
Ketika dalam kesulitanmu orang-orang meninggalkanmu, Itu bisa jadi karna Allah sendirilah yang akan mengurusmu.
-Imam Syafi'i
🌹
Sampai di jalan cempaka, tempat kecelakaan 12 tahun silam, Ita keluar dari mobilnya, jalan raya yangbmasih sepi di jam 3 dini hari.
Pandangan ita bingung melihat sekeliling yang sepi tak ada orang lewat atau beraktifitas.
"Kak.....!!!" Panggil Ita berharap ada Rehan yang mendengar.
"Kak Rehann. . . !!" Panggil Ita lagi sembari kakinya yang terus berjalan.
Tapi masih saja nihil, sunyi, tak ada yang menjawab panggilan ita, rasa takut menyelimuti diri Ita, takut akan terjadi sesuatu dengan Rehan.
"Kak Rehan... ini Ita" teriak Ita lagi memanggil Rehan dengan kencang, suaranya yang hampir habis, ia paksakan untuk berteriak.
Ita jatuh luluh di tepi jalan, ia merasa putus asa saat tak mendapati Rehan, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah, bayang-bayang kecelakaan ibunya muncul, ia takut hal itu juga terjadi pada Rehan. Ita tergugu dengan tangisannya.
Ita menangkupkan telapak tangannya di wajah menahan tangisnya, ia tak sanggup bila harus kehilangan lagi orang yang sangat ia sayangi.
Di tengah tangis Ita yang tergugu semabri luluh di tepi jalan, sepasang tangan dari arah belakang menyentuh pundak ita yang bergetar, ita membuka tangkupan telapak tangannya, tangan itu membantu Ita berdiri dengan susah payah, dengan lemas, Ita berbalik arah menatap siapa yang membantunya berdiri.
Seorang laki-laki yang 2 bulan yang lalu telah mengikrarkan janji suci dengan Ita, dia adalah Rehan, tanpa aba-aba apapun, Ita langsung saja berhambur kepelukan Rehan.
Ita memeluk tubuh kekar Rehan dengan erat, ia tak ingin jauh dari Rehan, tak ingin kehilangan Rehan, dan tak ingi sesuatu yang buruk terjadi pada Rehan.
Ita menumpahkan airmatanya di pelukan rehan, sudah cukup Rehan mempermainkan Ita dengan cara seperti ini, Ita terlalu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Rehan.ancaman ayah ita sudah cukup membuat Ita gila.
Rehan menyambut pelukan Ita, Rehan juga memeluk Ita dengan erat, meskipun Rehan sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi dengan Ita.
Setelah dengan eratnya Ita memeluk Rehan, menangis di pelukannya, tiba-tiba ita menghempas tubuh Rehan, Ita menusap air matanya kasar, "kenapa kakak lakukan ini!!" Sentak Ita dengan tangisnya.
Rehan semakin tidak mengerti dengan emosi istrinya kali ini, ia pun memlih diam sampai Ita tenang dengan sendirinya.
"Kenapa kakak tinggalin Ita" ucap Ita disela tangisnya dengan memukul dada bidang Rehan.
"Kenapa kakak tega tinggalin Ita!!" Ita masih saja memukul dada Rehan, dan Rehan diam saja menerima setiap pukulan Ita, Rehan hanya berharap pukulan itu bila menengkan Ita.
"Ita takut kehilabgan kakak" Ucap Ita masih dengan tangisnya.
Rehan menarik tangan ita yang akan memukulnya hingga Ita kini berada dipelukkan Rehan, "apa yang terjadi?" Tanya Rehan yang akhirnya buka suara.
Ita masih terisak dipelukan Rehan, sampai akhirnya dengan tiba-tiba suara tangisan Ita tak terdengar lagi, bukannya tenang karna tangis Ita reda, tapi Rehan semakin cemas karna Ita tiba-tiba pinsan di pelukannya.
"Tata? Ita" panggil Rehan menepuk lembut pipi Ita. Namin tak ada nalasan dari Ita.
