
Kami memiliki Intra operatif monitoring (IOM), salah satu teknologi yang akan membantu tim dokter dalam memasang reseptor-reseptor di titik-titik tertentu untuk terus memonitor respon saraf pasien selama dilakukan pengangkatan sel tumor,"
"Jika terjadi penurunan fungsi saraf ketika dokter mengambil sel tumor, maka tindakan bedah akan dihentikan sejenak dan mencari lokasi lain yang lebih aman..."
"Tim dokter akan berusaha untuk mengangkat semua sel tumor dan memastikan saraf disekitar tumor tetap aman dan berfungsi" ita menghela napas panjang, ia tersenyum sebelum melanjutkan bicaranya,
"dengan demikian, pasien akan tetap bisa beraktivitas seperti biasanya, juga tetap bisa mengenali keluarganya" lanjut Ita dengan tangan yang semakin menggenggam erat pasiennya.
Bola mata sang anak dan ibunya mulai beradu tatap, sang anak mengangguk dengan pasti tanpa bicara apapun seakan mengerti tatapan ibunya.
Sang ibupun akhirnya mengangguk mengiyakan operasi tersebut, "Iya dokter saya bersedia."
Ita tersenyum bahagia bisa meyakinkan pasiennya,saat seperti ini, ia harus bisa meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
Kiki dan Rangga yang berada di belakang Itapun ikut tersenyum, Kiki selalu senang dengan cara dokter Ita yang mampu meyakinkan pasien-pasiennya.
Sedangkan Rangga tersenyum dibelakang Ita, karna terpesona dengan dokter seniornya, dipertemuan pertamanya ini, Ita sudah menarik perhatian Rangga. Ita adalah dokter yang sangat cakap bagi Rangga.
"Kalau begitu, ibu bisa mulai menjalani rawat inap, untuk jadwal operasi nanti akan saya beritahu."
"Terimakasih dokter, terimakasihh... kami minta bantuan dokter" ujar sang anak pada Ita.
🌹
Usai mengurus semua pasiennya tepat saat jam makan siang, Itapun berniat akan makan siang di kantin rumah sakit, Ita diikuti Kiki dan Rangga berjalan menuju doctor domitory.
Ita duduk di kursi meja kerjanya yang diatasnya terdapat bertumpuk-tumpuk laporan dan jurnal medis. Ita meraih ponselnya di saku snellinya.
Baru saja membuka whatsapp, sudah ada chat masuk dari "suami❤"
"*Makan siang yuk??"
"Udah selelsai belum sayang*?."
Hanya dengan membaca chat tersebut, ita sudah bisa senyum-senyim sendiri dengan kata sayang yang Rehan pakai.
"Ita tunggu di loby kak 😘."
Seelah mengetik pesan tersebut, ita dengan semangat bangkit dari tempat duduknya. Tiba-tiba saja Rangga muncul didepannya mengejutkan Ita.
"Dokter, mau makan siang??" Tanya rangga begitu bersemangat kepada Ita.
"iya" jawab ita sembari meletakkan gawainya di saku.
"bagaimana kalau kita barengan saja dokter?" ajak Rangga dengan semangat
Lagi-lagi Ita dibuat kikuk dengan Rangga, rasanya tidak enak sekali di hati ita karna akan menolak niat baiknya untuk kedua kalinya, setelah menolak bersalaman dengannya ia juga akan menolak makan siang dengannya.
Adduhh... gimana ya, ngga enak banget kalau harus nolak Rangga, padahal niatnya baik-batin Ita.
"Eumm.. maaf Ngga, tapi saya sudah ada janji makan siang" ujar Ita jujur dengan berat hati.
Ada rasa kecewa dihati Rangga saat mndengar jawaban ita, yang dengan tersirat ia menolak tawaran makan dengannya.
Namun dengan sekuat hati, Rangga mencoba tersenyum menanggapi Ita.
"Aahh.. iya dokter, saya bisa minta nemenin dokter kiki" jawab Rangga.
Ita tersenyum menimpali Rangga, ia tidak bisa berlama-lama, dengan segera Ita meninggalkan rangga sendiri.
Ita berjalan keluar dari lift, ia sudah bilang ia yang akan menunggu Rehan, jadi dengan langkah panjang nan semangat Ita berjalan. Jauh dipandangan Ita, ia melihat seorang laki-laki tampan denga perawakan yang tak asing melambai ke arahnya.
Ita mulai mendekati laki-laki itu, dan ya itu adalah Rehan.
"Ih, kok kakak datang duluan sih," ujar Ita dengan nada pura-pura kesal.
