You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
38



Orang cerdas jika berbicara akan menyertakan hikmah da teladan. Orang dungu jika berbicara akan menyertakan sumpah.


- Ali bin Abi Thalib -


Hikam Ali bin Abi Thalib, 71


๐ŸŒน


"Mari dokter Rangga kita beritahu operasinya kepada keluarga pasien" ujar Ita yang kemudian mulai berjalan meninggalkan Rangga dan Rehan.


Rangga yang merasa diajak oleh Ita, kemudian mengikuti Ita yang mulai berjalan menjauh, namun pandangan Rangga masih melekat tajam kepada Rehan.


"Apa-apaan dia?" Gumam Rehan saat melihat debgan sombongnya ia berjalan dibelakang Ita, speerti ia sedang mengejek Rehan saja.


"Memangnya dia tau apa ha!? Dia bahkan tidak tahu siapa aku,"gumam Rehan jengkel melihat Rangga, Rehan bahkan menendang tong berisi jubah operasi atau barang yang tidak digunaksn lagi setelah operasi, Rehan menendangnya sampai terjatuh.


"Ah menyebalkan."


"Hah" Rehan baru sadar kalau ia baru saja menjatuhkan tong dan ia harus membereskannya kabali, akhirnya dengan kesal, Rehan menegakkan kembali tong itu dan memungut jubah operasi yang terjatuh, ia memasukkannya kembali ke tong dengan kesal.dimata Rehan, Rangga adalah bocah tengil.


***


Rangga mengikuti Ita dari belakang, mereka segera menemui ny.Arga yang sedang menunggu di Ruang tunggu. Baru saja ita keluar, ny.Arga dengan segera bangkit saat melihat Ita, ia langsung dengan paniknya menanyakan keadaan putranya.


"Bagaiman dokter?? Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya ny.Arga dengan panik.


Ita tersenyum lebar kepada Ny.Arga, "awalnya operasi tidak berjalan lancar," Ita mulai menjawab, beluk juga Ita selesai menjelaskan, tapi wajah ny.Arga sudah berubah sangat pucat m ndengar penjelaskan Ita.


"perdarahan saat operasi, di bagian.." Ita mulai menjelaskan, namun segera dipotong oleh Rangga.


"Operasinya berjalan lancar bu, jadi ibu tenang saja." potong Rangga sembari memegang pundak Ny.Arga, berbeda saat mendengar penjelasan Ita yang membuat ny.Arga semakin crmas, penjelasan singkat dati Rangga justru membuat ny.Arga bisa bernapas lega.


"Ibu jangan khawatir, pasien akan segera dipindah ke ruang ICU" lanjut Rangga, Ita menatap Rangga dengan pandangan yang tidak dapat dimengerti.


"Ahh.. alhamdulillah, syukurlah terimakasih dokter, terimakasih" ujarnya dengan penuh syukur dan lega.


"Dokter Ita yang memimpin operasi ini hingga semua berjalan lancar" ucap Rangga melirik ke Ita.


Mengerti dengan siapa ia harus berterimakasih, Ny.Arga langsung berterimakasih lagi kepada Ita, "terimakasih dokter, terimakasih banyak."


Ita menanggapi ramah istri pemilik Rumah Sakit itu, "sekarang ibu bisa istirahat, kami akan segera memindahkan pasien dan terus memantau keadaannya" jelas Ita mengelus pundak Ny.Arga.


Ny.Argapun menuruti saran dari Ita, ia pamit undur diri untuk beristirahat. Saat Ny.Arga sudah pergi jauh dari Ita dan Rangga, Ita langsung menampar punggung Rangga, sontak saja Rangga kaget dan mengaduh.


"Dokteeer" rengek Rangga.


"Hei, kenapa langsung memotong ucapaan?? Seharusnya dijelaskan dulu" ucap Ita kesal.


"Tapi dokter menjelaskan dari hal yang buruk, dan itu membuat ny.Arga semakin panik" jelas Arga menunduk.


"Hei, keluarga pasien berhak tahu apapun yang terjadi di ruang operasi" sahut Ita.


"Tapi dokter kan bisa memulai penjelasn dengan kata yang menenangkan, bukannya membuat tegang" sahut Rangga lagi.


"Hisshhh!! Anak ini" ita mendengus kesal dengan juniornya ini, kehadiran Rangga seperti membuat Ita mempunyai seorang adik yang bisa ia ajak debat hal yang tidak kecil.


