
Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do'a ketika itu.
HR.Muslim No. 482, dari Abu Hurairah
🌹
Pukul 9 malam, dikamar rehan sedang beres-beres baju juga semua barang yang ia butuhkan selama satu minggu kedepan.
Tok.. tok.. tok.. suara pintu rehan yang diketuk, seorang malaikat tak bersayap muncul dari balik pintu itu.
"Rehan perginya berapa lama?" Tanya umi.
Rehan menatap uminya lekat dan tersenyum lebar padanya.
"Satu minggu umi" jawab rehan dengan masih sibuk menata tas berisi pakaiannya.
Yasmin mulai berjalan mendekati Rehan, ia kini duduk di sebelah tas yang akan Rehan bawa,
"Rehan hati-hati disana ya,cepet pulang, umi ga bisa jauh-jauh dari rehan" ucap yasmin.
Rehan terdiam mendengar ucapan uminya, ia kemudian mendudukkan dirinya di sebelah malaikat tak bersayapnya itu. Memeluk lembut tubuh perempuan tersayangnya itu.
"Umi tenang aja,pas udah selesai, rehan pasti cepet pulang,dan orang yang pertama kali rehan peluk adalah umi saat rehan pulang" ucap rehan untuk menenangkan uminya.
Yasmin menangkupkan telapak tangannya ke wajah rehan. "Kamu jaga dirimu saja, tak perlu khawatirkan umi" ujar yasmin lembut.
Rehan menimpali ucapan uminya dengan anggukan pasti dan senyum yang mengembang, pelukan dari uminya inilah yang akan rehan rindukan selama seminggu kedepan.
"Abi mana umi?" Tanya rehan mengalihkan pembicaraan.
"Abi lagi ada tamu om pram" jawab uminya.
Rehan kembali terdiam, mereka pasti sedang membicarakan perjodohan rehan dan anak om pram.
"Han?" Panggil yasmin saat melihat putaranya mulai melamun, yasmin menyentuh lembut bagian wajah rehan.
Panggilan yasmin mampu memecah lamunan rehan "Ha? Iya umi?."
"Umi bukannya membela abi, tapi sebenarnya umi juga cocok dengan anak om pram, dan umi yakin, kamu juga lambat laun bisa mencintainya seiring dengan berjalannya waktu,"
"Dia baik,cantik, wanita itu ada disekitar kamu han, kamu saja yang belum menyadarinya" jelas yasmin dengan mengusap lembut kepala rehan.
🌹
Pagi harinya rehan berpamitan kepada orang tuanya, meminta restu pada kedua orang tuanya, dengan restu dan ridho mereka berdua, semoga Allah memudahkan setiap langkah rehan.
"Bi, umi mana?" Tanya rehan sembari menatap jam yang melingkar ditangannya, ia harus segera berangkat.
"Umimu lagi ambil bekal makan siang buat kamu" jawab yusuf.
"Han, jaga ita ya,"
ucapan abinya itu mampu membuat rehan terkejut, bagaimana bisa dokter yang menangani abinya selama 2 hari sudah bisa mengambil hati abinya sampai rehan disuruh menjaganya.
"Ha? Apa abi?" Tanya rehan memastikan.
"Jaga ita, dokter yang waktu itu ngrawat abi" jelas yusuf.
"Ita?- Ita mana nih bi? Ita Ita???"Rehan mengulang namnya memastikan.
"Iyya!" Jawab abinya.
Ternyata benar, rehan sedang tidak salah dengar, memang ita yang dimaksut. Tanpa membantah, rehan hanya mengagguk mengiyakan perintah abinya.
"Dan juga han, jaga umi dan bahagiakan umi selalu ya" ucap yusuf nyeleneh.
"Abi, kan rehan mau pergi gimana rehan bisa jaga dan bahagiain umi."
Yusuf menyentuh pundak Rehan "Kamu laki-laki yang abi andalkan sekarang, jadilah dewasa, abi cuma ingin berpesan seperti itu" ucapan yusuf benar-benar membuat rehan tak mengerti.
Sampai datanglah uminya membawa bekal makanan untuk rehan. "Ini han, jangan lupa dimakan, umi itu kasih banyak, supaya bisa dimakan rame-rame" ucap yasmin.
"Iya umi siap." Rehan kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan memeluknya, namun pelukan dari abinya kali ini berbeda, yusuf memeluk rehan dengan erat dan cukup lama, air mata yusufpun keluar tanpa sebab saat memeluk putranya itu.
