You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
51



Waktu adalah hal yang peling berhaga untuk kamu perhatikan dengan menjaganya. Dan aku melihat waktu paling mudah tersia-siakan olehmu.


Yahya bin Hubairah.


🌹


Ita menangis tersedu-sedu saat Rehan memakimya dengan perkataan yang mampu mengiris iris hati Ita, tak ingin berkata lagi, Ita memutuskan untuk pergi, tak melanjutkan dinnernya.


Ita menangis sepanjang ia berjalan, dan Rehan hanya menatap tubuh wanitanya dengan tatapan kosong, kali ini Rehan pikir ia juga perlu egois membiarkan Ita pergi.


Ita masuk ke mobil, tangisnya ia luapakan di dalam mobil, "sebegitu pentingkah pekerjaan itu sampai kau mempertaruhkan janin yang sudah kita nanti!!" Kata-kata Rehan terus terngiang di kepala Ita, "aaarrghhh" tangis Ita sembari memukul keningnya ke setir mobil.


"Aku memang pembunuh, aku yang menyebabkan ini semua" Ita terus menangis, rasa sakit yang mulai ia obati, kini malah semakin terluka dengan perkataan suaminya.


Klunting.. suara nada ponsel Ita, dengan malas Ita membuka chat yang masuk,


"Cepat pulang ke Rumah" tulis Rehan.


Ita menghapus air matanya kasar, ia mencoba menguatkan jari-jari tangannya hanya untuk sekedar mengetik pesan untuk Rehan.


"Aku rasa kita perlu waktu, waktununtuk menyembuhkan luka kita masing-masing" ketik ita, dengan jari yang bergetar ia akhirnya mengetuk ikon send.


Seketika Rehan yang masih terduduk di Reatoran, ia segera membaca chat dari Ita.


Rehan menghela napas panjang, mungkin ini adalah keputusan yang terbaik, hidup untuk menyembuhkan luka masing-masing terlebih dahulu. Rehan hanya membaca chat dari Ita.


Karna tak ada jawaban dari Rehan, Ita berusaha menguatkan dirinya, mqlam ini adalah awal menyembuhkan luka barunya dan luka lama yang terbuka kembali, Ita menghidupkan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya ke Rumah Ita dulu.


Meski rumah itu sepi, setidaknya masih ada mbok jah yang bisa mendengarkam segala kelih kesah cerita Ita.


Malam itu ita segera pulang ke rumah


Ita menghamparkan badannya di atas ranjang tak ada yang dipikirkan oleh nya tatapannya kosong menatap langit-langit atap. Sampai akhirnya ia tertidur karena terlalu memikirkan semuanya.


Ita terbangun seperti biasa, di pagi hari ita menatap jendela matahari yang mulai terbit yang menampakkan sinar oren yang memberi semangat baru bagi hidup ita.


Ita menghela napas panjang sembari menutup kedua matanya merasakan angin dingin yang menembus tubuhnya. Hari ini, besok dan hari-hari berikutnya adalah konsekuensi dari apa yang ita putuskan hari ini.


Ita mengambil snelli yang tersampir di kursi meja belajarnya. ita sudah putuskan untuk mulai hidupnya dan mengobati luka nya salah satu caranya adalah dengan kegiatan ini mungkin dengan ini ia bisa mengembalikan senyumnya kembali.


Ita menatap dirinya di deoan cermin dengan oenuh percaya diri, meluoakan kejadian malam ini dengan menyibukkan diri.


Saat orang lain tersenyum karena ita, itu bisa membuat Ita tersenyum, dan saat itu bisa melupakan hal-hal yang menyakiti nya, mungkin semua orang benar kalau kesibukan bisa membantumu melupakan masa lalumu.


Meski ita sadar kalau masalalu itu bukan untuk dilupakan tapi biarlah ada, kita hadapi dan terima kenyataan dari masa lalu yang begitu pahit, lebih baik pernah mencintai meski terlalu menyakitkan daripada tak bisa mengingat apapun dari sesuatu yang pernah ia cintai.


🌹


"dokter ita, dan ketika sudah bekerja kembali, apa dokter baik-baik saja" tanya kiki saat melihat ita turun dari mobilnya.