"Maaf dokter" ucap Rangga, meskipun itu bukan permintaan maaf karna menyesal dengan apa yang ia sampaikan pada kelurga pasien, ia rasa ucapannya tadi tidak salah.


"Ahh iya-iya, simpan saja kata maaf formalitas itu" sindir Ita.


Ita melihat jam yang melingkar di pergelangannnya, waktu shubuh telah tiba, "Dokter Rangga, Kita sholat Shubuh sekarang y, mari" ajak Ita kepada Rangga.


"Sholat?" Tanya Rangga dengan pandangan bingung.


"Iya, kenapa? Libur?" Balas Ita dengan terkekeh.


"Libur?" Jawab Rangga tidak mengerti.


"Krik..krik.." Hah, Niat ingin melawak malah target lawaknya tidak mengerti, bikin Ita jadi mati kutu aja.


"Ah yasudahlah, ayo ke musholla sekarang" ajak Ita yang berjalan duluan.


Karna Ita ajak, Ranggapun mengikuti Ita dari belakang. Sembari Ita sholat shubuh, Rangga justru menunggu Ita sampai selesai sholat di tangga musholla.


Rangga hanya duduk di tangga mushola rumah sakit, sembari menatap tubuh Ita dari belakang yang tertutup rapat oleh mukena. Ya, sedari tadi Rangga memperhatikan Ita sholat.


Rangga hanyut dalam pandangannya, lalu Ita selesai sholat shubuh, Rangga berniat memanggilnya, namun urung saat Ita mengambil sebuah kitab suci ummat Islam.


Ita membaca Kalam Allah, ia membuka surah Thaha, Ita membaca ayat 1-14, di surah inilah yang mampu melemahkan hati sang singa gurun ( Umar bin Khattab ).


Hati Rangga berdesir saat mendengar Suara Ita melantunkan ayat suci alqur'an, Rangga hanyut dalam kekhusyukan Ita, sampai tanpa Rangga sadari, air mata tiba-tiba menetes dari pelupuk mata Rangga.


Selesai membaca Alqur'an, Ita kemudain keluar dari mushola, ia melihat Rangga yang sudah menunggunya di tangga mushola, dengan segera Ita menghampiri Rangga.


"Sudah nunggu dari tadi?? Kan dokter Rangga bisa keluar duluan, tidak usah menunghu saya" ucap Ita sembari memakai sepatunya.


Ia tidak menyadari kalau Rangga sedang tertunduk sembari menangis, merasa ucapannya tidak dijawab Rangga, Itapun menoleh kebelakang, Rangga yang duduk di anak tangga satu tingkat diatanya, sedang menutup wajahnya di atas lipatan kedua tangannya.


Ita dibuat bingung dengan Rangga, "kenapa dia?? Nangis?" Gumam Ita.


Akhirnya Ita memberanikan diri bertanya kepada Rangga, "Dokter Rangga kenapa?."


Hiks.. hiks.. hiks..


Tak ada jawaban, hanya ada isakan tangis Rangga.


"Ishh.. kenapa dia? Macam anak kecil aja" gumam Itayang semakin dibuat bingun dengan anak ini.


"Kenapa??" Tanya Ita lagi.


Akhirnya Rangga menganoat wajahnya, Ita melihat mata Rangga yang merah karna menangis, Rangga segera menghapus air matanya.


"Kenapa?? Apa yang membuat kamu menangis?."


"Itu dia dokter." Air mata kembali memenuhi mata Rangga.


"Ha?." Ita mengernyitkan dahi.


"Saya tidak tahu kenapa saya menangis" jelas Rangga menangis lagi, namun berusaha mengusap air matanya yang kembali menetes.


"Hahhahahha" ita tertawa mendengar jawaban Rangga, maenangis tapi tak tahu alasannya, itu lucu sekali bagi Ita.


"Kok ketawa" sahut Rangga melihat Ita tertawa saat dirinya sedang menangis.


"Ya yang bener aja, nangis ngga ada penyebabnya, memangnya kamu habis motong cabe?? Bawang?? Atau daun bawang??" Tanya Ita kembli terkekeh geli.


"Mungkin saya menangis karna mendengar dokter Ita membaca dengan sangat Indah" jawab Rangga polos.


Sontak Ita menghentikan tawanya, "membaca?" Ita mengernyitkan dahi, memangnya tadi ia membaca apa?? Ita berpikir keras.


"Oohh, mungkin kamu merasa tersentuh dengan ayat tadi," Ujar Ita seolah mengerti kenapa Rangga menangis.


