You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
17



"Ketika sesorang berdiri untuk sholat maka dosa-dosanya Allah letakkan dipundaknya ; maka setiap kali ia rukuk dan sujud dosa-dosanya berjatuhan. . ."


( Ash Shahihah ; 1398 / At Tabrani Sahih )


🌹


Usai membereskan beberapa file, Ita segera keluar dari ruangan, Ita melewati koridor Rumah Sakit, fokus Ita beralih saat melihat seseorang berpenampilan mencurigakan berjalan dengan mengendap-endap.


Karna penasaran, Itapun membuntuti laki-laki itu, rasa penasaran ita semakin kuat saat melihat laki-laki itu masuk ke ruang 405 tempat pak bagas di rawat.


Laki-laki berjaket hitam masuk ke ruangan dengan segera. "Apa itu keluarganya pak bagas? Tapi bukannya pak bagas tidak punya keluarga" ita mengoceh sendiri.


Sampai pikiran burukpun muncul dipikiran ita, kini ita justru laki-laki itu adalah penjahat, dengan segera Ita membuka pintu Ruangan dan benar saja, Ita terkejut bukan main.


degggg jantungnya hampir saja dibuat copot saat melihat pria itu mau menikam pak bagas dengan pisau ditangnnya.


Seluruh tubuh ita bergetar, apalagi saat pria itu melihat Ita beediri di ambang pintu, tak mau membuang waktu, Ita segera merogoh saku untuk menelpon petugas keamanaan.


Kini laki-laki itu berjalan mendekati Ita dan menodongkan senjatanya ke arah Ita, tangan ita semakin bergetar, ita segera mencari nomer petugas keamanan.


Tapi pria itu semakin menodongkan senjatanya ke arah Ita.


"Jangan coba-coba telpon petugas keamnan atau kau akan mati" ucapnya dengan sadis.


Kini Ita merasa hidupnya sudah berada diujung tanduk, tangannya semakin gemetar, jarinya hanya butuh satu sentuhan untuk menekan ikon panggil.


Ita menekan ludah, ita berniat akan tetap melakukan panggilan meski pria itu sudah menodongkan senjatanya dengan sangat dekat ke arah Ita.


*Tuk* ita mnekan tombol panggil dengan tangan yang bergetar hebat, sejurus dengan itu, sang pria yang siap menodongkan senjata, kini mengehempaskan telpon Ita dengan senjatanya.


Telpon ita jatuh dan senjata tajam itu berhasil melukai tangan Ita.


"Aawwww Allah" pekik Ita, penjahat itu masih berusaha mencelakai Ita,namun urung saat pak bagas yang sedari tadi susah payah akhirnya berhasil menekan tombol darurat.


Laki-laki itu berlari dengan terbirit-birit meninggalkan ruangan, petugas keamanan segera datang ke ruangan, dan Ita sekarang sedang tersungkur kesakitan dengan memegang tangan kanannya yang terluka.


Pak bagas berusaha menolong ita dengan berusaha turun dari ranjangnya, dan bukannya membantu, ia malah terjatuh sendiri, "pak bagas" sentak ita, tidak seharusnya ia turun dari ranjangnya.


Semenit kemudian, petugas keamanan bersama beberapa perawat datang ke Ruangan 405, semua dibuat kaget saat melihat Ita yang sedang tersungkur dengan darah yang mengalir di tangannya,juga pak bagas yang terjatuh dari ranjang pesakitannya.


"innalillahi Dokter Ita" ucap salwa kaget mendapati keadaan Ita.


Salwa segera membantu Ita berdiri, perawat yang lain membantu pak mengangkat pak bagas ke ranjangnya kembali.


Para petugas keamanan langsung menyebar ke seluruh sudut rumah sakit untuk menangkap pelaku.


Airin yang kebetulan lewat di deoan ruang 405, bergegas melihat apa yabg terjadi, ia juga ikut shock melihat Ita yang kini sedang dipapah oleh salwa, "ita? Ita kenapa?" Ucap Airin kalab melihat darah mengucur di telapak tangan ita.


"Rin, pak bagas" ucap Ita dengan meringis kesakitan, Airin yang mau ikut membantu Ita akhirnya diurungkan saat Ita menyuruhnya segera memeriksa keadaan pak bagas.


Salwa memapak Ita dengan langkah tertatih, Ita masih saja meringis kesakitan menahan perih lukanya.


