You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
22



"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah."


[ H.R. Ibnu Hibban no.2427 . Al Adzkar An-Nawawi hal.187 . As-Silsilah Hadist Ash-Shohihah no.2886 ]


🌹


"Tata pulang ke rumah ya, istirahat" uxap Rehan saat di dalam mobil.


"Yah kak, kan Ita mau langsung ke Rumah sakit aja."


"Kamu kalo masih nekat ke Rumah Sakit, kalu bakal jadi pasiennya kakak" ucap Rehan mengancam.


"Ah, ita ngga mau ah jadi pasiennya kakak, kak Rehan banyakan maksa, maksa makan, maksa minum vitamin, maksa tidur" ucap Ita sembari memainkan daun telinga Rehan.


memainkan daun telinga Rehan sudah seperti kebiasaan bagi Ita, ia sering sekali memainkan daun telinga Rehan saat mau tidur, entah itu melipat lipat daun telinga Rehan, atau mencubit daun telinganya.


Dan Rehan tak protes dengan kejahilan Ita, ia masih fokus menyetir,


"bukannya kamu juga sering maksa pasien kamu buat kayak gitu juga."


"Sebenarnya kalo ita ngomong gitu ke pasien, itu si juga lebih tepatnya buat Ita," jawab Ita dengan tawa renyahnya.


"Oh iya kakak, semalem kak Rehan kemana kok ngga pulang, ita samperin ke Rumah sakit katanya kakak udah pulang" tanya ita penasaran.


"Bukannya semalem kakak sama Ita ya" sahut Rehan.


"Hih sebelumnya kak."


"Adalah, kakak pasti kasih tau kamu, tapi ngga sekarang ya," Rehan menatap Ita sekilas.


"kenapa?."


"Karna nanti kamu ngga mau diem di Rumah istirahat" jawab Rehan sembari menoel dagu Ita.


"Maafin Ita ya kak," Ita meraih tangan kiri Rehan.


"Maaf kenapa?" Rehan masih fokus dengan jalan.


"Maaf karna ucapan Ita yang menyakiti hati kakak" ucap Ita debgan nada penuh penyesalan.


Rehan menepikan mobilnya dan menghentikan mobilnya, Rehan tersenyum menimpali permintaan maaf Ita,


"kakak yang seharusnya minta maaf, karna terlalu egoia dan cenderung memikirkan diri sendiri, padahal kakak tau Ita juga ada masalah yang berat, kakak minta maaf ya," Rehan menggenggam erat kedua tangan ita diakhiri Rehan yang mencium punggung tangan Ita.


Ita tersenyum bersyukur punya Rehan yang tak pernah malu mengucapkan maaf padahal itu bukan salahnya, saat ini yang egois adalah Ita, bukan Rehan.


Apalagi Ita menyembunyikan masalah yang besar dari Rehan, masalah yang selama ini Rehan cari tahu, taoi ita justru menutupi kebenarannya. Tapi Ita juga tidak sanggu melihat ayah yang selama ini merawatnya harus mendekam di balik jeruji besi.


🌹


"Ita... kanu semalam kemana aja ta, kamu baik-baik aja kan?, ngga ada yang luka kan?, ummik panggil kamu ngga ada jawab dari kamar," baru saja Ita masuk ke dalam rumah, ia sudah diberondong pertanyaan sama umminya.


"Ummi satu-satu dong kalau nanya mi" sindir Rehan.


Ita hanya bisa terkekeh geli mendengar rentetan pertanyaan Yasmin.


"Ya kan ummi khawatir sama Ita," Yasmin memapak Ita untuk duduk di ruang tengah.


"Rehan ke Runah sakit dulu ya Ummi, tolong jaga Ita jangan sampai ia keluar rumah, kalau hisa kunci aja di kamar ummi" pesan Rehan pada ummi dengan mata yang melirik tajam ke arah Ita.


"Iya, pokoknya kali ini ummi ngga bakal biarin ita keluar rumah."


"Ummmiiiiikkkk" rengek Ita pada Yasmin.


"Apapun itu alasannya"tegas Yasmin tegas menatap Ita.


Kini Ita hanya bisa terduduk malas di shofa ruang tengah. Rehan dan Yasmin tertawa puas melihat Ita yang diam tak berkutik.


