You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
45



Seorang yang paling tinggi kedudukannya, seseorang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan manusia yang paling banyak keutamaannya, seseorang yang tidak pernah melihat keutamaannya."


Imam Asy-Syafi'i


🌹


"Dokter??" Panggil kiki kecewa saat Ita bukannya menanyakan kondisi pasien tapi justru menanyakan apa ada dokter lain, ini bukan seperti dokter Ita yang kiki kenal, yang selalu siap sedia, dimanapun dan kapanpun.


Ita barusaja sadar saat mendengar kiki memanggilnya dengan nada kecewa, ia sadar telah mrlakukan kesalahan, "huuuuuhhh.." ita menghembusakan napas panjang.


"Maafkan saya, jadi bagaimana keadaan pasien??" Ita mulai bersikap profesional yang memang seharusnya seperti itu.


"Aku kesana secepat mungkin" Ita memutuskan untuk datang ke Rumah sakit saat mendengar penjelasan dari kiki.


"Pergi sekarang??" Tanya Rehan.


Ita menatap Rehan dengan tatapan penuh penyesalan, namun tak ada yang bisa Ita lakukan, datang ke Rumah Sakit adalah keputusan yang sngat tepat.


"Huuuhhh... Maafkan Ita tapi.."


"Kakak tau" Rehan mengangguk sembari tersenyum, namun bukan senyum seperti biasanya, itu adalah senyum yang sedikit ia paksakan.


Rehan menyerahkan kunci mobil ke Ita, "kau harus sampai ke Rumah Sakit secepatnya."


"Lalu bagaimana denganmu??" Tanya Ita yang hendak mengembalikan kunci mobil yang Rehan serahkan.


Rehan kembali tersenyum, "kakak masih harus menyelesaikan film ini" ujar Rehan bersikap santai, meskipun hatinya sakit dirundung kecewa.


Ita tak bisa berlama-lama berdebat hanya karna maslah kunci mobil, tanpa membalas ucapan Rehan, ataupun bertanya bagaimna bisa Reha menonton film sendirian. Ita harus segera pergi, "Ita pergi dulu assalamualaikum" ucap Ita yang kemudian pergi meinggalkan Rehan.


Ita bahkan tidak sempat mendengarkan jawaban salam dari Rehan, ia harus segera pergi.


"Wa'alaikumsalam" ucap Rehan lirih saat Ita sudah keluar dari bioskop, pandangan Rehan kosong mentap ke depan, sampai kapan harus seperti ini?? Bahkan mereka tidak bisa mendapatkan waktu bersama hanya sehari saja.


Rehan bahkan sudah berpesan pada hammam untuk tidak melakukan panggilan darurat apapun, agar ia bisa bersama dengan Ita, tapi ternyata Ita yang lebih sibuk darinya sampai meninggalkannya sendiri di bioskop.


Apa dia pikir Rehan bisa menonton film ini sendirian tanpa Ita?? "Astaghfirullah" Rehan mengusap kasar wajahnya. Iapun ikut keluar dari bioskop, tak ada yang bisa Rehan lakukan di bioskop ini, jadi Rehan memutuskan untuk pergi dengan perasaan kecewa.


Rehan memilih untuk pulang ke Rumah umminya untuk memberitahukan kehamilan Ita.Rehan berdiri di tepi jalan, ia memutuskan naik taxi untuk ke rumah umminya.


***


Setelah Ita memarkirkan mobil, Ita segera masuk ke bagian neurosurgery, dan benar saja, ia sudah ditunggu Rangga di bagian gerbang masuk ke bagian neurosurgery.


"dokter Ita" panggil Rangga.


Tanpa memperhatikan Rangga, Ita berjalan menuju ke ruang CT scan, dan segera Rangga mengikuti Ita berjalan sembari menjelaskan ulang, karan ia rasa penjelasan di telpon tidaklah lengkap.


"Pasien remaja usia 18 tahun yang jatuh dari tangga dan datang ke runag gawat darurat, hasil CT menunjukkan terjadi retak di pucuk tengkoraknya," Rangga menjelaskan sembari berjalan menyamai langkah Ita yang begitu cepat.


"Tampaknya dia mengalami kerusakan superior sagittal sinus, refleks pupilnya normal" tambahnya.


Rangga menunjukkan hasil CT yang ada di monitor saat mereka berdua telah sampai di ruang CT, Ita memperhatikan betuk hasil CT tersebut.