"Saya baik-baik saja kok" ucap Ita.


" tapi saya dengar kalau dokter Ita keg" kiki tak melanjutkan ucapannya saat Ita melirik Kiki dengan tatapan membunuh.


" kiki saya minta tolong minta rekap jadwal saya seminggu kedepan bisa?."


" iya dokter pasti saya akan berikan rekap jadwal dokter" kiki mengangguk patuh kemudian mulai berjalan seperti biasanya di belakang Ita.


Ita mulai berjalan masuk rumah sakit, sialnya baru sampai lobby ia sudah berpapasan dengan rehan, apa yang harus Ita lakukan??kejadian semalam masih begitu membekas dibenak Ita, bahkan kata-katanya yang membunuhpun masih membekas di hati ita.


Karena banyak sekali orang yang berada di lobby saat itu, dan kebanyakan adalah para petugas rumah sakit yang mengetahui hubungan antara rehan dan Ita. Tidak mungkin ita berpura-pura tidak melihat rehan sedangkan rehan terus melihatnya.


Jadi Ita memutuskan untuk tetap menyapa rehan seperti biasanya meski tak tulus dari hati, " pagi dokter rehan" ucap ita menyapa rehan.


"ah yah pagi." senyum mereka berdua kita alih terpaksa, tahan bisa melihat senyum ita yang terpaksa, begitu juga ita yang bisa melihat senyum rehan yang tak tulus.


Ita diam tak begeming dihadapan Rehan, badannya tersa kaku tidak bisa melanjutkan langkahnya, bahkan menatap mata Rehan kali ini sudah seperti menatap mata orang lain.


Tok tok tok suara langkah kaki Rehan yang mulai melagkah mendekat ke arah Ita, saat Rehan berjalan membuat Ita menahan napasnya, namun Rehan berjlan begitu saja melewati Ita. Dia bahkan seperti orang tak lagi Ita kenal.


Tidak, memang seharusmya begini, Bukankah mereka berdua sudah sepakat untuk menyembuhkan luka masing-masing? Jadi untuk apa Ita bersedih.


"Oh hatiku, aku mohon kau harus kuat, jangan pernah merasa sesak saat melihatnya, dan mata, ku mohon jangan kau teteskan air mata di saat seperti ini" batin Ita dalam hati menguatkan dirinya sendiri.


"Dokter!! Dokter Ita??" Panggil kiki saat melihat Ita yang diam saja tak melanjutkan langkahnya, bahkan saat rehan melewatinya dan sudah berjalan jauh.


"Ah" ita mengedipkan mata, ia mulai sadar kali ini, "ya, kita ke ruangan sekarang."


Ita mulai melanjutkan jalannya, "oh iya ki, Rangga mana?" Tanya Ita, ia tidak pernah melihat Rangga telat sebelumnya.


Ita dan Kiki masuk ke dalam lift,


"oh Rangga akan telat sebentar karna ia harus ke gereja dokter" ujar Kiki.


"What!! Apa!!" seketika Ita membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Kiki, wajah ita ia dekatkan ke wajah kiki.


"Apa ki?? Gereja??."


"Ha a" jawab Kiki santai.


"Gereja gereja???" Ita membulatkan matanya lebar, ia masih tak mengerti apa kiki katakan.


"Iya dokter, gereja, kenapa dokter begitu terkejut begitu??" Tanya Kiki.


"Ngapain dia ke gereja ki??" Tanya Ita lagi.


"Wuaahhh kenapa ia tak pernah bilang" gumam Ita.


"Nagapin bilang dokter, memangnya penting??"sahut Kiki.


Memori ita dan Rangga kembali berputar, ita teringat betapa ceretnya Ita saat membicarakan islam kepada Rangga, itu pasti membuatnya tidak nyaman "Aaissshhhh bodohnya" ita menepuk kepalanya.


"Kenapa dokter?."


"Haa, ngga nggak apa-apa."


Ting, lift sudah sampai di lantai yang Ita dan kiki tuju, pintu lift sudah terbuka nemun Ita masih saja membodohkan dirinya sembari menepuk jidad, kiki menggrlengkan kepalanya, dan keluardari lift duluan.


