
Diriwayatkan dari Nabi SAW,sesungguhnya beliau bersabda :" sabar menjadikan penangkal penderitaan, dan penolong atas kesulitan-kesulitan"
Nashoihul Ibad, 49
🌹
Ita mengusap Air matanya , ia sudah berpikir dengan matang dan ia pikir ini adalahbkeputusan yabg terbaik, Ita mulai melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Rehan.
"Ns.Salwa??" Panggil Ita. Karna merasa terpanggil, salwa segera membalikkan badannya.
"Apa operasi dokter Rehan masih lama?" Tanya Ita pada Salwa yang ia temui.
"Sepertinya sebentar lagi selesai" jawab Salwa.
"Ada yang ingin anda tanyakan lagi dokter?" Tanya Salwa.
"Ah tidak, terimakasih" ucap Ita,salwa menimpali dengan senyumnya, ia kemudian pergi melanjutkan aktivitasnya.
Ita memilih menunggu di ruangan Rehan, toh Ita baru mulai tugasnya di Rumah sakit 30 menit lagi.
Sepuluh menit menunggu, Rehan akhirnya keluar ruang operasi.
"Astaghfirullah" ucap Rehan refleks saat membuka pintu ruangannya, Ita sudah duduk di kursinya.
Ita tertawa renyah melihat ekspresi kaget Rehan. "Sejak kapan disini?" Tanya Rehan sembari melepas maskernya.
Ita melihat sekilas jam tangannya, "10 menit yang lalu."
Ita berdiri dari duduknya, ia mengajak Rehan duduk di shofa panjang yang ada di ruangannya.
Ita memegang kedua tangan Rehan, Ada yang Ingin Ita katakan secara serius.
"Katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu" ucap Rehan yang sudah hafal dengan kebiasaan Ita.
"Ita sudah putuskan," Ita menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ita tidak akan memperpanjang kasus kecelakaan," ucap Ita denagn oandangan menunduk.
"Taa..." panggil Rehan.
"I know " sahut Ita.
"Tapi Ita ngga bisa membuat orang yang juga korban harus menerima akibatnya, manabisa Ita melihat pak Bagas yang sudah mengakui sendiri kesalahannya di depan Ita dan sungguh-sunggu menyesal dan ingin bertaubat, bagaimana Ita bisa tega akan hal itu kak???,"
"Ita sudah memaafkannya, Ita sudah ikhlas memaafkannya, dia sudah janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama, bukankah setiap Orang berhak punya kesempatan??,"
"Ini berbeda dengan pak Pras, kita sudah mencoba berbicara baik-baik mengenai masalah ini, tapi dia tidak mengambil kesempatan itu, setidaknya kita bisa melaporkan pak Pras atas kasus Abi, biarlah kasus kecelakaan Ibu terpendam" Ucap Ita menjelaskan keinginannya.
Rehan menghembuskan napasnya, ia membelai lembut pipi Ita, "kakak mengerti perasaanmu, kakak juga tidak akan memaksa hal itu."
"Tapi biarlah, Pak Pras mempertanggung jawabkan apa yangbtelahbia lakukan, setidaknya agar tidak mengganggu pak Bagas,"
"Kakak yakin, kalau kita melaporkan dia atas dasar peracunan Abi, dan terbukti bersalah, kakak yakin ia tidak akan mengungkit kecelakaan ibu,karna itu akan memperberat hukumannya" jelas Rehan menengkan Ita.
"Jadi yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya bisa mendapatkan bukti kasus pembunuhan Abi" jelas Rehan.
Rehan memberikan pelukan pada Ita, setidaknya bisa sedikit menenangkan Ita.
"Oh iya, Adam hari ini bukannya bisa pulang kak" Tanya Ita mengalihkan pembicaraan.
"Ah Iya, Kita lupa memberitahu hal ini sama bu Heni,kalau begitu nanti kakak sendiri yang antar Adam pulang."
"Kakak mau pulang sore ini?" Tanya Ita.
"Tidak, kakak hanya mengantar Adam pulang, setelahnya kakak kembali lagi ke Rumah Sakit" jelas Rehan.
🌹
Ita mengangguk mengerti, Rehan dan Ita kemudian pergi ke Ruang Rawat Adam, anak laki-lakinyang sangat kuat bertahan sejauh ini, sampai Ia dinyatakan sembuh total dari tumornya.
