
"Ya Allah saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa Cinta-Mu jauh lebih besar darpidapa kekecewaaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku."
- Ali bin Abi Thalib -
🌹
Di ruang doctor dormitory Rehan istirahat sebentar setelah melakukam operasi besar, pukul 11 malam, Rehan memutuskan untuk pulang, namun sebelum itu, ia pergi ke ruang ita terlebih dahulu, memastikan apa dia sudah pulang apa belum.
Rangga mengetuk pintu sebelum masuk, tidak ada suara siapapun yang menyaut dari dalam ruangan, Rehan akhirnya memutuskan untuk membuka ruang kerja Ita dan Airin.
Kosong, sepi, berantakan, itulah yang Rehan tangkap saat membuka ruangna tersebut, pandangan Rehan mengelilingi seluruh sisi ruangan, Rehan tak melihat tas pemberian Rehna kepada Ita ada di ruangan, tas tersebut selalu Ita bawa saat ke rumah sakit.
Rehan juga tak melihat tas lainnya di meja Ita, meja ita juga terlihat rapi tak seperti biasanya pasti ada buku yang terbuka di mejanya, Rehan hanya melihat tas Airin yang masih berada di mejanya. Rehan menutup kembali pintu ruangan itu.
"Apa dia tidak berangkat hari ini??" Gumam Rehan, perasaannya berubah tidak enak, entah apa yang mengganggu pikirannya namun ia tiba-tiba khawatir dengan keadaan Ita.
Setelah lama berdiri di depan pintu ruang kerja Ita, rehan memutuskan untuk berlalu dari depan pintu kerja Ita. Ia berniat akan ke rumah Ita memastikan keadaannya meskipun hanya diam diam.
Langkah rehan yang cepat berhenti saat suara gawainya berbunyi, rehan mengambil ponsel yang berada di saku celananya, terdapat nama umi dari layar ponselnya. Segera rehan mengangkat telepon dari uminya, karena jarang sekali yasmin menelpon rehan.
"Ya ummi??" Ujar Rehan sembari berjalan.
"Han?? Kamu masih ada urusan kah??."
"Nggak ummi, ini juga mau pulang."
"Ummi minta kamu pulang sekarang!" Titah yasmin tanpa mau dibantah lagi.
Tidak mau membantah ucapan Yasmin, rehan mengurungkan niatnya untuk ke rumah ita terlebih dahulu, Rehan langsung pulang menuju rumah sesuai dengan perintah yasmin.
****
"Assalamualaikum ummik???" Salam Rehan keras sampai Yasmin menyaut.
"Wa'alaikumussalam Rehan" Yasmin keluar dari kamarnya, ia langsung merangkul tubuh kekar Rehan.
"Duduk sayang" Yasmin mendudukkan Rehan di sofa ruang keluarga.
"Han, umi mau kamu sekarang menjemput Ita, umi sudah dia sanggup lagi melihat kalian berdua terpisah, sedangkan umi bisa rasakan sendiri bagaimana kereta kalian menjalani hidup masing-masing," Yasmin meraih tangan Rehan dan memegangnya erat.
"Jemput tata untuk ummi" perkataan Yasmin langsung membuat hati Rehan deg... Ia terdiam sebentar sebelum menjawab permintaan Yasmin.
"Tapi tata sendiri yang meminta untuk menjauh satu sama lain terlebih dahulu, rehan yakin saat nanti tata sudah siap menerima kenyataan ini, dia kan kembali lagi, kami akan kembali lagi, bersama kita berdua hanya butuh waktu umi."
Yasmin menggeleng tak habis pikir dengan pikiran Rehan, "jangan pernah berbohong di depan ummi, umi tahun kamu sangat menginginkan kembali lagi bersama ita, kembalilah bujuk dia sebagai seorang laki-laki.
"Terkdang seorang wanita mengucapkan pergi yang berarti dia melarangmu pergi, saat dia bilang mengobati lukanya justru saat itulah dia membutuhkna seorang yang ia cintai untuk bersama mengobati luka, itulah perempuan, kau sendiri yang begitu mengenal Ita, jadi ummi yakin kamu mengerti keadaan Ita tanpamu, sekuat-kuatnya dia, dia juga rapuh didalmanya, ummi yakin itu."
