
Wahai anakku, memberi nasihat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya karena nasihat itu bersebrangan dengan kesenangan hawa nafsu. Perkara yang dilarang itu selalu menyenangkan dihati, dan terkhusus bagi pencari ilmu yang masih menyibukkan diri dalam keutamaan jiwa san derajat duniawi."
🌹
Setelah menemui keluarga pasien, Ita tidak langsung kembali ke Ruangannya.Ita harus melakukan pemeriksaan kepada pasien sesuai dengan apa yang rehan perintahkan tadi, meskipun ia menyuruhnya untuk berikan tugas itu kepada kiki atau yang lainnya, namun Ita memutuskan untuk ia sendiri yang akan melakukannya.
Sedang melakukan CT kepada pasien, kemudian melakukan tes ABGA terhadap pasien, setelah itu Ita mengganti perban pasien, Ita juga melakukan drain atau pengeringan.
Ita melakukannya sampai melupakan waktu makan siang. Ia sama sekali tidak mempedulikan jam makan siangnya, karena ia merasa gak selera makan.
****
Di Jam makan siang, rehan diam-diam mengirimkan makanan makan siang ita. Rehan selalu mengirimkan makan siang untuk kita secara terang-terangan tapi untuk kali ini ia memilih untuk memberikannya secara diam-diam tidak memberitahu Ita, karna Rehan rasa Ita harus bisa peka kalau Rehan sedang tidak suka saat Ia menolak permintaan rehan untuk ambil cuti.
"Dokter Rehan??" Panggil airin kaget saat melihat Rehan datang ke ruanganya, ah tidak! Itu bukan ruangannya saja, tapi itu juga ruangan Ita, dan pastinya Rehan ingin mencari Ita.
"Dokter Ita belum kembali sejak tadi dokter" ucap Airin, padahal Rehan belum bertanya keberadaan Ita.
"Apa? Dia belum kembali ke ruangannya sejak tadi?? Bahkan saat jam makan siang sudah kelewat??" Tanya Rehan memastikan.
"Iya dokter, mungkin ia disibukkan dengan beberapa pemeriksaan" sahut Airin.
Pikiran Rehan kabur, mengingat kejadian di ruang ICU, "hah!! Apa dia serius melakukannya??" Gumam Rehan mengeraskan dagunya.
"Gimana dokter??" Tanya Airin yang samar mendengar ucapan Rehan.
"Ah tidak, tidak apa. Ini makan saja dok" Rehan memberikan makan siang yang harusnya untuk Ita, namun karna Ita tidak ada jadi Rehan memberikannya saja pada Airin.
"Buat saya dok?." Mata Airin berbinar menerima makan siang gratis dari dokter tampan.
"Ya ya ambillah" Rehan segera keluar dadi ruangan, ia terlihat sangat terburu-buru.
"Makasih dokter" ucap Airin dengan sedikit bergerik karna keburu Rehan keluar.
"Ita-ita, beruntung banget si punya suami paket plus-plus." Dengan semangat Airin membuka menu makan siangnya, ia senang sekali karna tidak harus antre di kantin rumah sakit siang ini.
Rehan segera berlari menuju ke ruang CT, dan benar saja, Rehan melihat Ita sedang duduk di depan monitor, ia manatap monitor dengan sangat fokus.
Rehan menarik tangan Ita hingga membuat badan Ita berbalik berhadapan dengan Rehan. Ita tentu kaget melihat Rehan datang dengan tiba-tiba. Bahkan kini Rehan membuat Ita takut karena rahang Rehan yang mengeras, sorot matanya juga seperti menunjukkan kemarahan.
Seakan waktu terhenti saat Rehan menatap Ita, tangannya juga masih menguasai tubuh Ita. Ita sampai tak bisa bernapas dibuatnya. "Bukankah aku sudah bilang agar kau menyerahkan tugas ini ke dokter lain!" Suara Rehan terdemgar dingin ditelinga Ita.
"Apa kau tidak pernah mau mendengarkanku?!" Nada Rehan semakin tinggi.
"Kaa.." ucap Ita terdemgar ada nada ketakutan dari suaranya.
"Jangan kau bilang ini tugasmu sedangkan kau bisa berbagi tugas ini!!."
"Kamu itu egois rau nggak!."
Ita semakin takut dengan Rehan, tak pernah sekalipun Rehan meninggikan nada suaranya, bahkan saat Ita membuatnya kesal sekalipun. Ita sadar, Rehan yang tak pernah menaikkan nada bicaranya, dan kini ia melakukan itu, itu menandakan betapa kesalnya dia.
Ita menghembusakan napas panjang mencoba tenang, ita meraih tangan Rehan dan menggandengnya, Ita berjalan keluar dari ruangan sembari menggandeng tangan Rehan.
Tak sepatah katapun Ita ucapkan, ia hanya tetus menggandeng Rehan sembari berjalan, dan Rehan hanya menurut kemanapun Ita membawanya.
Ita membawa Rehan di taman rumah sakit, Ita mendudukkan Rehan dikursi panjang, begitupula Ita yang ikut duduk disebelah Rehan, di tempat yang penuh tumbuhan hijau juga bunga-bunga, semoga bisa membawa hawa tenang untuk Rehan sehingga mereka bisa berbicara dengan kepala dingin.
