You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
25



25.


Ketika aku bersamamu, kita terjaga sepanjang malam. Ketika kau tidak ada di sini, Aku tidak bisa tidur. Aku bersyukur pada Tuhan untuk insomnia semacam itu dan perbedaan diantara keduanya.


[ Jalaluddin Rumi ]


🌹


Allah... sakit sekali rasanya diacuhkan suami sendiri~ gumam Ita dalam hati saat melihat punggung Rehan menghilang dari balik pintu kamar oprasi tanpa melihat Ita sekilaspun.


Ita mengirup udara dengan panjang, ia menyelesaikan cuci tangannya dan bersiap masuk untuk ikut breafing sebelum oprasi.


Rehan memberitahu formasi dan menjelaskan tugas-tugas mereka, dan tak lupa sebelum oprasi dimulai mereka berdoa agar diberi kelancaran pada oprasi kali ini.


"Dokter Ita, sepertinya anda sedang tidak enak badan, lebih baik anda ijin kalau memang sedang tidak enak badan" ucap seorang dokter penanggung jawab anestesi.


Ita tersentak mendengar pernyataan itu, ita segera menyangkalnya, "Ah tidak dokter, saya hanya kurang tidur" ucap Ita dengan pandangan mata yang menyorot tajam pada Rehan.


Rehan berdaham, "Kau bisa keluar dari ruangan kalau kau ingin tidur" ucap Rehan dengan nada dinginnya.


"Saya akan tetap disini" tegas Ita.


Lampu Ruang Oprasi mulai menyala pertanda Oprasi dimulai, semua serius mengerjakan apa yang harus dikerjakan,


"Drill..." ucap Rehan kepada Ita.


Ita segera memberikan benda yang Rehan minta. Rehan mulai membuka tulang tengkorak pasien dengan piawai seperti biasanya.


Setelah waktu menunjukkan jam 11 malam, peratrungan di meja oprasipun akhirnya selesai dengan lancar.


Ita segera melepas sarung tangan latex, ia mulai keluar dari ruang oprasi mendahului dokter-dokter yang lain, Ita melepas masker medisnya dengan kasar sembari berjalan, ia meregangkan otot-ototnya, sepertinya yang diucapkan dokter tadi memang benar, Ita sedang tidak enak bada.


Rehan berjalan melewati Ita begitu saja saat ita sedang meregangkan otot-otonya. Pandangan ita langsung tertuju pada laki-laki berkaki jenjang itu.


Ingin sekali Ita mengikuti langkahnya,tapi mau apa? Dia bahkan tidak peduli saat ada ada dokter laki-laki lain yang peduli tadi.


"Haahhhh???" ucap Ita memandangi Rehan yang berlalu pergi.


Ita kini sudah mengganti seragam operasinya, ia kemudian ke ruangan untuk mengerjakan laporan pasca operasi, setelah menyelesaikannya, Ita segera menyerahkannya pada Rehan.


Dengan tergesa-gesa, Ita mencari keberadaan Rehan di Ruangannya, namun tak ia temukan sosok itu, ita kembali berlari menuju restroom para dokter, ita juga tak menemukan sosok laki-laki Itu.


"Astaghfirullah..." ucap Ita sembari menghela napas panjang, ita benar-benar sedang lelah saat ini, dan kini? Rehan membuat pekerjaannya semakin melelahkan.


"Tata, cari siapa?" Tanya Airin yang hendak ke Rest room.


"Dokter Rehan" ucap Ita lelah.


"Lah, tadi gue lihat baru aja masuk ke ruangannya" ucap Airin yang baru saja melihat Rehan masuk ke ruangannya.


"Hah" ita membuang napas dengan kasar, setelah berjalan jauh dari ICU pasca bedah, lalu ke ruangan Rehan yang jaraknya jauh, kemudian ke Rest room dokter, dan kini? Ita harus kembali lagi ke ruangan Rehan.


Ita mulai berjalan dengan malas menuju ke Ruangan Rehan, ia mengetuk pintu Ruangan Rehan.


"Masuk" ucap Rehan, Ita segera masuk setelah ita mendengar kata masuk.