Dengan segera Rehan mengangkat tubuh mungil Ita, membawanya ke adalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke klinik terdekat.
segara setelah keluar dari mobil dengan menggending Ita,seorang perawat laki-laki menghampiri Rehan, Waktu menunjukkan pukul 4 kurang, aktifitas diklinik itu juga masih sepi,
"Dimana dokter?" Tanya Rehan dengan Ita yang masih berada di gendongan Rehan.
"Semua dokter jaga sedang ada pasien sendiri pak, mohon tunggu sebentar, pasien akan segera ditangani" ucap peawat itu yang membawa brankar.
Rehan segera menidurkan Ita di brankar, Rwhan tak bisa menunggu dokter memberi tindakan pada Ita, Rehan sudah sangat cemas dengan keadaan Ita.
Itu yang membuat Rehan mengambil tindakan sendiri, Rehan mendorong brankar ita ke UGD bersama seorang perawat laki-laki,
Sesampainya di Ruang UGD.
"Berikan saya infus dan jarum suntik" Ucap Rehan tegas pada perawat itu.
"Tapi,ini hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter, silahkan tunggu sampai dokter datang sebentar lagi" ucap perawat itu yang tidak bersedia memberikan barang yang Rehan inginkan.
Tak ingin buang-buang waktu, Rehan segera mencari infus dan menarik trolley berisi alat untuk memasang infus untuk Ita, rehan sudah memeriksa keadaan Ita,dan yang Ita butuhkan sekarang adalh cairan dan Istirahat.
"Pak mohon jangan lakukan ini tanpa prosedur, bapak hanya akan membahayakan pasien " perawat itu masih saja mengoceh saat Rehan sedang menyuntik utuk memasang infus bagi Ita.
Rehan tak menggubris apapun yang perawat itu katakan, ia hanya ingin istrinya segera mendapat tindakan, sejurus dengan Itu, seorang dokter yang bekerja di klinik tersebutpun datang.
"Dokter,saya sudah melarang laki-laki ini,tapi dia tak mendengar dan memasang infus itu sendiri, padahal belum ada pemeriksaan pasien" ucap perawat menyambut kedatang dokter klinik di ambang pintu.
Kini Rehan sudah selesai memaaang Infua untuk Ita,dan Rehan sudah bisa bernapas lega.
Dokter klinik yang mendengar penjelasan perawat itupun segera berlari ke arah Ita,langsung mengecek infus yang Rehan pasang, juga memeriksa keadaan Ita.
"Maaf karna saya tidak bisa menunggu lagi dokter" ucap Rehan meminta maaf karna telah lancang menggunakan fasilitas klinik.
Dokter klinik memutar tubuhnya dan kini ia berhadapan dengan Rehan,
"Apa bapak seorang dokter?" Tanya dokter klinik.
"Ah iya, dan ini istri saya,jadi saya mohon maaf tidak bisa menunggu sampai dokter datang, saya minta maaf" ucap Rehan meminta maaf kembali.
Kini perawat yang sedari tadi brisik, hanya bisa diam menahan rasa malunya.
Dokter klinik itu tersenyum menimpali ucapan Rehan,
"tak usah minta maaf, semakin cepat pasien sitangani di tangan yang tepat, itu semakin baik."
"Karna sudah ada suami yang juga seorang dokter, jadi tak perlu ada yang saya beritahukan, toh suaminya sudah tau keadaan istrinya" ucap Dokter tersebut dengan senyum mengembang.
"Sekali lagi maafkan saya dok." Dokter tersebut kemudian pergi meninggalkan ruangan dan melanjutkan pemeriksaannya terhadap pasien lain.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Ita sadar dari pingsannya, Rehan yang berada di shofa segera menghampiri ita dan duduk di sisi Ita.
"Kak..." panggil Ita lemah.
Rehan segera menggengam tangan Ita,"kakak disini" sahut Rehan.
