
Heni memberanikan dirinya keluar dari kamar, meski seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, perlahan ia membuka kenop pintu dan keliar dari kamar.
Heni berjalan menuju dapur, masih belum ia lihat wujud seorang yang masuk ke rumah, heni memberanikan diri lagi untuk melangkah ke ruang makan, dengan penuh hati-hati, heni melangkahkan kakinya.
Baru beberapa langkah ia maju, tiga laki-laki dengan jaket hitam, topi hitam, dan penutup wajah,sampai Heni hanya bisa melihat sorot matanya yang tajam. kini berdiri di depan heni, kedatangannya sangat mengejutkan heni.
"Mau apa kalian!!!" Heni semakin ketakukutan dengan ketiga laki-laki itu, apa mereka adalah perampok?. Lalu bagaimana kalau mereka merampok dan juga melukai si penghuni rumah.
Perasaan Heni semakin tak karuan, heni mulai berjalan mundur, badannya menghadap 3 laki-laki itu dan tangannya terus mencari benda yang dapat ia gunakan untuk mempertahankan diri.
Tiga laki-laki itu semakin mendekati Heni, merasa terancam, heni segera menodongkan pisau yang berhasil ia dapatkan,
"berhenti!!!" Ucap Ita dengan suara gemetar, tangannya yang memegang pisaupun ikut gemetar.
"Hahahhaha" mereka tertawa mengejek, sepertinya ancaman heni tak ada apa-apanya.
"Mau apa kalian?!" Heni masih menodongkan pisaunya yang tak henti bergetar karna tangan Ita.
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang terdengar menggema di Rumah yang kini suasananya sangat mencekam. Perlahan laki-laki pemilik suara sepatu itu mulai menampakkan dirinya.
Secepat kilat, heni kini mengarahkan pisaunya ke arah laki-laki yang berjalan ke arahnya, Ia berbeda dari yang lainnya, ia tak memakai topi hitam juga penutup wajah. Kini ia semakin dekat dan kini heni dapat melihat wajahnya.
Si Bedebah itu rupanya,Heni menghela napas panjang, ia mencoba mengatur napasnya, jantungnya berdegub kencang karna rasa takut yang menyelimuti Heni.
"Mau apa lagi kamu!!! Stop ganggu saya dan anak saya, PERGI!!" teriak Heni dengan histeris.
Pras justru tertawa mendengar teriakan Heni,ia sangat menyepelekan Heni dan tak oeduli dengan ancaman apapun dari Heni.
"Kalian berdua" tunjuk pras pada kedua anak buahnya.
"Pegang dia" Pras memberi perintah untuk menahan tubuh heni.
Heni memberontak dengan sekuat tangannya saat kedua laki-laki itu berhasil memegang kedua tangan Heni.
"Dan kau" tunjuk pras pada salah satu anak buahnya yang tersisa.
"Cepat cari anak kecil di kamarnya" perintah Pras dengan senyum liciknya yang ia berikan kepada Heni.
"jangan!! hiks hiks hiks" tangis Heni yang terus mencoba memberontak namun tak bisa apa-apa karna kekuatannya kalah dengan kedua laki-laki ini.
"saya mohon jangan bawa-bawa adam hiks hiks" jerit heni histeris.
Tanpa menunggu lama, anak buahnya langsung mencari kamar heni, dan ia berhasil menemukan adam yang tengah tertidur pulas di kamar.
Ia segera menggendong Adam, adam terbangun saat ia sudah berada di gendongan anak buah pras. Adam kecil memberontak dengan memukul tubuh anak buah Pras, namun tentu pukulan itu tak berarti apapun baginya.
"Saya mohon jangan lakukan apapun pada adam hiks..hiks.. hiks" suara Heni mulai terdengar serak kafna terus menjerit dan menangis.
"Ibuuuu" tangis Adam sembari memanggil ibunya.
"Sudah aku bilang, jangan main-main denganku atau akan terjadi sesuatu pada Adam" ucap Pras dengan wajah jahatnya itu.
"Aku sudah melakukan yang kau mau tapi kenapa kau melakukan ini!!" Teriak Heni dengan berusaha lepas dari genggaman kedua penjahat itu.
"Tapi kau sefing mengabaikanku, dan aku tidak suka diabaikan" Pras tersenyum mengatakan hal itu, senyuman licik, heni benci melihatnya.
