
Sebagaimana tuhanmu telah mencukupkan rezekimu di hari kemarin, maka jangan khawatirkan rezekimu untuk esok hari
~Imam Syafi'i
🌹
Ita menarik nafasnya panjang,nafasnya terdengar terengah engah,tak percaya apa yang barusan ia lakukan.
Kini ita tengah tersungkur di tepi jalan bersama wanita yang ia selamatkan, 30 detik yang lalu, ita baru saja menghentikan mobilnya diatara truk dan wanita yang akan bunuh diri.
setelah ia menghentikan mobilnya, ita dengan segera turun dari mobilnya dan mendorong wanita itu keluar dari jalan raya, hampir saja ita dan wanita itu tertabrak, hanya berselang 5 detik sebelum truk itu berhasil menabrak mobil ita.
Ita segera keluar dan menyelamatkan wanita itu
Ita masih belum bisa membuka mata, ita masih shock dengan apa yang barusan terjadi.
Sementara ita masih gemetar, ia kini mendengar suara isakan tangis, ita mulai membuka matanya, seorang wanita yang tadi ia selamatkan ternyata ibu adam.
"Dokter, kenapa menyelamatkan saya" ucapnya dengan suara tergugu.
Ita tidak habis pikir dengan ibu adam, kenapa ia melakukan ini, disaat anaknya tengah butuh dia.
"Buk,ibu ngapain nglakuin perbuatan tadi!!" Sentak ita dengan tangis dan emosi yang tidak bisa ia kontrol.
"Ibuk ngapain nglakuin hal tadii hiiiiii" tangis ita semakin menjadi jadi.
Ibu adam tak bisa berkata apa-apa.
"Ibuk sadar ngga apa yang tadi ibu lakuin?? Ibu mikirin adam ngga buk??" Emosi ita masih tidak bisa ia kontrol. Ita menghela napas panjang, mencoba merendahkan nada bicaranya dan mengontrol emosinya.
"Buk?! apa ibu ngga berfikir bagaimana perasaan adam saat keesokan harinya adam bangun dan mendengar kabar ibu?! apa ibuk ngga pikir itu ha?" Suara ita masih terdengar parau,ia bicara dengan terisak.
"Ibu lakuin ini demi anak ibu" jawabnya dengan tangis tergugu.
"Demi adam?? Apa ibu pikir ini yang terbaik buat adam? Apa adam akan bahagia saat tau ibunya mati bunuh diri!!?,"
"Buk, saya ini anak piatu, saya tau rasanya ditinggal seorang ibu, hidup saya seakan kosong, saya kehilangan setengah jiwa saya, saya kehilangan dunia saya,saya selalu merindukan ibu saya tapi saya tak bisa bertemu dengannya,tak bisa menatapnya, menyentuh wajahnya, apa pikir itu keadaan yang mudah bagi seorang anak, lalu apa ibu tega melihat adam merasakan hal seperti itu?! Ibu tegaa haa??!" Tangis ita yang semenit lalu sudah berhenti,akhirnya kembali pecah.
Ibu adam masih saja menangis terisak, ia mengankat kepalanya dan menegaskan "apa kamu pikir saya melakukan ini karna saya menyerah akan anak saya?? Saya melakukan ini demi anak saya, agar anak saya bisa mejyelesaikan pengobatannya" ucapnya dengan tangis terisak.
ita menelan ludah mendengar penjelasan ibu adam,ia tak bisa berkata-kata sekarang.
"ibu bisa bekerja di yayasan milik abi saya, ibu bisa meminjam uang sesuai yang ibu butuhkan" ucap seorang laki-laki yang entah sejak kapan ia datang.
"Dokter rehan" panggil ibu adam spontan melihat rehan.
"Ini bukan cara yang tepat bu, lalu setelah adam sembuh, apa yang akan membuat adam semangat menjalani hidup setelah ia kehilangan ibunya? Adam selama ini bertahan demi ibu, lalu apa ibu pernah membayangkan hancurnya adam saat ia tau ibunya meninggal bunuh diri demi pengobatannya, apa ibu pikir adam akan menerimanya?" Ucap rehan ingin menyadarkan ibu adam bahwa yang ia lakukan ini adalah salah.
