You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
26



Pilihlah laki-laki yang baik agamanya. Bila marah tidak akan menghina, bila cinta akan memuliakan


( Imam Hasan A-Basri)


🌹


Ita mulai melepas pelukan Rehan, Ita menghapus air matanya, membersihkan ingusnya yang tidak bisa ia tahan untuk tidak keluar.


Rehan hanya tertawa kecil melihatnya.


Ita menangkupkan kedua tangannya ke wajah Rehan,


"Kakak lihat Ita baik-baik" printah Ita.


Rehan hanya mengikuti titah Ita,ia menatap Ita dengan tatapan penuh tanya saat Ita menatapnya juga dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.


Ita menatap Rehan tanpa berbicara sepatah katapun,


"jangan disini" ucap Rehan grogi sampai badannya ikut tegang melihat tatapan tajam ita, Rehan bahkan sampai menahan ludahnya. Rehan tidak siap kalau ada adegan kissing tengah malam di taman Rumah sakit.


"Ita kelihatan buluk ya," Rehan langsung bisa bernapas saat pertanyaan itu keluar dari mulut Ita, tubuhnya yang tegang kini bisa rileks kembali.


Rehan tertawa renyah menimpali pertanyaan konyol Ita. Melihat Rehan tertawa, Ita semakin memperkuat tangkupan tangannya di wajah Rehan,


"kakak Ita serius kak, dari tadi Ita belum mandi, ita juga tidak sempat memakai pelembab apalagi makeup buat nutupin mata panda Ita, dan sekarang Ita nangis pasti mata Ita sembab, jadi ini serius nanya" ucap Ita dengan tampang super seriusnya.


Rehan tidak nisa menahan senyumnya, "sudah cantik kok."


"Sungguh?" Tanya Ita membulatkan kedua matanya.


Rehan mengangguk pasti.


Ita melepaskan tangkupan tangannya, "kenapa bisa?" Ita mengusap wajahnya heran, bagaimana bisa Rehan bilang ia masih cantik sedangkan hari ini mandi saja belum.


"Cantik dari dalam ya?" Ucap Ita ngelantur.


"Iya cantik liar dalam" sahut Rehan dengan tertawa geli saat ita maaih saja mengusap-usap pipi mulusnya.


Rehan meraih tangan Ita yang sibuk mengusap pipi, kini tangan Ita sudah dalam genggaman Rehan.


"Sekarang putuskan apa keputusanmu" tanya Rehan. Kini pembicaraan mereka mulai serius.


Ita terdiam menatap bola mata Rehan dengan lekat.


"Tinggalkan dan berpura-pura tak ada yang terjadi, membiarkan orang jahat berkeliaran, atau melakukan apa yng seharusnya kita lakukan" tambah Rehan.


Ita menelan ludahnya, pertanyaan yang ita sendiri belum menyiapkn jawaban meski ia tau pertanyaan itu pasti akan ditanyakan oleh Rehan.


"Jawab kakak" Rehan membelai lembut tangan Ita yang berada di genggamannya.


Ita tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Rehan, "Melakukan apa yang kakak lakukan, itu pilihan Ita" itulah jawaban Ita.


"Kalau begitu, lakukan apa yang memang seharusnya dilakukan" lanjut Rehan.


Ita mengangguk pasti mengiyakan ucapan Rehan.


"Maafkan kakak yang terlalu egois, yang terkeaan tidak memikirkan persaanmu, kakak pergi begitu saja saat mendengar hal itu, seharusnya kakak ada di sisimu,"


Rehan membelai pipi Ita, "saat itu, kamu juga pasti hancur mendengar kenyataan itu, harusnya kakak ada dalam kondisi terburuk kamu, tapi yang kakak lakukan justru memintingkan perasaan kecewa kakak,"


"Kakak minta maaf akan hal itu" ucap Rehan dengan nada menyesal.


Ita menggapai tangan Rehan yang ia letakkan di pipinya, "harusnya hari itu, ita memberitahukan kakak akan hal ini, bukannya menyembunyikan penjahat, harusnya Ita jujur saja,"


"Tapi asal kakak tau, Ita menyembunyikan ini karna Ita ingat baiknya ayah yang bersedia merawat Ita saat ita sudah kehilangan kedua orang tua ita, jadi Ita berusaha menyembunyikan ini dari Kakak" Ita menundukkan keoalanya menyesal.