Ita duduk di ranjang pesakitan yang biasa digunakan pasiennya, Salwa segera mendorong trolley berupa peralatan untuk membersihkan luka Ita.


seorang laki-laki datang tiba-tiba dan langsung mengambil alih pekerjaan Salwa, "biar saya saja" ucap Rehan datar.


Salwa hanya mengangguk dan keluar dari ruangan.


Rehan mengambil posisi duduk lebih rendah dari Ita, Rehan diam tak bersuara saat membersihkan luka Ita, jari jemari Rehan begitu luwes mengobati telapak tangan Ita yang tergores pisau.


dengan sangat hari-hati Rehan mengobatinya, Ita meringis kesakitan saat lukanya mulai dijahit, "a aw kak" ita meringis kesakitan tak kuat menahan perih.


Rehan masih meneruskan pekerjaannya tanpa berbicara sepatah katapun, ini yang membuat Ita jadi mrinding dibuatnya.


apa kak Rehan marah sama Ita? ~ batin Ita tanpa berani bertanya.


Ita meringis kesakitan saat Rehan hampir menyelesaikan jahitannya dan kemudian Rehan membalut Luka Ita dengan lembut, namun tentu Ita masih merasakan perihnya, "aw kak sakit" ucap ita sesekali refleks.


Setelah mengobati luka Ita, rehan bangun dari tempat duduknya, menghempas alat yang barusan ia pakai dengan sedikit kasar sampai terdengar suara sedikit gaduh.


Rehan menghela napas panjang, kini ia berdiri dihadapan Ita yang tengan duduk di ranjang pesakitan, Rahan diam memperhatikan Ita. Rehan kini sedang mengatur emosinya.


Ita dibuat merinding dengan sikap Rehan, apa Rehan mau memarahi Ita?.


"Taaa" ucap Rehan lembut, sapa Rehan yang lembut membuat Ita terkejut karna Ita sudah bersiap jika akan mendengar omelan Rehan.


"Iya kak?" Balas Ita dengan pandangan tertunduk.


"Jangan buat kakak khawatir seperti ini lagi" Rehan langsung membawa tubuh Ita kepelukannya.


ita teridiam menerima pelukan Rehan.


"Maafin Ita kak" ita mengeratkan pelukan Rehan.


Rehan kemudian mengambil poisisi duduk kembali, Rehan meraih tangan Ita yang terluka tadi, "cerita ke kakak apa yang terjadi."


Ita terdiam saat mendengar pertanyaan itu, apa ita juga akan menjelaskan tentang rasa penasaran Ita terhadap hubungan pak bagas dan ayah, karna sekarang Ita mengaitkan kejadian ini dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat ita mendapati ayahnya di Ruang Pak Bagas.


Tapi sepertinya Ita tiak bisa menceritakan ini kepada Rehan, karna Rehan juga masih menyelidiki tentang abinya,


"jadi tadi ada yang mau nyelakain pak bagas kak, dan kebetulan Ita lewat jadi ya gini" ita menatap lukanya.


Rehan menatap pilu ke arah luka Ita, "maafin kakak ya, ngga bisa jaga kamu" ucap rehan lirih.


"Ha? Ngga kak, ngga ada hubungannya juga sama kakak, jangan nyalahin diri sendiri kak, Ita ngga apa-apa kok."


"Gimana bisa kamu bilang ngga papa, padahal dari tadi kamu meringis-meringis gitu."


"Acting lah kak" jawab Ita mencoba meyakinkan Rehan kalau dirinya tidak apa-apa.


"Dasar" ucap Rehan menepuk pucuk kepala Ita.


"Yasudah, kita pulang sekarang ya, kakak sudah selesai."


Ita mengangguk, Rehan kemudian memapak Istrinya itu, "mau digendong aja?" Tawar Rehan yang langsung ditolak oleh Ita, masa iya di Rumah sakit mau di gendong Rehan, bisa dapat komen netijen nanti.


🌹


"Assalamuaikum, kami pulang."


"Wa'alaikumussalam" Yasmin segera menyambut kepulangan mereka berdua.


Rehan langsung bersalaman mencium punggung tangan umminya, tapi Ita? Ita tidak bisa karna luka di tangannya yang masih segar.


"Ita? Tangan kamu kenapa?" Tanya Yasmin khawatir melihat perban yang membalut tangan Ita.


"Ah ngga apa-apa ummi, luka biasa" jawab Ita.


"Luka biasa kenapa bisa diperban kayak gitu?, Rehan?" Yasmin menatap Rehan dengan tatapan tajam mematikan.


