
Sesungguhnya Allah memaafkan ummatku atas apa yang dikatakan jiwanya selama ia belum mengatakan atau melakukannya
[ Muttafaq Alaih ]
🌹
Setelah keluar dari ruangan pak Bagas, Ita segera ke Ruangan Rehan, beberapa menit yang lalu, Rehan menyuruh Ita untuk ke Ruangan.
Perlahan Ita kini sudah sampai di ambang pingu Ruangan Rehan, "assalamualaikum dokter" salam Ita.
"Wa'alaikumussalam" jawab Rehan diikuti senyum manisnya.
Ita segera mengambil posisi duduk di depan Rehan, "ada apa kak?" Tanya Ita.
Rehan meyodorkan sebuah kertas, Ita menatap kertas itu dengan pandangan penuh tanya.
"Ambil Ita" titah Rehan yang kemudian dituruti oleh ita, mengambil kertas itu, ita hanya melihat nama dan alamat yang tertera di kertas itu.
Baru saja ita mau bertanya itu kertas apa, seorang perawat datang dengan oenuh cemas,
"dokter, ada pasien datang dengan kondisi apnea" teriak perawat dengan kalap.
Rehan bergegas berdiri dan berlari ke mengikuti perawat itu,
"bawa segera ke ruang tindakan" titah Rehan, peralahan tubuh gaganya mulai menghilang dari balik pintu meninggalkan Ita.
Ita mengerti keadaan seperti ini, ditinggal Rehan beberapa jam karna keadaan seperti ini membuat Ita tenang daripada ditinggal Rehan semalaman tanpa kabar.
Ita segera bangkit dari duduknya,ia berjalan dengan masuh memandangi kertas yang Rehan berikan,
"untuk apa kak Rehan ngaaih ini? Nama siapa ini?" Ita bicara sendiri sepanjang jalan.
Langkah Ita terhenti saat ia mengingat sesuatu, ita ingat kalau Rehan sedang mencari pemilik plat mobil dalam kecelakaan 12 tahun lalu, begitu ingat, tanoa basa-basi ia segera berlari keluar dari Runah sakit.
Mencari mobil yang ia parkir, dan segera melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera di kertas tersebut. Ita sudah tidak sabar menemui pelakunya, ingin sekali rasanya ita mencakar wajah pelakunya.
Mobil Ita berhenti berhenti di sebuah rumah minimalis sederhana, bercat kuning lusuh, tembok rumahnya sudah nerlumut, halamannya penuh dengan daun yang gugur, seperti rumah yang sudah lama tidak huni.
Dengan langkah pelan, Ita mulai berjalan ke arah rumah, melewati halaman dan sampai di depan pintu rumah, dengan ragu, Ita mulai mengetuk pintu Rumah, berulang kali ita mengetuk pintu, tapi tak ada balasan dari dalam.
Sepertinya memang tidak ada orang di dalam rumah ini, Ita menghirup napas panjang, ekspektasinya tidak sesuai realita, ita membalikkan badan dan mulai berjalan ke arah mobik yang terparkir di depan pagar rumah.
Ita akan balik dengan tangan kososng, itu yang membuat ita kecewa. Baru saja ita mau masuk ke mobil, suara wanita memanggilnya dari belakang,
"mbak?," ita segera menoleh ke arah sumber suara.
Ita mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil, ia menutup kembali pintu mobilnya, "iya buk?."
"Mbak cari penghuni rumah itu?" Tanya ibu itu.
"Iya buk, ibuk tau dimana penghuni rumah ini" tanya Ita balik.
"Penghuni rumahnya sudah lama tidak pulang, menurut kabar, tiga minggu yang lalu, ia mengalami kecelakaan dan ditemukan oleh seorang dokter, jadi mungkin ia dilarikan ke Rumah Sakit temoat dokter itu bekerja" jelas ibu itu memberi tau.
"Yasudah saya permisi dulu mbak" ucap ibu itu yang kemudian pergi meninggalkan ita.
