You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
2



"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan Menghapus kesalahan-kesalahnya karenanya."


HR. AL BUKHARI No. 5642 dan Muslim No. 2573


🌹


Rehan membuka pintu dengan sangat hati-hati suapaya tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidur kedua orang tercintanya. Langkah kaki rehan juga hampir tak terdengar, jangan sampai rehan mengganggu tidur abi dan uminya.


Jam 12 malam rehan tidur dan dijam 2 dini hari ia bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, baginya sholat ini sudah seperti kebiasaan, tak peduli seberapa larut rehan tidur dan seberapa lelah dirinya,rehan akan terbangun dengab sendirinya dijam 2 dinihari, seperti sudah ada alarm sendiri, itu karna sedari kecil rehan sudah dibiasakan umi dan abinya untuk melaksanakan sholat sunnah ini.


Disunyinya malam, di atas gelaran sajadah, rehan duduk bersimpuh di hadapan sang rabb. Mengharap ampun atas segala dosa yang telah diperbuat, entah disengaja atau tidak. Mengharap ampunan untuk kedua malaikat dalam hidup rehan, abi dan uminya. Memohon agar mereka berdua diberi umur yang barokah dan kesehatan. Itulah doa yang selalu rehan pinta.


Jika kalian bertanya kenapa tak meminta jodoh???


Rehan tidak terlalu khawatir akan urusan jodoh. Urusan jodoh sudah ada yabg mengatur, jika rehan meminta jodoh yang sholihah, tentu kuncinya ada pada diri rehan sendiri, iapun harus berbenah diri menjadi yang lebih baik agar Allah jodohkan dengan wanita baik pula. Karna jodoh adalah cerminan diri.


Cerita cinta abi yusuf dan umi yasmin sudah menjadi pelajaran tersendiri bagi rehan. Sekeras apapun untuk berusaha menjauh, kalau jodoh pasti Allah akan dekatkan.


🌹


"Shobahul khoir abi dan umi." Sapa rehan kepada abi dan uminya yang sedang duduk di meja makan, rehan menggelendoti tubuh uminya, aroma badan khas dari uminya bisa jadi candu tersendiri untuk rehan.


"Umi cantik." Bisik rehan jujur, meskipun umur uminya hamoir menginjak usia 50 tahun, tapi kecantokan alami dari uminya masih terpancar.


Yasmin membalas ucapan putranya dengan mengelus lembut rambut rehan, bagi yasmin, rehan tetaplah putra kecilnya yang sangat imut.


"Ekhemmm... jadi abi dicuekin nihh." Ucap yusuf menyindir. Membuat rehan dan yasmin terkekeh geli.


"Oh iya bi, umi tadi masukin vitamin di tas abi, jangan lupa diminum."


"Ingat! Harus diminun gaboleh ngga." Perintah yasmin tegas pada yusuf.


"Iya umi, kalau ingat." Jawab yusuf, ia sebenarnya malas sekali minun vitamin sendiri kalau bukan istrinya yang menyuruh.


"Iya udah nanti umi ingetin."


Rehan tersenyum jahil melihat kedua orang tuanya itu.


"umi sama abi harus jaga kesehatan yaa, rehan ngga mau lihat umi atau abi jatuh sakit."


"Siap pak dokter." Ucap yusuf spontan. Sontak membuat yasmin terkekeh geli dengan tingkah suaminya itu.


Rehan menyelesaikan makanya, dan hendak pergi ke Rumah sakit "Yaudah, rehan berangkat dulu ya."


"Nanti ke yayasan ngga han?." Tanya yusuf.


"Lihat nanti ya bi, rehan ngga bisa janji." Ucap rehan dengan senyum mengembang, sekarang ia seperti orang sibuk saja, sampai harus lihat jadwal nanti.


🌹


setelah mengucap salam, rehan melajukan mobil BMW miliknya, rehan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, headset yang berbunyi murottal alqur'an menancap di telinga rehan.


Baru saja kaki rehan menapak di gedung rumah sakit. Suara gesekan roda ranjang pesakitan dengan lantai berseru. Pertanda keadaan darurat, seorang pasien perempuan paruh baya mengalami kecelakaan motor.