"Ita minta maaf."


"Yasudah ya, kita lupakan beberapa hari ini, kita mulai sesuatu yang baru, jadi detektif dadakan yang profesional, apa Ita siap?" Ujar Rehan antusias sembari menawarkan tos lima jari pada Ita.


Ita menerima tos Itu,


"sangat siap" jawab Ita dengan senyum mengembang.


Rehan menatap jam tangan yang melingkah di lengannya, waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, "tidur ya, jangan sampai sakit" titah Rehan. Ita yang memang sedari tadi ingin tidur,tapi karna terlalu banyak fikiran sampai membuatnya tidak bisa tidur, akhirnya menuruti perintah Rehan.


Rehan dan Ita berjalan menuju doctors dormitory .


Baru juga sampai di dormitory, suara bising Hammam sudah menyambut keduanya,


"haduuhh apa-apaan ini, pasdokep mau tidur disini" ucap hammam menatap Ita dan rehan.


Rehan mengambil segulung kertas yang tidak terpakai dan melemparkan ke kepala Hammam,


"Aaw" pekik hammam kesakitan.


"Lebay lu" sindir Rehan yang tak memperdulikan hammam dan masih sibuk menuntun Ita samoai di shofa.


"Ngga apa-apa tidur di sini? Atau kakak antar pulang saja?" Tanya Rehan dengan penuh perhatian.


"Pulang aja taaa, daripada disini bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta" sahut Hammam.


Seketika Rehan menatap Hammam dengan tatapan mematikan yang membuat Hammam merasakan kengeriannya.


"Ita disini ngga apa-apa" ujar Ita merasa baik-baik.


"Yasudah istirahat ya" Rehan membaringkan tubuh Ita dan memberikan selimut kepadanya.


"Hmmmm... jadi gini rasanya jadi obat nyamuk" oceh hammam lagi sembari menepuk tangan seakan sedang menangkap nyamuk.


Rehan geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya ini,rehanpun menghampiri Hammam.


"Jangan berani-berani lo curi-curi pandang sama Ita" Tegas Rehan dengan tatapan mematikannya Itu.


Hammam sampai bergidik ngeri mendengar peringatan Rehan.


"Iya udah, gue juga mau keluar, mau cari jodoh sapa tau ada yang nyantol" Balas Hammam kesal.


"Resleting kali nyantol" ejek Rehan saat Hammam mulai keluar dari dormitory.


🌹


Pagi ini Ita dan Rehan bisa bernapas lega saat keluar dari Rumah Sakit, aroma khas obat memang memberikan efek tersendiri bagi mereka berdua.


Suara gesekan brankar, sirine ambulance, teriakan pasien, akhirnya lenyap saat mereka keluar.


Pagi ini, rehan dan Ita pulang bersamaan, ini waktunya mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


"Bawa mobil sendiri?" Tanya Rehan.


Ita menimpali dengan anggukan pasti.


Mobil BMW Rehan dan Minicooper milik Ita, keluar dari rumah sakit bersamaan, Rehan mengawal Ita dari belakang. Mereka sudah merencanakan sesuatu pagi ini.


Rehan dan Ita berniat akan membicarakan masalah ini baik-baik dengan ayahnya, sepertinya akan lebih baik jika ayahnya mau menyerahkan diri ke polisi daropada harus tertangkap basah oleh polisi.


Kedengarannya ini mungkin tidak masuk akal, tapi membicarakannya adalah cara yang terbaik, setidaknya hukuman Pras akan lebih ringan.


Ting tong...


Ita membunyikan bel yang terpasang di sisi pintu,tidak biasanya Ita mengetuk pintu saat akan masuk ke Rumahnya sendiri, ketiga kakinya ita membunyikan bel, akhirnya mbok jah membukakan pintunya.


Ita tersenyum senang melihat mbok jah,tanpa aba-aba ita langsung memeluk tubuh mbok jah, sudah lama ia tak bertemu mbok jah.


"Non Ita sehat?" Tanya mbok jah.


"Alhamdulillah" jawab Ita.


"Jadi ita aja yang disapa" sindir Rehan yang merasa terabaikan.