"abi ngga apa-apa?" Tanya yasmin khwatir.
Yusuf segera mengusap air matanya. "Ah ngga papa, abi hanya berat melepas putra kesayangan abi."
"Bi, yusuf akan segera pulang kok bi,abi jangan khawatirkan rehan ya" ucap rehan memantapkan abinya kalau semua akan baik-baik saja.
🌹
Perjalan menuju desa venu sudah berjalan 6 jam, sekitar pukul 1 dini hari supir menghentikan kendaraan di rest area, untuk memberi waktu ke kamar kecil atau sekedar membeli jajan ataupun yang lainnya.
Rehan lebih memilih ke Mushola yang tersedia di rest area, ia sudah sepakat pada dirinya ia akan terus sholat istikharah sampi ia mendapat jawaban atas keraguannya.
Saat rehan sudah mengambil wudlu dan bergegas masuk ke mushola,ia melihat seorang perempuan tengah bersiap memakai mukenah, entah siapa dia. nampak dari belakang saja rehan melihat perawakan wanita itu, rasanya ada kebahagiaan tersendiri.
Dua insan yang sedang menghadap sang Rabb dalam larutnya malam, saat kebanyakan orang lebih memilih tertidur pulas, dua insan ini lebih suka merayu sang Rabb saat tengah malam.
Dua insan ini lebih suka meminta pada sang Rabb saat yang lain tidak sedang meminta. Berharap rahmat dan kasih sayang Allah.
Sujud mereka berlangsung lama, rehan yang meminta agar diberi kemantapan oleh Allah. Dan ita yang masih istiqomah menyebut nama laki-laki yang kini juga tengah bersujud pada-Nya.
Mereka tak saling mengungkapkan,tapi mereka saling mendoakan satu samalain.
Berharap akan ada kisah indah diantara mereka, di ketidaktahuan mereka akan rencana Allah yang begitu indah nantinya.
🌹
Jam 12 siang, semua sudah siap, peralatan medis mereka juga sudah tertata rapi. Tak lama kemudian, banyak warga berdatangan mengeluh sakit, dengan sigap, para petugas medis segera memberi pertolongan.
Tentu, hal seperti inilah yang sangat menyejukkan hati, saat bisa menolong sesama. Ada kepuasaan batin tersendiri.
Kegiatan mereka berlangsung normal selama tiga hari ini, sampai dihari ke empat, tanpa mereka duga, gempa terjadi secara tiba-tiba, sontak semua berhamburan tak tau arah.
Rehan sebagai ketua tim medis disana meminta semuanya untuk tenang dan segera pergi ke tanah lapang.
Disituasi yang sangat kacau penuh dengan riuh orang-orang yang berhamburan, Rehan teringat pesan abinya untuk menjaga Ita.
Rehan menghentikan niatnya saat ia mau ke tanah lapang tanpa memastikan keadaan ita, ditengah orang-orang yang berlarian menuju tanah lapang, rehan nekat melawan arus orang-orang,ia harus mencari keberadaan ita.
Benar saja, Rehan mendapati ita tengah susah payah membopong seorang anak laki-laki yang sempat terkena reruntuhan bangunan, ia berhasil diselamatkan ita, dan kini ia membopong anak laki-laki itu dengan susah payah ditengah keadaan yang begitu riuh dan kacau, keberanian gadis itu masih sama, rehan dibuat terkesan lagi olehnya.
Dengan segera ia berlari membantu ita, tanpa banyak bicara rehan segera menggendong anak laki-laki itu di punggung rehan.
"Ta cepet kamu lari duluan" perintah tegas rehan pada ita.
"Hah?? Mana bisa aku ninggalin dokter" bantah ita dengan suara keras agar didengar rehan, karna situasi saat itu benar-benar kacau dan tak kondusif.
"Lari ta!."
"Nggak!."
"Ita lari sekarang!."
"Nggak akan."
"Ita!." Sentakan rehan mampu membuat hati ita sakit, tidak pernah ia dibentak oleh seorang laki-laki, dan kini, laki-laki yang ia cintai justru membentaknya dengan keras.
"Saya akan bersama dokter" ucap ita lirih sembari menahan air mata yang ingin sekali jatuh dari pelupuk matanya.
Tak ingin membuang waktu untuk berdebat dengan gadis keras kepala itu, rehan segera berlari sembari menggendong anak laki-laki 15 tahunan itu.
dan ita yang mengikuti larinya rehan dengan terus memegang baju anak laki-laki tersebut.
