
Bismillahirrahmanirrahiim...
Cerita Rehan dan Ita akan saya lanjut lagi ☺
🌹
Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka jati dirimu akan terungkap tanpa kata-kata.
-Jalaluddin Rumi
🌹
Siang ini, di tempat yang penuh ambu khas obat-obatan, suara gesekan antara roda-roda brankar dengn lantai, teriakan khawatir, tangisan, juga senyum yang sesekali mewarnai rona wajah mereka. Di tempat ini Rehan telah menyelesaikan tugasnya, ia melempar kasar snellinya, menyisingkan lengan kemejanya dan mulai meregangkan otot-ototnya di kursi tempat ia biasa duduk.
Setelah beberapa kali mematahkan lehernya ia kemudian meraih ponselnya, ia mencari nomor yang sering ia hubungi, "Jiwaku" itulah nama kontak ita di gawai Rehan.
Bukan tanpa alasan Rehan menamai "jiwaku" karna arti "Atma" sendiri adalah jiwa untuk itu Rehan menamai di kontaknya "jiwaku" sebagai panggilan pembeda dari yang lainnya.
Reha menekan tombol panggil pada kontak Ita, tak butuh waktu lama, Ita langsung mengangkat telepon dari Rehan.
"Assalamu'alaikum kak?" Sapa Ita mengawali pembicaraan.
"Wa'alaikumussalam, gimana udah disana?" Tanya Rehan.
"Ini lagi mau otw kaka, kakak udah selesai belum?" Tanya Ita balik.
"Sudah, kakak jemput kamu aja ya, kamu tunggu di Rumah" ujar Rehan. Ia kemudian segera bangkit dari duduknya, dan segera keluar dari Rumah Sakit menuju parkiran mencari mobilnya.
Ita mengiyakan ucapan Rehan, setelah menucapkan salam ita segera mematikan saluran telponnya. Hari ini Ita dan Rehan akan menghadiri persidangan Pras, bagaimanapun juga Rehan harus di persidangan itu sebagai pelapor, dan Ita meakipun ia sangat tidak ingin hadir, tetap saja ia ingin menemani Rehan.
Dua puluh menit kemudian, suara klakson mobil Rehan sudah terdengar di halaman depan Rumah, ita segera meraih tasnya dan tergesa-gesa ia segera keluar dari rumah menghampiri Rehan yang menunggu di dalam mobil.
Usai Ita masuk ke dalam mobil, Rehan melajukan mobil dengan kecepatan sedang , tak ada obrolan antara Rehan dan Ita, Ita sedang sibuk memainkan gawainya, sesekali Rehan menatap sekilas ke arah Ita yang sedang seriusnya bermain gawai.
"Cari apa?" Tanya Rehan penasaran, tentu saja Rehan penasaran, ia tidak ingin kalau ita sedang sibuk chattingan dengan yang lain.
Ita menghentikan aktifitasnya, ia mengubah pandangannya ke arah Reha yang sibuk mengemudi, "Ita googling pasal-pasal yang menjerat ayah" raut wajah ita berubah seketika menjadi sedikit sedih.
Ita menundukkan pandangannya, "jujur Ita sebenarnya,-"
"Ahh ngga, memang seharusnya seperti itu" lanjut Ita, ia tidak bisa membela seseorang yang jelas-jelas bersalah di depan Rehan.
Rehan menepikan mobilnya, ia menghengikan mobilnya dan menetap ke arah Ita, tatapan penuh arti.
"Kakak tau apa yang mengganjal dipikiranmu" ujar Rehan menyentuh wajah Ita yang sedari tadi menunduk.
"Heiii... lihat kakak" Rehan berusaha mendongakkan pandangan Ita dengan lembut supaya mentapnya.
"Kita bisa sewaktu-waktu menarik laporan itu" ujar Rehan.
Merasa Rehan terpaksa berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan Ita, ia segera menolak, "ngga kak, kita lakukan saja sebagaimana mestinya" Ita menggelengkan kepalanya.
Rehan tersenyum menimpali ucapan Ita,"sejatinya yang akan membalas dosa suatu hamba adalah Allah, kita hanya menaati peraturan hukum pemerintah, bukankah tunduk terhadap pemimpin itu harus?? Jadi bagaimanapun juga hukum negara harus berjalan, tapi kakak janji kakak tidak akan membiarkan seorang yang sudah merawat bidadari kakak ini terlalu lama mendekam di jeruji besi" jelas Rehan menangkupkan kedua tangannya di wajah Ita.