"Kamu sih kelamaan, udah sibuk ya sekarang, katanya nunggu, eh malah kakak yang nunggu" Jawab Rehan yang merangkul Ita dan mulai berjalan bersamaan keluar dari Rumah sakit, mereka berniat akan makan siang di Restoran depan Rumah sakit.
Rehan menggandeng Ita dengan erat menyebrang jalan raya. sampai di halaman Restoran, Ita melihat seorang anak yang sedang jongkok di samping tong sampah sembari memakan makanan sisa yang telah dibuang.
Dengan segera Ita melepas genggaman Rehan, "bentar ya kak" Ita segera menghampiri anak laki-laki Itu.
"Heii. . . Jangan dimakan sayang, ini kotor" Ita segera mengambil makanan itu.
"Jangan sayang, ini kotor nanti kamu sakit" ujar Ita yang kini tengah jongkok didepan anak laki-laki itu. Ita kemudian memberikan makanan sisa itu kepada kucing yang tengah lewat.
Saat ita memberikan makanan tersebut kepada kucing, sang anak tiba-tiba meneteskan air mata.
"Kenapa sayang??" Tanya Ita mengusap pipi sang anak, sepertinya ia sudah beberapa hari tidak mandi, pakaian sang anak pun jauh dari kata layak, sangat lusuh dengan beberapa bagian yang sudah sobek.
"Aku iri dengan kucing itu, ia bisa makan seenak itu" tangisnya tulus dengan terus menatap sedu ke arah kucing yang lahap makan.
Hati Ita terasa teriris mendengar jawaban anak itu, sungguh jawaban itu membuat dada Ita sesak.
Sudahkah kita bersyukur akan segala nikmat yang telah Allah berikan?? Ataukah kita selalu mengeluh akan hidup kita?? Sedangkan diluar sana, masih banyak orang-orang yang tak seberuntung kita, orang yang bahkan bisa menangis karna iri dengan makanan kucing. Lalu apa kabar dengan Kita?? Yang banyak mengeluh tanpa bersyukur. Setidaknya hidup ini adalah perjuangan, apapun kesulitan kalian, tetaplah berjuang, jangan pernah lupa bersyukur.
"Sudah jangan nangis ya," ita mengusap air mata anak itu. "Ikut Tante yuk" Ita menarik tangan anak itu.
Ita menuntun anak itu ke sebuah pancuran didepan restoran, Ita mencucikan tangan sang anak sampai bersih.
"Sekarang, kamu ikut om itu ya" Ita menunjuk Rehan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Tante kesana sebentar."
Rehan kemudian menghampiri Ita dan anak itu, Rehan meraih tangan mungil sang anak menuntunnya masuk ke Restoran.
sedangkam Ita, ia ke kasir terlebih dahulu, "Pesan ini 3 juga minuman yang ini tiga ya mbak" ujar ita menunjuk menu di daftar menu yang kasir berikan.
"Siyap dokter, ditunggu sebentar ya" jawab karyawan yang sudah mengenal semua dokter dan tenaga medis di Rumah sakit.
"Oh ya,sama minta handuk bersih ya mbak" tambah Ita.
Tak usah menunggu lama, karyawan restoran memberikan handuk bersih berukuran kecil. Ita kemudian membasahi handuk tersebut, ita mnghampiri Rehan dan anak tersenut yabg sudah duduk di meja nomor.9. Ita segera mengambil posisi duduk, menatap sang anak dengan eenyum mengembang, Ita membasuh Wajah lusuh anak itu, Ita sangat telaten mengusap wajah juga leher anak Itu.
Menatap Ita yang begitu telaten mengurus anak membuat Rehan bahagia juga seduh, karna sampai sekarang, Allah belum juga memberinya kepercayaan untuk menjaga seorang anak ditengah keluarga mereka.
"Sudah" ujar Ita yang telah selesai membasuh anak tersebut,kini wajahnya nampak lebih bersih dari sebelumnya.
Tak lama kemudian makananpun datang, dengan semangat Ita menyodorkan makanan itu kepada sang anak.
Belum juga Ita ataupun Tehan menyuruh makan, sang anak langsung saja menyantap makanan dideoannya dengan sangat lahap.
"Waah.. cepat sekali kamu ngunyahnya" ucap Ita dengan terkekeh kecil.
"Sampai lupa bismillah" aahut Rehan dengan senyumnya.
Ucapan Rehan berhasil menghentikan makan sang anak, karna sadar, sang anak berhenti sebentar untuk mengucap basmalah dengan lirih,kemudian melanjutkan makannya dengan lahap.
Ita dan Reha tersenyum melihatnya,"pelan-pelan" titah Ita.
Baru menikmati beberapa suap, anak itu terdiam menghentikan makannya, seperti ada yang ia pikirkan. Tak lama kemudian, anak itu kembali menangis menitikkan air mata.
