You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
12



Salah satu keajaiban Cinta adalah sesorang akan luluh takluk kepada kekasihnya, dan karna cinta pula, ia akan mengikuti perangai kekasihnya.


Ibu Hasan Al Andalusi


🌹


Ita segera berlari ke ruangan tempat para pasiennya melakukan konsultasi. Langkah ita terhenti di depan pintu ruangannya, ia mengamati kursi tunggu yang belum ada pasien satupun.


"Hah" Ita mnghembuskan napas dengan kasar.


"Kapan dia berani berbohong" ucap ita.


Beberapa detik kemudian datang seorang perawat yang memanggilnya dari belakang.


"Dokter ita sudah ditunggu pasien dari tadi" ucap seorang perawat.


Ita mengerutkan dahi bingung dengan ucapannya, sudah jelas di sini belum ada pasien satupun.


"Dokter Rehan bilang, dokter ota yang akan menggantikannya sebentar, jadi dokter ita sudah ditunggu pasien di ruangannya dokter Rehan" jelasnya.


"Aahh." Ita mulai mengerti sekarang,dan mulai berlari kecil menuju ruangan Rehan, benar saja sudah ada beberapa pasien yang menunggu.


Satu jam kemudian, tinggal satu pasien lagi yang akan konsultasi, seorang perempuang kurang lebih berusia 26 tahunan.


"Silahkan duduk mbak."


Wanita itu kemudian duduk dan menjelaskan keluhan yang ia rasakan.


"Dokter,tangan saya" ucap wanita itu sembari meringis kesakitan, dengan susah payah ia berusaha mengangkat tangan kanannya yang bergetar hebat.


"Tangan saya gmetar, saya juga sulit mengangkat tangan kanan saya" lanjutnya dengan suara yang terdengar parau.


"Sejak kapan tangan anda mulai bergetar seperti itu?" Tanya ita menyelidik, namun penasaran ita harus ia sudahi saat Rehan tiba-tiba datang, ita segera berdiri dari tempat duduk rehan dan mempersilahkannya duduk.


Rehan kemudian mengambil alih tugasnya. "Tangannya selalu bergetar, itu mungkin saja tremor" ucap ita kepada Rehan yang baru saja duduk.


Rehan kemudian mengamati tangan pasiennya yang masih bergetar.


"mrs.Anya, kita lakukan tes terlebih dahulu, tangan gemetar bisa disebabkan beberapa faktor, kita cari tahu akar penyebabnya terlebih dahulu, tapi itu tidak mudah" jelas rehan.


Ita menatap perempuan itu, ia menunduk, terlihat wajah sedihnya setelah mendengar ucapan Rehan.


"Lupakan, kalau dokter merasa ini hal yang sulit, lagipula aku juga tidak bisa mempercayakan tanganku pada orang yang sudah menyerah terlebih dahulu" ucap anya yang kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.


"Kau ini tidak sabaran dan cepat sekali menilai orang" ucapan rehan berhasil menghentikan tubuh anyak yang sudah mau berbalik.


"Mereka yang unggul dalam segala hal biasanya meragukan diri mereka sendir, itu cara mereka mengihindari berbuat kesalahan" tambah Rehan. ucapan Rehan benar-benar bisa membuat hati Ita leleh.


"Ikuti dokter Ita jika kamu ingin melakaukan tes."


Ita dan anya saling beradu pandang, "pikirkan baik-baik kesehatanmu" ucap Ita pada Anya yang masih berdiri.


Berubah pikiran, Anyapun mengikuti saran Rehan dan segera mengikuti langkah Ita unguk melakukan pemeriksaan.


🌹


"Hasil pemeriksaanya akan keluar beberapa hari lagi,setelah itu baru dokter Rehan bisa mendiagnosamu, bersabarlah jangan terlalu terburu-buru" ucap Ita pada anya yang kini sedang duduk didepannya.


Anya hanya menanggapi ucapan Ita dengan anggukan kecil. Ita rasa anya sudah kehilangan rasa percaya dirinya, ia sperti sudah menyerah dengan penyakit ini.


Ita meraih tangan kiri Anya, mencoba menyemangatinya.


"InsyaAllah, semua akan baik-baik saja, dokter Rehan adalah dokter ahli bedah syaraf yang hebat, setidaknya kita sudah berikhtiar, selanjutnya adalah bertawakkal" ucap ita diakhiri segaris senyum dibibirnya.


-


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, sepertinya hari ini ita bisa pulang lebih awal,Ita membereskan tumpukan file yang ada di mejanya, setelah itu ia berniat akan memesan taxi online karna tadi pagi ia tidak bawa mobil.


Ita segera keluar dari ruang prakteknya ke rest room para dokter, di rumah sakit ita bekerja, semua dokter memiliki dua ruangan, satu ruangan untuk biasa praktek atau konsultasi, ruangan itu khusus untuk satu dokter. Dan rest room yang berisi sekitar 3 dokter, di Rest Room biasanya hanya berisi catatan medis para pasien dokter itu, atau itu adalah tempat para dokter untuk sekedar tidur atau makan darurat.