Ita menatap tajam has tatapan maut ke arah Rehan, kalau saja Rehan bukan suaminya, sudah ia cakar dia.


Rehan menatap Ita lekat, kedua mata ita sudah menunjukkan mata panda, menunjukkan ita sedang kekurangan tidur.


Ita mulai berjalan ke arah rehan, duduk di depannya Rehan,


"dokter, ini laporan paska operasi" ucap Ita sembari memberikan laporan yang ia bawa.


Rehan hanya mengambil laporan itu, tak bicara sepatah katapun. Suasana heningpin tercipta, hanya ada suara detik jam yang terus berputar, situasi ini benar-benar sangat canggung.


"Eumm... ka- maksutnya dokter, malam ini apa dokter ada jadwal jaga?" Tanya Ita berharap Rehan menjawabnya.


Lama sekali Rehan tak membuka suara, ia masih mengecek laporan yang ita berikan, sepertinya pertanyaan Ita tak akan dijawab.


merasa diacuhkan, Ita memutuakan untuk pergi saja "Kalau begitu, saya permisi, assalamu'alaikum" ucap Ita yang memutuskan untuk keluar dari situasi canggung itu.


"Malam ini saya tidur di doemitory" ucapan Rehan berhasil menjawab rasa penasaran Ita.


"Aahh..." angguk Ita mengerti, badu saja Ita mau mengajukan pertanyaan tidur dimana Rehan semalam, namun Rehan sudah tak memberi kesempatan untuk Ita bicara.


"Wa'alaikumussalam" ucap Rehan, Ita cukup peka dengan keadaan, ucapan itu berarti Ita harus cepat keluar dari ruangan.


Ita mulai berdiri dan berjalan keluar, Ita memelankan langkahnya berharap Rehan memanggil namanya, namun sampai diambang pintupun, ia belum juga memanggil nama Ita.


"haaiisshhh" ucap Ita geram yang kemudian membuka kenop dengan kasar, dan menutup pintu dengan sedikit membantingnya.


Ita berhenti saat berada di balik pintu


"Hah? Dianggap apa aku ini?! Aku masih istrinya!?,"


"Baahh, tanya keadaanku saja tidak" ucap Ita kesal yang kemudian beranjak ke rest room.


-


"Ngga pulang Rin?" Tanya Ita pada Airin yang masih sibuk menulis jurnal.


"Ada jadwal jaga" jawab Airin tanpa melihat Ita.


Sekarang Ita berada di ambang dilema, antara pulang atau tidak. Kalau ia pulang, ia tidak tau kemana Rehan bermalam, tapi kalau ia tidak pulang, Yasmin pasti akan cemas.


Ita meragoh saku dan mengambil ponselnya,


"assalamualaikum ummi."


"Tata sudah tengah malam kok belum pulang?" Tanya Yasmin.


"Iya ummi, Ita malam ini ngga bisa pulang ummi" ucap Ita.


"Aah, ummi mengerti, jaga dirimu baik-baik ya" ucap Yasmin yang kemudian menutup sambungan telponnya.


"Hari ini kan lu ngga ada jadwal ta, ngapain ngga pulang, kalau gue jadi elu, gue milih pulang deh rebahan di kasur" sahut Airin yang mendengar percakapan Ita dan Yasmin di telpon.


"Aaahhhh, hari ini aku bahkan baru bisa duduk" keluh Airin mengusap wajahnya sembari meregangkan otot di kursinya.


Ita berjalan menghampiri Airin, "kalau begitu, kau rebahan saja,biar aku yang ganti jaga malam ini" ucap Ita menwarkan diri.


Airin segera menolak tawaran Ita, tentu bukan hanya Airin yang lelah, ita juga pasti lelah setelah bertarung di ruang operasi, jadi tak adil kalau Airin menerima tawaran Ita,


"ngga usah ngga usah, elu pulang aja, gue tetep jaga."


"Udahlah ta, sana pulang istirahat" titah Airin.


"Malam ini gue mau nginap di doctor dormitory ( sebuah pondokan sementara untuk dokter tetap atau dokter yang memiliki jadwal padat)."