"Obati bersama, jalani bersama, kalian ada bukan untuk jalan sendiri-sendiri, namun berjakan bersama."
Kata-kata Yasmin yang lembut, berhasil masuk dengan mudah ke dalam hati Ita, Yasmin memang selalu berhasil bicara hati ke hati bersamanya. Kini hati Rehan mulai luluh, meluluhkan ego dari Rehan. Ia berniat akan menjemput Ita pagi nanti, ini sudah tengah malam, mana bisa Rehan mengganggu istirahat Ita yang begitu singkat.
*****
Di kamar yang luas yang biasa dihuni Rehan dan Ita, kini kamar tersebut hanya Rehan yang menempati, sudah beberapa hari Ita, Rehan tak pernah bisa tidur dengan nyenyak, klalau apa Ita juga merasakan seperti itu?? Tak pernah satupun hari terlewatkan bagi Rehan merindukan ita, apa Ita juga merindukannya??.
🌹
Di ruang inap yang tak begitu luas, yang berisi 4 orang pasien di dalamnya, syukurlah Ita mendapat ranjang yang bisa langsung menatap jendela yang memperlihatkan suasana diluar, ita sengaja memilih ruangan yang berisi bebrapa pasien agar Ita tak merasakan kesepian yang mendalam, namun apa?? Ia justru sangat merasa kesepian sekarang saat melihat pasien lain selalu di temani oleh yang mencintai mereka, mereka selalu ada di sisinya, itu membuat Ita iri, karna disni ia tak punya siapa-siapa, ia harus berjuang sendirian.
"Apa kau merindukanku?? Apa justru kau malah melupakanku?? Apa kau bisa tidur nyenyak tanpaku?? Aku berharap kau merindukanku agar rasa rinduku ini terbalaskan, todak bertepuk sebelah tangan" gumam Ita sembari menatap langit malam, jendelanya sengaja ia tidak tutup dengan gorden.
🌹
"Selamat siang!?" sapa Alya saat masuk ke ruangan Ita disambut pasien yang juga berada di ruangan. Alya menuju ke ranjang Ita, ia berdiri di sisi Ita yang tengah duduk di ranjangnya.
"Nona Ita, anda harus segera mendapatkan operasi sebelum tumor menekan saraf optik dan okulomotor, jadi untuk saat ini tidak ada masalah besar selama operasi."
"Anda harus mendapatkan operasi dari Angkasa hospital Cemnter, saya sudah membicarakan kasus tumor anda kepada salah aatu dokter disana"
"APA!!" potong Ita langsung saat Alya mengatakan telah memberitahukan kepada salh satu dokter disana.
"Kenapa??" Tanya Alya.
"Siapa? Dokter memberitahukan kepada siapa?!" Tanya Ita, wajahnya langsung berubah cemas seketika.
"Dokter Rehan, dia dokter bedah saraf terbaik di negeri ini, dan juga saya mengenalnya karna pernah satu kampus dengannya."
"Apa!! Lalu apa yang dia katakan??."
"Dia mengatakan agar saya bisa membujuk pasien untuk segera operasi di Rumah Sakit rujukan, kalaupun anda tidak bisa mendapatkan operasi dari dokter Rehan karna jadwal operasinya sangat padat, disana anda juga bisa mendapat operasi dari dokter Hammam yang juga profesor bedah saraf terbaik" jelas Alya.
Ita menurunkan pundaknya yang sedari tadi menegang, "apa itu artinya dokter tidak memberitahukan nama saya?."
"Tidak, saya hanya mengirimkan hasil MRI anda membicarakannya di telpon" jelas Alya, huuh akhirnya Ita bisa bernapas lega saat Alya tidak memberitahukan nama pasiennya.
"Dokter saya mohon jangan beritahu nama saya ke siapapun saat dokter sedang membicarakan saya dengan dokter bedah saraf di Angkasa hospital Center, saya mohon."
"Jangan berharap wali saya, dia bahkan tidak tau soal ini, jadi tidak akan datang."