Seorang suster memanggil dokter berjilbab coklat susu. Meminta agar segera menangani pasien itu. Belum siap dihadapkan pasien kecelakaan, anindhita diam tak bergeming di hadapan pasien, memori masalalunya kembali berputar bak film yang sedang diputar ulang.


Suster memanggil ita berkali-kali saat melihat dokter ita yang tak kunjung memberi respon pada sang pasien"Dok, dokter!."


Memori kecelakaan ibunya yang tewas di depan mata ita seakan kembali berputar, membuatnya melamun tak fokus. Rehan yang baru sampai dan melihat secara langsung kecerobohan itu, akhirnya menegur ita.


"Dokter ita!."


Suara berat itu mampu memecahkan lamunan ita.


"Hah...." Ita tersentak, nafasnya terengah seakan habis bermimpi buruk.


Melihat kedaan ita yang sepertinya sedang tidak baik, membuat rehan tak bisa memaksa ita untuk melakukan tindakan. "Suster, tolong bawa dokter ita ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan."


Rehan begitu prihatin melihat ita yang tiba-tiba lemas dan pucat saat melihat pasien kecelakaan. "Dan suster, tolong tenangkan dokter ita." Perintah rehan.


Suster membawa tubuh ita yang sangat lemas ke ruangan dokter rehan.


Setelah berada diruang dokter rehan, suster memberikan air mineral kepada ita, meminta ita agar bercerita apa yang sebenarnya ia rasakan, namun ita malah meminta agar suster meninggalkannnya sendiri.


Ita sedang ingin sendiri kali ini, lagi-lagi ia bersikap bodoh, bersikap tak profesional, ita sangat menyesali perbuatannya, namun ita tak bisa janji kalau ia tidak akan bersikap seperti itu lagi.


Kecelakaan yang merenggut ibunya tidak bisa dilupakan begitu saja, kejadian itu begitu nyata terjadi didepan ita, seakan menjadikan trauma pada diri ita.


Dan setiap melihat pasien kecelakaan, kejadian itu seolah berulang kembali tepat di depan mata ita, ia tak bisa mengendalikan hal itu.


🌹


Rehan memeriksa sekilas keadaan pasien. "Segera siapkan ruang oprasi, ada pendarahan di bagian otaknya."


"Siap dok." Segera beberapa perawat membawa pasien ke ruang oprasi.


Rehan juga segera menyiapkan diri, memakai jubah hijau khas ruang oprasi, 2 jam berlalu,


"Alhamdulillah." Ucap rehan lega karna oprasi berjalan lancar.


Baru keluar dari ruang oprasi, rehan teringat pada dokter tadi, melihat pasien kecelakaan membuat dia menjadi aneh, seperti ada beban dalam diri ita.


Rehan berniat menghampiri ita diruangannya, sebelum masuk, rehan mengucap salam dan mengetuk pintu. Karna tak ada tanggapan, rehan membuka kenop pintu tersebut.


Blusssshhhhh seperti ditiup angin dingin yang membekukan, rehan membeku di ambang pintu saat melihat seorang perempuan yang tak lain adalah ita sedang menangis tergugu di shofa ruangannya.


Ini pertama kalinya rehan melihat seorang wanita menangis tergugu.


Rehan mengulurkan sapu tangannya "Hapus."


Ita melirik ke arah sapu tangan itu.


"Ambil." Perintah rehan.


Dengan perlahan, ita mulai mengambil sapu tangan yang rehan sodorkan.


Baru saja rehan ingin menanyakan keadaan gadis cantik itu, tiba-tiba tetdengar suara pintu rehan diketuk, seorang suster membuka pintu.


"Maaf dok, pasien anak kecil bernama adam mengeluh sakit di bagian kepalanya."


"Iya saya kesana sekarang."


"Hapus air matamu segera, aku tak pernag melihat seorang wanita menangis di ruanganku." Ucap rehan kepada ita sebelum rehan pergi meningglkan ruangannya.