"Adam?? Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Ita yang mengelus kepala botak adam.
"Baik dokter, adam kenapa ngga pulang-pulang ya dok?? Adam pingin segera pulang ketemu Ibu?? Apa ibu hari ini tidak menjenguk adam??" Tanya Adam debagn polosnya.
Rehan meraih tangan Adam yang masih melekat infus di tangannya,
"bukannya ibu setiap malam selalu menjenguk adam?? Kenapa kau ini?? Hari ini seperti tidak sabar srkali ketumu ibu" Ujar Rehan gemas sembari menoel hidung mancung Adam.
"Kalau begitu adam ingin segera malam, agar ibu segera kesini"jawab Adam dengan senyum mengembangnya.
"Eemmm... dokter pikir, karna Adam sudah tidak sabar ingin bertemu Ibu, bagaimna kalau kita bertemu ibu sekarang??" Ucapan Rehan selalu bisa membuat bahagia Adam.
Bola mata adam berbinar saat Rehan mengucapkan hal itu,
"rehan bisa bertemu ibu sekarang?" Tanya adam antusias.
Rehan dan Ita tersenyum lebar sembari mengangguk.
"Yeeeee adam pulang" sorak adam bahagia, sorakan dan senyuman bahagia Adam itu cukup membuat Ita dan Rehan sangat bahagia hari ini.
Rehan menarik trolley yang berisi peralatan untuk melepas infus,
"Kalau begitu, dokter lepas infusnya dulu, baru pulang ke rumah dokter untuk bertemu Ibu."
"Okey" ucap Adam sangat bahagia terlihat dari raut wajahnya, perasaan bahagia Adam bisa dirasakan Rehan dan Ita.
"Adam ganteng, Tahan dulu ya. . ." Rehan mulai melepas jarum infus Adam.
Adam sedikit meringis saat Rehan mulai melepas jarum infusnya, Ita menutup kedua mata Adam agar ia tak terlalu takut.
Setelah mengurus semuanya, Rehan menggendong Adam kecil untuk mengantarkannya pulang.
🌹
( di Rumah )
Heni sedang beres-beres Rumah di Sore hari, ia sedang menyapu halaman Teras, Suara telpon Rumah berbunyi membuatnya segera berlari menghampiri telpon untuk mengangkatnya.
"Assalamua'alaikum?? Dengan Rumah dokter Rehan" ucap Heni membuka telpon.
"Ya! Aku yakin kau yang akan mengangkat telpon ini" suara dingin Itu membuat tubuh heni membeku.
Sudah beberapa hari ini Heni mematikan ponsel selulernya agar tidak diganggu lagi oleh Pras,tapi kini ia semakin menjadi-jadi dengan menelpon nomor Rumah.
"Mau apa lagi kau" tanya heni ketakukan, suaranya terdebgar bergetar.
"Kenapa kau mengabaikanku akhir-akhir ini ha? Apa kau sudah tidak sayang lagi dengan adam?."
Ancaman yang selalu membuat Heni khawatir akan nasib anaknya, ia mulai cemas saat mendengar ucapan Pras.
"Apa kau tidak bisa tidak usah menghubungiku lagi" Suara Heni terdengar gemetar karna takut dan tertekan.
Pras justru tertawa mendengar pertanyaan Heni,
"sudah aku bilang, kau hanya perlu memberitahuku informasi tentang keberadaan Rehan, dan kau jangan sekali-kali mengabaikanku lagi, mengerti!?" Suara Pras mengagetkan Heni mebuat kengerian sendiri bagi Heni.
"Apa yang mau kau lakukan dengan dokter Rehan?."
"Kau seharusnya tak perlu ingin tau akan hal itu,kau hanya perlu khawatirkan keadaan Adam" jawab Pras.
Heni semakin takut dengan semua ancaman Pras, perkataannya selalu bisa membuat Hani menangis ketakutan,dan sepertinya ancaman seperti dari pras bisa membuat jiwa heni terguncang.
"Dokter Rehan tak ada di runah dia ada di Rumah Sakit seperti biasanya" jawab Heni dengan nada tergugu.
Heni menelan ludah dengan susah payah, haruskah ia mmeberitahukan juga keberadaan Yasmin.
"Dimana yasmin!" Pras mengulangi pertanyaannya.
"Dia tak ada di Rumah selama beberapa hari" jawab Heni terpaksa buka suara.