"Aku akan berikan pilihan untukmu dan kau bisa memikirkannya matang-matang" Pras mulai berjalan mendekati Heni.
Kini jarak mereka hanya beberapa jengkal, Pras menunjukkan sesuatu pada Heni, sebuah obat ketamine yang dulunia berikan ke Yusuf, "kau tau apa ini?."
Heni menelan ludah melihat obat ketamine yang ditunjukkan Pras, Heni semakin takut dibuatnya, seluruh tubuhnya sudah bercucuran keringat.
"Kau akan ku beri pertanyaan sangat mudah,"
"Kau bahkan bisa menjawabnya saat ini juga karna saking mudahnya pertanyaanku,jadi tak perlu kau terlalau memikirkan jawabannya,"
"Dan pertanyaanku adalah, kau akan memberikan racun ini kepada siapa?" Pras meletakkan ketamine itu tepat di depan wajah Heni.
"Dan akan ku beri kau pilihan,Rehan atau anak kesayanganmu Adam?" Ucap Pras dengan jahatnya.
"Jika kau waras, kau pasti tau mana pilihan yang tepat."Pras semakin menajamkan sorot matanyabke Heni.
Adam terus menangis dengan terua memanggil Ibu, itu semakin membuat Heni takut. Heni tak bisa, ia tak biaa dihadapka npilihan seperti ini, ia tidak bisa memilih diantara keduanya.
"Heni, aku ulangi lagi pilahannya" Pras menatap tajam mata heni.
"Rehan? Atau Adam?" Sekilas Pras melirik Adam yang sedarintadi terua menangis.
"Aaiiiissshhhh lama sekali kau menjawabnya, akunsangat tidak suka bermain-main denganmu, aku bukan orang yang suka bermain-main!"pras semakin tidak sabar, ia ingin segera menghabisi Rehan,namin takningin mengotori tangannya sendiri.
Heni masih terdiam, ini bukan perkara mudah, keringat terus bercucuran di kening Heni, ia tak pernah setakut ini.
"Ah kau ini!" Pras tersulut emosi menunggu heni, ia hampir saja akan memberikan tamparan kepada Heni.
Pras akhirnya memberikan obat ketamine itu ke tangan Heni yang sudah dingin bagai es.
"Semua cctv di rumah ini sudah kumatikan, dan jangan berani-berani kau membritahukan Rehan apalagi polisi, atau adam yang akan jadi taruhannya."
"Lakukan saja pilihanmu, kalau kau ingin adam selamat, lakukan segera, setelah aku mendengar kabar buruk dari Rehan, secepatnya aku akan memberikan Adam padamu" ancam pras dengan memegang kasar pipi Heni.
"Aku tunggu kabar buruk Rehan secepatnya."
"Lepaskan dia, kita peegi sekarang, dan tetap bawa anak itu" perintah Pras pada ketiga anak buahnya.
Dengan kasar, kedua penjahat yang memegang heni, segera melepas pegangannya denagn menghempas keras hingga Heni tersungkur di lantai yang dingin.
"Jangan! Jangan bawa Adam" Teriak heni histeris sembari berusaha bangkit dari duduknya dan mengejar Adam yang dibawa suruhan Pras.
"Ibuuuu" teriak Adam ketakutan sembari terus menangis,ia tak henti memanggil Ibu.
"Hiks... hiks.. hiks.. jangan bawa Adam!!" Heni berlari sekuat tenaga mengejar mereka yang sudah naik ke mobil dan melajukan dengn kencang mobil mereka meninggalkan halaman rumah Rehan.
"adaammmm" panggil Ita yang terjatuh saat mengejar mobil itu.
Ia seperti orang gila sekarang, orang gila yang tengah menangis di tengah jalan pada tengah malam. Hidup heni semakin tidak tenang saat Adam benar-benar ada dalam bahaya Pras.
Ia laki-laki yang licik dan tega, ia tidak tau peri kemanusiaan, entah terbuat apa hatinya, sepertinya hatinya sudah tertutup oleh kegilaannya akan hal duniawi sampai menutup rasa belas kasihan.
"hiks... hiks.. hik..." tangis Heni di tengah jalan.
Heni perlahan mulai melirik racun yang diberikan pras pada dirinya di genggamannya, ia bisa menyelamatkan Adam dengan memberikan racun ini kepada Rehan, tapi apa tega ia melakukan ini? Ini sama saja dia akan membunuh Rehan.