"Dokter hammam mana rin?" Tanya ita pada Airin yang tak lain adalah teman seperjuangannya.


"Masih sibuk kali, tau sendiri dokter senior banyak jadwalnya" jelas airin yang seperti mau buru-buru pergi dari ruangan.


"Yaudah ya Ta, masih banyak kerjaaan" ucap Airin buru-buru pergi dengan wajahnya yang dibuat memelas.


"Fighting" ucap ita tersenyum semabari memberi kepalan tangannya.


Baru Airin keluar 1 menit yang lalu, saat Ita sedang menaruh file di nakas, ia mendengar suara kenop pintu ruangannya dibuka, Ita menghembuskan napas panjang, tanpa melihat dulu siapa yang datang.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam" jawab ita kaget melihat Rehan yang datang ke Ruangannya. Apa dia tidak salah ruangan? Ah mungkin Rehan sedang mencari hammam sahabatnya.


"dokter hammam masih ada pasien" ucap ita pada rehan, padahal rehan belum bertanya apapun,tapi ita sudah yakin rehan datang kemari untuk mencari hammam, ya kali nyari ita, apalagi Airin.


"Sudah mau pulang?" Tanya rehan.


Ita memperhatikan sekelilingnya, tidak ada orang hanya ada dia dan Rehan, apa rehan tadi bertanya pada ita.


"Iya kamu" tambah rehan melihat ita tak kunjung menjawab.


"Ahh, iya mau pulang."


"Habis ini kita ke butik untuk fitting, kamu bisa pulang dulu, dan ummi juga nanti ikut" jelas rehan memberi tahu kedatangannya.


Blussshhh ita seperti masih tidak percaya kalau ia dan rehan satu minggu lagi akan menikah.


"Nanti saya jemput kamu" tambah rehan dengan nada dinginnya.


"Ah iya" ita mengangguk mengerti, ia masih saja belum bisa tenang saat berbicara dengan Rehan.


-


Ita kini berdiri di tepi jalan, dari tadi ia belum dapat taxi online, jadi sambil mendapatkan taxi online ia lebih memilih berdiri di tepi jalan siapa tau ada taxi yang lewat. Tapi nyatanya nihil, ita menghela napas mencoba sabar.


Sampai 30 menit kemudian, mobil BMW hitam berhenti di depan ita berdiri, seorang dikemudi membuka kacanya. "Ngga bawa mobil?" Tanya Rehan.


"Ngga" jawab ita gugup.


Rehan kemudian keluar dari mobilnya,membukakan pintu belakang untuk Ita.


"Masuk" ucapnya datar.


Ita menunjuk dirinya sendiri "saya?."


Rehan mengangguk.


Tak tahan dengan suasana hening di dalam mobil, itapun mulai buka suara,


"Dokter Rehan kenapa tadi pagi menyuruh saya menggantikan dokter?."


(. . .) Hening tidak ada jawaban dari Rehan. Ita bersuara lagi, ia memang tidak bisa diam.


"Untung saja tadi pagi saya tidak ada pasien,coba kalau ada pasti saya sudah kerepotan menangani 2 pasien sekaligus" dengan PDnya ita berucap seperti itu.


(. . .) tak ada balasan dari Rehan.


"Lain kali ya dok, dokter kabari saya dulu kalau mau saya menggantikan tugas dokter."


Masih tak ada sautan dari Rehan, dan ita masih saja mengoceh.


"Bukan apa-apa dok, saya juga banyak pasien"ucapnya bangga, padahal ita sendiri sadar pasiennya tak terlalu banyak.


Di kursi depan,Rehan sebenarnya menahan tawa mendengar ocehan ita, rehan juga ingin bilang kalau tadi pagi ia hanya ingin calon istrinya tidak kena semprot oleh ichal, tapi sikapnya tadi pagi malah buat ita fly sampai lupa turun, dasar bocah.


"Oh ya dok, masalah pasien bernama Anya tadi, saya penasaran dengan tremornya,"


"Apa dokter sudah tau itu tremor apa?" Tanya ita sangat antusias dengan masalah tadi pagi.


"Segera urus saja laporan tes Anya."


Ita terdiam, merenungi betapa tululnya dia, bagaimna dokter rehan bisa menyimpulkan itu tremor apa kalau hasil tes yang diserahkan Rehan pada Ita belum keluar.


"ahh, laporannya mungkin besok sudah keluar dok,"


"Pokoknya, setelah laporannya keluar, saya akan langsung berikan pada dokter" tambah ita masih dengan nada antusias.


🌹


Jam 5 sore tapat ita sudah sampai di rumah diantar Rehan, dan sekitar jam 7 malam ba'da sholat isya, Rehan akan menjemputnya untuk melakukan fitting baju pengantin, Ita begitu bersemangat dengan jadwal hari ini.


Kini kamar ita sudah seperti habis dibom, bagaimana tidak, bajunya berserakan di dimana-mana, ia membongkar isi lemari pakaiannya tapi tak kunjung mendapatkan ghamis yang cocok untuk ia pakai malam ini.