"A, Iya ummi Rehan minta maaf Rehan gagal jaga Ita" ucap Rehan dengan penuh penyesalan.


Tak terima melihat Rehan seperti disalahkan oleh umi, kini Ita berusaha membela suaminya, "bukan ummi, ini bukan salah kak Rehan, ini kecerobohan Ita sendiri.


Yasmin menghela napa panjang, "percuma juga umi main salah-salahan, toh kalian juga bakal bela-belaan."


"Yasudah, kalian istirahat sekarang aja ya" titah Yasmin kepada anaknya.


🌹


"Ita? Kamu dikasih cuti kan ya?" Tanya Yasmin saat berada di Ruang makan untuk sarapan bersama.


"Ngga usah ditanya ummi, nanti dia jawabnya berangkat lagi" sahut yusuf yang sedang menyuapi Ita karna belum bisa makan dengan tangan kanannya.


"Apaan si kak" Ita mencubit perut Rehan sampai Rehan mengaduh kesakitan.


Yasmin tersenyum bisa melihat pemandangan seperti inisetiap pagi.


setelah satu porsi makanan milik yasmin habis, rehan kemudian membantu Ita untuk minum, "Maaf ya kak, Ita ngrepotin kakak" ucap Ita dengan nada sedikit menyesal karna seharusnyaia yang melayani Rehan bukannya sebaliknya.


Rehan menangkupkan telapak tangannya di pipi lembut Ita, "kakak ngga pernah merasa direpotkan sama kamu, jadi jangan bilang seperti itu lagi ya."


"makasih ya kak."


Rehan menimpali ucapan terimakasih Ita dengan anggukan dan senyum yang mengembang.


"Yasudah, Rehan berangkat dulu ya ummi" Rehan bangkit dari duduknya, mencium punggung tanga Yasmin.


"Kak?" Panggi Ita lembut.


"Ya?."


"Ita juga mau cium pungggung tangan kakak" ucap Ita memelas.


Rehan tersenyum mendengar keinginan Ita, Rehan kemudian meraih tangan kanan Ita ymasih terperban dan menciumnya,


"Syafakillah, kalau kakak pulang, nanti kakk bantu ganti perbannya" Ucap Rehan yang krmudian mencium kening Ita.


"Rehan berangkat dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumusslam."


Seusai perginya Rehan, Yasmun kemudian memberekan piring-piring dan hendak mencucinya, melihat itu, ita segera membantu yasmin untuk mmebereskan piring bekas makanan, namun segera dilarang yasmin.


"Nagga usah sayang, kamu istirahat aja ya" titih yasmin sembari mengelus lembut kepala menantunya itu.


"Tapi ummi?-."


"Ummi,kenapa ngga ngga pakai jasa pembantu Rumah tangga?"tanya Ita kepada yasmin yangbkini sedang mencuci piring disampingnya.


"Kalau ummi pakai asisten rumah tangga, ummi jadi ngga adaa kerjaan dong."


"Tapi ummi,kalau misal Ita sama kak Rehan ke Rumah sakit semua, kan pasti ummi sendirian di Rumah,ngga ada temen, jadi ada baiknya ummi pakai jasa asisten rumah tangga, ya buat temen ngobrol juga ummi" jelas ita.


Yasmin menghentikan pekerjaannya, apa ynag ita barusan bilang mrmang ada benarnya, terkadang yasmin memang merasa lesepian semenjak yusuf meninggal.


"Kamu urus saja ya" jawab yasmin pertanda ia mengiyakan saran Ita dengan senyuman.


Senyum Ita mengembang saat niat baiknya diterima oleh umminya, "okey ummi, Ita bakal cariin yang benar-benar klop sama ummi."


"Jangan kemana-kemana ya, tetap di Rumah istirahat" yasmin menegaskan lagi kalau Ita tidak boleh keluar sampai lukanya benar-benar sembuh.


🌹


Ita merebahkan tubuhnya di kasur, kini ia memandang perban di tangannya, baru satu hari saja tangannya tidak melakukan tindakan medis apapun, ia sudah rindu.


Lamunan ita pecah saat suara dering gawainya berbunyi, terpampang nama Airin berada di layar smartphonenya,


"assalamualaikum Rin?."


"Wa'alaikumussalam Ita, gimana kabar kamu ta? Tangan kamu baik-baik aja kan?" Tanya airin.