Airin beetanya seperti itu karna tidak pernah menginap di dormitory setelah ia menikah, maklum saja, biasanya dormitory hanya diisi dokter yang belum berumah tangga untuk menghemat sewa apartemen.


"Yaudah sii,fighting Airin!! Semangat!!" Ucap Ita mengepalkan jarinya sembbari beranjak dari rest room.


Ita tak tahu harus kemana, ia hanya mengikuti langkah kakinya, padahal ini sudah larut malam, badan Ita juga rasanya remuk, hatinya juga,matanya juga rasanya sudah berat untuk terus terjaga,tapi Ita tak langsung pergi ke dormitory untuk istirahat.


Ia berjalan berharap melihat Rehan sebelum tidurnya, Ita melangkahkan kaki keluar Gedung Rumah Sakit, ia kini terduduk di kursi panjang taman. Ita terduduk sembari meluruskan kakinya,menatap sendu langit bertaburan bintang.


Banyak yang Ita pikirkan, semuanya menumpuk di kepala Ita, tapi ia tak tau harus bagaimana.


Bagaimana cara menyelesaikan kasus abi yusuf, bagaimana cara menyelesaikan kasus ibunya, dan ditambah kasus rumah tangganya.


Kedua tangan ita kembali memegang kepalanya, rasanya keoalanya ingin meledak. Ita ingin sekali berteriak.


Ita menatap kembali langit dini hari, semua bebannya terasa begitu berat, sampai Ia tertawa sambil menangis secara bersamaan.


Jiwa ita sepertinya memang sedang sedikit tak waras, ia menekam kapalanya. Tangis dan tawanya menjadi satu.


"Kenapa tidak pulang?" Suara dingin itu terdengar di telinga ita.


Secepat munkin Ita menghapus air matanya. Ita segera menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakang, melihat Rehan datang, Ita juga segera menurunkan kakinya yang tadi ia luruskan di kursi.


Ita tak menjawab, dan tak mau menjawab, dia tidak bisa diperlakukan seperti ini. Ada tapi tak dianggap, setega itu Rehan padanya.


Tak mendengar jawaban apapun dari Ita. Rehan mulai berjalan mendekati Ita, ia kini duduk disamping Ita.


Tangan rehan mengangkat kedua kaki Ita yang barusan ia turunkan ke pangkuannya.


Rehan menyodorkan plastik putih yang ia bawa kepada Ita,


"minum obatnya, kakak rasa kamu masuk angin, kemarin kamu pasti begadang menunggu kakak pulang, hari ini kamu juga belum beristirahat" ucap Rehan tepat tanpa meleset sedikitpun.


Ita masih diam, ia ingin sekali mengabaikan Rehan,biar ia tahu rasanya diabaikan. Rasanya tuh sakit.


Tangan Rehan yang masih menyodorkan obat diabaikan, ia bahkan tak mau melihat Rehan. Rehan kemudian membuka sendiri plastik itu, dan membuka obatnya.


Mau ngapain dia? Katanya mau buat aku, kenapa malah mau diminum sendiri- oceh Ita dalam hati.


Rehan mengmbil air mineral yang ia bawa, ia memegang punggung Ita memajukan tubuh Ita hingga posisi mereka sangat dekat, Rehan kemudian memberikan obat yang baru ia buka untuk Ita.


"Aaaaa... ayo buka mulutmu" titah Rehan.


Bukanya membuka mulut, ita justru semakin menutup rapat mulutnya. "Ita ayo minum" titah Rehan lagi.


Ita masih mempertahankan posisi mulutnya membungkam.


"Itaaaaa" panggil Rehan dengan nada membujuk.


"Hmmmmm hmmmmmm" Ita semakin merapatkan mulutnya.


"Ita sayaaaaanggg" kini Rehan membujuk Ita dengan panggilan sayang.


"Hah, sej-" hap, Rehan langsung memasukkan obat setelah berhasil memancing ita buka suara. Rehan kemudian memberi Ita air mineral dan membantu Ita meminumnya.


"Kenapa ngga dari tadi si" ucap Rehan sembari menutup botol air mineral setelah ita meminum obatnya.


