
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
QS. Al Baqarah ayat 216
🌹
Keputusan telah di tetapkan rehan, di pagi hari di hari jimat yang berkah ini, Rehan akan melamar seorang gadis yang sampai pagi ini ia belum tau namanya.
Tapi ia sudah yakin kalau ia adalah yang terbaik bagi Rehan, karna sejauh ini, Allah selalu memudahkan jalan acara lamaran rehan.
Dimulai dari pesan hantaran lamaran yang super mendadak, catering yang mendadak, dan beli cincinpun dadakan. Tapi dari semua yang sipesan secara mendadak, tak satupun menolak dan keberatan, bagi Rehan itu adalah sebuah tanda kalau Allah mempermudah urusannya dengan gadis itu.
"Assalamualaikum" salam seseorang dari balikbpintu kamar Rehan, suara yang sangat familiar baginya.
"Wa'alaikumussalam umi."
Yasmin masuk ke kamar rehan, pandangan yasminpun beralih di kerah baju Rehan yang belum ia rapikan, dengan penuh perhatian, yasmin merapikan kerahnya.
Rehan menatap lekat wajah uminya dari dekat, wajah uminya selalu bisa menjadi obat penenang tersendiri baginya. "Umi?."
"Iya?" Jawab yasmin yang masih sibuk merapikan kerah baju rehan.
"Nama calonnya rehan siapa ya? Rehan lupa tanya" tanya rehan dengan muka polosnya itu.
Yasmin menggelengkan kepala tak habis pikir dengan anaknya ini, nama wanita yamg mau dilamar saja ia tidak tahu.
"Atma Anindhita." Yasmin menyebutkan secara gamblang nama calon menantunya itu.
"Kok kayak pernah dengar nama itu ya umi, tapi siapa ya." Rehan mencoba mengingat-ingat nama yang terdengar sangat familiar di telinganya, tapi nihil, rehan tak bisa menggambarkan wakah dari pemilik nama itu.
Yasmin menahan tawanya saat melihat ekspresi bingung Rehan, ia nampak berusaha keras mengingat nama itu.
"Udah,ngga usah ditebak-tebak wajah calonnya, umi jadi ngga sabar lihat betapa kagetnya kamu nanti" yasmin masih saja tersenyum jahil pada rehan yang tak tau apa-apa mengenai calonya.
"Kenapa rehan harus kaget umi?" Tamya rehan lagi, wajah polosnya itu benar-benar menggemaskan.
Yasmin hanya tersenyum menimpali pertanyaan putranya.
"Karna dia cantik, cantik sekali" jawab yasmin diakhkri senyum mengembang.
"Udahlah, cepet turun, semuanya sudah menunggu."
Setelah menoel hidung rehan, yasmin segera keluar dari kamar rehan dan bersiap untuk pergi ke rumah ita.
🌹
(Di Rumah Ita)
Segala persiapan lamaran sudah 100% beres, meskipun dadakan, alhamdulilah Allah melancarkan segala urusan untuk lamaran ini.
Di kamar, Ita sedang di poles dengan makeup,ita yang biasanya sudah kelihatan cantik tanpa make up kini akan ia akan tampil berbeda, mempesona keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Hidung mancung,kulit putih, pipi mulus,bulu mata yang sudah lentik tanoa bulu mata palsu, bibir yang sudah pink kemerahan secara alami, kini keindahan itu akan dipoles di hari bersejarahnya ini.
"Ta, nama calon lo siapa?" Tanya MUA ita yang tak lain adalah temannya sendiri, bisa dibilang sahabatlah.
"Ngga tau" jasab ita malas.
"Hisshhh, gila si lu parah, masa namanya ngga tau" Sahut Asri sembari sibuk mengoleskan blush on di pipi ita.
"Serius deh,gue ngga tanya sama ayah, yang gue tau cuma dia anak temen ayah dah itu doang" jawab ita jujur.
