
Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak pinya pilihan selain mengikutimu
~ Ibnu Qayyim Al Jausiyyah.
🌹
Pagi ini semua sudah berkumpul di Duang Makan, Ita juga masih belum bisa berangkat kerja karna tangnnya belum juga membaik.
"Kakak suapi ya" ucap Rehan kepada Ita.
"Ngga usah kak, kak Rehan sarapan dulu aja, keburu telat" tolak Ita.
"Kakak bisa sarapan kalau kamu udah sarapan." Mendengar suaminya yang keras kepala itu, Ita hanya menurut saat satu suapan sudah masuk ke mulut Ita.
"Rehan nanti pulang jam berapa?" Tanya yasmin yang sedang menagmbil nasi ke piringnya.
"belum pasti juga ummi, tapi kayaknya rada larut malam, ymsekitar jam 10an lah" jawab Rehan, dengan Heni yang sedang menuangkan minuman untuk Ita, ia mendengarkan semua.
Saat seperti inilah, Heni merasa dirinya adalah seorang paling berkhianat di keluarga mereka, seorang yang tau trrimakasih, tapi apa yang bisa dilakukan waniya lemah seperti heni, karna nyawa anaknya akan terancam kalau ia buka suara.
"Oh iya bi heni, kalau bibi mau jwnguk Adam, bibi bilang saja, lagipula kasihan juga adam kalau di Rumah sakit sendirian" ucap Yasmin.
"Atau bibi mau bareng saja sama Rehan ke Rumah Sakit?" Ucap Rehan yang juga menawarkan bantuan.
Ya Allah, bagaimana bisaa hamba menghianati keluarga sebaik ini, maafkan hamba ya Allah, maafkan hamba...
"Terimakasih aden, nyonya, saya bisa kesana sendiri, nanti setelah semua pekerjaan beres" jawab Heni.
🌹
Saat semua sedang ke depan untuk mengantar Rehan, dering ponselnya berbunyi saat ia sedang mencuci piring, dengan segera heni menghentikan pekerjaannya mengeringkan tangannya dan mengankat telfon.
Melihat yang muncul adalah nomor yang sama seperi semalam, kini heni lebih memilih mengangkat telpon di halam belakang Rumah, dengan berhati-hati heni tidak ingin Ita atau Yasmin mencurigainya.
"Kemana Rehan saat ini!?" Tanya pras dengan nada sentakan yang membuat heni ketakutan.
(. . . ) diam, heni tak menjawab, ini berat bagi heni.
"Ya, kalau kamu berani menyembunyikan sesuatu, twntu saat ini juga aku akan menyuruh anak buahku mengahbisi Adam" ancam Pras ditelpon.
Mendengar ancama itu, heni tak bisa berkutok,dengan berat hati ia akhirnya buka suara,
"den Rehan bekerja seperti biasanya di Rumah sakit, ia akan pulabg sekitar jam 10 malam" jawab Heni dengan suara terputus-putus karna takut.
Setelahnya, tanpa mengucap apapun, Pras menutup saluran telponnya.
Dan seketika tangis heni pecah, kini ia melakukan kebodohan yang sama,
"ya Allah, berilah keselamatan pada den Rehan, jauhkan dirinya dari marabahaya" ucap Heni disela tangisnya.
🌹
Setelah mengantar Rehan berangkat Kerja, kini Ita memulai penyelidikan, ia akan pergi ke Rumah ayahnya, ita hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
Sekitar 20 menit setelah Rehan berangkat, Ita segera melajukan minicoopernya ke Rumah ayahnya, sebelum itu, ita sudah menelpon Rumah menanyakan keberadaan ayahnya, dan mbok jah bilang, pras sudah pergi dari tadi pagi.
Sesampainya di rumah berlantai dua, bercat putih bersih, rumah itu adalah peninggalan ibunya, dan kini ayah tirinya yang tinggal disana, Ita segera turun dari mobil, bergesa masuk ke dalam Rumah.
Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar ayahnya, Ita membuka semua bagian laci dalam kamar itu, alamari, dan semua kotak ia buka,namun Ita tak menemukan apa-apa. Kini ita mulai berpikir kalau dirinya sudah menuduh ayahnya tanpa bukti.
Ita masih mencari dan mencari, ia tidak ingin ada bagian yang terlewatkan, sampai akhirnya ita juga pensaran dengan sesuaru yang ada di bawah bantal atau kasur, namin tetap saja nihil.
Ita terduduk di ranjang dengan satu tangan kirinya memegang bantal yang barusaja ia ankat, sepertinya memang tidak ada apa-apa disini.