"Jangan lakukan apapun terhadap Adam" Heni memberikan peringatan kepada Pras,meskipun ia lemah dihadapan Pras, namun ia harus tetap biaa melindungi Adam.
Tut.. tut... tut..suara sambungan telpon terputus.
"halo? Halo? Aahh" heni mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah, ingin sekali rasanya heni mencekik laki-laki itu.
Heni menangis kembali, ia tidak bisa terus-terusan diperlakukan seperti,sudah cukup, ia ingin segera keluar dari lubang pras,ia ingin hidup normal kembali bersama Adam.
"Assalamualaikum" salam Rehan yang baru saja sampai dari Rumah Sakit, mendengar suara Rehan,heni segera menghapus air matanya secepat mungkin, tidak boleh Rehan tau tentang hal ini, atau adam dalam bahaya.
"Bu heni" sapa Rehan menggendong Adam, badan Heni membelakangi Rehan karna ia masih sibuk menghapus air matanya.
"Ibu" sapaan adam mampu membuat heni langsung membalikkan tubuhnya, betapa ia sangat bahagia melihat adam ada di depan matanya,rasanya seperti mimpi melihat adam di rumah ini.
"Adaam?" Mata Heni berbinar melihat adam, Rehan segera menurunkan adam dari gendongannya.
Dan tanpa aba-aba, Adam segera berhambur ke pelukan Heni. Memeluk erat tubuh,baru saja heni mengkhawatirkan Adam, kini ia sudah aman berada di pelukannya, Heni akan selalu menjaga Adam sebisanya, dia adalah harta satu-satunya yang ia punya.
"Adam kangen sama ibuk" ucap bocah 7 tahun itu dipelukan Heni.
"Apalagi ibu" sahut Heni menatap bahagia Wajah anaknya,heni menciumi setiap bagian dari wajah Adam.
Rehan hanya bisa memandang mereak dengan bahagia,rasanya lebih bahagia saat kita bisa membahagiakann orang lain.
Setelah mencium puas Adam,Heni berdiri, ia mengucaokan terimakasih kepada Rehan yang selama ini sudah baik sekali kepada Adam dan Heni.
"Terimakasih dokter, terimakasih"ucap Heni sedikit membungkkan badannya pertanda ucapan terimakasihnya.
Rehan hanya bisa menimpali ucaoan terimaksih itu dengan anggukan dan senyum lebarnya.
"Tapi bagaimana Adam bisa disini?" Tanya Heni penasaran.
"Maaf bu, tapi kemarin saya lupa memberi tahu kalau hari ini Adam sudah bisa pulang, jadi saya sendiri yang mengantarkan Adam pulang" jelas Rehan.
Heni semakin berterima kasih pada Rehan, yangbsudah baik kepadanya, di hati kecil heni, ia merasa kalau dirinya munafik, ia selalu mengucapkan terimakasih tapi dibelakang Rehan ia selalu menempatkan rehan pada masalah yang mangancam keselamatannya.
Lagi-lagi pikiran itu muncul, bagaimna bisa Heni menghianati laki-laki sebaik Rehan.
Tangis Heni tak bisa lagi ia bendung, Air mata yabg sedari tadi ia tahan akhirnya lolos juga dari pelupuknya,ia terisak kembali.
Rehan terkejut saat heni tiba-tiba terisak di hadapannya, Rehan segera maju beberapa langkah mendekati heni,
"kenapa bu? Kenaoa menangis?" Tanya Rehan khawatir.
( . . . ) tidak ada jawaban, hanya ada isakan dari Heni.
Ini samasekali bukan situasi yang Rehan sukai,melihat wanita menangis,apalaginyang lebih tua darinya, mendengar isakannya saja sudah bisa mmebuat hati rehat tersayat-sayat, seakan bisa merasakan kesedihannya.
"Ibu jangan nangis,ada apa bu"tanya Rehan lagi.
Ita segera sadar, tidak seharusnya ia keblabasan menangis di depan Rwhan, heni menghapus air matanya segera,
"ah tidak apa-apa dok, tidak apa-apa"jawab heni mengusap air matanya.
"Bu..??."
"Tidak,saya hanya bahagia bisa bersama Adam lagi, ini seperti mimpi bagi saya"jawab Heni berbohong.
Rehan mengangguk mengerti, "kalau ada sesuatu yang mengganggu ibu,ceritakan saja, anggap semua orang di runah ini adalah keluarga ibu heni sendiri" ujar Rehan.
