You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
58



Ibnul jauzi rohimahullah berkata


Barangsiapa yang telah menjaga lisannya di dunia karna Allah ta'ala, maka Allah akan memberi kemampuan kepadanya untuk bisa mengucapnya kalimat syahadat ketika akan mati dan ketika bertemu dengan Allah ta'ala.


Dan barang siapa menjadikan lisannya bebas mencela kehormatan kaum muslimin serta mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan menahan lisannya untuk mengucapkan kalimat syahadat ketika akan mati.


(Bahrud Dumuu'1/124)


🌹


Perlahan-lahan rehan mulai melangkah mendekati lemari yang bertempelan kertas-kertas tersebut, rehan mulai membaca satu persatu kertas yang ter tempel.


kertas pertama yang ditaruh di pojok kanan atas rehan membaca itu terlebih dahulu,


"hari ini, saat aku mulai ingin membuka lembaran baru bersamamu, merupakan rasa sakit yang begitu dalam tergores di hati, di malam saat kau mengajakku untuk makan malam bersama. Luka yang begitu dalam berniat akan kututup. Namun aku salah, luka yang kututup justru harus terbuka kembali dan tergores lebih dalam, mungkin kamu merasa kalau apa yang kamu katakan itu benar, dan ya aku juga menyadari kalau apa yang kau katakan itu benar. Tapi tidakkah kamu tahu kalau hatiku tersakiti dengan ucapan mu? kau membunuhku dengan kata-katamu, saat itulah aku berniat untuk menyembuhkan luka kita masing-masing,"


Hati rehan juga ikut tergores saat membaca ungkapan hati ita, apa yang ia katakan malam itu sungguh sangat keterlaluan sampai membuat wanitanya menangis.


"Saat itu aku berjalan sendiri menangis, aku adalah seorang yang paling pantang menangis dikeramain, namun aku tidak bisa menahan lagi, air mata itu menetes dengan sendirinya. Aku tak pernah membencimu dan aku tidak akan bisa membencimu, yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah menjauh darimu sampai semua terasa baik-baik saja."


Hati rehan tercanik-cabik membaca tulisan tangan ita, kini Rehan kembali membaca tulisan berikutnya.


"*Hari ini hari pertama aku tanpa dirimu, untuk pertama kalinya kita bertatap tanpa perlu suara, entah apa makna tatapanmu tapi makna tatapan aku adalah aku merindukanmu, di lobby rumah sakit tempat kita pertama bertemu setelah aku pergi di tempat itu lah kesepian menyelimuti diriku saat tidak ada dirimu."


"Hari kedua saat kita tak bersama seperti hari-hari biasanya, gak tau aku merasa sakit yang amat sakit di bagian kepalaku entahlah, aku ingin sekali mengeluhkan rasa sakit ku kepadamu, tapi apalah daya kita terlalu egois untuk mengatakan aku butuh kamu, jadi kupendam sendiri,"


"aku merasa ada sesuatu yang terjadi dalam tubuhku karena akhir-akhir ini kepalaku sakit, pandanganku juga mulai kabur, kadang kakiku juga tiba-tiba terasa kebas atau bahkan mati rasa, sebagai seorang dokter tentu aku bisa menyadari apa yang sedang terjadi pada tubuhku, pagi-pagi sekali sebelum aku berangkat ke rumah sakit, aku datang ke rumah sakit lain untuk memeriksakan kesehatan ku, setelahnya aku aku kembali lagi ke rumah sakit."


"Setelah memeriksa kesehatan aku di rumah sakit, aku kembali lagi bekerja hari-hari berjalan seperti biasanya hanya yang membedakan adalah aku tak bisa memelukmu menceritakan semua keluh kesah dan juga sakit yang aku rasakan, hari ini aku melihatmu datang bersama sahabat ke kantin lagi-lagi tak ada kata yang terucap sepatah katapun dari mulutku atau mulutmu, kita membisu karena terlalu banyak ego yang menyelimuti kita*."