Asri menggelengkan kepala mendengar jawaban ita, sepertinya ini bukan lamaran yang ditunggu-tunggu oleh sebagaian besar pasangan pada umumnya. Biasanya perempuan akan selalu exited di hari lamarannya, karna itu adalah hari dimana ia diberi keoastian oleh laki-laki.
"Kok lo mau sih dijodihin gini, maksut gue, gimana ya, lo sesantai ini,padahal ini keputusan yang besar, dan yang bakal nglakuin itu lo ta, coba lo bayangin kalau calon lo itu beda sama ekspektasi lo, kalau dia suka main tangan gimana coba."
"Kalau masalah kpribadian sih, karna ayah udah srek sama dia, jadi gue pikir kayaknya dia itu emang baik deh, dalan artian ngga seperi yang lo omongin itu,"
"Tapi gue juga aneh sih aama diri gue sendiri,lo bener sri, gimana bisa gue sesantai ini, sedangkan ini keputusan besae yang gue ambil dalam hidup gue, sekali seumur hidup, ngga tau kenapa sri, gue yakin banget sama lamaran ini, meskipun awalnya gue sempet ya lo tau lah feeling bad."
"yaudahlah ta,gue doain, apapun itu dan siapapun itu semoga lo bisa bahagia sama dia."
🌹
Suara iring-iringan mobil terdengar dari lantai atas kamar ita. "Kayaknya Udah dateng ta, buruan lo ganti baju lo" perintah asri, dan ita segera menuruti kata sahabatnya itu.
Karna rasa penasaran asri akan calon dari sahabatnya itu, asri segera menuju balkon yang memang ada di kamar ita,
Asri mengamati seorang yang terlihat mencolok diantara mereka, yang berjalan dideoan dan digandeng oleh wanita paruhbaya, "itu pasti calonnya ita" ucap asri saat melihat sosok rehan.
Melihat perawakannya saja sudah membuat asri berpikir kalau laji-laki itu tampan, asri dilanda rasa kepo yang besar, ia ingin melihat wajahnya, tapi apalah daya,ia terus saja menunduk.
Tapi, beberapa langkah sebelum masuk ke teras rumah, Rehan sempat mendongakkan kepala, melihat ke arah balkon kamar ita, Asri berhasil merekam wajah laki-laki itu, meskipun hanya beberapa detik Rehan mendongak, tapi Aura ketampanannya tak diragukan lagi. Asri tersenyum lega melihat calon ita, mereka memang serasi, Si Cantik dan Si Tampan.
Rehan yang sempat mendongakkan wajahnya dan melihat perempuan sedang berdiri dibalkon, membuatnya punya asumsi sendiri, "mungkin itu yang namanya Atma Anindhita" batin rehan dalam hati.
-
"Cocok ngga?" Tanya ita meminta pendapat dari asri tentang ghamis yang ia pakai.
Asri terpukau melihat ita saat ini, ia kelihatan sangat cantik dan anggun engan balutan ghamis warna putih tulang, hijab yang menutupi dada dan hiasan mahkota yang mengitari kepalanya. ita terlihat begitu manis di hari yang spesial ini.
"Cocok ta, bagus, cantik" puji asri.
"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah."
"Hmm." Ita masih sibuk menatap dirinya di depan cermin sembari mengayun ayunkan ghamisnya.
"ni gue serius ta, ternyata calon lo itu uwuw banget parah" ucap asri begitu antusias membicarakan laki-laki yang akan melamar ita.
"Ngmong yang jelas jan pake bahasa twiter." Ita memutar bola matanya jengah.
"dari tampilannya aja udah gud luking, udah pasti si itu laki-laki sholih" jelas asri.
Ita menghentikan aktifitasnyasaat mendengar kata laki-laki solih, ita teringat sesuatu, teringat laki-laki yang hari ini juga aka melaksanakan lamaran, mungkin saat ini ia sedang senang sekali akan melamar wanita itu.