Dengan sekuat tenaga mereka berlari ditengah gempa yang memporak-porandakan desa venu.
Setelah semua berkumpul di tanah lapang, dan saat gempa sudah tidak tersa gempa lagi, para petugas militer penjaga perbatasan datang dan memberikan bantuan dan mendirikan tenda darurat.
Para warga dan para petugas medis akan disini sementara sampai keadaan kondusif, dan di rasa tidak akan ada gempa susulan.
Beruntung gempa kali ini tidak memakan korban jiwa, hanya memang banyak dari mereka yang terkena reruntuhan batuan ataupun terjatuh.
Para petugas medis segera mengobati mereka dengan alat seadanya yang berhasil mereka bawa.
"Kami akan selalu siap membantu warga dan para petugas medis disini, jika butuh bantuan segera datang ke markas kami di perbatasan" ucap seorang komando militer kepada rehan selaku ketua tim medis.
"Terimakasih atas bantuannya komandan."
"Ya!, senang bagi kami jika bisa membantu, kalau begitu kami pergi dulu" pamit komandan beserta yang lainnya karna harus segera kembali bertugas.
-
Sampai hari ke tujuh, keadaan belum kondusif, masih banyak warga yang membutuhkan bantuan.
malam harinya rehan mengumpulkan semua tenaga medis, ada yang akan rehan bahas.
"Karna situasi masih belum kondusif, jadi masa tim medis disini akan diperpanjang selama kurang lebih 3 hari, saya mohon bantuan dan keikhlasan kalian" ucap rehan dalam rapat timnya.
"Siap dok, kami dengan senang hati bersedia membantu warga disini sampai keadaannya benar-benar membaik" ucap salah satu dari mereka.
Setelah memimpin rapat, Rehan keluarga dari tenda, ia berniat akan melihat kondisi para warga yang terluka pasca gempa bumi, rehan berjalan dengan santai sembari menyapa satu persatu dari mereka, langkah rehan terhenti saat suara ita memanggilnya dari belakang, Rehan membalikkan tubuhnya.
"Ada telpon, sebenarnya tadi saya tidak mau tau, tapi kayaknya penting soalnya nelpon trus dari tadi" ucap ita sembari menyodorkan gawai milik rehan yang tadi sedang di charge.
Handphone rehan memang mati beberapa hari terakhir, karna kehabisan batrei. Dan setelah saluran listrik sudah diperbaiki baru rehan bisa mengCharge handphonenya.
Rehan mengambil handphonnya dan selang berapa detik, gawainya berdering kembali.
mata rehan berbinar saat nama Umi terpampang di layar hpnya. "Assalamualaikum, umi rehan kangen banget sama abi dan umi, maaf ya umi rehan ngga bisa ngabarin umi beberapa hari teralhir ini" crocos rehan.
Ita yang melihat rehan sedang antusias dengan telpon uminya, memetuskan untuk pergi dari hadapan rehan, namun langkah ita terhenti saat suara isakan terdengar di telinganya.
Ita membalikkan badannya, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat, dokter Rehan menangis saat telah menutup telpon dari uminya.
ita langsung menghampiri rehan."Dokter, kenapa dok" tanya ita cemas.
"Saya harus pergi sekarang, dimana arah ke jalan raya!." Rehan nampak sedang sedih sekali, dan emosinya tak terkontrol.
"Dokter mau kemana?!."
"Dimana jalan rayanya! Dimana saya dapat kendaraan yang lewat!" Sentak rehan.
Ita benar-benar dibuat takut olehnya, bukan karna sentakannya, tapi karna sikapnya, seperti hal buruk telah terjadi pada keluarganya.
Karna tak kunjung dijawab ita, Rehan pergi dari hadapan ita, ia pergi mencari jalan raya untuk mendapatkan tumpangan,ia harus pergi sekarang.
Rehan berlari tak tentu arah ke rumah penduduk mencari penduduk yang punya kendaraan, tapi tentu saja penduduk disini tidak ada yang punya kendaraan.
Tak mau membuang waktu, Rehan segera berlari ke arah jalan raya, meski jalan raya dengan desa venu berjarak cukup jauh sekitar 15 KM,ia tetap nekat jalan lari tengah malam begini.
Ita diam tak bergeming menatap tingkah rehan dengan tatapan nanar. Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai bisa menghilangkan setengah kewarasan Rehan?.
Rehan seperti orang yang kehilangan kewarasannya saat memutuskan berjalan tebgah malam begini menuju jalan raya.