"Kak, pagi ini aku akan memeriksakan keadaanku ke dokter tepatnya di rumah sakit Seruni, alasan kenapa aku tidak memeriksa keadaanku di Angkasa Hospital Center, karena aku yakin saat kau mengetahui aku sakit mungkin kau juga akan ikut sakit, aku tidak ingin itu terjadi, meski aku bilang aku ingin membagi rasa sakitku, namun ternyata tidak ada kekasih yang sanggup melihat kekasihnya sakit juga, jadi aku berniat untuk menutupinya."


"Aku merindukanmu itulah makna tatapan yang kuberikan padamu saat ada kata terucap di mulutku, ternyata menyembunyikan rasa sakit sendiri terlalu berat, kepalaku begitu sakit saat itu juga aku kembali ke rumah sakit tempatku periksa, benar saja dokter mendiagnosa tumor otak, aku sedih bukan karena penyakit yang diberikan oleh Allah, namun aku sedih karena tak bisa membagi rasa sakit ini kepada orang yang kucintai, memang terlalu egois kan?? harus membagi rasa sakit, namun setidaknya aku butuh kamu sebagai sandaranku, itu sudah membuatku lega saat kau berada disisiku."


Hati rehan terasa sakit saat membaca kata demi kata yang Ita goreskan, air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja, rehan mengusap air matanya mencoba menghentikan tangisnya, namun rehan tetaplah rehan yang akan sakit saat tau keadaan nita sedang tidak baik-baik saja.


rehan mengusap wajahnya kasar dia juga mengacak rambutnya secara frustasi, suami macam apa dia yang terlalu egois sampai tidak ada waktu untuk mencari istrinya untuk mengetahui keadaan istrinya, rehan terlalu buruk untuk disebut apakah seorang suami, mungkin inilah kenapa Allah belum mengaruniakan nya anak karena rehan sendirilah yang belum pantas untuk menjadi seorang ayah.


Tak ingin membuang-buang waktu lagi, dan sekarang menuju ke Seruni Hospital tempat Ita periksa keadaannya, dengan kecepatan tinggi di dan tergesa-gesa arah melakukan mobilnya membelah jalanan ibukota jakarta secepatnya ia ingin bertemu dengan istrinya.


"Haaassshhhh" beberapa kali Rehan memukul setir mobil dengan keras saat mobilnya harus terjebak macet, seperti yang diketahui bersama jalanan ibukota tidak pernah lancar, perasaan rehan sudah tidak karuan memikirkan ita yang tengah berjuang sendiri melawan sakitnya.


Rehan harus mengejar waktu dia tidak boleh sampai seruni pada hospital malam hari, setelah sekitar 1 jam terjebak macet, akhirnya rehan sampai di seruni hospital, dengan terburu-buru rehan keluar dari mobilnya.


Ia berlari menuju meja administrasi menanyakan pasien bernama atma anindhita, "ah suster apa ada pasien yang bernama atma anindita dirawat di sini??."


Suster kemudian mengecek daftar pasien yang dirawat di rumah sakit ini, "maaf pak pasien bernama atma anindita telah dirujuk ke rumah sakit lain" ujarnya.


"Maksudnya dia sudah tidak ada di sini??" Tanya Rehan semakin cemas.


"iya pasien atma anindhita sudah dipindah di rumah sakit rujukan yang lebih baik dan keadaannya yang tidak bisa ditangani di rumah sakit ini" jelas suster.


Penjelasan suster suster membuat rehan semakin takut seperti itu parah kah keadaan ita?? Rehan terdiam sebentar memikirkan kemana rumah sakit rujukan kita, ia tidak bisa tenang saat belum menemukan ita.


Kring kring.. gawai rehan berbunyi,dengan segera rehan mengangkat telepon dari rumah sakit.


"Ya??."


"Dokter ada di mana?? Ruang operasi sudah siap sebentar lagi operasi akan dimulai" ucap suster dalam telpon.


Ahsssshhhh gerutu rehan dalam hati namun tentu tak bisa Rehan ungkapkan kekesalannya, ia menarik napas panjang.


"Ya saya kesana sekarang." Dan sekarang perlahan ia keluar dari rumah sakit seruni, ada pasien yang membutuhkan bantuan rehan. rehan tidak bisa mementingkan kepentingan pribadi di atas keselamatan pasiennya.