-


Setelah Rehan berangkat, yasmin segera menuntun Ita ke kamar untuk segera istirahat, dan Ita hanya bisa menuruti perintah Rehan dan Yasmin ini.


Beberapa jam kemudian setelahbIta taknadabkerjaan di kamarnya, nada ponsel Ita berbunyi, segera Ita mengangkata telpon saat nama Rehan yang terpampabg di layar handphonenya.


"Assalamu'alaikum kak?" Salam ita dengan ceria.


"Baru juga beberapa jam, udah kangen ya sama Ita?? Iya sih kak, emang Ita punya aura tersendiri yang bakalan buat orang-orang rindu dan pengen cepet ketemu sama Ita, tapi kak, kalau kakak lagi di Rumah Sakit, kakak ngga boleh kangen Ita,kakak harus fokus,apalagi kalau lagi ada operasi" oceh Ita panjang kali lebar.


"Wa'alaikumussalam," Rehan hanya bisa menahan tawanya di balik telpon, sifat ita yang narsis seperi ini yang selalu membuat Rehan rindu.


"Kayaknya otak Ita deh yang pengen kakak bedah" jawab Rehan asal.


"Janganlah kak, nanti kakak kaget," ungkapan Ita membuat Rehan penasaran.


Saat sedang asik ngobrol via telpon dengan Rehan, terdengar suara pintu kamar Ita diketuk.


"Bentar ya kak." Ucap Ita pada Rehan.


Ita kemudian mempersilahkan seorang yang mengetuk pintu kamarnya,


"masuk aja bi heni" ucap Ita.


Heni segera masuk saat sudah diperbolehkan masuk oleh Ita, Heni membawakan makan malam untuk Ita.


Dan Ita melanjutkan lagi obrolannya, "karna di otak Ita adanya cuma kakak" ucap Ita terkekeh geli.


Namun kali ini lawakan Ita sangatlah garing bagi Rehan. Dan Rehan mengalihkan pembicaraan serius,


"Kakak mau ngasih tau sama ita, kalau kakak tetep jadi sewa detektif swasta untuk mengusut kasus abi, maafin kakak kalau kakak egois mengambil keputusan ini" ucap Rehan di salurran telpon.


tentu Ita tidak bisa melarang Rehan, apapun keputusan Rehan ita akan mendukung, kalaupun memang harus terbongkar, biarlah Rehan mengetahui hal itu sendiri, Ita tak biaa menghentikan Rehan.


"Ohh, kakak udah sewa detektif, Ita hanya bisa mendukung kak Rehan, semoga kasus abi bisa cepat segara terusut" ucap Ita berusaha baik-baik saja.


Gelas yang mau ditaruh heni pecah, Heni yang sedang menata makanan di atas meja kamar kaget mendengar Rehan yang menyewa detektif untuk mengusut kasus abinya, itu artinya Rehan sudah mengetahui kalau itu kasus pembunuhan.


"Innalillahi," ucap Ita refleks kaget saat heni memcahkan gelas.


"Bi heni ngga apa-apa?, bi heni lagi ngga enak badan" tanya Ita khawatir.


"Aduh maaf non maaf,saya segera bereskan,"Heni yang gugup segera pamit untuk mengambil alat bebersih, saat heni berdiri dan hendak berjalan, tangan ita menahan kepergian heni.


Heni terpaku, heni tak berani menatap bola mata Ita.


"Bi heni ngga apa-apa?" Tabya Ita memastikan lagi.


"Ah ngga apa-apa non, saya mabil sapu dulu"ucap heni gugup dan segera keluar dari kamar Ita.


Ita masih menahan tangan heni, "bibi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke Ita ya."


-


Dibalik pintu kamar Ita, bi heni mualai menghirup naoas panjang, dadanya serasa sesak mengetahui Rehan yang sudah mengetahui semua,


"semoga pak pras tidak tahu hal ini,kalau sampai pak pras tahu kalau den Rehan sedang mencari pelaku yang meracuni tuan Yusuf, pasti den Rehan akan menjadi incara pak pras, keselamata den Rehan dalam bahaya" ucap Heni pada dirinya sendiri.