Alya menatap sedih ke arah Ita, dari kemarin sampai sekarang Alya tidak melihat wlaindari Ita, "saya harap, akan ada yang segera menyetujui surat rujukan tersebut, permisi" salam Alya yangbkemudian pergi meninggalkan ruangan Ita.
Ita menatap sendu ke arah jendela, "kelau memang hidupku akan berakhir disini, semoga Allah mematikanku dengan keadaan husnul khatimah" gumam Ita menatap jendela dengan tatapan kosong, ia sudah seperti tak punya harapan lagi.
*****
Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke Rumah Sakit, ia mampir terlebih dahulu ke Rumah Ita suapaya ia bisa berangkat bersama dengan Ita.
Saat mobil Rehan berhneti di depan gerbang Rumah Ita, pak Bambang selaku satpam di Rumah Ita ia langsung membukakan gerbang untuk Rehan.
"Makasih ya pak" ujar Rehan saat Pak bambank membukakan gerbang.
"Siap aden."
Rehan keluar dari mobilnya, menata kemeja yang kurang rapi semenjak tidak ada Ita yang selalu merapikan kemejanya. Rehan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk Rehan melihat sekeliling rumah, tak terlihat mobil Ita terparkir di depan Rumah, "apa sudah berangkat?? Atau ada siff?? Ah tidak bukannya kemarin Ita sudah tidak ada di ruangan??" Rehan berbicara pada dirinya sendiri.
Rehan mengetuk pintu rumah Ita, "assalamualaikum??" Salam Rehan keras, ia juga menghidupkan bel rumah, tidak biasanya rumahbIta di tutup seperti ini.
"Assalamualaikumm" ting tong... Masih saja nihil tak ada yang membukakn pintu, "apa sama sekali tidak ada orang di rumah??" Ujar Rehan lagi.
Kriiingg... Kini ponsel yang ia taruh di saku berbunyi, Rehan segera mengangkat panggilan dari Rumah sakit, "ya??"
"Iya, saya segera kesana" ucap Rehan sembari meninggalkan kediaman Ita, Rehan melajukan mobilnya menuju rumah sakit saat mendepatkan panggilan darurat.
Rehan segera memarkirkan mobilnya dan langsung ke Ruang prakteknya karna bebrapa pasine telah menunggu Rehan. Regan segera menempatkn dirinya di kursi ruang prakteknya, "bisa panggil pasien pertama."
"Iya dokter" ucap Perawat mengiyakan dan kemudian memanggil pasien pertama.
"Pasien pertama silahkan masuk."
"Setelah kami melakukan observasi, ada tumor jenis meningioma, tapi anda tak perlu khawatir posisi tumor anda tidak terlalu berbahaya, tapi saya sarankan untuk segera dioperasi."
"Bagaimana jadwal operasi seminggu kedepan dokter?" Tanya Rehan pada Rangga yang menemani Rehan.
"Seminggu kedepan, anda hanya punya hari waktu akhir pekan yang kosong."
Rehan mengangguk mengeti, "tidaknapa, kita jadwalkan operasi hari Ahad kalau begitu, bagaimana??."
"Iya dokter, lakukan apapun agar ayah saya bisa sembuh" ujar anak yang menemani pasien.
Rehan hanya tersenyum seperti biasa menanggapi pasien, fokus Rehan terbagi karna memikirkan Ita, hari ini Rehan bahkan tak melihat Ita di rumah sakit, dirumahnyapun juga sepertinya tidak ada, jadi kemana dia?? Rehan ingin sekali bertanya kepada Rangga yang sering bertemu dengan Ita, tapi pasti mereka akan berpikir suami apa Rehan ini tidak tau kemana istrinya, dan mereka otomatis akan tau keadaan rumah tangga Ita dan Rehan.
****
Di Seruni hopital, Ita ingin sekali keluar untuk sekedar jalan-jalan melihat kondisi rumah sakit, tanpa bantuan siapapun, ia berjalan jalan mengelilingi rumah sakit, meski tak banyak yang ia kelilingi karna kondisinya yang masih suka pusing, jadi Ita hanya mengilelilingi loby dan bagian bedah saraf, ia berjalan-jalan di sekitaran sana.
Dengan sembari mendorong tiang infusnya, yangbjuga ia fungsikan sebagai tongkat, Ita menghampiri salah seorang anak kecil yang sedang menunggu giliran di depan ruangan Alya.
