
Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu kemudian berkata; 'wahai Rabb, dari mana semua ini?'
Maka Allah berfirman; 'dari istighfar anakmu'
HR. Ahmad; 10202
🌹
Ita tidak bisa diam disini melihat Rehan yanh seperti sedang kehilangan kewarasannya,
"Gila apa dia? Mau jalan 15 KM?? larut malam seperti ini?? Melewati hutan? Hah konyol" gumam Ita membuang napas lewat muluynya.
tak bisa tinggal diam. Ita harus berpikir secepatnya,ia tidak mungkin membiarkan Rehan melakukan hal itu, semenit kemudian Ita teringat sesuatu, ia segera berlari pergi menuju pos perbatasan.
Ita berniat ingin meminta bantuan kepada anggota militer disana.
"Terimaksih pak,terimakasih banyak, saya akan segera mengembalikan mobil bapak ketika urusan saya selesai" ucap ita berterimakasih banyak karna ada bapak tentara baik hati yang sudi meminjamkan mobilnya.
"Selesaikan saja dulu tugasnya, mobilnya munyusul tidak apa" ucap bapak baik militer baik hati.
Syukurlah ada yang bersedia meminjamkan mobil pribadinya kepada ita. Meskipun ini pertama kalinya ita mengemudikan mobil Jeep. Tapi dengan penuh keberanian, ita melajukan mobil itu.
Ita harus menemukan keberadaan rehan, dia nampak frustasi tadi, jadi tentu ita sangat mengkhawatirkannya.
"ketemu!" mata Ita berbinar saat melihat sosok berperawakan tinggi gagah itu.
Rehan belum berjalan jauh rupanya, ita menemukan sosok rehan 3 KM dari desa, ita membunyikan klaksonnya hingga rehan berbalik arah.
Ita segera keluar dari mobil menghampirinya.
Rehan menatap ita dengan tatapan tak percaya.
Ita menarik napas panjang sebelum bicara
"Jadi apa dokter mau tetap berjalan, dan sampai di jalan raya tak menemukan tumpangan atau..-" belum selesai ita meneruskan bicaranya, rehan sudah masuk ke dalam mobil tak mau mendengarkan ocehan ita.
Ita mendengus kesal. Ita benar-benar harus ekstra sabar. Kali ini biar ita yang mengemudi, tidak mungkin rehan dalam kondisi pikiran tak karuan bisa fokus menyetir.
10 jam perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai di jakarta, selama perjalanan ita mendengar dzikir yang tak pernah putus dari mulut rehan, entah apa yang sedang terjadi tapi semoga semua baik-baik saja.
Ita tak berani bertanya apapun pada rehan. Ia hanya fokus mengemudikan mobil, secepat mungkin ita berusaha untuk sampai jakarta.
"Ini kemana dok?" Tanya ita setelah ia sudah sampai di jakarta.
"Ke Rumah sakit." Jawab rehan singkat.
Sungguh meskipun ita tak tau apa yang sedang terjadi, tapi melihat rehan sekhawatir ini, tentu membuat ita ikut khawatir.
pukul 6 lebih 10 menit, Ita dan Rehan sampai dirumah sakit, baru masuk gerbang masuk rumah sakit, rehan langsung turun begitu saja dan berlari masuk ke rumah sakit. tapi Ita harus memarkirkan dulu jeep yang ia pinjam ini.
Ita turun dari mobil dan berlari mencari kemana rehan pergi. Ia menanyakan kepada resepsionist Rumah Sakit.
"Dokter rehan kemana?" Tanya ita tergesa-gesa.
"Ke ruang ayahnya di ruang VIP dok, ayah dokter rehan anfal."
Ita segera berlari ke ruang vip tersebut, sekarang ita mengerti kenapa ia begitu khawatir sampai kehilangan setengah kewarasannya kemarin.
Baru ita masuk ke ruangan, saat ia berdiri di ambang pintu, ita tercengang, dunia seakan berhenti sesaat, bahkan menelan ludah saja rasanya sulit sekali, tubuh ita seperti mati rasa, kaku tak bisa bergerak saat melihat Rehan.