Dengan terburu-buru rehan masuk mobil dan melajukan mobilnya ia tidak boleh terjebak macet lagi karena ia harus datang ke ruang operasi dengan tepat waktu.


Rehanpun sampai ke rumah sakit dengan tempat waktunya segera ke ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan baju operasi, setelah berganti baju yang kemudian mencuci tangannya dengan antiseptik yang sudah ada di depan di ruang operasi.


operasi sedang berlangsung. kemungkinan operasi akan selesai 3 jam lagi yaitu tepat pukul 9 malam, setelah cukup lama mengusahakan operasi akhirnya operasi pun berjalan dengan lancar rehan berterima kasih kepada semua tim yang sudah membantu dalam operasi hari ini.


"Terima kasih semuanya kalian sudah berkerja keras terima kasih"rehan karena keluar dari ruang operasi.


"Ya dokter juga bekerja dengan keras dan baik" laut salah satu dokter lainnya.


Rehan keluar dari ruang operasi yang berniat akan mencari rumah sakit rujukan yang dimaksud petugas administrasi tadi.Rumah sakit yang lebih besar dari itu, Rehan duduk di lobby rumah sakit mencari informasi tentang rumah sakit lain.


"Dokter!" Panggil Rangga yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya.


"Apa??" Jawab rehan malas.


"Dokter lagi cari apa??" Tanya Rangga penasaran semabri melirik ponsel Rehan.


"Apasih kepo ya" jawab Rehan menggoda.


"Hm??" Rehan semakin malas menjawab karna ia sedang sibuk mencari informasi.


"Dokter apa nggak sebaiknya periksa keadaan pasien.." belum sempat Rangga meneruskan ucapannya, namun sudah terpotong oleh Rehan.


"Ah iya, Alya" Rehan tau ia harus menghubungi siapa.


"Dokter!" Panggil Rangga lagi.


"Maaf ya bentar saya ada urusan" rehan berdiri dari tempat duduknya sembari mencari kontak alya. Padahal maksud Rangga adalah ia ingin mempertemukan dokter Rehan dengan Ita, Rangga ingin dokter Rehan mengetahui sendiri keadaan Ita, namun Rehan terlalu sibuk dengan urusannya.


"Assalamualaikum dokter Alya??" Sapa Rehan dalam sambungan telponnya, tanpa Rehan sadari, Ita yang tengah berjalan jalan keliling rumah sakit seperti biasanya mengenakan masker, ia melihat rehan yang tengah berbicara di sambungan telpon dengan seseorang.


"alya??" Gumam ita.


"Apa itu nama perempuan??" Gumam ita lagi, apa wanita itu adalah wanita yang tadi siang bersama rehan?? Kita tidak kuat lagi mendengar apapun yang akan dibicarakan rehan dengan wanita itu, bukankah itu sudah jelas saat rehan menghubunginya, ia sangat berharap agar wanita itu mengangkat telepon dari rehan. Tanpa mendengarkan kelanjutannya ita pun beranjak begitu saja pergi tak melanjutkan pengintaiannya.


"Wa'alaikumussalam dokter Rehan??" Suara Alya terdengar bersemangat saat Rehan menelponnnya.


"Iya, ada yang mau saya tanyakan."


"Iya silahkan dokter" jawab Alya bersemangat.


"Kira-kira apa ada pasien yang di rujuk sekitar beberapa hari yang lalu??" Tanya Rehan.


"oh ada ya dokter kemarin ada pasien yang dirujuk," jawab Alya.


"Kemana pasien dari seruni hospital dirujuk??" Tanya Rehan lagi.


"Ke rumah sakit tempat dokter bekerja, kemarin ada pasien tumor otak yang dirujuk ke rumah sakit, pasien yang kemarin saya bicarakan dengan dokter yang waktu itu MRI nya saya kirim ke dokter."


Rehan tersentak saat mendengar penjelasan dari Alya. rumah sakit seruni?? Tumor otak?? Apa jangan-jangan pasien yang dirujuk itu adalah ita?.


"Tolong katakan siapa nama pasien tersebut??" Tanya Rehan panik.