Ita tersenyum melihat Rehan yang kini berada di sisinya, "jangan pergi lagi ya kak" ucap Ita lemah.
"15 menit lagi shubuh,kita sholat berjamaah disini ya" ajak Rehan.
Ita hanya mengangguk mematuhi ajakan suaminya, setelah adzan shubuh berkumandang, Rehan segera keluar mengambil air wudlu dan Meminjam mukenah salah satu perawat untuk Ita.
Rehan menyodorkan mukenah yang tadi ia pinjam, beberape detik kemudian, mukenah itu sudah beralih di tangan Ita, "makasih kak" ucap Ita.
Seusai sholat, Rehan yang pamit untuk membeli sarapan akhirnya sudah datang kembali, ia membawa 2 bungkus makanan di tangan kanannya.
Rehan duduk di kursi sisi ranjang pesakitan Ita, dan membuka bubur ayam yang tadi Rehan beli, Rehan berniat akan menyuapi Ita.
"Ita ngga suka bubur ayam kak" ucap Ita dengan nada manjanya itu.
Rehan tak menjawab apa-apa, ia masih sibuk membuka bungkus bubur.
"Ita mau keluar aja dari klinik, ita ngga betah" rengek Ita kembali.
Rengekan ita membuat senyum rehan merekah, malah Rehan seperti ingin tertawa debgan rengekan manja Ita. Kini Rehan mengubah posisi duduknya, dari kusi yang berada di sisi ranjang pesakitan, kini Rehan duduk di ranjang Ita,duduk berhadapan dengan Ita.
"Pasien Ita harus makan dan minum vitaminnya supaya cepat keluar dari klinik" ucap Rehan dengan nada khas dokternya Itu.
"Kaaakkkkk...." Rengek Ita.
"Iya sayaaanggg" sahut Rehan dengan nada gombalnya. Ita sangat menggemaskan kalau sedang manja seperti ini.
"Ita mau pulaangg, ita ngga apa-apa, Ita mau ke Rumah sakit aja" Rengek Ita lagi seperti anak kecil.
"Ohh kamu mau dirujuk ke Rumah Sakit? Ngga mau di Klinik ini? Yasudah ayo kita ke Rumah sakit" goda Rehan. Ita semakin kesal dengan Rehan yang pura-pura tak mengerti maksud Ita.
Kini bibir ita sudah maju beberapa centi pertanda ia sedang ngambek, Rehan terkekeh geli melihat lucunya ekspresi Ita kalau sedang marah.
"Kok ketawa? Ita lagi marah nih" ucap ita tatapan membunuh.
"Yasudah kalau ngga mau sarapan, dokter tinggal dulu mengurus pasien yang lain," Rehan hendak berdiri dari tempat duduknya, Ita yang tadinya pura-pura tidak peduli, langsung menarik lengan Rwhan saat ia mau meninggalkan Ita.
"Katanya ngga bakal ninggalin Ita" ekspresi Ita kini berubah memelas.
Rehan kembali keposisi duduknya,
"makanya makan dulu, kalau kamu sering bilang ke pasien kalau 'anda harus makan yang teratur ya, istirahat yang cukup, dan jangan lupa obatnya' sekarang giliran kamu mendengarkan itu dan melakukannya" ucap Rehan.
"Kak.. tapi...." Ita masih saja mau bernego.
"Ngga ada tapi-tapian," Rehan menyuapkan satu suapan untuk ita, setelah Ita makan beberapa suapan, Rehan kemudian membantu Ita minum vitaminnya.
"nah, sekarang pasien atas nama atma anindhita bisa istirahat ya" ucap Rehan sembaribmerapikan selimut Ita.
Ita meraih tangan Rehan,
"kakak ngga pergi lagi kan?" Tanya Ita dengan wajah takutnya.
Rehan kemudian duduk di sisi ita,"ngga, kakak jagain Ita disini" jawba rehan dengan senyum mengembang.
Ita tertidur dengan tangan yang menggenggam tangan Rehan.