Seakan ada hembusan angin yang menyejukkan bagi Ita, tanpa aba-aba Ita memeluk tubuh Rehan, buliran air mata tanpa sengaja membasahi pipi mulus Ita, ia bahagia karna punya suami yang perhatian dan mengerti dengan baik Ita.
Rehan menyambut pelukan ita, "cup cup cup, kenapa suasananya mellow gini sih" keluh Rehan tidak suka saat melihat Ita menangis saat berada di pelukannya.
Ita melepas pelukan Rehan dan segera menghapus tangisnya, Rehan juga ikut menghapus air mata Ita.
"Kakak baik sih sama Ita, makanya Ita nangis" jawab Ita dengan wajah cemberut.
Rehan terkekeh mendengar ucapan polos Ita, Rehan menepuk lembut pucuk kepala Ita, "ada ya baik bikin nangis".
Rehan kemudian melanjutkan kembali mobilnya ke pengadilan.
🌹
"Dengan dasar bukti-bukti yang terkumpul, dengan itu diputuskan bahwa saudara Prasetyo tetbukti telah melakukan peracunan terhadap saudara Yusuf, dan dengan itu sudara Prasetyo dijatuhi hukiman 8 tahun penjara" Tok tok tok tok!! Ucap hakim diakhiri ketukan palu menandakan putusan tidak dapat diubah kembali.
Ita yang tengah duduk di sebelab Rehan tidak aanggup mendengar putusan, ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rehan.
"Tiak bisa!!! Ini tidak adil!!" Teriak Pras secara tiba-tiba mengagetkan selur yang ada di ruangan termasuk Ita.
"Saya tidak melakukan apapun kenapa saya harus dipenjara!!" Pras bangkit dari duduknya, segera dua orang petugas menghampiri Pras dan memegang erat dia agar tidak melakukan keonaran.
Ita benar-benar tidak tega melihat ayah tirinya sekarang, ia hanya bisa menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya, Reha tak hentinya mengelus pundak Ita menguatkannya.
"Kau!!" Tunjuk Pras tepat kepada Ita.
Sontak mata Ita melebar melihat jari yang tepat menunjuk dirinya.
"Anak tak tau terimakasihh!!" Hardik Pras denagn emosi yang membuncah.
"Aku sudah membiarkanmu hidup, saat kau seharusnya juga ikut mati dalam kecelakaan itu, tapi apa yang kau lakukan!!" Nada bicaranya semakin tinggi membuat Ita semakin takut dan merasa bersalah.
Rehan dan Ita tidak mengeluarkan sepatah katapun, Rehan hanya memeluk Ita yang mungkin sebentar lagi akan menangis karna merasa bersalah.
"Dimana rasa terimakasihmu sebagai anak ha!" Sentak Pras semakin menjadi-jadi, dua orang petugaspun berusaha menenangkan Pras yang terusulut emosi.
"Anak biadab tak tau diuntung!! Tak tau tetimaksih kau!" Pras mulai mengucapkan kata kasar yang ia tujukan kepada Ita.
"Anak biadab!!" Ujarnya lagi.
Perkataannya begitu menyakiti hati Ita, sungguh tak ada niatan ia melakukan ini, tapi ia hafus mempertanghung jawabkan perbuatannya, ita tak bisa berkata apapun tangisnya sudah pecah di pelukan Rehan.
Rehan tak bisa tinggal diam melihat Pras terus menjelekkan dan berbicara kasar pada istrinya, tentu ia tak terima. Rehan bangkit dari duduknya.
"Renungkan kesalahanmu! Jangan terus-teruaan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu, bertaubatlah kepada Allah, semakin cepat kau menyadari keaalahanmu, semakin cepat kau akan kelur dari sini" ujar Rehan.
Tidak terima denagn ucapan Rehan, Pras justru semakin tetuslit emosi, "kau anak tak tau diri!! Durhaka kalian" ucap Pras yang beruaaha ingin menghampiri Rehan, namun segera di tahan oleh 2 oarang petugas yang sedari tadi memegangi Pras.
Dua petugas itu terpaksa menyeret Pras yang terus memberontak, pras diseret keluar dari ruang pengadilan menuju bui.