"Memangnya kenapa dokter??."


"Tolong katakan saja!?" Suara Rehan terdengar menderu, dadanya hampir sesak.


"Atma Anindhita."


Deg... Hati Rehan bak dilempar batu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping, tangan rehan bahkan sampai lemas tak kuat membawa ponselnya. Leeess terasa di hatinya saat nama Atma anindita terucap dari bibir alya, dengan segera rehan menuju ke ruang pasien rujukan tersebut di ruang 455.


dengan berlari perasaan yang tak karuan rehan berlari sekuat tenaga menuju kamar nomor 455 lantai 3, lift yang ia tunggu tak kunjung terbuka, ia tidak bisa menunggu lagi. rehan memilih menaiki tangga darurat agar bisa cepat sampai meskipun harus membuang banyak tenaga.


Rehan berlari secepat mungkin ia sudah tidak sabar bertemu ita memberi semangat, ia ingin memeluknya dan meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.


Setelah menaiki tangga ia pun akhirnya sampai juga. setelah sampai di lantai 3 rehan langsung mencari ruangan nomor 455.


perlahan Rehan mulai membuka pintu ruang kamar tersebut. Semua yang berada di ruangan tersebut melihat yang datang, semua pasien manatap rehan dengan tatapan bingung.


"Ada apa dokter Rehan??" Tanya salah satu dari pasien.


Rehan meringis, "eumm.. apa ada pasien rujukan disini?" Tanya Rehan.


"Oh ya ada dokter, tapi dia sangat tertutup, lihat saja tirainya tidak pernah dibuka, ia selalu sendirian" ujar salah satu pasien disana.


"Iya dokter, bahkan ia tidak pernah mengobrol dengan kami" sahut yang lainnya.


Hah? hati Rehan kembali lagi dihantam, ia bisa mersakan bagaimana kesepiannya Ita tak ada yang menemaninya, ia juga pasti akan menyemebunyikan dirinya dari semua orang di rumah sakit agar tidak ada yang menegetahui keberadaannya.


Perlahan rehan mulai melangkah mendekati ranjang yang tertutup dengan tirai, dengan menguatkan hatinya, Rehan sedikit demi sedikit mendekati ranjang tersebut, perlahan Rehan membuka tirainya.


Dan yah! Rehan tak menemukan seorangpun yang tidur di ranjang itu, kemana lagi Ita pergi?? Apa dia kabur?? Ah tidak, ita bukanlah seorang seperti itu, ia tidak akan merepotkan siapapun, kalau ia kabur, tentu saja itu akan merepotkan semua pihak rumah sakit, dan Ita selalu berpikir matang sebelum bertindak.


"Apa ada yang melihat pasien di dalam keluar??" Tanya Rehan.


Semua menggeleng tidak ada yang mengetahui perginya pasien itu, "pasien tersebut memang seringkali keluar, nanti larut malam ia akan kembali lagi ke sini untuk tidur dokter" ujar salah satu kelurga pasien yang menjaga.


"Ahh iya." Saat ita keluar, ia pasti sedang berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit seperti kebiasaanya, Rehan berpikir kemungkinan Ita akan pergi.


"Bangsal anak??" Pikir Rehan, "ah tidak, ini sudah malam sekali untuk ke bangsal anak, Ita pasti tidak akan kebangsal anak malam seperti ini" Rehan berbicara pada dirinya sendiri.


"Ah ayo otakku berpikirlah" ita menekan kepalanya.


"Saat sendiri, ita paling suka tempat yang sepi," ucap Rehan menemukan clue.


"Tempat di rumah sakit yang sepi saat malam hari adalah..."


"Iya! Pasti disana" rehan langsung keluar dari ruangan 455, semua yang ada di ruangan menatap Rehan dengan tatapan bingung, "kenapa dokter tampan itu??" Gumam salah satu diantaranya.


Lagi-lagi lift penuh, jadi Rehan harus menggunakan tangga darurat lagi, ia berlari sekuat tenaga menuju lantai bawah. Banyak yang melihat rehan dengan tatapan bingung, bahkan beberapa orang yang berpapasan dengn Rehan tak dihiraukan oleh Rehan.