Rangga menatap bingung ke arah Ita yang kini sedang m natap ke arah langit shubuh, "kamu tau cerita masuk islam sang khalifah Umar bin Khattab??" Tanya Ita, pandangannya masih melekat ke arah langit.


Rangga bahkan tidak tahu Umar bin Khattab itu siapa, jadi Rangga hanya diam tak menanggapi pertanyaan Ita.


"Ha?? Trus-trus gimana dong, kan tadi Umar benci sekali dengan Nabi Muhammad" potong Rangga penasaran. Ita terkekeh melihat antusiasme Rangga, Ita pikir semua orang sudah tahu kisah ini, ternyata masih ada juga yang belum tahu, Ita merasa seperti sedang mendongeng saja.


"Ya tentu saja mendengar kabar itu membuat sayyidina Umar bergejolak dan langsung memalingkan niatnya membunuh Nabi Muhammad lalu pergi ke Rumah Saudarinya yang masuk islam tersebut. Ketika tiba di Rumah saudarinya, Umar semakin murka saat mendengar saudarinya membacakan beberapa ayat Al-Quran. Diapun langsung masuk dan memukul saudarinya sampai berdarah,"


"Namun, tiba-tiba amarah Umar redup begitu saja saat mendengar lantunan surah Thaha yang dibacakan saudarinya, karna penasaran dengan surah itu, Umarpun membaca ayat alquran tersebut yang membuat Umar merenung dan membuat hatinya terguncang sampai ia memutuskan untuk masuk Islam. Sayyidina Umar adalah shahabat nabi yang paling pemberani dan satu-satunya sahabat Nabi Muhammad SAW yang melakukan hijrah secara terang-terangan. Sayyidina Umar memberi pengaruh besar terhadap penyebaran Islam pada masa itu."


"Wallahua'lam bishowab."


Mendengar cerita itu, mulut Rangga tak hentinya berucap "Uwaahhh" karna takjub.


Ita melirik ke arah Rangga, "subahanAllah, seharusnya ucapkan seperti itu" sindir Ita.


"Betapa Besar kuasa Allah dalam membolak-balikkan hati manusia," Ita menatap langit sembari mengembangkan senyumnya.


Sedang Ita menatap langit yang mulai menampakkan keindahan sinar oren saat matahari mulai terbit, Rangga justru diam-diam menatap keindahan yang lain, yaitu wanita yang duduk di anak tangga di bawahnya, senyumnya yang merekah mpu membuat Rangga tersihir.


Mungkin Ita menganggap dirinya hanyalah seorang junior atau mungkin adik, tapi todak pada Rangga, ia menyukai Ita saat pertama kali mereka dipertemukan di lobi Rumah Sakit, meskipun Rangga sadar, ada benteng besar yang menghalangi dirinya dan Ita.


"Ah sudahlah," Ita bangkit dari duduknya, "saya ke dormitory dulu" pamit Ita kepada Rangga.


Ita kemudian pergi meninggalkan rangga yang masih mematung di Musholla.


๐ŸŒน


"Dimana kak?" Tulis Ita kepada Rehan.


Rehan yang barusaja selesai mandi di dormitory, segera meraih ponselnya saat terdengar nada Chat masuk, ternyata itu dari separuh jiwanya eakk.


"Di dormitory, kamu?."


"Segera ke sana๐Ÿ˜‰" ketik Ita.


Dengan langkaah semangat, Itapun segera berjalan menuju doctor domitory tempat para dokter beristirahat, bisa dibilang itu seperti Asramanya para dokter.


"Kak" Ita melambai saat melihat sosok Rehan tampan.


Rehan mrmbalas lambaian Ita dengan senyum merekah. "Udah mandi?" Tanya Rehan saat Ita sudah berada di depannya.


"Belum."


"Mandi dulu gih, jangan sampai pasien ngeluh gagara bau asem kamu" ledek Rehan terkekeh geli sembari menyenggol pundak Ita.


"Yeee apaan sih, Ita nggak mandi beberapa hari juga masih wangi" ucap Ita dengan bangganya.


Rehan menjepit hidungnya dengan jari-jarinya, seperti sedang menahan bau menyengat, tapi Ita tak menciun bau apapun, "Ya Allah, ini bau siapa ya Asem banget, padti ada yang belum mandi nih" sindir Rehan.


Melihat Rehan seperti itu, membuat Ita mulai instropeksi, ia mulai menciumi ketiaknya, "apa Iya bau badanku" gumam Ita pelan.