Heni menangis tergugu di jalan raya sembari meremat racun yang berada di genggamannya. Ia tak sanggup melakukan ini ia bukan pembunuh. Tapi ia juga tidak bisa melihat Adam dalam bahaya.
-
Pukul 3 dini hari di rumah sakit, "Kak bangun kak" Ita membangunkan Rehan yang tertidur di shofa ruangannya.
Rehan mengerjap saat Ita membangunkannya, perlahan ia mulai bangu, ita duudk di sebelah Rehan dan membatunya mengusap mata Rehan.
"Mau pulang sekarang?" Tanya Ita.
"Mau pulang sekarang?" Ita mengulang pertanyaannya.
"Aahh iya2 kita pulang sekarang aja" ucap Rehan yang kemudian berdiri dan mengambil snelli yang tersampir di kursi kerjanya.
Rehan dan Ita kemudian pulang dari rumah sakit pukul 3 pagi hari, sesampainya di halaman dumahnya, Rehan segera memarkirkan mobilnya dan mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
Rehan masuk duluan ke Rumah dan langsung naik ke atas untuk istirahat, Ita menatap suaminya dari belakang, dia pasti lelah sekali jadi Ita membiarkan dia tidur lagi, Ita akan membangunkannya shubuh nanti.
Kini ita juga mulai mengikuti langkah Rehan, langkah Ita tethenti saat menemukan pecahan vas bunga,
"Kok vasnya bisa pecah?" Tanya Ita pada dirinya sendiri.
Tapi tak terlalu dipikirkan oleh Ita, ia hanya mengambil pecahannya dan mulai membuanyanya agar tak melukai yanh di dalam rumah, lagipula rumah ini sekarang ada anak kecil, jadi sanagt bahaya kalau ada oecahan macam ini.
Ita berjalan menaiki anak tangga, sampai di eoan pitu kamarnya ia membuka kenop pintu kamar dan masuk, ia melempar jas snellinya asal, melepas jilbabnya dan mengikat kembali rambutnya, Ita menggeliat meregangkat otot-ototnya.
Ita memilih untuk segra mandi agar badannya segar kembali. setelah mandi, sembari menunggu adzan shubuh, ita memilih mengambil al-quran kecil kesayangannya. Ia mulai meneruskan bacaannya tadi siang.
Sampai adzan shubuh berkumandang, ita sudah memebaca satu juz, Ita menghentikan bacaannya,menaruh alqur'annya di atas nakas dan mulai berdiri.
Ita menyiapkan keprluan sholat jamaah shubub untuk Rehan, Ita menyiapkan koko, sarung dan sajadah, semuanya sudah Ita siapkan. Setelah sudah siap, Ita beru membangunkan Rehan.
"Kak bangun shubuh" Ita menggerak-gerakkan tubuh Rehan.
Tak perlu waktu lama untuk membangunkan Rehan, ia segera bangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Ita membantu Rehan mengancingkan baju kokonya, mengambilkan sajadah dan menyampirkannya di pindak bidang Rehan.
"Kakak jama'ah dulu ya" pamit Rehan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rehan mulai keluar dari kamarnya dan mulai menuju masjid.
🌹
Shubuh-shubuh seperti ini setelah ia sholat, dzikir dan membaca Al-qur'an, Ita biasanya ikut membantu Heni menyiapkan makanan, tapi saat ini harus ada yabg Ita kerjaakan terlebih dahulu.
Lima menit yang lalu Airin meminta rekam medis dari pasien yang Ita periksa kemarin, ita mencari rekam medis pasiennya yang seingatnya ia sudah menaruh di tasnya, namun tak ia temukan.
"Asataghfirullah inindimana lagi" Ita mengacak-acak semua isi tasnya.
"Cari apa?."
"Innalillah." Ita kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul tanpa salam terlebih dahulu.
"Haissshhhh" ucap Ita dengan memukul kesal Rehan yang tiba-tiba datang.
Ita melanjutkan pencariannya, ia kini membuka laci-lacinya padahal jelas tidak mungkin juga rekam medis itu ada di lacinya.
"Cari apa?" Tanya rehan sembari membuka lengan baju kokonya seusai pulang dari jamaah shubuh.