Kini Rehan tengah berusaha keras dengan alat defriblilator, padahl Ita melihat jelas kalau kondisi pasien asistol (tidak perlu di defib ). sudah jelas jantung abinya tak berdenyut lagi.
Rehan masih saja berusaha menyadarkan abinya, tapi itu samasekali tisak mungkin. Rehan menagis tergugu mengetahui kepergian abinya.
Suasana ruangan itu kini penuh dengan air mata, itapun tak kuasa menahan tangisnya, ita tau rasanya ditinggal salah satu orang tua, rasanya seperti kehilangan separuh jiwa dalam diri kita.
Ada satu hal yang begitu rehan sesali, ia tidak bisa berada di sisi abinya disaat-saat terakhir, itu adalah penyesalan terbesar dalam hidup rehan.
Rehan mengacak rambutnya frustasi, kali ini dunianya seperi telah hancur, kehilangan sosok yang begitu menginspirasi bagi rehan. "Abiiiiiiihiii" panggil rehan dengan nada tergugu.
Nampak jelas pula raut kesedihan menyelimuti wajah cantik yasmin, suami yang bersamanya dari dulu, menemaninya, hari ini sudah menghadap ke sang pencipta. Yasmin sekarang terlihat termenung diam, ini seperti mimpi buruk bagi yasmin, dan semoga memang hanya mimpi buruk.
Ita menyentuh lembut pundak umi rehan itu, memeluknya denga lembut, tapi tatapan yasmin masih kosong, ia juga tak membalas pelukan ita.
"Umi, setiap makhluk itu kepunyaan Allah, dan pasti akan kembali kepadaNya" ucap ita dengan lembut. Perlahan yasmin mulai sadar dengan keahadiran ita, yasmin mulai menatap gadis cantik itu, dan kemudian membalas pelukan ita.
"Orang yang baik, pasti akan ditempatkan Allah di tempat yang terbaik, semoga Allah menghapus segala dosanya dan menerima segala amal baiknya umi" doa ita sekaligus ia berusaha menghibur yasmin.
Yasmin tersenyum mendengar ucapan manis ita. "Aamiin, terimakasih ita." Ita semakin memberi pelukan erat kepada yasmin, setidaknya ini bisa sedikit mengurangi kesediahannya.
Dan untuk Rehan, ita benar-benar tidak bisa melihat rehan terpuruk seperti ini, bahkan setelah pemakamanpun, rehan masih saja tak kuasa menahan air matanya. Ita tak tahu apa yang ia bisa lakukan untuk Rehan agar bisa mengurangi rasa kesedihannya.
🌹
Begitu terpukulnya rehan, sampai di hari kedua setelah kepergian abinya, ia masih saja menutup diri, tak ingin keluar dari kamar dan tak ingin melakukan apapun.
Kini ia tengah duduk termenung di meja tempat biasa ia belajar, ia menatap kosong ke arah jendela, pandangannya beralih saat melihat kertas yang ia rasa asing baginya. Karna penasaran, rehanpun membuka keras yang tak lain adalah sepucuk surat.
Teruntuk dokter rehan,
Jangan terus terlarut dalam kesediahan, boleh bersedih, tapi jangan sampai melupakan semuanya, ingatlah takdir kehidupan, yang memang Allah telah menetapkan waktu kematian bagi setiap makhluknya, jadi untuk apa menangisi sesuatu yang memang tak bisa dirubah karna memang sudah pasti terjadi. hidup dokter Rehan harus terus berlanjut, jangan terus seperti ini.
Jangan egois dengan terus mengurung diri, ada seorang yang mungkin lebih terpukul, bagaimana dengan keadaan umi? Apa umi baik-baik saja? Apa umi tidak dapuh saat kehilangan separuh jiwanya? Lalu apa kamubmasih saja egois dengan mwngurung dirimu sendiri tanpa memikirkan umi?
