
24.
Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tau suatu hadi dia akan menjadi musuhmu ; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu suatu hari ia akan menjadi kecintaanmu.
( H.R. Tirmidzi )
🌹
"maafkan saya, saya benar-benar minta maaf" ucap Bagas yang masih duduk bersimpuh didepan Ita.
Terlihat raut penyesalan yang mendalam dari Bagas.
Tapi apa bisa ita memaafkannya? Ita akan menjadi manusia yang sombong kalau sampai ia tidak bisa memaafkan orang yang telah melukainya.
"Maafkan saya,ini semua bukan atas dasar keinginan saya" Bagas kembali meminta maaf kepada Ita yang masuh saja diam menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Ita menelan ludah, air mata jatuh bercururan, ita berusaha berbicara dengan tegar "siapa yang menyuruh anda melakukan ini."
(. . .) Diam, pak bagas tidak menjawab, hanya suara tangisan penyesalan ada di Ruangan.
"Katakan!" Tegas Ita dengan suara yang menhan tangis.
"Orang itu, orang yang paling dekat dengan dokter" jawab bags singkat dengan menundukkan kepala.
Hati ita kembali terluka, dadanya sesak, orang terdekat siapa lagi yang tega melakukan ini, "katakan saja siapa."
Dengan nada yang masih terisak, pras mulai buka suara siapa yang telah menyuruhnya
meskipun bagas tau konsekuensinya, tapi Bagas tidak bisa menutupi hal selalu membuatnya ketakutan,
"Pras" Ucap Bagas sembari mulai mendongakkan kepala melihat Ita, "Ayah tiri dokter" lanjutnya.
Hancur sudah, tubuh Ita tersungkur di atas dinginnya lantai Ruangan Rumah Sakit, kini dunia ita seakan sudah berakhir, air mata ita semakin deras berjatuhan membasahi pipi mulus Ita, nama itu kembali melukai hati Ita.
Terdengar suara isakan tangis Ita,
"kenapa harus ayah lagi" ucap Ita disela tangisnya.
Ita telah salah melindungi seseorang, selama ini Ita masih berusaha untuk menyembunyikan pelaku pembunuh Yusuf, tapi ternyata dia juga yang telah membunuh ibu kandungnya.
"Hiks. . .hiks. . Hiks. . . Kenapa harus ayah!."
"Ita sudah melindungi orang telah membunuh ibu hiks.. hiks.. hiks"
"Ita menyembunyikan pembunuh abi yusuf hiks... hiks.. hikss"
"Ita terlalu bodoh" teriak Ita menyesal dengan apa yang telah ia perbuat, tidak sepantasnya, Ita melindungi orang seperti ayahnya, terlihat baik dari luar, busuk didalamnya.
Ita mengusap air matanya dengan kasar, menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Ita menatap sekitar, sampai Ita melihat sepasang kaki yang berdiri di ambang pintu, pandangan ita merayapi pemilik kaki jenjang itu.
"Kak Rehan" panggil Ita tertohok, Rehan masih diam di ambang pintu setelah mendengar kata 'Ita menyembunyikan pembunuh abi yusuf' jadi Ita sudah tau semuanya?.
Rehan menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan Ita, melihat Rehan yang begitu saja perhi, ita segera menghapus air matanya, jangan sampai ita terlihat habis menangis.
Ita segera mengejar langkah lebar Rehan, ia pasti mendengar ucapan Ita, ia pasti kecewa mengetahui ita menyembunyikan hal ini, ia pasti marah karna Ita telah membohonginya, menyembunyikan masalah sebesar ini.
Sampai di teras Rumah sakit, ita mengamati selauruh aktifitas di halaman Rumah sakit, dan Ita melihat mobil Rehan baru saja keluar dari Rumah Sakit.
Ita mengusap wajahnya dengan kasar, "Allah.... kenapa harus seperti ini" ucap ita tanpa sadar air mata kembali menetes.
"Dokter Ita?" Panggil seorang perawat dari belakang.
Ita segera menoleh, "ditunggu pasien di ruangan dokter," mendengar ucapan perawat, ita segera bergegas kembali ke Ruangannya.
seelah menyelesaikan memeriksa beberapa pasien, Ita meraih ponselnya, menatap layar ponsel berharap Rehan menelpon mengabari kemana ia pergi.