Melihat sang anak menangis lagi, membuat Ita terkejut.
"Kenapa sayang?? Kenapa nangis lagi??" tanya Ita dengan lembut.
". . . ." Diam tak ada jawaban.
"Kenapa sayang, tidak enak??" Tanya Rehan.
Bukannya menjawab, anak itu malah menangis dengan kencang membuat orang di restoran memperhatikannya.
Melihat yang lain menjadikan meja mereka jadi pusat perhatian karna telah mengganggu kenyamanan mereka, "ah maaf" ujar Ita kepada para pengunjung yang tak lain juga para domter di rumah sakit.
ita segera berusaha menenangkan sang anak.
"Kenapa sayang?? Ssssttt..."
"Aku tidak pernah makan seenak ini" ujar sang anak polos dengan tangisnya.
Lagi-lagi ucapan anak itu mengena dihati Ita, "kalau begitu, berhenti menangis dan makanlah," titah Ita dengan lembut sembari mengelus rambut anak tersebut.
Anak itupun melanjutkan kembali makannya dengan lahap.
Drrtt.. drrrrtt... suara gawai Rehan berbunyi, Rehan segera mengangkat telpon dari perawat di Runah sakit. "Dokter, pasien kamar 202 mengalami kejang-kejang dokter" ujar Perawat di sambungan telepon.
"Bagaimana kondisi vitalnya? Saya kesana sekarang" Rehan segera bangun dari tempat duduknya, ia bergegas keluar dari restoran tanpa pamit pada Ita.
". . ."
Itapun tidak mengambil hati saat suaminya pergi begitu saja tanpa memberi salam kepada Ita. Ita sangat mengerti keadaan seperti itu, jadi Ita lebih memilih melanjutkan makan bersama anak tersebut.
"Enak?" Tanya Ita.
Anak itu mengangguk dengan semangat menjawab pertanyaan Ita.
🌹
Usai dari restoran, Ita meminta si anak memberithu alamat rumahnya,
"Hei sayang, dimana kamu tinggal?? Apa tante boleh menemuimu lagi?" Tanya Ita sembari mengelus kepala anak laki-laki itu.
"Em" anak itu mengangguk pasti.
"Kalau begitu katakan."
"Rumahku besar, banyak jendela, atapnya terbuat dari beton" ujarnya dengan semangat.
"Apa?" Sahut ita tidak percaya, vagaimana ita bisa percaya saat melihat keadaan anak tadi begitu kelaparan dengan pakaian yang compang camping.
"Tidak, aku sendiri nanti yang akan menemui tante" sahut anak itu dengan senyum bahagianya.
"Dokter pulangnya kapan?" Lanjutnya lagi.
Ita terdiam sejenak, ia tidak bisa memastikan pulangnya kapan, kadang jadwal pulang sore saja bisa jadi larut malam. "Emmm... InsyaaAllah nanti malam."
"Kalau begitu, nanti malam eza tunggu di depan rumah sakit, Eza akan ajak tante dokter ke Rumah Eza" jawabnya semangat.
"Ahhh.. jadi Eza namamu" ita menepuk pelan pucuk kepala Eza.
"Iya, dokter tunggu ya."
Usai menyantap makan singnya bersama Eza, Ita kemudian bergegas untuk kembli ke Rumah sakit, masih banyak yang harus Ita urus.
🌹
Di Rumah sakit, Ita langsung melakukan round visit untuk memastikan semua keadaan pasien-pasiennya. Baru berjalan melewati ruangan 405 yang berisi 6 pasien, ita mendengar kegaduhan, seperti seorang yang sedang memaki-maki.
"Yaahhh... Kenapa bisa ribut di rumah sakit si" ujar Ita sebelum masuk ke ruangan.
Permisi selamat sore menjelang maghrib" sapa Ita saat masuk ke ruangan, semua pasien menyapa salam ita kecuali seorang pasien yang berada di ranjang pesakitan pojok paling kanan, ia masih saja mengomeli Rangga dan Kiki yang berdiri di depan pasien tersebut.
"Kalian ini, suami saya cuma mau ini saja, kalian mau dia mati" ujar nenek-nenek yang tak lain adalah istri dari pasien yang sudah berusia lanjut itu.
"Kalian mau tanggung jawab kalau suami saya mati!!?" sentaknya lagi.
"Iya nek, tapi.." belum selesai Rangga bicara, ita langsung bertanya kenapa.
"Ada apa ini??" Tanya Ita lembut.
"Ini dokter..." Ucapan Rangga lagi-lagi dipotong, namun kali ini langsung disambar oleh nenek itu.
