You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
39



Kasihanilah siapa saja yang ada di Bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit


H.R. Tirmidzi


🌹


Tak ada 5 menit, Ita dan Rehan sudah selesai menyantap menu makan siangnya. Seperti biasa, makan siang harus selesai dengan cepat, tapi bukan berrati harus tergesa-gesa saat makan.


Sedangkan 10 menit berlalu, Rangga masih berada di antrian akhir masih jauh untuk segera dilayani, kiki yang menunggu Rangga di kursi, kini menidurkan kepalanya di atas meja, ia lapar sekali.


Kiki segera mengangkat kepalanya saat gawainya berbunyi, ada telpon masuk dari seorang perawat dengan segera kiki mengangkat.


"Iya??."


"Pasien ruang 331 mengamuk dokter, saya tidak bisa menghendle sendiri."


"Hah? Iya-iya."


Kiki segera menutup telponnya, sebelum ke ruang 331, ia mencari Rangga yng berada diantrian, mata Kiki merayapi dari depan atrian sampai belakang dan ketemu! Itu Rangga.


Ita segera menarik lengan baju Rangga keluar dari antrian. "Dokter kiki, nanti antri lagi lebih panjang" ujar Rangga kaget saat kiki menariknya keluar dari antrian.


"Udah ngga penting dokter, pasien 331 butuh kita sekarang" jelas Kiki, tanpa banyak bertanya, Rangga mengikuti jalannya kiki.


Dan benar saja saat sampai di Ruangan 331, Rangga dan Kiki yang baru maduk saja sudah dilempari bantal.


Kiki menghampiri perawat yang sedari tadi mencoba menenangkannya, "kenapa ini?" Tanya Kiki.


"Dia sedari tadi minta obat pereda sakit, tentu saja kami tidak bisa memberikannya tanpa resep dokter" jelas si perawat.


Pasien laki-laki itu terus saja mengamuk, wajahnya pucat dan panik seperti orang yang benar-benar kecanduan tapi tidak segera diberi.


Rangga mencoba mengendalikan pasien laki-laki itu, Rangga memegangi kedua tangannya.


"Beri akuuu... Huuuhhh beri akuuuu petidine" rintih pasien itu, tidak ada yang bisa menenagkannya selain petidine (narkotika pereda sakit).


Kiki maupun Rangga tak ada yang bisa bersuara menanggapi rintihan pasien, benar saja manamungkin dokter akan memberikan obat itu padahal ia sudah diberi obat pereda nyeri.


"Huuhhh satu suntikn sajaa, apa kalian tega melihat pasien kesakitan ha!!" Sentak pasien itu sembari mengolet bak cacing kepanasan.


"Kau tidak bisa diberi itu tanpa resep dokter pak," ujar Rangga sembari memegangi pasien.


"Ada apa ini?" Tanya Ita yang tiba-tiba masuk.


"Dokter!!" Panggil kiki cemas.


"Cepat beri aku petidinee huhhhh, kenapa kalian tega membiarkan pasien kesakitan??" Ucap pasien itu lagi.


Ita langsung memeriksa infus, juga luka pasien yang sudah mulai membaik, tapi ia merengek kesakitan.


"Lukanya tidak ada infeksi, jadi kita pantau beberapa jam kedepan" ujar Ita pada perawat, nun pasien masih saj merengek.


"Apa kalian gila!? Pasien kesakitan dan kalian santai saja! Ha!?"sentak pasien itu sembari mengolet kesakitan.


"Beri ku petidine sedikit saja" sentaknya lagi.


Ita menatap pasien mulai mengerti kedaanya, "apa kau kecanduan nerkotika?" Tanya ita to the point, sontak pasien terdiam.


"Kutanya apa kau kecanduan narkotika??" Tanya Ita sekali lagi.


"Kau bisa dipenjara kalau mengkonsumsi obat terlarang itu tanpa resep dokter" tambah Ita.


"Apa kau kecanduan obat itu!" Rahang Ita mulai mengeras.


"Kau sudah diberi obet pereda sakit di infusmu, kau bisa tak sadarkan diri kalau ku tambah petidine, kau tetap mau aku menambahkannya?" Tantang Ita.