Sontak Rehan tertawa ngakak melihat Ita yang gelagapan mulai tak percaya diri, "hahahhah, tadi aja pd banget" ujar Rehan ngakak.


"Hiih" ita memukul pundak bidang Rehan jengkel, "ga lucu!."


"Ngambek, makin jelek tauk" Rehan menoel dagu Ita, sperti sudah tau kelemahan Ita, Ita tidak akan bisa menahan senyum saat Rehan menoel dagunya sembari menggoda.


Ita menahan senyumnya sekuat tenaga, namun tetap saja Ita tersipu malu "Hiiihh nyebelin." Ita kemudian pergi meninggalkan Ita menuju kamar mandi untuk bersih diri.


๐ŸŒน


Rangga dan Ita kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, seperti biasa Ita ditemani kiki dan Rangga yang sudah seperti body guard Ita.


Sampai tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam makan siang, namun Ita masih melanjutkan round visitnya. "Dokter" panggil kiki dengan sopan.


Ita menghentikan langkahnya, "iya?."


"Apa nggak sebaiknya kita makan siang dulu" ucap kiki lirih, sebenarnya kiki juga tidak ingin mengucapkan itu, tapi mau bagaimana lagi, cacing diperutnya sudah protes dari tadi.


"Kita selesaikn ini bangsal ini dulu, baru kita makan siang" ujar Ita melanjutkan langkahnya.


"Huuuhh" kiki mendengus kecewa sat Dokter Ita menolak usulan perutnya.


"Sebentar lagi" ujar Rangga yang berdiri disebelah kiki mencoba menyemangati, sedangkan Ita sudah berjalan jauh ke depan, dengan bergegas, Rangga dan kiki berlari mengikuti langkah Ita.


"Selamat siang" sapa Ita di bangsal 476.


Semua pasien menyambut kedtangan Dokter Cantik Ita dan 2 dokter dibelakng Ita.


"Bagaimana keadaan ibu hari ini??" Tanya Ita pada salah satu dari mereka.


"Euumm.. masih pusing dokter, tapi mendingan daripada sebelum operasi" jawab pasien.


"Bagaimana dengan buang air kecilnya?" Tanya Ita lagi.


"Uuhh lancar sekali dokter" jawabnya.


Ita mengagguk sembari tersenyum bahagia mendengar jawabannya.


"Bagaimana dokter?? Apa saya bisa pulng hari ini??" Tanya pasien sata melihat Ita ternyum lebar kepadanya.


"Segera, ibu harus banyak istirahat ya."


Setelah dari bangsal itu, sesuai janji, Ita memberikan waktu untuk Rangga dan Kiki makan siang.


"Kalian bisa makan siang sekarang," ucap Ita.


"Dokter ngga ikut??" Tanya Rangga.


"Saya makan sing di ruangan saya saja" jawab Ita dengan senyum.


"Kalian jangan terburu-buru saat makan ya, nikamati makan siang kalian, saya pergi dulu" ujar Ita yang kemudian meninggalakan Rangga dan Kiki.


"Ayolh, gue udah laper banget" ajak kiki kepada Rangga, Ranggapun mengikuti kiki ke kantin..


Rangga dan Kiki mulai berjalan ke kantin Rumah sakit, namun pemandangan mengesalkan membuat kiki naik pitam, panjang antrean makan siang kali ini benar-benar panjang bak kereta.


"Ahh.. Ya Allah, apa salah hamba" ujar Kiki putus asa, ia sudah lapar sekali.


Rangga memegng pundak kiki, "duduk aja dulu, biar gue yang antriin" Rangga menawarkan diri.


Setidaknya itu bisa mengurangi beban kiki saat harus berdiri lama menunggu antrean.


Sedangkan Ita, Ia sudah ada janji makan siang di Ruangan Rehan, Rehan sudah memesan makan siang dari tadi untik dirinya dan Ita.


"Assalamualaikum" salam Ita saat masuk ke ruangan Rehan.


"Wa'alaikumussalam."


"Akhirnya datang juga," Rehan langsung duduk di sofa dan membukakan makanan yang tadi ia pesan.


"Apa nih menu makan siang hari ini?" Tanya Ita bersemangat, mata Ita berbinar melihat makanan di depannya.


"Soto Kudus, ini enak banget asliik" jawab Rehan.


"Uuuhhhh... Bikin ngiler kak" sahut Ita terkekeh, menikmati waktu makan siang bersama sudah cukup bagi Ita dan Rehan ditengah kesibukn masing-masing.