"Ini ngga, ini ngga, ini juga ngga" ucap ita sembari memilih-milih pakaian di lemari.


"Aduuh pake yang mana sih." Ita terduduk frustasi karna tak mendapati ghamis yang cocok. Sampai mbok jah datang membawakan pakaian yang sudah karing, mbok jah kaget bukan main saat masuk ke kamar ita yang berantakan.


"Non ita kenapa diberantakin?" Ucap mbok jah.


Ita melihat setumpuk pakaian yang sudah dicuci dan disetrika mbok jah, ita menghampiri mbok jah dan mengambil setumpuk pakaiannya itu, mengecek satu persatu pakaian itu, bola mata ita berbinar saat menemukan satu ghamis berwarna biru donker kesukaannya.


"Nah ini baru cocok" kata ita sambil menjembreng ghamis biru donker itu.


"Udah mbok jah tenang aja, setelah ita pulang, ita bakal beresin kamar ita kok."


Mbom jah tersenyum,"ngga usah, non ita siap-siap sekarang ya, nanti pokoknya pas non ita pulang, kamarnya sudah beres" ucap mbok jah.


Merasa tidak enak dengan mbok jah, ita segera menolak bantuan mbok jah "lah ngga usah mbok, ngga usah diberesin, biar ita aja."


"Keras kepala, sudah cepat ganti baju keburu pak Rehan datang" titah mbok jah yang segera dituruti oleh ita.


Beberapa menit kemudian, mobil rehan datang, segera ita turun kebawah, sebelum pergi tak lupa Ita dan Rehan pamit terlebih dahulu dengan Pras.


"Ummi mana? Katanya ikut?" Tanya ita pada rehan saat mereka baru saja keluar dari teras rumah.


"Di mobil" jawab Rehan datar.


Untung saja ita sudah terbiasa dengan nada datar Rehan, jadi ia tidak terlalu darah tinggi.


Mobil BMW hitam Rehanpun mulai melaju membelah jalanan ibu kota, menyusuuri ibu kota yang begitu ramai, mereka akhirnya menghentikan mobil di sebuah butik pakaian pengantin muslim, yasmin bilang ini adalah butik terbaik dan terkenal di Jakarta.


-


"Yang ini gimana ummi?" Tanya ita pada Yasmin sembari menunjuk salah satu gaun berwarna putih dengan motif sederhana.


"Bagus, coba kamu pakai dulu ta,pasti cantik di badan kamu" ucap yasmin.


Ita segera ke ruang ganti dan memakai pakaian itu, namun sepertinya ada masalah, ita tidak bisa menaikkan reslteing yang ada di bagian belakang.


"Aduuh kok susah sih" keluh ita di dalam ruang ganti.


Ia masih berusaha menaikkan resleringnya, kini ita mulai berfikir kalau berat badannya pasti sudah naik karna tadi pagi ia minum satu botol santan.


"Aaaahhhhhh, memalukan" pekik ita saat mengingat kembali kejadian tadi pagi. Merasa menyerah, ita akhirnya keluar dari ruang ganti dan meminta bantuan pada yasmin,


"Ummi..." panggil ita dengan nada sedikit merengek.


Suara rengekan ita saat memanggil yasmin juga terdengar oleh rehan yang berada jauh dari posisi ita dan yasmin namun masih bisa melihat mereka.


"Kenapa sayang?" Tanya yasmin khawatir.


"Resleting ita ngga bisa naik" keluh ita.


"Aaahhh dasar" ucap rehan lega saat mendengar hanya resleting, ia kira ita kenapa-napa.


Yasmin tersenyum menanggapi tingkah calon menantunya itu, dan dengan pwnuh perhatian yasmin membantu ita menaikkan resletingnya.


"Ummi?."


"Iya?" Yasmin masih berusaha menaikkan resleting ita.


"Ita gendutan ya?" Tanya ita polos.


"Kok nanya gitu."


"Soalnya tadi pagi ita minum satu botol santan" jawab ita polos dengan nada penyesalan.


Jawaban ita benar-benar membuat yasmin tak bisa manahan tawanya,


"Ita kok bisa minum santan?" Tanya yasmin penasaran dengan masih menahan tawa.


"Abis ita kira itu susu" jawabnya menyesal.


Kini bukan hanya yasmin saja yang ingin sekali tertawa terbahak, tapi juga rehan yang diam-diam memperhatikan mereka dari jauh,


Allah lucu kali gadis itu gumam rehan menahan tawa, tak ingin ita tahu kalau rehan dari tadi menyimak pembicaraan mereka, mungkin setelah ini rehan harus buat perbedaan santan dengan susu agar calon istrinya tidak salah minun lagi.


"Ngga kok sayang,kamu ngga gendutan, tapi memang reslitangnya aja yang susah,"


"Buktinya nih udah bisa kan." Kini yasmin berhasil menaikkan resleting yang dari tadi macet.


"Nah kan, ita cantik" puji yasmin kepada ita yabg kini sedang memandangi dirinya di depan cermin.