Pasien itu terdiam, ia tak bisa berbuat apa-apa, bisa saja pihak rumah sakit melaporkan hal ini kepada polisi, "kurang ajar" ujar pasien yang kemudian memalingkan wajahnya dari para dokter dan perawat yang ada di ruangannya.


"Tetap pantau dia, jangan berikan obat apapun tanpa resep dokter meskipun ia bersikeras, segera hubungi saya jika hal semacam ini terjadi lagi" ujar Ita kepada perawat yang menjaga pasien.


"Baik dokter."


Ita, Rangga dan Kiki lpun kelur dari ruangan. Wajah kiki terlihat lesu sekali karna lagi-lagi ia gagal makan, dia lapar sekali.


Berjalan dibelakang Ita, Kiki mengelus perutnya sambil berucap "yang sabar ya perutku, mungkin belum waktunya" Ucap kiki sembari mengelus perutnya yang kempes.


Rangga terkekeh melihat tingkah konyol kiki, "apa yang kau lakukan?" Tanya Rangga mengejek.


"Diam kau" sahut Kiki jengkel.


🌹


Jam 7 malam, setelah sholat Isya, Ita mengajak Kiki dan Rangga untuk memeriksa keadaan Putra Ny.Arga di ruang ICU.


Meski dengan tubuh lelah, dan lapar, Kiki tetap melakuakn pekerjaannya dengan baik, dan Rangga tau betul Kiki sedari tadi masih menahan laparnya.


"Krucukkk krucuukk" dan ya, suara itu akhirnya terdengar, suara cacing di perut Kiki yang protes yang sedari tadi belum makan.


Ita menghentikan langkahnya, Ita membalikkan tubuhnya mrnghadap Kiki dan Rangga.


"Aahh maaf dokter" ucap kiki meminta maaf saat sadar dokter Ita mendengar suara perutnya, sedangkan Rangga m nahan tawa sedari tadi.


"Ki.. kau belum makan malam?" Tanya Ita.


"Bagaimana saya bisa makan malam kalau dokter Ita saja belum makan malam" jawab Kiki sembari menunduk.


"Hah?? Apa jangan-jangan kalian belum makan siang??" Tanya Ita yang tiba-tiba panik.


"Sarapanpun belum dokter" cletuk Rangga mewakili perut Kiki, Rangga mengatakannya sembari terkekeh geli.


Ita membulatkan matanya sempurna, "haaa?? Bagaimana bisa, hei kenapa tidak bilang saja?? Ah kalian ini membuat image jahat kepadaku" ujar Ita yang merasa terliht jahat sekali kepada dua juniornya ini.


"Maaf dokter" sahut Kiki menunduk.


"Haaishh.. kenapa minta maaf, ikut saya sekarang, ayo cepat" Ita beralih posisi dibelakang mereka, Ita mendorong punggung mereka berdua, Ita mengajak mereka berdua ke ruangan kerjanya.


"Ayo masuk-masuk" ajak Ita, "duduk, duduk sini, ayoo jangan malu-malu deh," ujar Ita menyuruh mereka duduk di sofa.


"Wah siapa ini?? Kok baru lihat dokter ganteng kedua setelah dokter Rehan" Tanya Airin yang kebetulan sedang berada di ruangan kerja.


"Bukannya dokter ganteng kedua itu dokter Hammam ya?" Sindir Ita yang mengetahui kalau sahabatnya itu naksir dengan hammam.


"Kalau itu sih dia nomor satu di hatiku" jawab Airin. Sahabatnya ini selalu blak-blakan.


"Dasar."


Ita mencari sesuatu di rak atas miliknya. Dan ketemu, sesuatu yang ia cari, yaitu pizza pesanannya untuk makan malam. Ita menyodorkan pizza itu kehadapan Kiki dan Rangga.


"Ayo makan, anggap saja ini ruangan kalian dan anggap saja tidak ada orang disini" ucap Ita sembri m lirik ke arah Airin.


"Dih apaan."