"Anak tak tauuu diriiu" pras terus meneriaki Rehan dan Ita selama ia di seret petugas. Sedangkan Ita sedari tadi tak sanggup melihat kejadian ini.
Perlahan teriakan Pras mulai tak terdengar seiring ia mulai menjauh dari ruang persidangan.
Rehan kembali ke tempat duduknya, ia menangkap tubuh Ita yang meringkuk bergetar denagn tangisnya.
"Kita pulang sekarang ya" Rehan mengangkat tubuh Ita yang tak berdaya, sungguh Rehan tidak bisa melihat Ita seperti ini.
Rehan membopong Ita sampai depan mobil, Rehan membukakan pintu untuk ita dan membantunya duduk, kemudian Rehan memasangkan sabuk pengaman, sekilas Rehan menatap wajah Ita yang muram dengan pandangan yang kosong.
Rehan mencoba membiarkan Ita dengan pikirannya saat ini, Rehan memilih diam sampai Ita tenang dan bisa diajak bicara baik-baik. Rehan sadar apapun yang ia katakan saat ini mungkin tak akan didengarkan oleh Ita.
"Apa ita durhaka?" Ucapan itu keliar dari mulut Ita saat Rehan akan menghidupakan mesin mobilnya.
Sontak Rehan menghentikan aktifitasnya dan menatap Ita.
Rehan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, "apa kamu akan lebih tenang saat menyembunyikan kejahatan seseorang?" Tanya Rehan.
spontan Ita mengedipkan matanya tersentak mendenagr pertanyaan Rehan, Ita pernah menyembunyikan kesalah Pras dari Rehan, dan itj membuat Ita gundah gelisah tiap malam, apalagi saat Rehan menegetahuinya, hubungan Rehan dan Ita menjadi buruk.
Dengan cepat ita menggelengkan kepalanya denagn pasti.
"Kalau begitu, apa yang kita lakukan saat ini bukanlah suatu yang buruk, berhenti merasa bersalah, ini memang seharusnya terjadi, ia mempertanggung jawabkan perbuatannya" Rehan menggenggam erat tanagn Ita.
"Toh kakak juga janji, saat ia sudah menyadari kesalahannya, segera kakak akan canut laporan itu."
Ita mengangguk menegerti, entah apa yang selalu mengganggu Ita sampai ia terus-terusan merasa bersalah, seharusnya ia beri ruang ayahnya untum menyadari kesalahannya, kalau ia tidaj dihukum tenfu ia akan menjadi-jadi. Ia tidak akan merasa bersalah.
"Sudah ya jangan dipikirkan lagi" ujar Rehan yang kemudian diangguki oleh Ita.
🌹
Kali ini Rehan pulang ke Rumah bersama Ita, memang momen langka Rehan dan Ita bisa menikmati waktu sore di Rumah, mereka biasanya sibuk sampai larut malam.
Saat langit mulai menampakkan semburat jingga, Rehan memilih menikmati pemandangan itu di gazebo belakang Rumah, Rehan membaca Alquran kecil ditangannya. Beberapa menit kemudian datang Ita membawakan nampan berisi jajanan juga 2 cangkir teh hangat.
"Monggo disambi kak" ucap Ita renyah dengan senyum mengembangnya.
Rehan menghentikan bacaannya, menyimpan alqurannya di atas meja kecil yang ada si gazebo, "euum. . . Siapa nih yang bikin?" Tanya Rehan.
"Masih bu heni yang bikin" jawab ita malu karna sampai sekarang kemampuan memasaknya masih sangat rendah.
"Maaf ya kak,Ita masih belum bisa jadi istri yang kakak inginkan" ucap Ita menundukkan kepalanya.
"Heii. . . Siapa yang bilang kamu belum jadi istri yang kakak inginkan, justru kamu yang dari awal kakak inginkan menjadi istri kakak,"
"Tapi ada baiknya kamu mulai melakukan pekerjaan rumah tangga" ujar Rehan, takut membuat Ita tersinggung, Rehan mengulurkan tangannya memegang tangan Ita dipangkuannya.
"Kamu tau, betapa banyak keutamaan seorang istri, di sebuah pernikahan banyak sekali pahala yang disiapkan oleh Allah, jadi rasanya rugi kalau kita tidak berlomba-lomba mengejar pahala dalam pernikahan" Ujar Rehan semoga Ita tidak tetsinggung.