"Dokter ita, bagaimana ini, suami saya bisa mati kelaparan kalau tidak makan" ujar nenek itu kepada Ita dengan nada rendah, berbeda sekali dripada saat memaki-maki Rangga dan Kiki.
Aah.. kini ita tau permasalahannya. "euumm.. begini nek, untuk kali ini, suami nenek harus berpuasa terlebih dahulu, untuk hari ini saja, setelah operasi baru deh nenek bisa suapin kakek sepuasnya" ujar uta sembari merangkul bahu kecil sang nenek.
"Tapi dokter... Dokter tidak lihat, suami saya seperti mau mati karna kelaparan" sahutnya lagi.
"Hah? Apa nenek tega bilang wajah kakek sebentar lagi mau mati sedangkan kakek bisa segera pulih saat setelah operasi" jawab Ita dengan hati-hati.
Kini sang nenek terdiam, mengerti apa yang disampaikan Ita, suaminya akan sembuh jika ia segera operasi, dan operasi akan segera dilakukan saat suaminya selesai puasa.
"Aah.. iya
dokter, dokter ita memang terbaik" sang nenek tiba-tiba saja memeluk Itadengan hangatnya, "huhh.. andai saja dokter Ita ini masih jomblo, pasti sudah saya jodohkan dengan cucu saya" ujar sang nenek.
Sontak saja Ita tersedak mendengar ucapan sang nenek, "uhuk.. uhukk.. ekhemmm."
"Aahh sayangnya" sang nenek malah semakin erat memluk Ita.
Merasa tak nyaman, dengan lembut ita mengurai pelukan sang nenek, Ita tersenyum menatap bola mata nenek itu, "kami permisi dulu ya nek."
Ita kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan diikuti Rangga dan kiki dari belakang, "kalian harus ingat, cara penyampaian kalian terhadap pasien itu sangat penting, yang mereka butuhkan adalah inti dari kesehatan keluarganya itu yang mereka ingin dengar."
ucap Ita sembari terus melangkah dengan langkah yang penuh wibawa, diikuti Rangga dan Kiki yang serentak mengiyakan ucapan Ita dibelakang.
🌹
Usai semua jadwal Ita selesai, Ita berniat akan pulang sekarang, lagi pula ia juga ada janji untuk ke Rumah Eza, Ita melirik jam yang melingkar di lengannya, waktu menunjukkan jam setengah delapan malam.
Sebelum Ita pulang, ia menyempatkan ke ruangan suaminya, tanpa menegetuk pintu, Ita langsung saja masuk ke Ruangan Rehan.
"Ba!" Ucap Ita berharap Rehan terkejut.
". . ." Krik-krik
Rehan malah sibuk mengurus catatan medis pasiennya tanpa terkejut sama sekali.
"Huh" ita mulai memajukan bibirnya ke depan beberapa centi.
"Assalamualaikum" ujar Rehan menyindir.
"Wa'alaikumussalam" jawab Ita sedikit kesal. seharusnya kalau Rehan tidak kaget, pura-pura saja kaget untuk membahagiakan istrinya, eh ini malah pasang tampang b aja.
"Sudah selesai?" tanya Rehan dengan melirik ke arah Ita dengan waktu sepersekian detik.
"Sudah."
"Mau pulang?" Rehan masih sibuk dengan kertas di depannya.
"Ngga."
"Kenapa ngga?? kakak kayaknya pulang tengah malam, kamu pulang aja dulu" mata Rehan benar-benar fokus ke kertas didepnnya.
Ita menghela napas panjang mencoba bersabar, dan mengatur nada bicaranya agar tidak terlalu meledak-ledak, "kaa.. Ita mau ke Rumahnya Eza,anak yang tadi makan siang bareng kita" ujar Ita bersemangat.
"Kakak ngga bisa deh kalau malam ini, sibuk ta" jawaban Rehan benar-benar membuat Ita jengkel, bagaimana tidak jengkel, setidaknya kalu tidak bisa ya bilang lah baik-baik, setidaknya dihentikan dulu kerjaannya, tatap mata Ita! Lah ini?? Hah?!
"Yasudahlah lah kak" ita bngkit dari duduknya dengan kasar agar Rehan sadar kalau ia sedang marah.
"Memangnya kakak aja yang sibuk?? Ita juga sibuk, sibuk istirahat! Ujar Ita sebelum keluar dari ruangan Rehan.
Rehan menatap Ita dengan pandangan tak mengerti, tidak biasanya Ita sensitif seperti itu.
"Assalamualaikum" ita menutup pintu.
"Wa'alaikumussalam."
Rehan terdiam sebentar melihat sosok Ita yang sudah hilang dibalik pintu, "kenapa dia?" gumam Rehan sebentar. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.