"Haisshhhh, iyalatuhh istrinya dokter Rehan,"


"Ta, gue mau ngabarin kalau hasil lab kandungan obat yabg lo kasih udah keluar, gue cuma mau kasih tau aja, jangan ke Rumah Sakit sekarang, lo harus istirahat" tegas Airin.


"Gue ke Rumah sakit sekarang" Ita segera mematikan saluran telponnya sebelum Airin mengoceh.


"Halo ta, tata di rumah aja! Halo?!" Saluran telepon sudah dimatikan ita.


"Dasar keras kepala" Airin memaki smartphonennya.


-


Ira segera bersiap, mengambil tas dan segara turun dari lantai 2, terlebih dahulu ia mencari keberadaan ibu mertuanya, namun tak ia temukan. Akhirnya ita mengirimkan chat berisi ijin keluar.


Meskipun kondisi tangannya belum bisa untuk menyetir,namun ita tetap nekat ke Rumah Sakit sendiri, lagipula pak sopir sedang keluar dwngan yasmin, bisa dilihat dari mobil yang tidak ada di garasi.


Ita mengendarai minicooper kesayangannya sendiri, sampai di Rumah sakit, Ita segera mencari keberadaan Airin.


"Dokter Ita? Dokter ngapain datang, kan dokter boleh ambil cuti" sapa Salwa yang melihat Ita datang ke Rumah sakit.


"Ahh, bukan gitu sal, lihat Airin ngga?" Tanya Ita terlihat tergesa-gesa.


"Dokter Airin, sedang ada di Ruang Pak Bagas."


"Aahh yaa makasih ya" ita segera berlari ke Ruangan 405 tempat Ruangan pak bagas.


-


Ita terhenti di ambang pintu sebelum ia ikut masuk ke dalam, ita merapikan pakainnya dan berdaham menyiapkan suaranya, setelah siap ita memutar kenop pintu dan masuk ke dalam.


"Permisi?" Sapa Ita.


"Ita? Ngapain?"tanya Airin dengan pelan. Airin terkejut melihat kedatangan Ita disini, seharusnya ia bisa menunggunya di ruang kerja, dasar tak sabaran.


Ita tak menanggapi pertanyaan Airin, ia justru menyapa pasien bernama pak bagas,


"selamat siang pak, bagaimana keadaanya?."


Pak bagas mengingat-ingat wajah Ita, ia kemudian melihat tangan dokter ita yang diperban, dan sekarang pak bagas ingat dokter itu, ia adalah yang menyelamatkannya waktu itu.


"Terimasih dokter, terima kasih sudah menyelamatkan saya" ucap pak bagas dengan nada terputus-putus.


Ita mengelus pundak laki-laki 50 tahunan itu,"jangan dipaksa bicara dulu pak."


"Semoga cepat membaik pak" ucap Airin yabg kemudian menarik lengan baju Ita untuk ikut keluar beesamanya.


-


Setelah sampai di luar ruangan, Airin segera menegur Ita yabgvkeras kepala, "Ita, kan gue udah bilang jangan datang."


"Yaudah kasih hasilnya sekarang biar gue bisa pergi sekarang" sahut Ita.


Airin menghela napas panjabg menghadapi sahabatnya yang satu ini, "yaudah ayolah"


Ita kemudian mengikuti langkah sahabatnya, Ita berjalan menunduk dan sedikit mengumpat, tak ingin tiba-tiba Rehan melihat kehadirannya di Rumah sakit.


Sampai di ruang kerja, Airin mencari berkas yang ia simpan di laci kerjanya,kemudian Airin menyerahkan stopmap berwarna hijau kepada Ita,


"ini ta, gue awalnya ngomng kalau obat itu dicampur sama zat yang lain itu gue cuma becanda,tapi setelah tau isinya, ternyata emang benar dugaan lo."


Beberapa detik kemudian, stopmap itu sudah berada di tangan Ita, Ia segera mebuka berkas didalamnya.


"Jadi didalam obat yang lo kasih waktu itu sama abinya dokter Rehan, ternyata sudah dicampur sama zat kimia lain, dan diobat itu ada kandungan obat ketamine, di dalam situ,kandungan ketamine dosisnya rendah, jadi menyebabkan seorang yang meminumnya akan berhalusinasi" jelas Airin.


"Jadi di dalam sini, ketaminenya dosis rendah?" Tanya Ita.


"Iya."