"Itu rekam medis pasien yang kemarin Ita periksa, tau deh Ita lupa naruh padahal hari ini mau dikasih ke pasiennya" jelas Ita masihbdengan kasak kusuk membuka sagu persatu laci.
"Bukannya kemarin ninggalin laporan di meja kakak ya" ujar Rehan mengingatkan Ita.
Mendengar ucapan Rehan, Ita menghentikan kegiatannya, ia kini ingat dimana keberadaan rekam medis itu.
"Nah iya, Ita ingat" Ita segera mengmbil ponselbya di nakas, ia mencari kontak Airin dan segera menelponnya.
"Hallo Rin?."
"Gimana Ta? Ada di lo kan?" Tanya Airin.
"Iya ada, nanti gue kasih ke elo deh kalau udah di rumah sakit" jelas Ita.
"Oh key, assalamualaikum ita" salam Airin menutup panggilan.
"Wa'alaikumussalam" jawab Ita.
-
"Siap-siap sekarang ya, kakak mau berangkat pagi" Rehan segera bangkit dari duduknya, ia memakai kemeja putih kesukaannya, Ita membantu mengancingkan kemeja Rehan juga kancing lengan Rehan, Ita selalu senang melakukan hal ini.
"Kakak ngga mau pastiin keadaan Adam? Siapa tau Adam ngeluh sakit atau keluhan karna efek obatnya" tanya Ita yanh sibuk mengancingkan lengan kemeja Rehan.
"Aah iya, nanti kakak coba bicara sama adam tanya kondisinya" jawab Rehan sembari memperhatikan wajah cantik Ita.
"Sudah" ucap Ita, kini tangan ita beralih ke kerah kemeja Rehan untuk merapikannya.
"Okey, kita sarapan dulu" ajak Rehan yang sudah siap menenteng snellinya.
"Kakak duluan aja ya, Ita belum ganti baju" jawab Ita sedang memilih-milih baju di lemarinya.
Rehan mengagguk mengerti dan menutup pintunya. Dan Ita sudah menemukan bajunya, ita mulai membuka kancing depannya, tiba-tiba pintunya terbuka.
"Allah" ucap Ita kaget segera menutup bagian kancing yang sudah ia buka.
"Kakak bantu gantiin baju ya" Ucap Rehan dengan nada menggodanya itu, dan tak lupa senyum jahilnya.
"Ahiiisshh" Ita mendengus kesal. "Kakak!" Pekik Ita kesal.
Rehan tertawa puas, melihat Ita yang mulai murka, Rehan segera menutup kembali pintu kamarnya.
-
Heni yang sedang menyiapkan sarapan, tak bisa tenang sampai sekarang, saat ini ia hanya berusaha untuk tetap tenang, tangannya masih tak sanggup membubuhman racun ke makanan Rehan, tapi ia juga harus memikirkan adam kini dalam bahaya bersama Pras.
Tangis adam semalam terus menghantui Heni, ia merasa tak aman setiap mengingat tangiaan Adam yang terus memanggilnya,
"ahhh" pekik Heni memejamkan mata.
Dengan berat hati, ia mulai mengambil racun yang berada di sakunya. berat rasanya, tapi heni mulai membuka racun itu, berulang kali ita ingin menaburkannya, tapi tak sanggup.
Setiap heni ingat tangisan adam dan keberadaan adam saat ini, heni mengangkat racun itu dan hendak membubuhkannya, tapi saat heni mau melakukannya, ia ingat betapa baiknya keluarga ini kepadanya.
Apa yang harus pilih?? "Hah" heni menghela napas panjang, menguatkan hatinya, ia harus segara menyelamatkan Adam, tanpa berpikir lagi heni segera menaburkan racun itu ke nasi goreng Rehan yang akan ia suguhkan untuk sarapan.
Tap tap tap
Suara langkah kaki Rehan yang sedang menuruni tangga, heni belum sadar kalau Rehan mulai turun.
"Sudah siap bu?" Tanya Rehan melihat heni yang sibuk di dapur.
Rasanya jantung heni mau loncat mendengar suara Rehan yang tiba-tiba, secepat kilat heni memasukkan kembali racun itu ke saku Heni.
Bagaimana Heni bisa menyuguhkan makanan yang akan mencelakakan Rehan.
Air mata kembali menumpuk di pelupuk Heni, ia masih berada di dapur, tak kuasa menyuguhkan nasi goreng beracun ini.