"Dokter ngga mau keluar??" Tanya kiki yang sudah keluardari lift, tak ingin pintu segera tertutup, Ita segera dadar dan secepatnya keluar, kini Ita bejalan di belakang Kiki, Ita masih tidak habis pikir dengan dirinya.


****


"Sudah ada pasien yang menunggu dokter" ucap kiki.


"Ah iya-iya," Ita segera masuk ke ruangannya, Ita memepersiapkan dirinya, baru beberapa menit ita dan masuk ke ruangan, sudah ada Rangga yang datang, "maaf saya terlambat," ucap Rangga.


Mata Rangga berbinar saat melihat siapa yang tengah duduk dikurai, ia melihat sosok wanita yang ia kagumi, "dokter Ita?? Dokter sudah berangkat lagi? Apa dokter sudah sehat??dokter nggak akan ambil cuti lagi kan?? Saya harap jangan dokter, kami sangat senang kalau ada doktef Ita yang selalau peduli dengan makan siang kita" Crocos Rangga.


Kiki langsung memukul leher bagian belakang Rangga dengan gulungan kertas, tentu tidak akan menimbulak a rasa sakit, "aww" pekik Rangga, bukan karna sakit tapi karna refles saja.


"beh bnyak tanya banget sik, baru juga berangkat udah nyrocos aja" ucap Kiki kesal mendengar ocehan Rangga yang begitu mengkhawatirkan dokter Ita, bukankah kiki sudah pernah bilang kalau dokter Ita sudah punya suami???.


"Sirik amat si lu" sahut Rangga keoada Kiki yang selalu saja sewot dengannya.


Seperti biasanya, Ita hanya tertawa kalau sudah mendengar adu mulut mereka berdua, "sudah-sudah ahahahha, makasih ya kalian udah hibur saya pagi-pagi begini"ujar Ita sembari tertawa.


"Dokter.. jadi ginana kedmadaan dokter Ita?" Tanya Rangga lagi.


Ita menghentikan tawanya, "baik, terimakasih ya Rangga, saya tau kamu yang menolong saya waktu itu" ujar Ita.


Blussshhhh, hati Rangga seakan dipenuhi oleh kupu-kupu, aapa ia tidak salah dengar dokter Ita mengucapkan terimakasih dengan senyum mengembang, seakan ucapan terimakasihnya begitu tulus terucap.


Tak perlu menunggu tanggapan dari Rangga, Ita langsung meminta kiki untuk memanggil pasien peratama.


Kiki kemudian memanggil pasien pertama untuk masuk. Sedangkan Ita sedang memperhatikan hasil MRI dadi pasien yang akan masuk.


"Asslamualaikum dokter" sapa seorang ibu bersama anak laki-lakinya yang berusia kira-kira 15 tahun.


"Wa'alaikum salam" jawab Ita semangat, ia berhenti mengamati monitor didepannya.


Si ibu dan anaknya kemudian duudk di hadapan Ita, "Begini dokter, akhir-akhir ini kepribadian anak saya berubah, dahulu ia anak seperti anak pada umumnya, namun akhir-akhir ini seperti kehilangan pengendaliannya, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia menjadi sangat agresif," jelas ibunya sembari menatap ke arah putranya.


"Awalnya saya membawa putra saya ke psikiater, namun dokter malah menyarankan saya untuk ke dokter spesialis saraf, jadi sebenarnya apa yanga terjadi dengan pitr saya dokter?" Raut wajah ibu itu terlihat begitu mengkhawatirkan putranya.


Ita menghela napas panjang sebelum berbicara, ia menghadapkan monitor yang berisi hasil MRI dari pasien, "bu, jadi disini" ita menunjuk ke monitor.


"Ada tumor yang tumbuh di bagian otak depan tepatnya belakang dahi atau lobus frontal, tumbuhnya tumor di bgaian ini dapat mengganggu fungsi berpikir dan pengendalian diri. Pada dasarnya kita bisa bertindak agresif terhadap sesuatu, kemudian seiring dengan berkembangnya otak dalam pemebelajaran kegiatan sehari-hari membuat kita bisa memiliki pengendalian diri atas agresifitas tindakan kita."