"Astaghfirullahal'adziim" ucap ita saat ia dengan lancangnya memikirkan Rehan.
"Kok istighfar? Lo dengerin gue ngomong ngga sih?."
"Iya denger, emang gue budeg apa." Ita mendengus kesal.
🌹
Acara lamaranpun dimulai, semua keluarga dari pihak rehan maupun ita sudah berjumpul di ruang utama, kini ita hanya tinggal menunggu saat ia dipanggil oleh ayahnya, dan Asri yang akan mengentar ita menemui calon suaminya.
Asri menggenggam erat tangan Ita, ia tahu saat ini sahabatnya sedang gugup, asri tahu karna tangan ita saat ini sedang panas dingin. Kakinya juga gemetar apalagi hatinya.
Rehan mulai menegakkan posisi duduknya, bersiap akan menyatakan maksut kedatangannya kemari. Seisi ruanganpun yang mulanya brisik oleh mak-mak yang ngobrol, kini suasana mulai tenang. Tapi tidak dengan hati Rehan dan Ita yang tak karuan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Salam Rehan.
"Bismillahirrahmanirrahiim" Ucap Rehan dengan Mantab sebagai permulaan yang baik.
Di lantai atas, hati ita tersentak mendengar suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya, kini ruangan dikamar ita seperti kekurangan oksigen, hatinya tak karuan, entah perasaan apa ini, mungkin memang begini rasanya dilamar oleh laki-laki yang ia sendiri tidak tahu wujudnya.
"Kedatangan saya kemari, berniat ingin melamar putri Bapak yang bernama Atma Anindhita" ucap rehan singkat, padat dan jelas.
Pras tersenyum menanggapinya. "Saya tidak berhak menjawabnya, biar putri saya saja yang akan menjawab." Kemudian dipanggilnya Ita untuk turun.
-
"Udah dipanggil ta, Siap?" Tanya Asri memastikan.
Ita hanya mengangguk pasti menanggapi peratanyaan Asri, perlahan ita bangkit dari duduknya, berpegangan tangan Asri, dan mulai berjalan keluar dari kamar. Menuruni anak tangga tangga,
Tubuh calon istri Rehan sudah bisa ia lihat, tapi wajahnya masih samar karna ia masih menunduk. Benar-benar membuat Rehan penasaran. Satu demi satu tangga sudah ita turuni, dengan ucapan bismillah semoga Allah meridhoi setiap langkah ita.
Semua pandangan kini tertuju pada ita, demi apapin ita tidak peenah segugup ini saat ia menjadi pusat perhatian, dengan wajah yang masih menunduk, ita kemudian mengambil posisi duduk disebelah ayahnya, duduk ala sinden, karna memang ruang tamu di kosongkan dari semua barang-barang termasuk kursi.
Ekhemmmm... rehan berdaham menyiapkan suaranya. Dan ita masih belum berani menatap laki-laki itu.
"Atma Anindhita" panggil Rehan, karna merasa terpanggil, itapun mulai mengangkat kepalanya dari posisi menunduk, bak waktu yang di perlambat (slow motion) pandangan ita mulai merayapi wajah calon suaminya itu, begitupula Rehan yang mulai melihat wajah calon istrinya yang mulai ia perlihatkan.
Waktu seakan berhenti saat kedua bola mata mereka mulai bertemu, momen itu juga seperti sedang ada lagu Ketika Cinta Bertabih yang menjadi back song momen tatapan itu.
Jantung Rehan seakan sedang berhenti berdetak saat wanita yang ia panggil ternyata adalah wanita yang akhir-akhir selalu mengganggu pikirannya dan dia juga wanita yang datang di mimpinya. Seperti inikah indahnya rencana Allah?.