Kalau kejadian pengroyokan Rehan kemarin pras hanya menggertak ita agar tidak memberitahukan pada Rehan, mungkin kali ini kalau pras tau Rehan sudah mengetahui peracunan itu,dan kini Rwhan tengah menyewa detektif swata, bisa jadi Rehan akan menjadi sasaran utama Pras.


🌹


Pukul 10 malam , Reha sudah sampai di Rumah, Ita menyambut kedatangna Rehan dengan langsung membantunya membawakan file pasiennya hari ini.


"Mandi dulu ya kak,habis itu baru istirahat" titah Ita pada Rehan.


Rehan menuruti perkataan Ita,ia segera menuju ke kamar mandi dan bebersih diri, selama Rehan sedang berada di kamar mandi, ita membantu Rehan merapikan beberapa file pasien di meja kerja Rehan, ita juga merapikan beberapa buku yang terbuka berserakan di meja Rehan.


Meskipun Rehan welalu pulang larut malam, setelah darj Rumah Sakit, ia masih saja menyemoatkan dirinya untuk membaca, entah itu jurnal kedokteran, novel atau buku-buku agama. Kalau Al-qur'an, Rwhan tak pernah meninggalkan alquran miliknya, disela-sela kesibukannya di Rumah sakitpun,Rehan tak pernah melewatkan hari tanpa membaca al-qur'an.


"Sesungguhnya hati itu bagaikan bejana, maka sibukkanlah dia dengan Al-Qur'an dan janganlah engkau menyibukkannya dengan selainnya"


[ Abdullah ibn Mas'ud ]


-


setelah merapikan meja kerja Rehan, Ita kemudian menyiapkan kaos dan sarung untuk Rehan tidur, Rehan memang sudah tetbiasa dari duli tidur mengenakan kaos oblong polos dan juga sarung.


"Makasih ya sayang" ucap Rehan saat Ita mengulurkan kaosnya, tak lupa satu kecupan dari Rehan juga lolos ke kening mulus Ita.


Setelah ganti baju, Rehan membaringkan badannya ke ranjang, hari ini cukup melelahkan bagi Rehan.


Ita segera menempatkan dirinya tidur berbantal tangan Rehan yang tadi ia telentangkan.


Rehan menatap lekat wajah yasmin, wajah yang meneduhkan bagi Rehan. Ita juga membalas tatapan Rehan, ia menatap rehan dengan lekat dengan senyum memikat, jarak wajah mereka hanya beberapa centi.


"Hari ini kamu melewatkan sesuatu" ucap Rehan yang semakin mendekatkan wajahnya ke Ita, sampai hidung mereka bersentuhan.


Ita kini bisa merasakan deru nafas Rehan.


Ita tak bisa menahan senyumnya, "aku tau" ucap Ita sembari memajukan bibirnya beberapa centi dan menutup matanya.


Rehan hampir dibuat ngakak oleh kelakuan Ita kali ini, tapi Rehan hanya menahan tawanya melihat bibir Ita yang semakin dimanyunkan.


Rehan kemudian mengambil sesuatu yang tadi ia taruh diatas nakas, itu adalah sebuah foto, Rehan menempelkan foto itu ke bibir Ita, hingga Ita mencium foto yang Rehan tempelkan di bibir Ita.


Ita membuka matanya,"ha?" Ucap Ita kaget dan mengambil foto yang menempel di bibirnya.


"Kakak ngga tau kenapa kamu harus tutup mata" ucap rehan terkekeh geli.


"Kirain kakak mau-" ita tak melanjutkan ucapannya.


Pandangannya kini memperhatikan foto yang Rehan berikan, "ini foto apa kak" tanya Ita dengan nada serius.


Kini Rehan mengubah posisi menjadi menyangga kepala semabri menatap Ita.