Ibu adam kembali menangis,kini ia sadar yang ia lakukan ini salah, masih banyak cara untuk membayar pengobatan adam, dan bukan dengan cara seperti ini. Ini sama saja seperti berputus asa dalam rahmat Allah, tidak seharusnya ia meresahkan dalam hal rezeki anak, selagi ia bertakwa tentu Allah akan berikan rezeki dari tempat yang tak disangka, seperti kali ini, Allah berikan kemudahan lewat rehan.
Rehan membalas ucapan ibu adam dengan segores senyum dibibirnya. "sudah, sepertinya adam sedang merindukan ibu" ucap rehan bermaksud untuk mengantar ibu adam ke rumah sakit.
Baru mereka bertiga berdiri, dan Rehan yang sudah mulai berjalan dulu, tiba-tiba ita yang berada di sebelah ibu adam jatuh pingsan dan ditangkap oleh ibu adam. ibu adam shock melihat dokter ita yang pingsan tiba-tiba.
"Dokter!, dokter rehan" ibu adam cemas dan memanggil rehan yang sudah berjalan didepan.
Segera rehan menoleh dan kaget melihat ita pinsan, segera Ita dibawa ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit, ita segera dilarikan di UGD dan diperiksa oleh dokter perempuan.
Rehan menunggu dengan cemas di depan ruang UGD, mencemaskan wanita yang beberapa menit lalu mampu membuat rehan terpesona dengan keberaniannya.
Rehan melihat semua kejadian tadi, saat ita dengan beraninya memajukan mobilnya , lalu turun dari mobil menyelamatkan ibu adam dan membiarkan mobilnya tertabrak truk itu supaya truk yang kehilangan kendali bisa berhenti dan tidak menyebabkan korban lain.
Sungguh sikap wanita yang dulu membuat rehan geram karna kecerobohannya saat pertemuan pertama mereka, kini berhasil membuat rehan terpesona dengan keberaniannya.
"Gimana dok keadaannya?" Tanya rehan cemas saat dokter yang menangani ita keluar dari ruang UGD.
"Dokter ita dalam keadaan shock,itu yang membuatnya pingsan, ia hanya butuh istirahat sekarang" jelas dokter.
Syukurlah kalau ita baik-baik saja, sekarang bagaimana? Manamungkin ia meninggalkan ita sendirian di sini?.
Mau tidak mau setelah ita dipindah ke ruang inapnya. Rehan menemani ita di rumah sakit. Rehan tidur di shofa di ruang ita.
Setelah jamaah sholat shubuh, rehan kembali ke ruangan ita bermaksud mengambil jas dokternya dan ingin pulang sebentar.
Saat ia masuk, rehan mendapati ita sudah sadar.
"Ita? Sudah sadar? Gimana keadaanmu?" Tanya rehan khawatir.
"Saya panggilkan dokter ya." Rehan berniat memanggilkan dokter.
"dokter rehan disini dari tadi malam?" Ucapan ita mempu membekukan rehan, kini rehan benar-benar mati gaya dengan pertanyaan ita.
"Yang benar saja kamu ini, manamungkin saya nemenin kamu semalaman, hah."
"Trus? Ngapain dokter rehan kemari?" Tanya ita menyelidik.
Mati, rehan saat ini benar-benar mati kutu.
Kini ia harus beralasan apalagi?, rehan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan alasan. Dan rehan melihat jas dokternya yang tersampir di shofa,
"Ini, saya mau ambil jas yang ketinggalan semalam" ucap rehan kikuk.
"Semalam? Tuh kan, dokter rehan semalam ngapain hayoooo" ucap ita tak mampu menahan senyumnya, apalagi melihat wajah rehan kikuk rehan, ia benar-benar tak punya bakat berbohong. Kelihatan sekali rehan kalau ia sedang berbohong.
"Ah sudahlah, saya pulang dulu, jangan lupa harus istirahat, assalamualaikum" ucap rehan yang langsung ngacir pergi keluar dari ruangan ita.
"Wa'alaikumussalam dokter" jawab ita dengan kegirangan.
🌹
"Assalamualaikum, rehan pulang" salam rehan ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam sayang, kok semalam anak umi ngga ngabarin kalau nginap di rumah sakit" tanya uminya.
"Maaf ya umi, rehan semalam..." rehan menghentikan ucapannya.
"Semalam kenapa?" Tanya uminya menyelidik.
"Ngga umi, ngga papa, udah ya umi rehan mandi dulu" ucap rehan sebelum berlalu ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Yusuf dan yasmin sudah menunggu rehan untuk sarapan di meja makan. Rehan yang baru saja turun segera bergabung dan ikut sarapan bersama.