Ucapan Rehan waktu lali kembali terngiang di kepala Ita,Rehan menyebutkan bahwa abinya berhalusinasi setelah meminum obat, dan hal itu sudah terjawab saat mengetahui ada kandungan ketamine didalam obat itu, tapi dosis rendah menyebabkan halusinasi, pasti tidak mungkin efeknya secepat itu menyebabkan pasien meninggal kalau bukan karna dosisnya ditambah.


"Lalu apa yang terjadi pada pasien saat diberi dosis tunggi?" Tanya Ita semakin penasaran.


"Saat diberi dosis besar maka akan mengganggu sistem pernapasan dan juga peredaran darah ke jantung, itulah yang menyebabkan oarang bisa mati dalam hitungan menit saat memakai dosis berlebih" jelas Airin lagi.


Penjelasan Airin semakin menguatkan dugaan Ita, pati ada yang ingin sesuatu yang buruk terjadi pada yusuf, orang itu mencampur ketamine alam obat yusuf, kemudian ia juga yang menambah dosis ketamine saat yusuf di rumah sakit, orang itu pasti orang yang sama.


Itu artinya, dugaan suaminya yang merasa ada yang janggal itu memang benar, sekarang tugas Ita dan Rehan mengungkap penjahat itu.


"Makasih ya Rin,gue pergi dulu,"


"Assalamualaikum."


Setelah keluar dari Ruang Airin, ita memudian berjalan cepat menuju ruang Rehan, saat Ita sudah mau membuka pintu ruangan Rehan, sesorang memperingatkan Ita,


"Dokter Ita?"


Ita refleks menatap ke sumber suara yang memenggilnya.


"Dokter Rehan ijin keluar, beliau tidak ada di Ruangan" jelas perawat laki-laki itu.


"Memangnya kemana?."


"Tadi beliay bilang ada urusan di yayasan keluarganya" jawab perawat itu, yang kemudian meninggalkan ita.


-


Ita tidak bisa menunggu lagi, ia harus segera memberitahukan soal ini ke Rehan, kejahatan harus secepatnya terungkap.


Ita melajukan mobilnya menuju yayasan peninggalan mertuanya yang kini di pimpin oleh ayahnya.


Sesampainya disana, ita segera ke Ruang Kepala, sayup-sayup Ita mendengar Rehan berbicara debgan nada tinggi.


"Kenapa bisa ada aturan seperti ini!" Ucap Rehan pada salah satu staff keungan yayasan.


"Maaf pak, saya hanya menuruti perintah" jawabnya.


Saat Ita mau membuka kenop pintu, sudah terlebih dahulu seorang laki-laki keluar dari Ruangan dengan wajah masam, ia pasti orang yang disentak suaminya. Ita segera masuk ke Ruangan.


"Assalamualaikum?" Kedatangan Ita mengagetkan Rehan yang tengah duduk di kursinya.


"Wa'alaikumussalam Ita kenapa datang kemari" ucap Rehan yang barusaja mau bangkit dari duduknya namun di tahanboleh kedua tangan Ita yang kembali mendudukkan suaminya.


"Kakak kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Ita lembut.


Namun sepertinya Rehan tak bisa menceritakan untuk masalah yang satu ini, "ngga apa-apa."


Ita tau suaminya sedang menutupi sesuatu darinya, "cerita kak, Ita tidak akan membela pihak manapun."


Ucapan Ita berhasil membuka pintu hati Rehan untuk bercerita kepadanya, kini Rehan akan menceritakan masalah yayasan.


"Jadi, peraturan yayasan yang memberi biaya pendudikan gratis kepada anak yatim atau piatu sudah dihapuskan, padahal dari dulu abi selalu menegaskan kalau anak-anak tidak boleh dibebankan biaya pendidikan, apalagi anak yatim piatu" jelas Rehan.


Ita terdiam sejenak, "jadi maksud kakak, kepala yayasan yang baru mengubah kebijakan itu?" Tanya Ita.


"Ahh ita, bukan maksut kakak menyalahkan ayah" Rehan tidak ingin terjadi salah paham anatara dia dan Ita, hanya karna masalah ini.


Ita menggenggam tangan Rehan,


"kak, Ita sudah bilang, ita tidak tidak memihak siapapun, kalau menag kebijakannya dari dulu seperti itu, kini harus kembalikan seperti awal" jelas Ita.


"Masalahnya, Kakak bukan siapa-siapa disini, kakak sudah memberiakn jabatan penuh ini kepada ayah" jelas Rehan.