Ita mencari kontak Rehan, ita hanya menatap layar ponsel yang memeperlihatkan terakhir dilihat Rehan. Ita ragu saat ingin menghubungi Rehan.
tapi kalau ita tak menghubunginya, bagaimana dengan rasa khawatir Ita?.
"Arrrrgghhhhhh... astaghfirullahal'adziimm... Allah kuatkan Ita" ucap Ita berusah menguatkan dirinya sendiri.
Saat ini bukan hanya Rehan yang terpukul, Ita juga levih terpukul mengetahui ayah yang selalu ia hormati, ternyata ia dibalik pembunuhan ibunya.
Ita menangis, menutup wajahnya di kedua tangan yang ia lipat di atas meja, ap sekarang yang harus Ita lakukan?.
Satu-satunya cara agar menguak kasus kecelakaan itu hanha dengan pengakuan tersangka, dan untuk kasus Pras yang meracuni Yusuf, itu bisa dikuak kalau ada saksi.
"Hiks hiks hiks... Ita lelah Ya Allah... setelah semua ini, apa kak Rehan masib bisa menerima ita sebagai Istri?" Ucap Ita dalam tangisnya.
🌹
Rehan pergi meninggalkan Ita di Rumah sakit, yang Rehan inginkan saat ini hanyalah ketenangan, Rehan perlu tempat yang tenang untuk berpikir secara tenang pula.
Rehan melajukan mobilnya entah kemana, ia hanya terus mengemudikan mobilnya, mengikuti jalan didepannya.
Siapa yang tidak sakit hati, saat seorang yang selama ini selalu mendukungnya, ternyata ia telah menutupi hal yang selama ini Rehan ingin cari tahu, seorang yang selama ini Rehan percaya, ternyata ia merusak kepercayaan Rehan.
Berjam-jam rehan mengendarai mobilnya, sampai tak terasa malam sudah menurunkan jubah gelapnya, Rehan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Ia memukulkan kepalanya ke setir mobil, berulang kali Rehan berusaha menerima ini semua, tapi rasanya sulit sekali.
Beginilah kelemahan Rehan, saat ia merasakan luka yang dalam, ia sampai terlupa dengan luka yang lain, Rehan tak menyadari luka yang lain, luka yang dirasakan Ita, luka seorang anak yang mengetahui ayah yang ia hormati ternyata telah membunuh dengan tega ibu kandungnya.
Rehan belum sadar dengan rasa sakit yang dirsakan Ita, ia masih memikirkan perasaannya. Memang butuh waktu bagi Rehan memahami ini semua.
Setelah lama berhenti di tepi jalan, Rehan menghidupka kembali mesin mobilnya dan mulai mencari tempat istirahatnya malam ini, Rehan memutuskan untuk tidak pulang malam ini, biarlah Rehan menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan jernih.
Rehan memilih hotel yang tak jauh dari Runah sakit tempatnya bekerja, bagaimanapun juga, ia harus melaksanakan tugasnya, karna bagi Rehan, dokter bukanlah semata-mata suatu pekerjaan.
🌹
Tengah malam, ita baru menyelesaikan semuanya, dan baru bisa pulang, Ita harap, Rehan sudah ada di Rumah, melihat Rehan saat ini sudah bisa membuat khawatir ita hilang.
Ita berjalan ke arah parkiran Rumah Sakit, mencari mobilnya yang terparkir, setelahnya Ita segera masuk ke mobil dan mengemudikannya kembali ke Rumah.
Ita membuka pintu dengan pelan, tak ingin mengganggu yasmin yang sedang istirahat, perlahan ita mulai berjalan menaiki anak tangga, hingga sampai di ambang pintur kamarnya dan Rehan yang tertutup.
Ita membuka kenop pintu tersebut, pandangan Ita langsung tertuju ke ranjang di depannya, tak ada Rehan yang tidur disana, di meja kerja rehanpun tak ada dia duduk disana, Ita membuka pintu kamar mandi dan tidak ada Rehan pula.
Sudah tentu Rehan tidak pulang malam ini, ita melempar tasnya semabrang ke kasur, menghempaskan tubuhnya di kasur, mengusap kasar wajahnya.
Kali ini Rehan pergi karna benar-benar marah, Ita tak bisa melakukan apapun sekarang, tapi kali ini, bukan hal itu saja yang mengganggu pikiran Ita, ini masalah ibunya, Ayahnya.