"Eumm abi" panggil rehan pada abinya.
"Iya?."
"Nanti ada ibu-ibu yang akan bekerja di pondok, abi harus menerima ibu itu dan abi harus pinjamkan uang padanya."
yusuf mengernyitkan dahi tak mengerti apa yang rehan katakan "Lah kenapa? Emangnya siapa ibu itu."
"Dia itu ibu pasien rehan, pasien rehan anak-anak namanya adam dan dia anak yatim abi, sekarang ibu adam tidak bisa melunasi biaya rumah sakit, kalau ia tidak bisa melunasi biaya rumah sakit, pengobatan adam akan diberhentikan" jelas rehan.
Rehan tersenyum mendengar niat baik putranya untuk menolong anak yatim. "Kamu ngga perlu khawatir, abi pasti bantu kok'" ucap yusuf sembari menepuk pundak putranya.
🌹
Jam 12 siang semua staf di rumah sakit, dikumpulkan di auditorium rumah sakit, sepertinya ada sesuatu yang akan dibahas. Rehan baru masuk ke auditorium, dan ia melihat ita yang sudah ada disana.
Lah bagaimana bisa dia sudah ada disini? Dia seharusnya beristirahat bukanya bekerja, dasar keras kepala ~ gumam rehan dalan hati, ia begitu kesal karna ita tak mendengarkan saran rehan untuk istirahat saja.
Saat ita melihat rehan datang, ita tak bisa menahan senyumnya, kejadian tadi pagi berulang kembali. Tapi rehan melihat ita seperti tak terjadi apa-apa, tidak! Rehan tak melihat ita sebentar saja, ia begitu saja berlalu dan mencari tempat duduknya.
Ketua rumah sakit sudah datang,ia menyampaikan bahwa rumah sakit akan mengirimkan dokter relawan untuk bertugas menolong deaa yang sedang terdampak bencana gempa bumi.
"misi kemanusiaan ini akan berlangsung kurang lebih seminggu, sesuai dengan sampai kapan warga didesa itu membutuhkan bantuan kita. Saya mempersilahkan 15 tenaga medis yang berswdia menjadi relawan di desa venu" ucap ketua rumah sakit.
Tanpa berpikir panjang, rehan unjuk atap, ia mengajikan diri sebagai dokter relawan disana.
"Saya siap ikut dalam misi kemanusiaan ini" ucap rehan.
Kemudian bersautan satu persatu dokter dan perawat mengajukan diri dalam misi kemanusiaan tersebut. Dan kini tersisa satu tempat lagi yang belum terisi.
Tidak ada yang mengajukan diri lagi, semenit menunggu, akhirnya ada yang mengajukan diri.
"Iya, dokter ita yang terakhir" ucap ketua rumah sakit.
Melihat ita mengajukan diri dalam tugas ini, rehan merasa keberatan dan memberikan sanggahan kepada kepala rumah sakit.
"Maaf dokter, tapi dokter ita baru saja keluar dari perawatan, jadi saya rasa dokter ita tidak sanggup dalam misi kemanusiaan ini." Ucapan rehan mampu membuat mata ita membulat sempurna,ita emosi mendengar ucapannya.
Apa? Dokter ita tak sanggup?hah?omong kosong macam apa itu? ~gerutu ita dalam hati.
"Jadi lebih baik dokter ita istirahat saja, dan memberinya cuti sampai dua hari kedepan" tambah rehan.
Dengan segera ita membantah. "Maaf pak, saya rasa saya sanggup dalam misi kemanusian tersebut, saya tidak dirawat kemarin, saya hanya istirahat ruang inap semalam saja, dan keadaan saya baik-baim saja,jadi saya pikir ucapan dokter rehan itu berlebihan saat menganggao saya tidak bisa menjalankan misi ini" bantah ita dengan pandangan tajam yang sekilas menatap rehan.
Hah? Dasar keras kepala?! Bagaimana bisa dia bilang tidak apa-apa sedangkan jelas-jelas semalam ia pingsan tiba-tiba, hah! ~gerutu rehan dalam hati.
"Sudah-sudah, saya putuskan, dokter ita ikut dalam misi kemanusiaan di desa venu" ucap kepala rumah sakit dan kemudian menutup acara pertemuan itu.