Ita menghela naoas,ia berdiri dan menaruh bantal itu, namun ita merasak sesuatu di dalam saeung bantal, dengan segera Ita membuka apa yang ada di sarung bantal,dan benar saja, itu adalah Ketamine,
Deggggg jantung Ita seakan mau copot mengetaui ayahnya menyimpan ketamine, untuk apa ia menyimpan ketamine? Padahal Ita berharap ini semua tidak benar.
Tanpa Ita sadari air matanya tumpah, apa yanh akan ia katakan pada Rehan, apa yang akan Rehan lakukan kalau tau ayahnya yang telah meracuni Yusuf? Apa rehan masih menerima Ita sebagi Istri.
"Ahh tidak-tidak, ini belum pasti, bisa saja ayah menyimpan ini untuk hal lain" Ita berusaha berpikir kalau ini bukan ulah pras,
tapi lagi-lagi logika Ita berkata,
"lalu untuk apa ayahnya menyimpan sesuatu yang meracuni abi yusuf" ucap Ita sembari menangis sesegukan.
Ita mengahpus airmatanya dengan kasar, ia memutuskan untuk pergi ke ke Yayasan bertemu Ayahnya, ia ingin menanyakan untuk apa ia menyimpan ketamine di sarung bantalnya.
Hanya butuh waktu 20 menit, ita sudah sampai di Yayasan, Ita segera masuk ke Ruang kerja Ayahnya, Ita mengetuk pintu Ruangan ayahnya, setelah ia bilang "masuk".
Ita segera masuk dan tanpa basa-basi, ita langsung menyodorkan ketamine dihadapan ayahnya, "untuk apa ayah menyimpan ini!" Tanya ita tegas tanpa basa-basi.
Terlihat ekspresi Pras yang kaget mengetahui Ita membawa obat itu,
"apa Ita? Ayah tidak mengerti" jawab Pras dengan logat ketidaktahuannya itu.
Ita tersenyum pahit melihat lagak ayahnya yang pura-pura tidak tahu, "Ita tanya kenapa ayah menyimlan ini!" Tegas Ita.
"ayah jawab!?" Sentak Ita, ia juga tak kuasa menahan tangisnya.
Kini Pras berdiri dari tempat duduknya, "Ya, memang aku yang meracuni yusuf."
Blusshhhhh seakan ada anging dingin yang membuat ita kini susah bergerak, Ita diam mematung, ia tak percaya dengan apa yang ayahnya katakan.
"Ya, memang ayah pelakunya, kau mau melaporkan ayah ke polisi?."
Ita msih diam, ternyata ayah sambung yang selama ini ia sayangi dengan tulus,ternyata ia tak sebaik di mata Ita.
"Katakan Ta, apa kamu tega melaporkan ayah tiri yang sudah bersedia merawatmu sampai sekarng ini?."
Ita menatap tak percaya, apa yang kini harus ia lakukakn, memang benar ia hany ayah sambung,namun selama ini ia sudah bersedia merwat dan membesarkan Ita, jadi apa sanggup Ita mengatakan ini pada Rehan.
"Beritahu saja suamimu,kalau memang ayah tak lagi berharga bagimu" ucap Pras, ia yakin kalau Ita tidak akan tega melihatnya mendekam di jeruji besi.
(. . . . )
"Kalau kamu masih ingin memberitahu Rehan, siap-siap saja Rehan akan meninggal sebelum ia mengetahui ini" ucap Pras mengancam Ita.
Ita kini naik pitam, ia menghapus airmatanya dengan kasa, dan mencoba berbicara dengan tegar, "Aku, tidak sudi punya ayah seorang pembunuh" ucap Ita yang kemudian pergi meninggalkan ayahnya.
Ita segera berlari menuju mobil, ia menahan air matanya agar tidak tumpah sebelum ia masuk mobil, ita membuka pintu mobil dengan kasar dan segera masuk.
"Allah kenapa harus seperti ini" tangis ita terisak di dalam mobil.
"Apa yang harus hamba lakukan" ita masih belum bisa menghentikan tangisnya.
bagaimana bisa ia mengatakan kalau ayahnya lah yang sudah meracuni yusuf, Ita tetaplah Ita,anaknya yang ingin selalu berbakti kepada orang tuanya, meski dia ayah tiri Ita, tapi yang ita ketahui ini bukanlah sesuatu yang kecil,ini masalah pembunuh mertuanya,dan tidak mungkin ita menyembunyikan masalah sebesar ini.