Setelah ita pulas tertidur, Rehan kemudian mengambil ponselnyabuntuk mengabari seseorang,
"assalamua'laikum mam."
"Iya bro wa'alaikumussalam" jawab hammam.
"Hari ini gue berangkat siangbya, tolong pasien pagi gue lo ambil laih dulu ya pliiss" pinta Rehan.
"Ah elu mah, kagak ah,lo berangkat sekarang pokonya."
"Ngga bisa mam, Ita lagi sakit" jelas Rehan yang akhirnya membuat Hammam tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
🌹
Baru setengah hari dirawat, Ita sudah tidak betah lagi berada di klinik, ita sudah merengek pulabg kepada Rehan.
"Ita ngga apa-apa kak, udahlah ayo pulabg, lagipula kakak juga masuh banyak pasien kan" ucap Ita membujuk.
setelah Rehan rasa keadaan Ita sudah baik-baik saja, Rehanpun mengabulkan keingan Ita untuk segera pulang,
"tapi inget ya, jangan kecapean lagi, jangan nangis lagi sampai diforsir, apalgai nangisnya di pinggir jalan kayak kemaren, untung aja kakak yang nemuin kamu, kalau orang lain yang nemuin kamu nangis trus tiba-tiba pingsan? Kan kesempatan dia gendong kamu" jawab Rehan dengan nada cemburunya.
Ita tak bisa menahan senyumnya saat mengetahui sisi pencemburu dari Rehan, "siap pak dokter" ucap Ita semangat dengan posisi tangan hormat.
Rehan terkekeh melihat tingkah Ita, karna gemas, tanpa aba-aba, rehan begitu saja main gendong Ita.
Ita kaget saat Rehan menggendong Ita, "kak turuni mau ngapain?" Pinta Ita. Jangan bilang Rehan akan membawa Ita keluar dengan menggendongnya, Allah, mau ditaruh kemana muka Ita.... pasti malu banget dilihat banyak orang.
"Ngga akan kakak lepasin sampai di mobil" ucap Rehn dengan senyum jahilnya, Rwhanpun benar saja menggendong Ita sampai mereka berdua jadi puaat perhatian, mereka yang melihat Rehan tampan kayak Zayn Malik menggendong Ita cantik merasa baper ingin punya pasangan kayak Rehan.
Tapi yang dirasakan ita yang kini tengah digendong Rehan dan jadi pusat perhatian, ita merasa risih dan malu, ita menenggelamkan wajhnya di dada Rehan, dan Rehan dengan gagahnyabmenggendong Ita melewati koridor klinik.
Sampai di dalam mobil, Rehan kemudian memasangkan sabuk pengaman untuk Ita, "kakak lebay banget sih" gerutu ita saat rehan swdang memasang sabuk pengaman untuk Ita.
"Siapa yang lebay, kan kakak ngga mau kemau kecapean lagi kanrana jalan dari ruangan ke mobil" jelas Rehan mulai menghiduokan mesin mobilnya.
"Tapi kalo kayak gitu tadi kan malu kak dilihatin orang" oceh Ita lagi.
Rehan mulai mengemudikan mobilnya keluar dari klinik, "lah kamu mau diliatin siapa? Setan?" Sahut Rehat yang fokus menyetir.
"Lagipula mereka juga ngga kenal kakak,ngga kenal kamu juga, kalau di rumah sakit tempat kita kerja baru kakak ngga mau nglakuin tadi" jelas Rehan menatap jalanan di depan.
"Kenapa ngga mau?" Sahut ita yang kini berubah jadi nada nyolot.
"kakak ngga mau aja, bikin semua jomblo yang ada di rumah sakit jadi ngebet pengen nikah" jawab Rehan sembari terkekeh geli.
Ita juga ikut tertawa mendengar jawaban Rehan, Ita jadi bayangin wajah Airin yang bakal ngga kuat jomblo, salwa yang tambah patah hati atau kiki dengan wajah tidak terima kalau Rehan sudah jadi suaminya. Ita jadi rindu sama mereka semua.