"Dimana ibumu?? Atau ayahmu??" Tanya Ita yang sudah duduk di sebelh anak laki-laki itu.
"Ayah bilang ia akan segera kesini," jawabnya.
"Apa yang kau rasakan sekarang??" Tanya Ita, ia dindu dengan kegiatan rumah sakit.
"Kakiku susah sekali berjalan, jadi ayah mengajakku ke dokter, katanya aku bisa bermain sepak bola lagi saat sudah diobati" jelasnya.
Ita mengangguk mengerti, pasti ada gangguan pada sarafnya yang menyebabkan gangguan gerak motorik yang berimbas pada gerak otot kaki salah satunya.
"Tante jamin kamu pasti akan sembuh setelah diobati, kamu akan bisa bermain bola lagi seperti biasanya" ujar Ita menyemangati dengan mengusap acar rambut kepala anak laki-laki tersebut.
Melihat anak ini, membuat ita bercermin pada dirinya sendiri, apa saat dia dioperasi, akankah ia sembuh kembali?? Akankah semua sarafnya bisa berfungsi normal kembali?? Akankah penglihatannya menurun atau bahkan hilang dan menyebabkan Ita harus berhenti menjadi dokter?? Itu adalah pertanyaan yang memenuhi kepala Ita saat bertemu anak ini.
Kata-kata Ita yang menyemangati anak tersebut bahwa ia bisa bermain bola kembali, apakah Ita juga bisa menjadi dokter kembali??.
"Ayah??" Panggil anak itu kepada seorang laki-laki yang datang, segera Ita tersadar dari lamunannya, Ita menyapa laki-laki itu dengan senyuman dan kemudian pergi meninggalkan mereka.
Ita melanjutkan keliling rumah sakit, Ita melihat beberapa dokter yang tengah memeriksa pasien, tersenyum ramah dengan pasien, lagi-lagi hati Ita mempertanyakan keadaanya nanti "apa nantinya aku harus benar-benar berhenti??" Gumam Ita, matanya mulai berkaca-kaca.
Ita juga melihat dokter senior dengan dokter magang yang tengah berjalan, dokter magang berjalan di belakang dokter pembimbingnya yang berjalan begitu cepat, ini mengingatkan Ita dengan sosok Kiki dan Rangga, ternyata mereka bisa juga membuat Ita jadi Dindu, dan Ita hanya bisa menatap dokter-dokter itu dengan pandangan sendu.
Berjalan lagi, Ita melihat dokter yang tampak berbicara dengan akrab, mereka bicra dengan bahasa sehari-hari, tidak menghunakan bahasa formal, Ita kini rindu Airin sahabat yang selalu ada untuk Ita, selalu jadi pendengar Ita, dan juga seorang yang mengerti perasaan Ita meski Ita tak menjelaskan apapun. Ita tersenyum getir menatap dua dokter Itu.
Ita juga melihat dokter yang tengah menghibur pasien anak yang menangis karan ketakukan, ini adalah hal yang paling Ita suka, disisi seperti ini jiwa orang tua akan tumbuh, Ita tersenyum melihatnya, meski mata ita tak bisa berbohong kalau ia sedang mencemaskan sesuatu yang akan tetjadi, matanya berkaca-kaca, air mata hampir lolos darii pelupuknya.
Apa ita harus benar-benar aka berhenti dari dunia kedokteran?? Begitu banyak yang Ita rindukn dari tempat seperti ini, melelahkan namun begitu membuatnya gembira.
"Aaarrrgghhh" ita merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya lagi, Ita mendekam kepalanya kuat-kuat, "aaahhhh" pekik Ita kesakitan.
Tak lama kemudian, jatuh dan kejang kembali, sontak para perawat langsung menghampiri pasien yang kejang, merek langsung memanggil dokter.
Saat alya mendengar kabar Ita, ia segera datang memeriksa keadaan Ita, "dia memang harus segera dioperasi, dia akan mengalami kejang, dan sakit kepala kalau tumornya tak segera dingkat" ujar Alya menatap ke arah Ita yang kini tengah berbaring tak sdarkan diri di ranjangnya.