"Liver mengalami rusak parah dokter," jelas Rangga.


Ita masih megamati gambar CT, seperti yang Rangga katakan, pasien mengalami kerusakan pada liver, "apa dia jatuh dari tangga rumah??" Mulut Ita main bicara tentang apa yang ia pikirkan. Mata ita masih fokus menatap ke arah monitor.


"Gimana?" Tanya Rangga memastikan pertanyaan yang ia dengar.


"Ah tidak, tidak penting" tepis Ita sembari tersenyum malu karna menanyakan hal yang tak penting.


"Pasien dibawa ambulance dari sekolahan, seperyinya ia terjatuh dari tangga sekolah" jelas Rangga.


"Ahh.. kamu mendengarnya tapi pura-pura tak dengar" ucap Ita sedikit kesal.


Rangga lagi-lagi tersenyun karna Ita, namun ia harus pandai menyembunyikan senyumnya, karna Ita pasti akan snagat tidak suka kalau Rangga merasa ini obrolan yang santai, Ita akan senang kalau Rangga menganggap ini sebagai obrolan ynag formal. sepertinya Ita memang dokter yang santai namun akan berubah jadi sangat formal saat bersama laki-laki yang mencintainya namun bukan mahramnya.


"kita harus memanggil dokter bagian bedah umum" titah Ita.


"Baik dokter." Rangga segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter bagian bedah umum, sembari berbicara ditelpin, Rangga terus mengikuti Ita yang mulai berjalan lagi. Kali ini langkah cepatnya menuju ke ruang gawat darurat di mana pasien berada di sana.


"Siapa nama pasien tadi?" Tanya Ita padahal Rangga sedang menelpon, namun Rangga tidak bisa mengabaikan pertanyaan dari Ita, karna dia jarang-jarang bertanya pada Rangga.


"Alena dokter" jawab Rangga, ia kemudian melanjutkan bicaranya sembari terus berjalan mengikuti Ita.


Sampai di ruang Unit gawat darurat, Ita segera memeriksa sendiri keadaan Aleena.


"Nona Aleena?? Apa kau mendengarku??" Panggim Ita sembari menepuk-nepuk pasien. Dan tidak ada respon dari pasien.


Ita kenudian memeriksa pupil pasien dengan senter kecil yang biasa dokter gunakan. Ita memeriksa kedua mata pasien, dilanjutkan Ita menekan jari jemari pasien, namun tetap tidak ada respon.


"Apa kita panggil profesor Rehan??" Tanya Rangga saat sudah menyelesaikan telponnya.


"Jangan! Eumm maksudku kita panggil profesor Hammam saja, bukankah hari dia ada piket??." Tentu hukan alasan Ita menolak Rangga memanggil Rehan, itu karna Ita tidak ingin mengganggu akhir pekan Rehan, karna Ita tau bagaimana rasanya. Apalagi kalau ingat wajah kecewa Rehan saat ia meninghalkannya sendiri dibioskop, Astaghfirullah... Ita sudah membuat Rehan kecewa sekali kepadanya.


"Oh iya, dan siapkan ruang operasi."


"Oke dokter." Rangga segera keluar untuk menyiapkan ruang operasi, juga memberitahu dokter Hammam.


Sejurus dengan perginya Rannga, Airinpun datang masuk, "tata, kok disini? Bukannya ini jadwalmu libur??" Tanya Airin yang terkejut melihat Ita.


"Pasien mengalami perdarahan parah di liver, jadi bagian bedah umum mungkin bperlu melakukan operasi, kita perlu menentukan siapa yang akan operasi terlebih dahulu" ujar Ita tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


"Ah kau ini!! Selalu saja formal sekali saat didepan pasien" Sahut Airin.


"Bagaimana dengan tanda vitalnya?" Tanya Airin yang memang merupakan dokter bedah umum.


"Tekanan darah 130, nadi 95, ada kerusakan parah di liver jadi harus segera dioperasi" jawab Ita.


"Hari ini dokter bedah umum banyak yang bertugas, jadi aku yang akan memimpin operasi," sahut Airin.


"Sepertinya daerah pendarahan di superior sagittal sinus sangat kritis, kau harus melakukannya terlebih dahulu" saran Airin.


"Oke" sahut Ita dengan cepat.


"Tapi bagian livernya juga harus segera diselesaikan, jadi kau harus cepat" ucap Airin agar Ita melakukan operasi secepat mungkin, karna setelah itu, Airin yang akan mengoperasi bagian liver pasien.