"Hei-hei, kalian ini kenapa? Sudah kelaparan betul?? Sampai lupa berdoa" sindir Airin saat melihat kiki yang langsung main makan pizzanya, sontak Kiki menghentikan makannya dan bersoa terlebih dahulu, tapi berbeda dengan Rangga yang terlihat ia mulai makan.


"Nah gitu dong cantik" puji Airin pada kiki.


"Aduuuhh, Hei Ita!! Kau ini otoriter sekali yaaa" sindir Airin tak lain bermaksud bercanda.


"Ahh iyalah terserah elu" ceplos Ita.


"Eum.. kalian, saya harus ke ruang ICU duluan ya" pamit Ita, namun dengan bersamaan, Rangga dan Kiki langsung bangkit dari duduknya ingin mengikuti Ita juga.


"Heeeii.. duduk-duduk" Ita menyuruh mereka berdua duduk. "kalian jangan kemana-kemana, tetap makan okey."


Tok.. tok.."permisi dokter Ita" seorang perawat masuk ke Ruang kerja Ita.


"Ya?."


"Dokter Ita dipanggil kepala Arga."


"Aahh, iya makasih ya" ujar Ita pada Perawat yang kemudian pergi.


Rangga kemudian berdiri, "biar saya saja yang periksa ke ruang ICU, dokter bisa ke Ruangan Kepala." Rangga menawarkan bantuan, namun segera ditolak Ita.


Entah kenapa, hidup Rangga penuh dengan penolakan dari Ita dari mulai mereka pertama kali bertemu.


"Aahh, nggak-nggak, kalian tetap disini, nggak boleh fokus apapun kecuali fokus makan, paham?."


Mengerti maksud Ita, Ranggapun duduk kembali di tempat duduknya. Itapun segera pergi menuju ruangan kepala.


"Kalian kalau lapar, datang saja ke ruangan ini, semua orang di ruangan ini selalu sedia makanan, jadi nggak usah antri di kantin" ujar Airin kepada Kiki dan Rangga.


"Uhh? iya dokter terimakasih."


🌷


"Permisi Assalamualaikum?" Ita mengetuk pintu kepala Dumah Sakit yang tak lain ayah dari pasien Ita.


"Masuk."


Ita kemudian duduk di depan pak Arga saat sudh dipersilahkan, "ada apa ya pak? Apa saya ada salah?" Tanya Ita sedikit gugup.


Arga terkekeh saat Ita dengan polosnya mengitarakan ketakutannya, "tidak-tidak, saya ingin berbicara denganmi sebagainseorang ayah, Saya ingin mengucapkan terimakasih karna saya dengar kamu yang mengoperasi putra saya" Jelas Arga.


"Aah iya pak sama-sama, tapi kedaan putra bapak masih dalam pantauan, jadi belum dikatakan operasi berhasil sempurna sementara pasien belum sadar" jelas Ita.


Arga tersenyum, "dia sudah dipindahkan ke Ruang Rawat biasa" sahut Arga.


"Hah?" Respon Ita kaget, siapa yang memindahkannya, padahal Ita sendiri belum memeriksa keadaan terakhirnya.


"Dokter Rehan sudah memeriksa keadannya, dan malam ini dokter Rehan memindahkan putra saya ke ruang Rawat biasa."


"Aahh, iya pak, maaf saya telat memeriksa keadaan pasien."


"Jangan lupa besok akan ada pengumuman dokter teladan di Rumah sakit, pastikan kamu datang tepat waktu, saya pastikan bagian neurosurgery besok bisa lengah."


Ita hanya tersenyum sembari mengangguk mengerti menanggapi ucapan Pak Arga, sudah Ita tebak penerima oenghargana itu pasti dokter Rehan atau dokter Hammam, mereka berdua dokter bedah sarag terbaim di negeri ini, jangan diragukan lagi.


"Kalau begitu saya permisi pak."


"Silahkan."


🌹


Usai menemui kepala Arga, Ita segera bersiap-siap untuk pulang, sudah seharian ia berada di Rumah Skait, dan ini bukan jadwalnya untuk siff malam.


Seperti biasa, sebelum pulang Ita menemui Rehan terlebih dahulu. Baru Ita hendak menuju ke Ruangan dokter Rehan, ia sudah menerima chat darinya.