"Ahhh iya, pak dokter sehat?" Tanya mbok jah kepada Rehan.


Belum semoat Rehan menjawab, Ita sudah menarik mbok jah masuk ke dalam rumah, "aah udah mbok, dia baik-baik aja kok" ucap Ita.


"Tuan ada mbok?" Tanya Ita yang kinintelah terduduk di shofa ruang tamu.


"Ada non, mbok panggilkan?."


Beberapa menit kemudian setelah mbok jah memanggil pras,akhirnya ia keluar dari kamarnya.


"Ada apa kalian kemari?" Tanya pras dengan nada sinis melihat Ita dan Rehan. Suara sinis seperti ini tidak pernah Ita dengar sebelumnya.


"Sebuah kejahatan akan ada ganjarannya sendiri, seorang bisa tergiur melakukan kejahatan saat hawa nafsu menyelimutinya" ucap Rehan sebagai awal membuka pembicaraan mengenai tindak kriminal Pras.


"Apa maksutmu!" Sahut pras pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Rehan.


Rehan tertanya renyah mendengar respon dari laki-laki didepannya ini.


"Jadi sepertinya saya harus langsung ke poinnya saja,"


"Anda lebih baik menyerahkan diri kepolisi secara sukarela sekarang, setidaknya itubakan meringankan hukuman anda" rehan berbicara langsung to the point.


Jlebb... apa maksut bocah ini? Apa Ita sudahbmemberitahu tentang pembunuhan Yusuf?


Pras tertawa tak tau malu, ia masih pada acting berpura-pura tak tau,


"hah, memangnya kenapa saya harus melaporkan diri saya kepolisi?" ujar Pras yang sedari tadi masih berdiri.


Rehanpun ikut tertawa kesal dengan sikap bedebah satu ini, Rehan berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau begitu, jelaskan kronologi saat anda menyuruh anak buah anda meracuni abi saya" Ucap rehan dengan merapatkan giginya pertanda ia sedang geram dengan bedebah ini.


"Hahah omong kosong apa ini! Yusuf sudah mati, tidak ada bukti kalau dia diracuni, jadi anda tidak bisa melaporkan saya" Balas Pras dengan percaya dirinya. Tanpa ia sadari, apa yabg baru saja ia katakan justru sudah bisa memastikan kalu ia pelakunya.


"Ya, saya tidak bisa melaporkan anda karna tidak ada bukti kalau abi saya diracuni, tepat sekali" Rehan memberi tepuk tangan kepada Pras.


"Ucapan anda barusan semakin meyakinkan saya, semua puzzle kebusukan anda satu persatu sudah bisa saya susun,"


"Anda meracuni ayah saya, agar anda bisa mengambil alih hak yayasan, karna hal itulah yabg pertama kali anda lakukan saat ayah saya baru saja 7 hari meninggal. Dan yang kedua, anda ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari yayasan dengan menghaous kebijakan yang dari dahulu abi saya pertahankan, itulah motivasi anda melakukan kejahatan ini."


"Apa yang sedang kau katakan, aku sama sekali tidak mengerti dokter Rehan.Rehan sedari tadi sudah mengepalkan jari-jarinya, bersiap baku hantam dengan bedebah yang masih saja mengelak.


"Jangan bohong!!" Sentak Rehan karna tak bisa menhan emosinya, Ita segara bangkita dari duduknya dan memegang kedua pundak Rehan,berharap biaa menenangkan Rehan.


"Hahahah" tawa Pras semakin kencang, memang ga ada akhlak.


Pras mulai berjalan mendekat ke arah Rehan, "Ya! Kalau memang aku yang menyuruh anak buah untuk meracuni Yusuf, lalu mau apa kau" tantang pras dengan muka songongnya.


Rehan sudah bersiap memeloloskan tonjokkan ke laki-laki ini, tapi urung saat Ita menahannya,


"sabar kak, jangan terpancing emosi" ucap Ita menahan Rehan.


"Hah! Lagipula kalian tak ada bukti apapun,Yusuf juga tak melakukan autopsi, jadi apa yang bisa membuktikan kalau yusuf diracuni??,"


"Pikir itu baik-baik jangan sampai membuatmu malah menjadi teraangka karna membuat tuduhan dan mencemarkan nama baik saya" Ucap Pras dengan nada belagunya.


