimanapun juga rehan harus bisa menjaga martabat keluarganya. Jangan sampai orang lain tau tentang masalah rumah tangga Rehan dan Ita yang sedang tak baik.


Rehan tetap menjaga jarak mobilnya dari ita agar Ita tak curiga kalau Rehan mengawal Ita dari belakang hingga mereka berdua sampai.


"Woaahhh lihat siapa yang datang, dokter teladan kita dokter Rehan dan Ita datang" ucap Ichal yang merupakan keoala bagina bedah saraf.


Ita terkejut saat ichal menyebut dirinya dan Rehan datang, Ita langsung menengok kebelakang, benar saja, Rehan sudah ada di belakangnya, Kaki Ita seketika seperti mati rasa saat melihat Rehan.


Dan Rehan langsung merangkul bahu Ita, degg... Jantung Ita seakan mau copot saat tangan kekar Rehan merangkul dan membawa tubuhnya yang memebeku menuju masuk ke restoran.


"Weyyy, gimana-gimana bro" Rehan melepas begitu saja rangkulannya dan menyapa yang sudah hadir.


Ita menelan ludah, Tak ingin terkesan kaku, ia segera bergaul dengan lainnya, Ita duduk di sebelah Airin.


"Kok ko datang rin?? Nggak salah server??" Tanya Ita kepada Airin, bukankah Airin itu dokter bedah umum, dan sedangkan ini adalah acara dinner para staff dibagian bedah saraf.


"Oke dehh gue pergi kalau lu ngga suka ada disini" ucap Airin dengan nada kesal.


Dengan cepat Ita memeluk Airin, "uwww, sensitif banget sik, kan cuma becanda" Ita mengeratkan pelukannya.


"Seneng banget kan lu karna gue dateng??" Selidik Airin yang begitu percaya diri.


Acara malam itu berlangsung dengan meriah, meski hanya sekedar makan-makan, bersuluang, bercanda, mengobrol, semua terasa asik dan bisa melupakan beban Ita mauoun hanya sebentar saja, saat keramaian ini selesai maka Ita kembali akna merada sendiri, benar-benar sendiri tak ada oramg di sekelilingnya.


"Oke oke, kita bersulang untuk yang terakhir sebelum kita pulang guysss" sorak Icjal dengan oenuh semangat.


"Wuuuuuhhhuuuuuu" sahut mereka semua dengan oenuh semangat, mera langsung mengangkat gekas mereka masing ke atas.


"Bersulaaaanggg!!!" Seru semuanya. Tawa mengelilingi seluruh ruangan, rona bahagia terkukis dari wajah semua orang yang datang. Tapi berbeda denagn Ita, hatinya masih samasaja merasakan kesedihan. Ia hanya melupakan kesendirian sebentar namun untuk kesedihannya mungkin akan lama ia mengobatinya.


Acarapun selesai sata sudah resmi ditutup dengan ucapan terimakasih dari kepala bagian bedah saraf kepada semua staff yang telah bekerja keras, dan atas dedikasinya di bagian bedah saraf.


Ita mulai berjalan keluar dari restoran, terdengar suara beberapa perempuan yang sedang membicarakan Ita.


"Lihatlah, padahal mereka suami istri tapi mereka memakai mobil yang berbeda" ucap salah satu dari mereka, Ita mengjentikan langkahnya saat ada orang yang membicarakan rumah tangga Ita dan Rehan.


"Iya, apa mereka sedang bertengkar, kau dengar kabar kalau dokter Ita keguguran??" Sahut yang lainnya, suaranya terdengar berbisik namun Ita masih bisa mendengarnya.


Plaaaakkkkk pukul Airin sengaja mengayun tasnya sampai mengenai salah satu kepala dari mereka. "Aww" pekiknya.


"Ups maaf."


"hei! Kalian!" Airin menunjuk wajah mereka bertiga, "bukankah kalian punya mata ha?? Bukankah dokter Ita dan Dokter Rehan selalu pergi dengan mobil berbeda??" Bela Airin.


"Dan apa kalian ini rabun, atau saraf kalian ini rusak sehingga lupa saat mereka tadi datang?? Mereka datang bersama woy!! Kalian ngga lihat itu tadi" ucap Airin ketus.


"Hei! Nggak usah urusin kita ngomongin apa dong, sewot benget, kita ngomongin siapa yang nyaut siapa" sahut salah satu dari mereka.


Ita menghela napas panjang, dan menghmbuskannya pelan, ia hendak berbalik badan dan menjaga martabat rumah tangganya, bagaimanapun juga masalah rumah tangga ita tidak boleh diketahui orang laon, ini adalah urusan Ita dan Rehan, mereka tak perlu ikut campur.


Deeeppp!! Tangan kekar itu kembali merangkul bahu Ita, ita menoleh ke samping, ia pelu mendongak untuk menatap wajah Rehan. Wajah teduhnya mampu membuat Ita tenang saat menatapnya.


Rehan beejalan sembari merangkul Ita, dan aoa daya, Ita hanya bisa mengikut kemana Rehan membawa ita, ia tidak ingin menolak rangkulan tangan ini, tangan yang ia rindukan sangat ia rindukan, bahkan Ita tak ingin Rehan melepaskannya.


Rehan mebukakan pintu mobil Ita, mendudukkan Ita, dan memakaikan sabuk pengaman untuk Ita, rehan melakukannya tanpa berucap sepatah katapun, hanya retina mata merek berudua yang kembali bertemu saat Rehan memasang sabuk pengaman, namun hanya beberapa detik saja, Rehan langsung menutup pintu mobil Ita.


"Tuh tuh lihat, lihat sendiri kan, emang kalian tau apa dari rumah tangga mereka!! Ha!!"


"Sok Tau!!" Tutup Airin dengan ketus, ia kenudian oergi meninggalkan gerombolan rumpi tersebut.


"Huuuu huuu" sorak grup rumpi saat Airin pergi.


Setelah Rehan menutup pintu mobil Ita, Rehan bisa bernapas lega, keputusannya untuk menjnghu Ita saat mau berangkat memang keputusan yang benar, denagn begitu Rehan bisa menjaga aib rumah tangga mereka.


"Huuuuuuuhhh" ita menurunkan pundaknya yang sedari tadi menegang karna apa yang Rehan lakukan. Ita terdiam, dadanya tiba-tiba terasa sesak, bahkan untuk memeluk Rehan saja rasanya Ita tak bisa memeluk Rehan sendiri. Bagi Ita, itu terasa menyakitkan, dan membuat hatinya tersakiti.


Air mata ita menetes begitu saja, Ita tak bisa seperti ini terus, pura-pura kuat bahkan dihadapan Rehan, padahal Ita tak pernah berpura-pura denagn persaannya dihadapan Rehan, namun kali ini ia harus bisa beepura-pura kuat dihadapan Rehan, "sakittt" geram Ita sembari menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.