"Jika bagian ini" ita menunjuk bagian lobus frontal, "jika bagian ini terganggu, maka funsi pengendalian diri akan hilang dan sesorang menjadi sangat agresif tanpa kendali" jelas Ita.


Ibu itu memeluk putranya erat, air mata yang tulus menetes karna mendengar kabar buruk dari putranya, "jadi maksud dokter, di kepala putra saya ada tumor yang tumbuh?? Hiks hiks hiks."


Ita hanya mengangguk menjawab pertanyaan ibu itu, Ita meraih salah satu tangan ibu itu, "ada berbagai cara untuk menghilangkan tumor itu, yang perlu ibu lakukan adalah berikhtiar, dan jangan lupa untuk terus mendoakan kesembuahan putra ibu, karna doa seorang ibu itu sangatlah di ijabah oleh Allah."


Lagi-lagi Rangga terpikat dengan penjelasan Ita yang selalu mengaitkan dengan agamanya, begitu indah terdengar.


Ibu pasien mengangguk mengerti apa yang hadus ia lakukan, "silahkan ikut dokter Rangga untuk pemeriksaan selanjutnya, pasien harus segera di rawat di rumah sakit, semakin cepat ia dirawat maka semakin cepat juga penangananya" ujar Ita.


Merasa terpanggil, Rangga langsung mengajukan dirinya, "mari bu, ikut saya" ucap Rangga, ibu itu kemudian mengikuti Rangga untuk menjelaskan beberapa proaedur yanga akan dilakukan.


🌹


Setelah selesai dengan pasien rawat jalan, Ita kemudian mengajak kiki dan Rangga untuk makan siang bersama, "kita makan siang bareng yuk" ajak Ita.


Rangga langsung melotot karna kaget, selama ini Rangga selalu mengajak makan siang bersama namun selalu kiki yang makna siang bersamanya. "D..d.. dokter ngajak makan siang saya" ucap Rangga terbata-bata.


Ita tertawa renyah, "bukan kamu, tapi kiki juga kita makan siang bertiga."


"Bbbb hhahahhaha" tawa kiki terdengar keras menertawakan Rangga yang begitu pdnya.


Rangga yang sudah bahagia mendengar ajakan Ita kini ia menanggung malu karna ke PDannya. Tapi tak apa, setidaknya Rangga bisa satu meja dengan Ita, itu saja sudah membuat Rangga begitu bahagia dan bersemangat.


"Dokter Ita sudah pesan makan siang??" Tanya kiki denagn bersemangat saat membiacaraan soal makanan.


Ita menggeleng, "kita makannya di kantin, oke" Ita berdiri dari duduknya.


"Yah dokter, kan antre" rengek Kiki seperti anak kecil.


"Saya jamin kita langsung dapat makanan, lets go!" Ucap Ita yang kemudian mulai berjalan keluar, Rangga segera mengikuti Ita, mau antre atau tidak, Rangga tetap suka karna akan makan satu meja dengan Ita.


Saat melihat Rangga dan ita sudah keluar, Kiki segera mengikuti mereka berdua, sesampainya di kantin, ternyata prediksi Ita benar, kali ini kantin tidak begitu oenuh seperti biasanya, jadi tanpa menunggu lama, mereka bertiga bisa langsung mendapatkan makanan mereka.


Ita kemudian memlih tempat duduk, Rangga dan kiki juga mengikutinya, "kok dokter bisa tau kalau kantin hari ini sepi??" Tanya kiki penasaran, karna selama di Rumah Sakit, ini pertama kalinya kiki mendapatkan makanan secepat ini.


"Jawabannya ada di waktu, kalian timingnya harus pas, saat kalian rasa yang lainnya sudah makan siang, saat itulah kantin sepi, jadi kita hanya oeelu bertahan sebentar menahan lapar," jelas Ita membocorkan rahasianya.


"Ooohhh" kiki mengangguk mengerti. Cara Ita akan Kiki pakai lain kali.