Sama seperti Rehan, Jantung ita juga seakan berhenti berdegub, dan hatinya kini seakan ada banyak sekali kupu-kupu yang keluar dari hatinya saat mengetahui laki-laki yang melamarnya adalah laki-laki dengan nama yang selalu ia sebut di setiap sholat malamnya. Seperti inikah Allah menjawab doanya?.
Dua insan yang tak mengumbar persaannya satu sama lain, yang selalu menyimoannya dalam hati, menyatakan perasaannya hanya pada Allah, kini Allah pertemukan dalam sebuah majlis bernama lamaran.
Yasmin menyenggol tubuh anaknya yang malah melamun. Segera Rehan tersadar dari lamunannya dan melanjutkan ucapannya yang terpotong tadi.
"Atma Anindhita, bersediakah kamu menjadi penyempurna separuh agamaku? menjadi makmum dalam hidupku dan bersama-sama menggapai ridho dan rahmat Allah, Bersediakah kamu?" Ucap yusuf dengan lembut yang mampu melelehkan hati seisi ruangan.
Ini diluar kendali rehan ia akan mengucapkan itu, tadinya di rumah, ia berniat hanya akan mengatakan 'maukah kamu menjadi istriku' tapi entah kenapa, kata-kata itu keluar sendiri dari mulut rehan.
Kini gilaran ita menjawab pertanyaan Rehan, bersediakah dia? Tentu saja iya,
"Bismillahirrohmanirrohiim, dengan menyebut nama Allah, saya bersedia menjadi makmum dari laki-laki bernama Al Rescha Ilham Maulana" ucap ita diakhiri anggukan mantap.
Sontak seisi ruangan mengucap hamdalah sebagai wujud rasa syukur terhadap nikmat Allah di jum'at pagi ini. Yasmin kembali menyenggol jahil tubuh anaknya itu.
Rehan merasa telah dibohongi oleh uminya, ia tidak pernah bilang kalau perempuan yang akan dijodohkan adalah ita, kalau tau begitu rehan sudah melamarnya jauh-jauh hari saat abinya menyuruh menikah.
Kini giliran yasmin yang akan melingkarkan cincin lamaran kepada calon menantunya itu. Diraihnya tangan ita dengan lembut, yasmin mengusap lembut tangan ita.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah bersedia menerima anak umi" ucap yasmin lembut dengan senyum yang tak henti merekah dari bibirnya.
Ita tersipu malu mendengar ucapan yasmin, seharusnya ia yang bilang seperti itu, seharusnya ita yang berterimakasih karna Rehan bersedia menerima wanita ceroboh macam dia.
Yasmin mulai mengeluarkan cincin dari tempat dan mulai memakaikan di jari ita, namun siapa sangka, cincin itu justru berhenti ditengah jalan. "Kenapa umi" tanya ita cemas.
Yasmin membulatkan matanya sempurna "cincinnya ngga muat ta."
"Ha? Umi yang bener." Kini ita kaget bukan main, kan ngga lucu kalau acara lamarannya harus ada insiden cincin ngga muat, padahal sebelumnya jari lentik ita selalu muat dengan semua ukuran cincin, bahkan kebanyakan kebesaran.
Yasmin tersenyum jahil melihat ekspresi cemas ita, tangan ita yang yasmin genggam juga cepat sekali menjadi dingin. Kini yasmin justru tersenyum jahil, ita mengernyitakan dahi tak mengerti dengan sikao calon mertuanya ini.
"Tapi boong" ucap yasmin terkekeh geli sembari meneruskan kembali perjalanan cincin itu di jari lentik ita.
"Umiiiiiiikkkk" ita berdengus kesal.
Sikap ita kali ini mengundang tawa banyak orang, suasasa isi ruangan yang mualanya tegang kini mulai mencair saat semua orang tertawa melihat ekspresi kesal ita yang lucu.
Rehan ikut larut dalam susana bahagia, ia memandang umi dan ita dengan tatapan tak percaya bahwa perempuan yang akan ia nikahi adalah ita.