"Kemarin, waktu kakak ngga pulang, sebenarnya kakak lagi cari itu,"


"Itu hasil rekaman cctv kecelakaan ibu 12 tahun lalu yang berhasil di cut dibagian yang menunjukkan plat kendaraan mobil yang mepet ibu, jadi hasilnya kakak print out, kakak dapat rekaman cctv dan plat mobil yang mencelakakan ibu,"


"Besok, kemungkinan besar pelakunya akan tertangkap, taoi Ita, di rekaman cctv si pelakunya mengendarai mobilnya dengan sangat bagus,dalam artian sampai orang yang melihatpun mengira itu hanya mobil biasa yang menyalip mobil ibu,"


"Kalaupun itu memang disengaja, hanya pemilik mobil berplat nomor itu yang bisa mengungkapnya, jadi kakak fikir itulah kenapa polisi menyatakan itu adalah kecelakaan tunggal, karna si pengemudinya melakukannya dengan baik" jelas Rehan.


"Kalau begitu, besok kita harus cari si pemilik plat mobil ini,ita akan memastikannya sendiri, Ita yakin kalau ini adalah kesengajaan ofang yang ingin mencelakai ibu.


"Iyaudah dipending besok ya," Rehan mengambil foto yang ita pegang dan menaruhnya kembali di nakas.


"Sekarang kita tidur" ucap Rehan yang kenudian memluk erat Ita.


🌹


Pagi ini, Rehan akan berangkat bersama Ita, sebentar lagi Ita akn menemukan sesuatu yang penting bagi hidupnya, sepulang dari Rumah Sakit, Rehan sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu data dari pemilik plat mobil itu pada tahun itu. Semoga dia berhasil menemukannya.


-


Semakin hari kesehatan pak bagas mulai membaik, hari ini ita memutuskan untuk mampir ke Ruang rawat inap pak bagas.


"Permisi, Assalamualaikum pak" salam Ita sembari membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam dokter" sahutnya.


Ita tersenyum melihat keadaan pak bagas yang semakin membaik,


"bapak sudah berusaha ketas untuk sembuh" ucap Ita.


"Entahlah dokter, rasanya saya ingin sekali menyerah, tapi ada sesuatu yang harus saya selesaikan, yaitu dosa di masa lalu saya" ucap Pak Bagas dengan tatapan pilu saat mengucapkannya.


"Apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam dihatinya, dan jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun maka hatinya akan putih kembali,"


"Ita memang tidak atu, dosa apa yang telah bapak lakukakn dimasa lalu, tapi percayalah Allah memiliki sifat Maha Pengampun,


" ucap Ita memberi sedikit pencerahan agar pak bagas bertaubat.


"Semoga Allah mau menerima taubat saya, bahkan saya saja merasa sangat-sangat hina di hadapan makhluk Allah, apalagi di hadapan Allah," Pak Bagas mulai menitikkan air mata.


"Manusia di hadapan Allah yang Maha tinggi lagi Maha Mulia memanglah bukan apa-apa, tapi Allah menciptakan manusia sama, yang membedakan disisi Allah adalah Takwa,"


"Kembalilah ke jalan yang di Ridhai Allah, mohonlah ampunan dari Allah, semoga Allah menghendaki"ucap Ita dengan senyum merekah.


Pak bagas tak bisa lagi menahan tangisnya saat mengingat dosa di masalalunya, karna buta dunia, ia sampai tega melakukan dosa itu,


"Anak itu masih hidup lalu seperti apa keadaannya sekarang tanpa ibunya" ucap pak bagas yang kemudian menangis usai menucapkannya.


Ita tak tau apa maksud ucapan pak bagas, Ita hanya berusaha menenagkannya dengan mengusap pundak oak bagas yabg bergetar karna tangis.


"Gadis malang itu, mungkkn sekarang ia telah dewasa, dan berusaha mencariku, orang yabg telah merenggut nyawa ibunya" ucap pak bagas dwngan penuh penyesalan.


Sekarang ita mengerti tentang dosa di masalalu yang selalu pak bagas katakan, Ita menghela napas panjang sebelum berbicara,


"Setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan setiap takdir kematian seseorang sudah Allah tetapkan dan itu pasti."


"Segeralah meminta ampunan kepada Allah, sebelum semuanya terlambat, disini Ita bukan menggurui, ita hanya mengingatkan sebagai saudara sesama muslim" ucap Ita menenangkan pak Bagas.


pak bags menatap Ita, selama ini hati pak bagas sudah tertutupi oleh urusan dunia saja,sampai terluoa urusan akhirat,


"Terima kasih dokter, dokter seorang yang baik,"