Ita terdiam, kini target pencariannya adalah Rumah Sakit, ini tidak akan terasa berat jika ita sudah mengantongi namanya, ita menatap kembali kertas pemberian Rehan yang sedari tadi ia genggam,
"wicaksono" itulah nama yang tertera di kertas itu.
Rumah sakit dengan fasilitas lengkap di daerah ini hanyalah rumah sakit tempat Ita bekerja, kalau ia sampai tiga minggu dirawat, tentu itu kecelakaan parah dan perlu penangan dengan fasilitas kesehatan lengkap. Itu artinya kemungkinan besar, ia dirawat di Rumah Sakit Ita bekerja.
Ita membuka pintu mobilnya dan segera kembali lagi ke Rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini ita segera ke tempat administrasi, menanyakan apa ada pasien atas nama wicaksono.
"Permisi, apa disini ada pasien bernama wicaksono?" Tanya Ita pada petugas administrasi.
Perugas administrasi segera mencari daftar nama pasien yang sedang ita tanyakan, "tidak ada dokter."
Ita kembali menghembuakan napas kecewa, "kalau daftra pasien yang masuk tiga minggu yang lalu karna kecelakaan, bisa saya minta semua daftra namanya?" Pinta Ita lagi.
Petugas administrasi kembali mengecek nama pasien yang masuk tiga minggu yang lalau karna kecelakaan.
Petugas administrasi kemudian menghadapkan monitor yang berisi nama pasien kepada Ita.
"Ini daftar nama pasien sekitar 3 minggu yang lalu masuk ke Rumah Sakit dok" ucapnya.
Ita menelan ludah, lebih banyak dari yang ita bayangkan, bola mata ita merayapi daftar nama dari atas sampai bawah, sampai ia menemukan satu nama yang tidak asing baginya.
"Bagskara, ruang 405," pandangan Ita terhenti di nama tersebut,Ita ingat awal pak bagas datang ke Rumah sakit.
Memori Ita kembali berulang saat kiki menelpon Ita kalau ia menemukan pasien kecelakaan, dan segera membawa ke Rumah Sakit ini, dan ita kemudian mengaitkannya dengan ucapan ibu yang memberitahunya tadi,kalau penghuni runah itu mengalami kecelakaan dan ditolong seorang dokter, kemungkinannya di bawa di Rumah Sakit tempat dokter itu bekerja.
"ah ngga mungkin"ucap Ita refleks dengan napas terengah, napasnya terengah hanya karna memikirkan hal itu.
"Dokter ngga apa-apa?" Tanya petugas administrasi saat melihat wajah Ita yang tiba-tiba pucat.
"Ah ngga, ngga apa-apa,terimakasih ya" jawab Ita yang kemudian mulai beranjak pergi denagn langkah gontai.
Ita menusap wajahnya frustasi,
"bagaimana bisa, cerita yang sama dengan tokoh berbeda" ucap Ita yang kini duduk di kursi tunggu loby.
cerita ibu tadi dengan cerita masuknya pak Bagas ke Rumah sakit ini,itu sangatlah sama. Tapi kenapa tokoh dalam ceria itu berbeda?.
Ita mulai membuka matanya, membangkitkan semangatnya lagi, satu-satunya cara agar dia mengetahui ini adalah, dengan bertanya langsung dengan pak bagas.
Ita bangkit dari duduknya dan mulai berjalan ke rungan 405, Ita membuka pintu tanpa mengucap salam tidak seperti biasanya.
Ita tak menanggapi ucapan pak bagas,Ita hanya meneruskan langkahnya hingga ia berdiri tepat di sisi pak bagas.
Suasana hening saat Ita tak menanggapi senyum ramah pak bagas, pak bagas menatap Ita dengan pandangan nanar.
"Pak Wicaksono," itulah kata yang keluar dari mulut Ita.
Pak bagas tercengang mendengar panggilan yang sudah lama ia tidak dengar,
"bagaimana dokter tau nama pemberian orang tua saya" ucap pak bags bingung.