"Kakak tunggu tempat parkir."


Menerima chat seperti itu saja, Ita sudah bisa senyum-senyum sendiri, padahal usia pernikahan mereka sudah berjalan 2 tahun, tapi hal seperti itu selalu mampu menghangatkan Ita.


"Pulang sekarang??" Tanya Rehan saat Ita sudah berada di pelukannya.


"Hu'um, ita capek pingin Rebahan."


Beru jalan beberapa langkah, "hueekkk.. hueek.." Ita tiba-tiba saja mual.


"Tata kenapa?" Tanya Rehan panik.


"Hueekk. . . huekk.."


"Ta, balik ke Rumah sakit lagi ya, kita periksa dulu" titah Rehan khawatir.


"Gausah kak, kita pulang aja, Tata kalau kurang tidur emang suka mual trus pingin mutah" jawab Ita.


"Benaran ini ngga apa-apa?."


"Iya udah pulang aja yuk kak, Ita pingin banget rebahan."


"Kamu bisa nyetir sendiri??" Tanya Rehan khawatir, secara mereka berdua selalu menggunakan mobil sendiri-sendiri.


"Bisa kak, asal kakak tetep di belakang Ita" Ita menatap Rehan dengan senyim manisnya itu.


Kemudian Rehan mengantar Ita sampai dimobilnya, membukakan pintu mobil dan memasangkan Ita sabuk pengaman, memastikan Ita keluar dari parkiran terlebih dahulu, kemudian Rehan baru mengikuti Ita dari belakang.


.


Pagi-pagi setelah Ita sholat shubuh, Ita kembali merasakan mual dan badannya terasa lemas sekali, sontak Rehan yang baru masuk ke kamar, mendengar suara Ita yang sedang mutah, segera Ia berlari ke Kamar mandi.


"Kau tidak apa-apa?" Panggil Rehan dari balik pintu.


Tapi tak ada jawaban dari Ita, yang Rehn dengar hanya sura mutah dusauti dengan suara keran air.


"Tata?? Kakak masuk ya?."


". . ." Masih tidak dijawab oleh Ita. Sampai karna merasa khawatir, Rehan memutuskn akan mendobrak pintu kamar mandi, Rehan sudah bersiap menghitung sampai hitungan ketiga pintu akan ia dobrak.


"1..." Rehan memasang ancang-ancang,


"2.." rehan memasang kuda-kuda,


"dan Ti" barusaja kakinya akan ia ayunkan, Ita tiba-tiba keluar dari kamar mandi yang tadinya mau ia dobrak.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rehan cemas memegang kedua pundak Ita.


Ita menghempas kedua tangan Rehan yang berada di pundaknya, "sudah Ita bilang, ita ngga apa-apa." Ita berjalan meninggalkan Rehan.


Rehan mengikuti jalannya ita, "hari ini kamu ambil cuti ya, nanti biar semua pasien kamu, kakak yang handle, kamu istirahat dirumah."


"Ita baik-baik aja kak" ujar Ita sembari mencari baju yang cocok untuk ia kenakan hari ini.


"Ta, sudahlah kamu istirahat aja." Rehan memohon kepada Ita, ia mengikuti kemana Ita berjalan, bahkan sampai ke kamar mandi lagi.


"Kak... Ita mau ganti baju, kakak mau ikut??" Sindir Ita saat rehan terus saja memonhon sembari mengikuti Ita.


"Gausah berangkat hari ini, kamu di rumah aja istirahat" pinta Rehan, namun sama sekali tak digubris oleh Ita, bahkan ita menutup pintu kamarmandi begitu saja yltak menghiraukan Rehan.


Sedangkan diluar, Rehan masih khawatir dengan kedaan ita, wajahnya saja tadi terlihat pucat, gimana kalau terjadi apa-apa?? Sikap Ita yang pura-pura kuat itu kadang membuat Rehan tidak suka. Ia bisa memperlihatkan sisi lemahnya di depan Rehan, disaat itulah Rehan merasa berguna sebagai suami, tapi Ita sama sekali tidak peka terhadap hal seperti itu.