Ah, Jiwa Ita rasanya sedang tidak baik-baik saja, ia bisa gila memikirkan ini sendiri, menanggung ini sendiri, apa pantas orang yang telah membunuh ibu kandungnya dan mertuanya itu masih bisa tertawa senang?.
Lalu apa pantas, Ita melupakan begitu saja kebaikan ayah tirinya yang jelas-jelas menginginkan Ita juga meninggal dalam kecelakaan itu, tapi ia masih bersedia merawat dan menjaga Ita sampai Ita menikah?.
Apa pantas begitu saja melupakan kebaikan seseorang?. Dan apa pantas menghukum seorang yang sudah menyesali perbuatannya, meminta maaf atas kesalahan yang ia sendiri terpaksa melakukannya?
"Allah... jangan jadikan hamba sebagai seorang yabg berputus asa" ucap Ita ditengah tekanan batinnya. Ita benar-benar bisa dibuat gila dengan semua ini.
Rasanya ini terlalu berat bagi ita, meskipun di hati ita ia percaya bahwa Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan makhluk-Nya.
Ita percaya akan ada hikmah dibalik ini semua, akan ada penyelesaian atas ini semua,akan ada akhir yang baik dari semua. Semoga saja.
Semua beban pikiran Ita, ia lupakan sejenak, matanya sudah tak kuat lagi untuk terus berjaga menunggu Rehan pulang, lagipula Rehan mungkin tidaka akn pulang malam ini.
🌹
Ita kesiangan, setelah shubuh yang biasanya ita tidak pernah tidur lagi, hari ini ia ketiduran di atas sajadah dengan mukenah yang masih ia pakai, Ita segera melepas mukenahnya, bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap berangkat ke Rumah Sakit.
Debgan terburu-buru, Ita menuruni tangga, Ita sampai meluoakan Yasmin yang sedang menunggunya sarapan di ruang makan.
"Tata, sarapan dulu sayang" ucap Yasmin yang melihat Ita menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Ita segera menoleh , ia sampai melupakan keberadaan umminya, Ita membalikkan bada dan mulai berjalan menghampiri Yasmin.
"Sarapan dulu ya, udah disiapin sama bi heni" Titah Yasmin.
Mau tidak mau, Ita hanya menurut,ia kini duduk dengan kepala menunduk,berharap yasmin tak menanyakan apapun, ia tidak ingin mendengar pertanyaan dari yasmin tentang Rehan. Mau jawab apa Ita saat Yasmin tanya tentang Rehan.
Iyasmin pasti akan berpikir kalau hubungan Ita dan Rehan sedang ada masalah, padahal sebagai suami istri, ita atapun Rehan harus bisa menjaga aib rumah tangga mereka.
Yasmin menyiapkan roti untuk sarapan Ita, "dimakan dulu ya" ucap Yasmin memberikan sepotong roti untuknya.
Ita hanya mengangguk dan menurut, "makasih ummi."
Yasmin tersenyum menimpalai ucapan terimakasih dari Ita, yasmin tau antara Ita dan Rehan sedang ada masalah, semalam Ita melihat Ita pulang sendiri dan Rehan tidak pulang,lagipula kalau Rehan tidak pulang karna di Rumah sakit, biasanya Ita juga ikut ke Rumah sakit.
Tapi yasmin sedang tidak ingin menggangu pikiran Ita, wajahnya terlihat lesu tak seceria biasanya, alangkah baiknya Ita bercerita pada Yasmin karna keinginannya sendiri, kalau Ita memabg ridak ingin bercerita, Yasmin juga tidaka akn memaksa.
Yasmin juga tidak ingin menanyakan sesuatu tentang Rehan kepada ita, karna itu hanya mengganggu Ita.
Yasmin tau betul sifat Rehan, diasaat ada masalah yabg mengganggu dirinya, ia tidak akan jauh-jauh dari tempat yang tenang dan sepi,jadi Yasmin tidak begitu khawatir, lafpula putranya bukan lagi anak remaja yang labil.
Ita merasa canggung saat Yasmin terus menatapnya, meskipun tatapan yasmin selalu dengan senyumnya yang menghangatkan, namun kali ini bagi Ita,ia takut kalau yasmin menyadari kalau Ita dan Reha sedang ada masalah.