Bak dihantam ranjau, hati Ita kini benar-benar luluh lantah melihat pelaku itu ada di deoan mata Ita, ita pikir dia akan mencakar wajahnya, tapi Ita hanya bisa diam berdiri tanoa bisa melakukan apapun.
"Tapi itu nama saya dulu, 12 tahun yang lalau saya telah mengganti nama saya menjadi bagaskara" ucap pak bagas dengan tawa renyahnya.
Kini dada ita semakin sesak mendengar ucapannya yang semakin jelas menunjukkan dialah yang sudah tega mencelakai ibu, Tubuh Ita masih membeku, matanya mulai berkaca-kaca, ita tak bisa mengucapkan apapun.
Pak Bagas yang melihat ita diam dengan mata berkaca-kaca dibuat bingung olehnya, kenapa dia, apa ada yang salah dengan pak bagas?.
Ita melemparkan foto potongan rekaman cctv juga kertas yang Rehan berikan tadi. Jantung pak bagas seakan loncat saat Ita melemparkan foto dan keras itu dipangkuannya.
Ita menelan ludah sebelum ia berbicara,
"jadi saya? Anak malang yang anda khawatirkan? Yang anda khawatirkan karna ibunya telah anda bunuh?" Ucap Ita dengan susah payah, air mata ita mulai berjatuhan membasahi pipi mulus Ita.
Pak bagas kaget bukan main saat Ita mengucaokan hal itu, jadi dia adalah anak yang ia juga ia incar dalam kecelakaan itu?.
"Apa kau anak 12 tahun silam?" Tanya pak bagas yang begitu kaget.
Ita samasekali tidak sanggup menatap pak bagas, ita hanya menatap lurus kedepan dengan oandangan kosong, pandangan yang mulai buram karna penuh dengan air mata.
"Itu kecelakaan tunggal, aku tak terlibat dalam kecelakaan itu" ucap pak bagas mengelak.
( sehari sebelumnya )
Malam itu, saat bagas merasa keadaannya sudah baik-baik saja, tapi rasa bersalah yang menyelimutinya terus saja menghantuinya, tapi apa dia akan melaporkan dirinya ke polisi? Sedangkan ada orang dibaliknya yang juga harus menanggung akibatnya.
Suara dering nada telpon bagas berbunyi, Ia segera mengangkat,
"Kau diam saja, tak usah macam-macam ingin menyerahkan dirimu ke polisi" ucap seorang dari telpon.
"Kalaupun kau menyerahkan dirimu ke polisi, jangan seret namaku, aku sudah memberikan apapun yang kau mau, aku sudah menurutinya, kalau kau ingin menebus kesalahanmu, tebus saja sendiri dan jangan mangaitkannya denganku, ini sudah perjanjian di awal" ucap Pras.
-
12 tahun silam, saat bagas hanyalah seorang supir yabg harus menghidupi istri dan anak tunggalnya dengan susah payah saat ia kehilangan pekerjaannya, saat ia berada dalam masa sulit dan dalam keputus asaanya,ia bertemu dengan Pram yang mengajaknya bekerja sama.
Bagas yang memang sedang dalam masa sulit,akhirnya menerima tawaran itu dengan berat hati, namun keadaan memaksanya. Bagas ikut dalam rencana busuk pram yang ingin membunuh istri dan anak tirinya, ia ingin menguasai harta istrinya yang kaya raya itu.
Dengan berat hati bagas melakukannya, memepet mobil yang ditumoangi istri dan anak pras sampai akhirnya menabrak bahu jalan, bagas melakukannya dengan apik sampai kasus kecelakaan itu ditutup dengan hasil kecelakaan tunggal.
Meskipun begitu, sebulan setelah ia berhasil melancarkan aksinya, hidup Bagas tidak seperti dulu,rasa bersalah selalu menghantuinya, apalagi setelah kejadian itu, anak dan sitrinya meninggal karna kecelakaan.
Mungkin ini balsan atas apa yang Bagas perbuat, kesedian merundung Bagas, hidupnya kini tak tenang, selama 12 tahun ia selalu menutup diri, tapi rasa bersalah itu semakin hari semakin kuat mencekam batin Bagas.