Lagi-lagi yang seperti ini yang membuat Heni merasa kalau dirinya adalah penghianat paling jahat di dunia.
Heni hanya bisa mengangguk menunduk menimpali ucapan Rehan, ia tak tahu harus mengucaokan apalagi,rasanya berapapun kata terimakasuh yabg Heni ucapkan rasanya ridak cukup.
Dan berapapun kata minta maaf yang heni ucapkan pada Tehan, rasanya tak cukup untuk menebus kesalahannya padanya.
"Yasudah saya kembali ke Rumah sakit ya."
"Adam, jangan lupa istirahat, obatnya jangan lupa diminum ya" Rehan mengusap kepala botak adam.
Setelahnya Rehan kemudian mulai beranjak meningglkan rumahnya.
"Aden!"panggil heni tiba-tiba, merasa dioanggil,Rehan menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Iya?" Tanya Rehan.
Heni diam beberapa detik,
"saya minta dokter selalu hati-hati, semoga Allah selalu memberikan keselamatan kepada dokter Rehan" ucap Heni yang khawatir takut Pras berbuat sesuatu lagi kepada Rehan.
Rehan tersenyum mendengar doa yang terucap dari Heni, "Aamiin" jawab Rehan.
"Assalamualaikum"salam Rehan yang kemudian melanjutkan langkahnya.
"Wa'alaikumussalam" sahut Heni melepas kepergian Rehan dengan was-was.
🌹
Rehan masih sibuk dengan beberapa pasien yabg tiba-tiba kondisinya tidak stabil, malam ini sepertinya ia akan pulang tengah malam lagi, atau mungkin ia bisa saja pulang jam 3 pagi.
Sedangkan Ita, masih berkutat menyelesaikan laporan paska bedah pasien-pasiennya, ia juga masih harus melakukan round visit.
Tapi sepertinya Ita tetap bisa pulang meakipun tengah malam, tapi kalau Rehan sibuk di Rumahnsakit, rentu Ita lebih memlih untuk menginap dormitory, ia akan menunggu suaminya pulang saja.
-
( di Rumah )
Tepat pukul 10 malam, Heni mencoba menidurkan Adam yang sedari tadi belum tidur juga.
Adam kini tengah tidur disisi Heni, mereka saling berhadapan, tangan Adam yang lentik masih sibuk menyentuh bagian-bagian wajah Heni.
"Apa kau masih tidak ingin tidur juga adam?" Tanya heni pada Adam yang masih terjaga.
"Hmm.. Adam masih ingin menyentuh wajah ibu, adam masih ingin memperhatikan setiap detil wajah Ibu" ujar Adam dengan polosnya.
Heni tersenyum mendengar jawaban Adam kecilnya,
"kalau begitu, pegang wajah ibu,sembari tidur,kau harus istirahat sesuai perintah dokter Rehan" ucap Heni sembadi menangkupkan tangan kanan Adm ke wajahnya.
"Nah sekarng tidur" titah Heni pada Adam, adampun menurut dengan menutup matanya.
Beberapa menit berlalu, adam akhirnya bisa tertidur pulas, kini giliran heni yang membuka matanya, menyenruh setiap inci bagian wajah adam, ia menatap lekat adam kecilnya yang tengah pulas tertidur.
Rsanya tenang sekali bisa kembali menatap Adam lagi dengan jarak begitu dekat. Namun tak lama kemudian, suara gaduh merusak ketenangan malam itu.
Suara seorang membuka pintu dengan membanting, plaaakkkk sontak membuat heni kaget. Ia segera terbangun, siapa yang berani membuka pintu secara paksa seperti itu, tentu itu tidak mungkin Rehan atau Ita, apalagi Yasmin.
Suara yang awalnya membuat Heni penasaran, sekarang berubah menjadi rasa ketakutan baginya saat ia mendengar suara vas di pecah.
Pyaaarrrr jantung heni mau loncat saat mendenagr suara itu. Ia kini merasa ketakutan, apalagi di rumah tidak ada orang selain dia dan Adam.
Heni segera turun dari ranjangnya, ia memberanikan dirinya untuk mencaritahu dari mana suara itu berasal, dengan kaki gemetar, Heni mulai berjalan keluar dari kamarnya, membuka kenop pintu dengan sabgat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, kemudian keluar dengan mengendap-endap