"Oke, akan kami selesaikan 3 jam bagiama??" Sahut Ita.


"Bagus! 3 jam."


"SubhanaAllah, sahabat aku ini emabg bisa sekali diandalkan" peluk Airin kepada Ita.


Ita tersenyum saat Airin memeluk Ita, sudah lama Airin tidak memeluk Ita, mereka terlalu sibuk berdebat hal yang tak penting.


🌹


Ita sedang mempersiapka diri, kini ia sedang mencuci tangannya dengan antiseptik sebelum memuli operasi.


"Lah.. dokter Ita? Bukannya hari jadwal kamu libur?" Hammam sedikit terkejut melihat Ita yang akan menjadi asistennya kali ini.


Ita hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Hammam. "Aishh... Rehan pasti kesepian" gumam Hammam pelan.


"Gimana?" Tanya Ita memastikan saat suara Hamma terdengar samar.


"Ah nggak, nggak apa-apa."


"Pasien mengalami pendarahan liver juga?" Tanya Hammam.


"Iya dokter."


"Kalau begitu kita harus selesaikan dengan cepat operasi kali ini, kita harus konsentrasi lebih, livernya juga harus segera ditangani" titah Hammam yang akan memimpin operasi kali ini.


***


"Apa kau pernah melihat kasus seperti ini sebelumnya di rumah sakit lain??" Tanya hammam senbari fokus mengoperasi pasien.


"Tidak, belum pernah."


"Kau harus membuka tengkorak pasien dengan hati-hati, itu bisa terjadi perdarahan tiba-tiba."


Ita mengangguk mengerti.


"Kau harus melindungi daerah yang berdarah lanjut Hammam.


"Ya!."


"Surgical elevator" ucap Hammam, Itabsegera memberikan alat tersebut.


"Irigation."


"Oke."


Akhirnya operasi berjalan lancar dan sesuai target, bahkan kurang dari 3 jam operasi telah selesai. Tak perlu diragukab lagi, karna Angkasa hospital center ini punya dokter spesialis yang hebat-hebat.


"Siapa bedah umum yang akan bertanggung jawab?" Tanya hammam, mereka masih di dalam ruang operasi.


"Dokter Airin."


"Aah.. hubungi dia sekarang kalau kita telah selesai" titah Hamam.


"Siyap dokter."


***


(Rehan pov)


"Assalamualaikum ummi?" Sapa Rehan sembari menghrntikan taxi, untung saja ada taxi yang lewat, jadi Rehan tidak perlu menunggu lama, ia langsung masuk ke dalam taxi.


"Wa'alaikumussalam, iya han? Kenapa?" Tanya Yasmin.


"Ummi dirumah kah?."


"Iya di Rumah?? Kenapa? Mau mampir?" Tanya Yasmin.


"Kok mampir sih ummi, ya Rehan mau pulang lah ke Rumah Rehan, mau ketemu ummi Rehan karna rindu."


Terdennagr suara yasmin terkekeh geli mendengar ucapan putra sematawayangnya, Rehan dapat mendengar tipis suara tawa umminya, itu sudah cukup mengjibur diri Rehan, kini ia ikut tersenyum mendengar tawa umminya.


"Yasudah, ummi tunggu ya."


"Oke ummi."


Rehan kemudian mematikan sambungan telpon saat mengakhiri telpon dengan ucapan salam.


Tak lama kemudian, sekitar 15 menit perjalanan, taksi Rehan sudah sampai di rumah umminya, baru juga masuk ke gerbang, Rehan sudah melihat sosok umminya yang sudah menunggu di depan pintu depan rumah.


"Assalamualaikum ummi." Rehan langsung memeluk tubuhbumminya, ada kerinduan yang Rehan luapkan saaplt memeluk Yasmin.


"Ummi nunggu Rehan ya?" Goda Rehan saat memeluk Yasmin.


"Siapa juga yang nunggu kami, orang ummi lagi nunggu tukang tahu lewat." Bals Yasmin masih dalam pelukannya.


"Yasudah masuk yuk, ummi sudah siapkan makanan buat kamu." Yasmin merangkul tibuh ginggi Rehan untuk masuk ke dalam Rumah.


Rehan menahan senyumnya saat yasmin ikut masuk, tadi katanya nunggu tukang tahu, ngga nunggu Rehan, tapi ini Rehan datangbkok langsung ikut masuk juga.