Kini Ita mulai berburuk sangka pada ayahnya, semua kejadian menyangkut ayahnya kini menjadi tanda tanya besar untuk ita, ia sendiri sudah mulai curiga saat melihat ayahnya berada di Ruang pak bagas, apa ini ada hubungannya dengan pak bagas?.


"Setelah ini, Ita akan coba bicara sama ayah, Ita akan coba bicara baik-baik sama ayah supaya mengemaikan kebijakan lama" Ita menawarkan bantuan kepada Rehan.


Rehan bersyukur punya istri yang selalu mendukung apapun keputusan Rehan, Istri yang selalu mengerti Rehan, Rehan merasa bahagia punya Ita.


"Makasih ya" ucap Rehan sembari menepuk pucuk kepala Ita.


"Eumm.. kak, Ita mau nanya deh sama kakak" Ita kini menarik Rehan untuk duduk di shofa, dan Ita berdiri di hadapan Rehan.


"Apa?."


"Apa sebelum menikah sama Ita, kakak pernah cinta sama seseorang?, eumm.. maksud Ita, kiya menikah kan karna dijodohkan, mungkin saja sebelum itu, kakak punya kekasih" ucap Ita menunduk di hadapan Rehan, sungguh Ita malu bertanya tentang ini, tapi Ita juga penasaran akan hal ini,karna selama ini,Rehan belum pernah mengucapkan untuk sekedar 'aku cinta kamu'.


Rehan tersenyum mendengar pertanyaan istrinya ini, jadi dia ini benar-benar lelet, kenapa Ita harus bertanya seperti itu.


Rehan pikir, ia lebih menyukai tindakan yang menunjukkan rasa cintanya daripada sekedar ucapan, tapi sepertinya wanita juga butuh ucapan untuk meyakinkan cinta itu.


Rehan menarik lengan ita, hingga ia kini berada di pangkuan Rehan, Ita benar-benar canggung dengan posisi seperti ini,


"Aku mencintai seseorang sebelum kita menikah, dan kini rasa cintaku terus bertambah kepadanya, maafkan aku" ucapan Rehan berhasil membuat jantung Ita berhenti berdetak untuk beberapa saat.


Ita tak bisa menanggapi ucapan suaminya, ita tak tahu harus berbicara apa.


"Dia berhadsil meembuatku terpesona dengan keberaniannya, dia begitu berani, itu yang membuatku mencintainya" ucap Rehan lagi.


Hati ita seakan hancur mendengar ucapan suaminya, telinga Itapun rasanya panas mendengar Rehan memuji wanita itu, "kalau kakak masih Cinta sama wanita itu, terus kenapa kakak menikahiku, kakak bisa saja membatalkannya" ucap Ita dengan nada tinggi, dan hendak melepaskan pelukan Rehan, tapi justru Rehan malah semakin erat memeluk Ita.


"Ngga boleh tau, biacra sama suami dengan nada yang lebih tinggi dari suami" tegur Rehan lembut dengan mencubit hidung mancung Ita.


Ita menghela napas, yang Rehan katakan itu benar, tidak boleh istri menaikkan nada biacranya kepada suami.


"Yaudah kak, lepasin Ita, Ita mau ada urusan."


"Kamu ngga penasaran wanita itu siapa?" Tanya Rehan.


"Memangnya siapa?" Tanya Ita ragu, siap tidak siap, ita juga ingin tahu siapa wanita itu.


"Wanita itu sekarang ada di pelukan kakak, ia adalah wanita pemberani itu" jelas Rehan sembari memeluk ita yang ada dipangkuannya.


"Hah?" Ita masih bingung maksut Rehan.


Rehan semakin gemas dengan Ita yang loadingnya lama,


"intinya, kakak Cinta Tata" ucap Rehan lembut tepat di telinga Ita.


"Wanita itu adalah Atma Anindhita" Rehan semakin memperjelas, kini wajah Ita sudah memerah bak kepiting rebus, Ita tersipu malu debgan pengakuan Rehan, selama ini ternyata Cinta Ita tidak bertepuk sebelah tangan.


Drrrtt... drrrt... nada ponsel Rehan berbunyi memecah romantisme Ita dan Rehan. Ia segera mengangkat telponnya, ada panggilan darurat dari Rumah Sakit.


Rehan masih ingin bermesraan dengan Ita, tapi ia harus pergi sekarang.


"Ngga apa-apa kak, Ita juga mau ke Rumah Ayah" ucap Ita agar suaminya segera ke Rumah sakit.


"Hati-hati ya."