"Euumm, yasudah ummi Ita berangkat sekarang ya" ucap ita yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Ita mulai berdiri, namun urung karna Yasmin menahan tangan kanan Ita.
Ita tetap menunduk saat yasmin terus menatapnya, "Terbukalah satu sama lain, jangan ada yang ditutupi, dan jangan pernah malu mengucapkan maaf terlebih dahulu" uca Yasmin denga senyum mengembang.
Ucapan Yamsin mampu membuat badan Ita membeku, ternyata tanpa Ita beritahupin, Yasmin sudah bisa mengetahui kalau ia dan Rehan sedang ada masalah.
Yasmin memegang telapak tangan Ita,"jangan terlalu mengkhawatirkan Rehan, insyaAllah ia bisa menjaga dirinya sendiri, yang terpenting kamu jangan sampai lupa menjaga kesehatanmu ya nak" yamsin memberi sedikit nasehat kepada Ita.
Ita tersenyum, ia bisa menemukan sosok ibu yang selama Ita rindukan, "terimakasih ummi" ucap Ita yang langsung berhambur memeluk Yasmin.
🌹
Pagi ini ita berangkat sendiri tanpa Rehan, ita mulai masuk ke Rumah sakit bagian
neurosurgey tempatnya bekerja selama ini.
Baru saja masuk, Ita sudah disambut salwa
yang berpapasan dengan Ita, "pagi dokter Ita" sapa salwa.
"Pagi ns.salwa" jawab Ita segera.
Salwa menatap Ita seperti ada yang kuarang dari kedatangan Ita, "dokter Rehan mana?."
Ita tertohok mendengar pertanyaan Salwa, ia harus jawab apa,ngga mungkin Ita jawab tidak tahu, tapi lebih tidak mingkin lagi Ita berbohong dengan mengarang cerita.
"Eummm itu.." belum selesai Ita menjawab, bola mata salwa sudah berbinar dan menunjuk sesorang yang tengah berjalan dari belakang Ita,
"naah itu dokter Rehan, kalian memang pasangan paling sosweet, berangkat selalu barang" ucap salwa.
Ita segera berbalik arah menatap seorang yang sedang salwa tunjuk, blusssshhhh seperti ada angin segar, saat Ita akhirnya bisa melihat Rehan dan dia baik-baik saja, benar kata Yasmin, Rehan akan baik-baik saja.
"Pagi dokter Rehan" Salwa mengucap salam pagi kepada Rehan yang berusaja datang.
Rehan hanya mengangguk menimpali salam dari Salwa.
Ita juga ingin mengucapkannya, Ita tersenyum lebar melihat Rehan datang,baru saja Ita mau mengucap selamat pagi, tapi Rehan begitu saja melewati Ita,tanpa menatap Ita sekilaspun.
Dada ita kembali sakit, baru kali ini selama ita menjadi istri Rehan ia diacuhkan oleh Rehan, sepertinya ia masih belum bisa memaafkan Ita.
Malam ini Ita ada jadwal oprasi menjadi asisten Rehan di oprasi kali ini, disaat seperti ini, rasanya Ita ingin mundur saja menjadi asisten Rehan, jika biasanya Ita selalu bersemangat menjadi asistennya tapi kali ini tidak, Ita sama sekali tidak ingin dulu bersam Rehan.
Ita mengambil seragam oprasi di loker, ia harus sampai di ruang oprasi sebelum dikter Rehan datang.
Setelah siap dengan seragam oprasinya, ita segera ke ruang oprasi, ita hendak mencuci tangannya agar saat dokter Rehan datang, ia sudah siap semuanya.
Baru saja ia ingin lebih dulu dari Rehan, tapi Rehan sudah lebih dulu datang, kini ia sedang mencuci tangannya, dengan ragu Ita mulai melangkahkan kakinya ke tempat cuci tangan.
Ita kini berdiri di sebelah Rehan yang juga sedang mencuci tangan, mereka berdua sama-sama berpura-pura tak saling kenal, Rehan mengacuhkan Ita yang berada di sebelahnya tanpa menegur atau mengucapkan sepatah katapun, Ita juga tak ingin menegur Rehan kalau memang ia masih marah debgan Ita.
Rehan berlalu begitu saja meninggalkan ita, Rehan masuk terlebih dahulu ke Ruang oprasi.