"Ummi?."


"Ya??."


"Ummi ngga jadi beli tahu??" Goda Rehan menahan tawanya.


"Aaaaisshhhh kamu ini" Yasmin memukul punggung bidang anaknya. Sikapnya masih sama saja bikin orang grogi kelabakan.


"Yaah ummi sakit" gerutu Rehan.


"Oh iya, putri kesayangan umki mana?? Kok ngga ikut? Bukannya ini akhir pekan??" Yasmin mendudukkan Rehan di ruang makan.


"Ah... Dia dapat panggilan darurat tadi, tapi sebentar lagi urusannya juga selesai kok ummi." Rehan berusaha menjaga nama Ita didepan Yasmin, Rehan tidak ingin membuat kesan kalau Ita adalah istri yang sibuk sampai tak ada waktu untuk Rehan, Rehan takningin Yasmin memandang Ita seperti itu.


Setelah menyiapkan seporsi makanan untuk Rehan, Yasmin juga ikut duduk di seberang Rehan,


"Ummi ngga berpikiran buruk terhadap Ita meskipun ummintau dia sibuk sekali, juga tidak ada waktu buat kalian berdua, ummi tetap sayang dengan Ita, namun alangkah baiknya kamu membritahu ita, membujuknya pelan-pelan" tutur Yasmin lembut, memang benar ibu adalah sosok yang paling mengerti bahkan saat anaknya mencoba menutupinya.


"Iya ummi, sampai saat ini Rehan masih mencoba membujuknya."


Yasmin menimpali Rehan dengan senyum lebar nan menghangatkan, "nah habiskan, ummi makan yang banyak." Yasmin menambahkan lauk lagi di piring Rehan.


****


Ita keluar dari ruang operasi, menyusul hammam yang sudah keluar duluan, "kerja bagus dokter Ita" tegur Hammam saat melihat Ita keluar.


Ita tersenyum menimpali Hammam, "dokter yang memimpin operasi dengan sangat baik" puji Ita.


"Kamu segera pulang ya... Padahal Rehan sudah pesan untuk tidak memberinya panggilan darurat."


"Apa dokter?."


"Iya... Rehan ingin waktu bersama kamu, jadi dia melarang saya untuk menghibunginya saat ada kedaan darurat, karna dia ingin menghabiskna waktu bersama kamu, jadi akan levih baik kalau kamu pulang sekarang" tirah Hammam.


Ada rasa bersalah saat mengetahui fakta tersebut, seorang Rehan sampai meminta hammam untuk tidak menghubunginya kalau ada pasien darurat, agar bisa terus bersama Ita namun Ita malah meninggalkannya sendiri di bioskop.


"Aaishhhh.." ita frustasi saat mengungat hal itu kembali, "aku ini pasti sudah gila." Ita mndekap jidadnya. Ita harus segera pulang, ia benar-benar sudah mengecewakan Rehan.


***


3 jam berdiri di ruang operasi, membuat kaki Ita pegal bahkan perutnya juga terasa keram. Ita tak ingin lama-lama di rumah sakit, ia harus segera pulang.


"Dokter Ita??" Panggil seseorang dari belakang.


Ita membalikkan badannya, Rangga ternyata yang memanggilnya. "Iya?."


"Dokter akan pulang sekarang??"tanya Rangga.


"Iya."


"Aahhh." Rangga mengangguk mengerti saat Ita akan pulang, pqdahal Rangga ingin Ita ridak segera buru-buru pulang..


Merasa tak ada pertanyaan lagi dari Rangga yabg hanya mengangguk, Itapun memutuskan untuk segera pulang, "Saya pergi dulu" ucap ita pamit meninggalkan Rangga.


Seambil berjalan, Ita menelpon ke nomor Rehan, sepertinya menelpon sambil berjalan sudah seperri kebiasaan baru bagi Ita.


"Assalamualaikum kak?."


"Wa'alaikumussalam, sudah selesai?" Tanya Rehan.


"Sudah, kakak masih di bioskop?? Atau sudah puallang ke rumah?" Tanya Ita.


"Haah... Buat apa kakak menonton film itu?."


Ita menghentikan langkahnya, "kakak tidak mentonnya?."


"Yah! Tentu saja tidak" tegas Rehan, bagaimana bisa dia meninton film itu sendirian tanpa Ita, bahkan Rehan tidak akan bisa menikmati filmnya sedikitpun.