Ita butuh ketenangan, kini ia melajukan mobilnya ke masjid kota, ia ingin menenangkan dirinya disana, ita hanya ingin menumpahkan airmatanya, seluruh masalahnya kepada Allah, hanya ini yang dapat membuat ita merasa lega akan semua masalah yang ita hadapi.
Ya Allah, dzat yang Maha membolak-balikkan hati, kembalikanlah ayah hamba ke jalann-Mu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, jangan biarkan beliau terlarut akan urusan duniawi, bukakanlah pintu hatinya ya Allah.
Ita kembali menitikkan air mata disela-sela doanya, Ita seperti tak ada kekuatan lagi memikul masalah ini,masalah ini membawa tekanan tersendiri bagi ita.
Setelah cukup lama berada di masjid, Ita kemudain pulang di jam 8 malam. Ita merebahkan tubuhnya di kasur, Rasanya Ita melupakan semua kejadian pagi ini, pikiran ita kalut sampai ita tertidur, biasanya ita akan tidur saat Rehan pulang.
Suara getaran ponsel membangunkan Ita, "astaghfirullahal'adziimm, Aku ketiduran, padahal kak Rehan belum pulang" sekilas Ita melihat jam dindingnya yang menunjuk pukul 10 lebih 30 menit.
Ita mengusap wajahnya dan kwmudian mengangkat telpon dari Runah sakit,
"hallo assalamu'alaikum?."
"Innalillahi," Ita segera mengambil kardigan panjangnya, ia segera turun kebawah,
memberitahukan hal ini pada Ummi.
Tok.. tok.. tok.. ( ita mengetuk pintu kamar Yasmin ) "ummik?" Panggil Ita cemas.
Yasmin segera membukakan pintu kamarnya, "ada apa ta?."
"Ummik, kak Rehan habis dikroyok" jelas Ita dengan cemas.
Heni yang kebetulan lewat dan mendengar ucapan Ita, tak sengaja memecahkan gelas yang ia bawa tadi.
Dan lagi, rasa penyesalan ini muncul lagi, kebodohan yang merusak keluarga yang sangat baik kepadanya. Heni tak bisa memaafkan dirinya atas semua yabg telah terjadi, tapi semuanya sudah terlanjur.
🌹
Ita dan yasmin bergegas ke Rumah Sakit tempat Rehan dilarikan, Ita berlari ke ruang IGD. Dan ya, Ita menemukan suaminya di ranjang pesakitan,
"Bagaimana dok?" Tanya Ita pada dokter yang menangani luka Rehan.
"Lukanya tidak terlalu serius, untung saja dokter Rehan jago bela diri, malam ini juga bisa pulang" ucap sang dokter.
Ita dan Yasmin kemudian berhambur menuju Rehan, "kakak ngga apa-apa?" Tanya Ita khawatir.
"Salam dulu lah seharusnya" ucap Rwhan dengan senyum manisnya Itu.
"Kakak ngga apa-apa, tau sendiri kan kakak jago silat."
Ita menghela napas panjang, "kak, Ita takut" ucap Ita yang kemudian mengahmbur ke pelukan Rehan.
Rehan menerima pelukan itu,"ada kakak, La Takhof Ita sayang" ucap Rehan mengelus pundak Ita.
"Sebenarnya ada apa han?," pertanyaan yasmin membuat Ita melepaskan pelukannya.
"Rehan juga ngga tau ummik, saat Rehan pulang, tiba-tiba ada segerombol preman yang tanpa alasan menyerang Rehan, entah apa yang mereka inginkan dari penyerang itu,karna mereka juga tidak mengambil uang Rehan."
"lalu apa yang diinginkan preman itu?" Tanya yasmin penasaran, namun hanya dibals Rehan dengan gelengan kepala.
Kini Ita sadar,kalau ucapan ayahnya itu bukan main-main, ia bahkan ingin mencelakakan Rehan padahal ita belum memberitahu apapun pada Rehan. Kini ita menempatkan Rehan dalam bahaya.
🌹
Ita, Rehan dan Yasmin segera pulang ke Rumah, karna memang keadaan Rehan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Heni menunggu dengan was-was di Rumah, ia selalu berdoa agar Rehan diberi keselamatan oleh Allah,semoga keadaannya baik-baik saja, semoga anak buah Pras tidak melukai Rehan, itulah yang heni inginkan.