"Dan kau Ita," Pras memberi tepuk tangan Ita.


"Sejak kapan kau berani melakukan ini pada Ayah ha?" Pras mengankan dagu Ita.


"Jangan kau berani menyentuh Ita" Rehan menepis tangan Pras dan memberinya peringatan.


"Ya! Sejak kapan aku tidak boleh menyentuh putriku ini" Pras menoel dagu Ita.


Ita sedaribtadi diam menahan emosinya yang ingin meledak juga kali ini,ita mencoba mengatur napasnya. Mencoba tak teroancing emosi dengan diam.


"Kenapa anak ayah justru menghianati ayah" Pras hendak mengentuh pipi Ita,namun segera Ita menahan tangan pras yang ingin menyentuh pipinya. Ita sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Aku" Ita menatap lekat bola mata Pras, "bukan anak seorang pembunuh" lanjut Ita.


Pras kembali tertawa bak orang yang tidak waras,


"bagaimana kau bisa setega ini pada Ayah?."


air mata mulai menumpuk di bola mata Ita sampai membuat pandangan Ita kabur, "dan bagaimna bisa ayah tega merencanakan kecelakaan untuk ibuu!!!"teriak Ita emosi, tangisnya pecah.


Ita memang lemah dalam hal perasaan.


Pras mengernyitkan dahi, ia kaget mendengar Ucapan Ita,bagaimana Ita tau tentang kecelakaan Itu.


"Apa maksutmu sayang?" Tanya bedebah tak tau malu.


"Hiks.. hikss.. hiks.". Ita mulai menghentikan isakannya "suruhan ayah sendiri yang memberitahu Ita, kenapa kau setega ini!!" Ita mulai naik pitam.


"Hah! Jadi dia memberituhumu, kalau begitu apa yang bisa ayah perbuat sayang?" Pras sama sekali tidak merasa berslah akan kelakuanya.


"ayah sama sekali tidak bisa masuk penjara karna meracuni Yusuf, karna itu sama sekali tidak ada buktinya, dan Ayah juga tidak bisa masuk penjara karna kecelakaan itu, karna kasus itu sudah ditutup dengan putusan kecelakaan tunggal, jadi apa salah ayah??? Hahahhaha."


keparat!!! Ingin sekali Rehan memukul kepala bedebah satu ini.


"Kau tau ita, ayah sekarang berada di puncak ayah menikmati apa yang ayah inginkan, tentu akan sangat rugi kalau ayah sudah susah payah membunuh orang tua kalian taoi ayah tak bisa menikmati apapun, ini sudah ayah persiapkan dengan matang."


Ita mengusap wajahnya denga kasar.


"Setelah ibu mau mewariskan harta ini ke anda, kenapa anda tega melakukan ini!!!"sentak ita dengan isakannya.


"Karna ibumu takkan mewariskan semua ini kalau dia tidak mati!!"Sentak Pras dengan menekan di akhir kalimatnya.


Ita semakin tak mengerti jalan pikiran pras yang sudah dibutakan oleh harta.


"Dan kau Ita, kau seharusnya bertemakasih padaku, karna aku sudah sudi merawatmu."


"Kalau begitu kau tidak perlu merawatku, lagipula jika aku tau anda yang membunuh ibu, aku pun tak sudi kau rawat" ucap Ita merapatkan giginya.


"Ya! Kau harusnya mati bersama Ibumu, target kecelakaan itu bukan hanya ibumu, tapi juga kau!" Pras menunjuk tepat ke arah Ita.


"Tapi kau beruntung bisa hidup sampai sekarang karna belas kasihanku."


hah? Ternyata benar, keputusan ita menyembunyikan penjahat seperti ini memang salah besar, ayahbyang ia kira tulis membesarkannya, ternyata ia juga ingin dirinya mati bersama ibu kala itu.


Ita mulai angkat bicara, "karna mungkin, tujuan saya masih bersidiri disini adalah untuk menguak kebusukan anda" ita menunjuk tepat dada Pras.


"Sudahlah, tak usah banyak bicara, lakukan saja apa yang bisa kalian lakukan sebelum kalian kembali kepada-Nya" ancam Pras diakhiri senyuman licik, ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Ita dan Rehan.