Rehan tersadar saat membaca surat itu, rehan sangat egois karna hanya memikorkan kesedihannya sendiri, ia tak memikirkan bagaimana keadaan uminya yang tentu sangat terpukul. Rehan segera keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju kamar uminya.
Rehan mengetuk pintu sebelum ia memutar kenop pintu, dibuka pintu secara perlahan, benar saja, ia melihat uminya melamun di tepi ranjang. Wajahnya layu tak seperti biasanya yang selalu ceria. Ia paling tidak bisa melihat uminya bersedih.
"Umi" panggil rehan yang langsung berjalan mendekati uminya, ia kini duduk bersimpih di hadapan uminya. Hati rehan sakit melihat uminya yang kini masih saja melamun dengan tatapan kosong.
Kini rehan teringat pesan abinya sabelum ia pergi, abi berpesan untuk menjaga dan membahagiakan umi, lalu apa ini? Rehan tidak bisa membahagiakan umi,rehan tidak bisa mengembalikan senyum umi yang selalu menghangatkan dan menetramkan bagi keluarga.
Rehan harus jadi kuat untuk umi, untuk membahagiakan umi, menjaga umi, tugas abi sekarang ada pada rehan.
"Umi, tidak baik terus-terusan terlarut dalam kesedihan, semua orang pasti akan merasakan kehilangan, karna sejatimya itu memang kepunyaan Allah dan akan kembali kepadaNya" ucap rehan dengan membelai lembut pipi uminya.
Lamunan yasmin mulai pecah saat mendengar ucapan putranya.
"Abi pasti sedih melihat umi seperti ini."
Yasmin mulai menangkupkan tangannya ke wajah rehan yang kini tengah duduk bersimpuh dihadapannya.
"Han, katakan sama umi kalau ini hanya mimpi, bangunkan umi han" pinta yasmin dengan wajah serius.
Tentu saja ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan yang harus dilalui, tapi yasmin masih saja tidak percaya.
Rehan semakin terpukul saat melihat keadaan uminya sekarang. "umi, abi sudah tidak ada umi" ucap rehan tegas,ini ia lakukan agar uminya bisa melihat kenyataan yang ada.
Dan tangis yasmin seketika pecah, ia kembali menangis tergugu, rehan segera bangit dari tempat duduknya, ia kini memilih duduk di sebelah uminya, memberikan pundaknya untuk tempat bersandar.
Rehan membelai lembut tubuh uminya, kini rehan sedang susah payah mwnahan air matanya, tapi ia harus bisa manhannya, ia tidak ingin menangis didepan uminya.
Ia sudah berjanji untuk jadi kuat demi umi.
"Han, kepergian abi begitu mendadak, umi benar-benar tidak menyangka, waktu iyu abi masih begitu sehat, tapi beberapa menit saat abi habis minum obatnya...-" yasmin tak bisa meneruskan ucapannya, ini terdengar begitu menyakitkan.
"Tidak ada yang tau kematian umi, sekarang kita harus bisa melanjutkan hidup tanpa abi, bukankah menangisi sesuatu yang sudah pergi adalah kesia-siaan?" Ucap rehan menguatkan uminya.
Yasmin menghela napas panjang, kini pikirannya mulai terbuka,ia dan rehan harus tetap melanjutkan hidup, dan sudah seharusnya yasmin menerima keanyataan ini. Kini, yasmin harus bisa menjadi abi dan umi untuk rehan, yasmin tidak boleh lemah didepan putranya,ia harus tabah dan menerima.
"Rehan maafkan umi, maafkan umi nak" yasmin meminta maaf kepada rehan dengan suara parau.
Yasmin memluk erat tubuh anaknya itu. "Umi janji, umi akan berusaha menjadi abi dan umi untuk kamu, umi janji."
"Rehan juga janji, akan selalu membahagiakan dan menjaga umi."
"Rehan janji."
Mereka berdua sudah berjanji pada diri mereka masing-masing, mereka akan selalu mengutkan, menjaga dan saling melindungi,mereka harus tetap melanjutkan hidup yang hidup dengan ada atau tanpa abi disamping mereka. Itulah keputusan yang telah mereka ambil.