Mendengar suara mesin mobil, heni yang berada di Rumah menanti dengan cemas, langsung membukakan pintu saat mereka sudah pulang,
"Aden Rehan ngga apa-apa?" Tanya Heni saat melihat Rehan dengan memar biru di pelipisnya.
Rehan tersenyum melihat kekhawatiran heni,"Rehan baik-baik aja bi" jawab Rehan.
"Ita sama kakak ke atas dulu ya ummik, bibi" ucap Ita memapak suaminya.
-
Heni berucap syukur saat mengetahui keadaan Rehan baik-baik saja, pikiran heni kini bisa lebih tengang dan ia bisa tidur saat mengetahui Rehhan baik-baik saja.
Heni memtikan lampu kamarnya saat ia hendak tidur, heni mulai merebahkan tubuhnya di kasur, namun urung saat nada ponselnya berbunyi, Rasanya heni ingin tidak mendengar saja suara ponsel itu, Heni yakin itu adalah panggilan dari Pras.
Heni tak ingin mengangkat teloiniru,heni pura-pura tak dengar nada deringnya, namun terus saja berbunyi, stelah 5 menit lamanya berusaha menghubungi heni, akhirnya berhenti juga ia menelpon heni.
Tapi kini pikiran heni kembali memikirkan anaknya,a wajah adam tiba-tiba tetbesit di pikiran Heni, heni takut pras akan melakukan sesuatu kepada putranya yang masih lemah di Rumah Sakit.
Dengan segera heni meraih pinselnya dan menghubungi balik pras.
"Bagus kamu menelpon disaat yang tepat, baru saja aku akan menelpon anak buahku untuk membunuh adam" ucap pras menekan nada bicaranya.
Heni tersentak, "jangan pak, saya mohon jangan" ucap Heni debga nada ketakutan.
"Jabgan lagi mengabaikan teloin dari saya" ucap pras dingin.
Ucapan pras mampu membekukan Heni, sampai heni susah menelan ludahnya.
"Sekarang beritahu aku keadaan Rehan" tanya Pras.
Ya Allah, kenapa hamba harus berhadapan dengan keadaan seperti ini lagi?
"Jawab!" Tegas Pras.
Heni masih terdiam, sampai akhirnya ia angkat bicara,
"aden Rehan baik-baik saja, diansudahbpulang ke Rumah" jawab Heni fengan nada terputus-putus.
"Lalu?"Pras masih ingin mengorek informasi tentang Rehan.
"Sepertinya besok sudah berangkat kerja lagi" jawaban heni sudah cukup memuaskan Pras.
Pras kemudian memutus sambungan telponnya,
"Allah... apalagi ini, hamba tidak bisa terus-terusan diposisi seperti ini" ucao heni di sela-sela tangisnya.
🌹
Pagi ini, Ita sudah mulai berangkat bekerja, Rehan juga tetap bekerja karna keadaannya memang baik-baik saja, meskipun Ita sempat melarang, namun Rehan tetap keukeuh untuk berangkat.
Kedatangan Ita disambut baik oleh semua rekan kerjanya,
"Selamat bekerja kembali dokter Ita" sapa seseorang di meja resepsionist saat Ita baru masuk.
"Selamat bekerja juga" jawab Ita dengan senyum merekah.
Ita segera ke Ruangannya, Airin juga menyambut kedatangan Ita,
"Silimit diting diktir iti" sapa Airin saat masuk ke Ruangan.
Ita tersenyum mendapat sambutan dari sahabatnya itu,Ita berjalan ke mejanya dan menaruh tasnya, "pak bagas gimna kabar rin" tanya Ita.
"Ah elu ta, pasien lu itu banyak, yang lu tanyai cuma pak bagas."
"Yaudah tinggal jawab aja si" sahut Ita.
"Udah mendingan kok, udah bisa banyak diajak bicara."
"Oh ya Rin, orang yang waktu itu mau nyerang pak bagas udah ketangkep?" Tanya Ita penasaran tentang seseorang itu.
"Belom si, soalnya tu penjahat pinter banget, sebelum dia nyerang,cctv di kamar 405 dirusak dulu sama dia" jelas Airin.
Ita berkacak pinggang,menghirup napas panjang,
"padahal gue penasaran banget ama tu orang."
"Yaudahlah, gue mau ke bangsal dulu."
Ita kemudian keluar dari Ruangan, dan mulai keliling ke bangsal, setelah menyelesaikan kunjungan bangsal, Ita kemudian berniat ke Ruangan pak bagas.
Rasa penasaran Ita masih kuat, karna Ita curiga ini ada hubungannya dengan Ayah sambungnya.