Ita semakin kesal dengan suaminya ini. tapi kali ini, ia lebih memilih diam, diam seperti yang Rehan lakukan. Sebenarnya ita saat ini ingin sekali memeluk Rehan dan menagis di pelukannya namun ita masih meninggikan egonya.


Setelah mencekoki Ita obat, kini Rehan memijat kaki Ita yang sedari tadi diluruskan di pangkuan Rehan.dengan penuh perhatian, Ita memijat kaki Ita.


"Pasti sedari tadi belum sempat duduk kan?" Ucap Rehan sembari memijat kaki Ita.


(. . . ) tak ada balasan dari Ita, tapi tak membuat Rehan menghentikan pijatannya.


"Pasti tadi pagi mual ya? Karna kurang tidur" tebak Rehan lagi, dan tebakannya tak meleset sedikitpun, Tadi pagi ita memang mual, itu karna setiap ita tidak tidur malam, shubuhnya pasti ia mual ingin muntah.


Tapi ita tetap saja memilih diam tak menanggapi Rehan, berlagak tak ingin menanggapi ucapannya.


"Kalau ngerasa ngga enak badan, jangan lupa diminum obatnya, tau sendiri udah pernah ambruk beberapa kali gagara kecapean."


(. . . )


"Jadi kenapa ngga pulang? Kalau disini kamu ngga bisa istirahat."


(. . . ) diam, baru kali ini Rehan yang berbicara sendiri, biasanya juga Ita yang ngoceh saat bersama Rehan.


Rehan kini menatap Ita dengan senyum merekah penuh perhatian,


"kalau pengen cubit kakak atau mukul kakak lakuin aja, jangan dipendem" ujar Rehan masih sibuk memijat kaki Ita.


Ita menurunkan kakinya dari pangkuan Rehan. Buuuk Tubuh Ita langsung mengjambur ke pelukan Rehan, tangisnya pecah tiba-tiba, tangis yang terisak


"hiks... hikss... hiks.." Ita memeluk erat Rehan, ini yang dari tadi Ita ingin lakukan, menangis di pelukan teduh Rehan.


Rehan merangkul tubuh mungil Ita, sepertinya berat badan Ita turun,


"maafkan kakak" Rehan mengelus kepala Ita yang tertutup jilbab.


Ita semakin mengeratkan pelukannya,


"maafin Ita, Ita salah hiks.. hiks.. hik.."


"Kakak juga salah" ucap rehan berusaha menengkan Ita.


"Apa kak Reha bakal cerain Ita?" Ujar Ita terisak takut kalau kemungkinan terburuk terjadi.


Rehan melepas pelukan ita dengan lembut, ia ingin Ita menatapnya, kedua tangan Rehan, memegang erat pundak Ita yang bergetar.


"Jangan pernah berbicara tentang perceraian, hal itu tidak akan kakak lakukan" Rehan tak ingin Ita mengucapkan hal yang tak akan pernah rehan lakukan.


Rehan mulai menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Ita, dan memeluk Ita kembali.


"Terkadang sesuatu terjadi diluar perkiraan kita, sesuatu yang tidak bisa tolak dan tidak bisa ubah, dan sudah seharusnya kakak bisa menerimanya" ucap Rehan.


"Maafkan ita" ucap ita dalam pelukan Rehan.


"Maafkan suami yang egois ini" ujar Rehan.


"Sampai meninggalkan istri cantik kakak sendirian, membuatnya menunggu dalam keriakpastian, membuatnya sampai masuk angin, maafkan kakak" Rehan membelai lembut kepala Ita.


"Kalau kakak masih pergi-pergi lagi ninggalin ita, mungkin otak kakak perlu dibedah buat membenah memori kakak akan ucapan kakak ini" ucap Ita tak mau melepaskan pukan Rehan.


"Ita ngga bisa dicuekin kakak, rasanya Ita pengen cubit perut kakak."


"Kakak ngga pernah tau rasanya dicuekin sama orang yang kita sayang, rasanya tuh sakit." Ujar Ita.


"Kakak tau rasanya, baru saja beberapa menit yang lalu kakak merasakan" bals Rehan yang menegrti perasaan Ita.