🌹


"Aaaa... sakitt.. kepala adam sakit." Teriak seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.


Dengan segera rehan memeriksa keadaanya, baru 2 hari yang lalu, adam mendapatkan oprasi pengangkatan tumor di otaknya. Dan sekarang ia mengeluh sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.


"Lakukan MRI untuk adam, dan bawa hasilnya ke ruangan saya secepatnya." Perintah rehan pada perawat.


Setelah mengamati hasil MRI adam, ternyata ada pendaranan di bagian otaknya, dan harus dilakukan oprasi segera.


"Dimana ibunya adam." Tanya rehan pada suster.


"Saat ini sedang tidak ada di rumah sakit dok, sampai malam seperti ini, ibu adam masih bekerja." Jelas suster.


Rehan menelan ludah, ia begitu tersentuh dengan kerja keras dan kasih sayang dari ibu adam kepada anaknya.


"Segera telepon wali dari adam untuk menyetujui oprasi ini." Perintah rehan.


Begitulah pekerjaan rehan, ia harus siap dengan segala sesuatu yang serba mendadak.


Usai mendapat persetujuan dari wali, ia segera memberi tindakan pada adam.


"Dokter, bagaimana kedaan putra saya?." Tanya seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalh ibu adam, ia nampak begitu menghawatirkan anaknya.


"Alhamdulillah, pendarahannya tidak terlalu parah,dan oprasinya berjalan lancar."


"Alhamdulillah ya Allah."


Rehan tersenyum lebar pada ibu adam. bagi rehan, senyuman keluarga pasien adalah obat tersendiri bagi pekerjaanya.


"Permisi bu." Sapa salah seorang petugas administrasi rumah sakit.


"Iya?."


"Ibu harus segera melunasi administrasi adam, ini jumlah biaya yang harus dibayar dafi oprasi adam yang pertama dan kedua,dan juga biaya perawatan adam akan terus bertambah sampai waktu lamanya adam dirawat." Jelasnya.


Terlihat jelas dari mata rehan, ibu adam begitu kaget melihat tagihan rumah sakit, itu pasti karna biaya yang tidak sedikit.


Apalagi adam adalah anak yatim.


"Bu, kalau ibu butuh bantuan biaya adam, saya insyaallah bisa bantu." Tawar rehan pada ibu adam.


"Aahh... pak dokter, tidak perlu, saya akan berusaha sendiri untuk anak saya." Ucapnya dengan senyum percaya diri.


"Terimakasih atas bantuannya."


Rehan menimpali ucapan terimakasih ibu adam dengan senyuman lebar.


Kriiingggg.... suara gawai rehan berbunyi, telepon dari uminya ternyata.


"Iya umi assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam Han, ini umi ada di Rumah sakit tempatmu kerja."


mendengar ucapan uminya, membuat ekspresi rehan berubah menjadi cemas "Umi kenapa?? Umi baik-baik saja kan??."


"Abi masuk rumah sakit."


Mendengar itu, rehan dengan segera berlari ke ruangan tempat abinya di rawat, sampai di depan pintu dan hendak membukanya, seorang dokter perempuan keluar dari ruangan abinya. Itu adalah ita.


"Dokter rehan." Ita memberi salam pada rehan.


"Gimana keadaan abi?." Tanya rehan begitu khawatir.


Abi?? Jadi itu abinya dokter rehan. Gumam ita dalam hati.


"Keadaan abinya dokter rehan baik-baik saja, beliau hanya kecapean, sistem kekebalan tubuhnya sedang menurun."


"Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan seperti saya menjelaskan pada wali-wali pasien lainya, tentu dokter sudah mengerti." Ucap ita.


Iya, dokter cerdas seperti rehan sepertinya tidak butuh penjelasan dari dokter muda seperti ita.


Tanpa menanggapi ucapan ita, rehan segera masuk ke ruangan abinya.


"Tuh kan, tadi nanya, giliran dijawab malah dicuekin."


"Huuuuuuhhhh." Ita menghembuskan napas panjang dan mulai meninggalkan ruangan itu.