Sampai ia bermaksud untuk menyerahkan dirinya ke polisi dengan demi menebus kesalahannya, namjn ia kembali berpikir saat ia menyerahkan dirinya ke polisi, rasanya ini tak adil saat ia harus mendekam dipenjara sendirian tanpa dalang dibalik pembunuhan itu.
-
"Bukankah memang seharusnya kita mendekam di jeruji beai bersama?" Balas bagas yang baru mendapat waktu untuk bicara.
"Kau tidak usah berlaku bodoh, diam saja pura-pura saja tidak ada yang terjadi, atau anakmu akan hilang dari muka bumi ini" ucap pras mengancam.
"Anak yang kau kira telah meninggal, kini putri kecilmu telah beranjak dewasa, dan berada dalam genggamanmu, keputusanmu yang akan menentukan nasib putrimu ini."
Bagas tersentak saat mendengar putrinya masih hidup setelah kecelakaan bis yang merenggut semua korban. Rasanya Bagas tidak percaya kalau anaknya masih hidup, tapi bagaimana kalau memnag benar anaknya masih hidup dan sekarang bersama laki-laki licik itu?.
bagas mengurungkan niatnya yang ingin melaporkan diri ke polisi, ia ingin segera kwluar dari rumah saki dan membuktikan sendiri ucapan pras. Bagas mengurungkan niatnya, ia memilih diam dan berusaha bersikap tidak ada apapun di masalalunya.
( flashback off)
Setelah mengingat kejadian malam itu, Bagas yang sudah menemukan anak dari kornbannya kini tengah berdiri didepannya dan sedang mencari pertanggungjawaban.
Dan kini Bagas tak bisa jujur karna bayangan anaknya yang kini bersama pras. Anak yang sudah lama ia rindukan.
"Kejadian itu sudah berlangsung lama, kasusnya pun sudah ditutup, lalau untuk apa dokter menuduh saya, hanya karna saya menyalip mobil itu sebelum mobil mengalami kecelakaan?" Bela bagas dengan nada berat, seperti menahan tangis.
Ita menahan air matanya yang kini menumpum dipelupuk matanya, "katakan kalau anda sengaja melakukannya" teriak Ita.
"Saya tidak melakukan apapun" bagas membela diri.
Ita menghirup napas panjabg berusaha kuat dan tegar, "jangan bohong" ita meneriaki pak bagas dengan tangisnya.
"Saya ada bersama ibu saya, saya tau usaha anda mencelakai ibu saya,apa salah keluarga sampai anda tega melakukan itu" hardik Ita.
Bagas kini diam tak bersuara, raanya berat melihat ini semua, rasa bersalah yang menghantuinya semakin menjadi-jadi.
Bagas tak bisa berbohong seperti ini, ia berada dipilihan yang berat, apa yang akan terjadi pada anaknya kalau ia memberitahukan hal ini pada Ita?.
Sudahlah, berbohong untuk menutupi kesalahan sama sekali tak bisa membuat Bagas tenang, toh apa yang Pras katakan tentang anaknya itu belum tentu benar, bisa saja pras membohongi Bagas.
Lagipula setelah mengetahui anak dari korbannya adalah dokter yang sudah mwnyelamatkannya dari serangan anak buah pras waktu itu, Bagas berhutang nyawa padanya, bagas juga mengingat berbagai kebaikan Ita selama ia dirawat disini.
bagas menatap pilu wajah Ita yang sudah basah bercucuran air mata,tidak! Bagas tidak bisa seperti ini, ia todak bisa menutupinya lagi. Bagas berusaha turun dari dari ranjangnya, ia kini jatuh tersungkur dihadapan Ita. Dan bukanya segera bangun,ia justru memegang kaki Ita.
Segera Ita menghindarkan kakinya dari pegangan Bagas, "saya minta maaf, saya minta maaf dokter, saya minta maaf" ucap Dengan sangat menyesal disertai tangisnya.