Rehan ingin sekali Ita berhenti bekerja, meskipun Ita menganggap itu bukanlah pekerjaan jadi Ita berat meninggalkanya, tapi Rehan tetaplah laki-laki yang setiap pulang ke Rumah, sudah ada Ita yang menyiapkan segala sesuatu bagi Rehan. Ita selalu melakukan tugas dokter dan ibu rumah tangga denagn baik, dan justru itu yang menggangu Rehan melihat Ita yang begitu terforsir.
"Kak, maafkan Ita tapi untuk sekarang Ita sabgat menyukai profesi ini, bagi Ita ini bukanlah suatu pemerjaan tapi sudah seperti panggilan kemanusiaan. Membabtu sesama dengan ilmu yang kita punya, dan Ita menyukai itu" jawab Ita menunduk.
Rehan tersenyum menimpali ucapan Ita, watak ita yang keras kepala memang susah dihilangkan.
"Kakak mengerti, kakak tidak akan memaksamu meninggalkan profesi itu,"
"Yasudah kita ngeteh dulu lah, masa iya dianggurin" lanjut Rehan yang mengambil secangkir Teh buatan Ita dan memakan kue buatan bu Heni.
🌹
"Sudah pulang nyonya" ucap Heni menyambut kedatangan Yasmin yang baru saja pulang dari rumah sabil. Heni segera membantu Yasmin membawakan barang bawaannya.
Yasmin segera mengambil alih tasnya yang berat dari Heni, "Iya bi, ah ngga usah repot-repot."
"Ah ngga repot sama sekali" sahut Heni.
Sejurus kemudian, seorang wanita 30 tahunan juga ikut masuk kedalam dia adalah Sabil adik sepupu Yusuf. dia menenteng tas besar pula, sepertinya ia akan menginap disini.
"Mbak sabil mau menginap disini?" Tanya Heni.
Sabil mengangguk sembari tersenyum kepada Heni pertanda iya.
"Rehan sama Ita di rumah ya bi?" Tanya Yasmin menanyakan anaknya.
"Ah iya nyonya, ada di taman belakang" jawab Heni yang kemudian membawakan tas Yasmin ke kamar.
"Bil, kamu istirahat dulu ya, anggap rumah sendiri ya."
"Ah mbak, kayak ngga tau sabil aja, ini si emang udah kayak rumah sabil sendiri."
Melihat sabil yang mulai masuk ke kamar, Yasmin berniat ingin menemui putra dan menantu kesayangannya, sudah lebih dari seminggu ia tidak bertemu mereka berdua.
Yasmin berdiri di ambang pintu menuju halamn belakang, melihat Rehan dan Ita yang tengah bermesraan di gazebo, sesekali Ita terkekeh geli saat Rehan terus menggoda Ita dengan menoel dagunya. Tak ingin kalah, Itapun sesekali mencubi perut Rehan hingga membuat Rehan memekik sakit. Pemandangan seperti ini mampu membuat Yasmn tersenyum bahagia.
"Ekheemmm" Yasmin berdaham, sontak Rehan dan Ita menatap ke arah dehaman itu.
"Ummi"
"Ummikk" panggil mereka bersahutan dengan mata berbinar melihat Yasmin datang.
Yasmin menemui mereka berdua, denagn manjanya Rehan dan Ita memeluk Yasmin secara bersamaan.
"Ummi lama kali perginya" Ucap Rehan di pelukan Yasmin.
"Duduk-duduk" titah Yasmin kepada mereka berdua agar duduk kembali di gazebo.
"Jadi apa kalian ngga mau bikin cucu buat ummik." Ucapan yasmin sontak membuat Rehan membulatkan matanya sempurna, ini terlalu vulgar bagi Rehan.
"Ummik!" Tegur Rehan agar umminya tidak membahas hal seperti itu.
Ita hanya bisa menunduk menyembunyikan semburat merah muda yang ada pada pipinya karna malu.
"Apa?! Kapan kalian akan membuatkan cucu untuk ummi? kalian terlalu sibuk sampai tak ada waktu untuk berduaan" ujar Yasmin lagi.
"Ah ummi, udah pernah buat kok,cuma belum gol aja" Ujar Rehan sembari melirik jahil ke arah Ita.
Demi apapin Ita benar-benar malu dengan ucapan Rehan, bukankah itu terlalu blak-blakan??.
"Pernah? Memang Baru berapa kali kalian membuatnya?." Yasmin mulai menggoda Ita yang sedari tadi tertunduk malu.