Saat suasana tenang telah membuat reda emosi Rehan, kini Ita bisa mulai bicara empat mata dengan rehan. "Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut ita, kalaupun ada kata yang lebih meunjukkan penyesalan dari kata maaf, mungkin itulah yang akan ita katakan.
Bagaimanapun juga, Rehan adalah Rehan yang tak bisa lama-lama marah kepada Ita, tatapan Rehan kepada Ita kini mulai berubah dari tatapan yang membuat ita takut kini kembali lagi menjadi tatapan yang menenangkan bagi Ita.
"Dengarkan aku, kali ini saja" ucap Rehan sungkat namun penuh makna.
Ita tahu apa maksud dari Rehan, tentu sebenarnya bukan pekerjaan ini yang menjadi masalah bagi Rehan, namun ia lebih mengkhawatirkan kesehatan Ita juga sekarang yang lebih menjadi prioritas adalah janin dalam kandungan Ita.
"Ita akan ambil cuti, setelah semua selesai."
"Selesai??" Rehan menggeleng lemah, ita pernah bilang seperti itu, dan itu adalah jawaban yang menggantung, tidak jelas kapan itu.
"Iya kak, saat semua telah ita selesaikan."
"Beri aku jawaban pasti."
"Semua pasti akan selesai."
"Kapan?!."
Ita tersentak, yang Rehan butuhkan adalah waktu pasti, bukan kata yang bigu, bahkan kata pasti selesai, bisa mengandung arti waktu yang cukup lama.
"Besok" Tegas Ita.
Rehan terdiam, ini adalah jawaban yang sedari tadi Rehan tunggu, yaitu waktu yang pasti.
"Untuk itu, biarkan ita menyelesaikan hari ini, dan besok Ita akan membuat sendiri surat permohonan cuti" jelas Ita.
Rehan terdiam, ia memikirkan keputusan Ita, "oke, besok, kakak pegang ucapan Ita."
Ita tersenyum dan langsung memeluk Rehan, sudah dari tadi Ita ingin memeluk Rehan membuatnya agar tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya, "kakak mohon jangan abaikan permintaan kakak lagi" ucap Reha lembut tepat ditelinga Ita.
Ita mengangguk saat mendengar permintaan Rehan, memang slah Ita yang tidak bisa memnuhi permintaan Rehan.
****
Setelah kejadian di taman, Rehan krmudian mengajak Ita untuk makan siang di kantin, todak biasanya Ita dan Rehan makan bersama di kantin, terhitung sejak mereka menikah, ini kali ke tigaereka makan di kantin bersama, biasanya Ita sendiri yang ke ruangan Rehan untuk makan siang karna Rehan yang memesankan makanan untuk Ita.
Namun tentu, Ita akan tetap bersikap profesional di sini, kali ini ia menolak Rehan untuk menyuapinya, meskipun Rehan memaksa namun Ita tetap menolak, rasanya tidak baik dilihat orang-orang di Rumah Sakit.
Meskipun Ita masih kesusahan saat makan, namun ia harus makan untuk nutrisi dirinya dan anaknya, Ita harus menjaga kandungan ini dengan baik.
"Kak, apa Ita kelihat gendut? Soalnya kalau ibu hamil bisa kelihatan gendutan" tanya Ita prihal penampilannya, tentu Ita bukanlah seorang yang selalu menjaga berat badanny, karena tanpa dijagapun, berat badan Ita selalu ideal.
"Nggak kok."
"Yaah, padahal Ita pingin gendutan, biar kelihatan kalau lagi hamil" ucap Ita dengan nada kecewa, ia ingin sekali memberitahu kabar baik kehamilannya pada rekannya di Rumah sakit, namun selalu lupa, karna tidak ada yang tanya, kalau saja berat badan ita tambah, pasti orang-orang banyak yang bertanya.
"Kakak pikir perempuan sangat tidak suka kalau dibilnag gendut," Rehan mencubit pipi Ita "ternyata beda dengan wanita satu ini," Rehan semakin gemas dengan Ita.
Tanpa Rehan dan Ita sadari, di meja yang lain, ada Rangga tang sedang memperhatikan Ita dan Rehan, Rangga bisa melihat betapa dekatnya dokter Rehan dan Ita, meskipun Rangga tidak tau apa yangerek obrolkan karna rumah sakit begitu ramai sampai tidak ada kesempatan untuk menguping, namun tampak jelas raut kebahagiana mereka berdua.
"Woy!!" Kiki mencoba menyadarkan Rangga dari pandangannya, "lihat apa sik!!." Pandangan kiki mulai mengelilingi sekitar mencri tau apa yang sedang Rangga lihat.
"Hish, apaan si lu ganggu aja" sahut Rangga kesal.
"Buat apa minta ijin?"tanya Rangga sinis.
"Ha? Gimana?" Kiki tidak mengerti dengan ucapan ambigu Rangga, jadi maksutnya ngga usah miinta ijin dulu?? Tapi langsung duduk aja karna Rangga pasti akan mengjinkan??.
"Ya ngapain minta ini kalau unjung-ujungnya duduk tanpa butuh ijin ha??"
"Huh dasar" lanjut Rangga kesal.
"Yaaaa maaf.. sewot banget si kalau sama gue!!."
"...." Rangga dim saja tidak menanggapi ucapan kiki, ia masih saja memperhatikan sesuatu. Dan Kiki semakin penasaran dengan apa yang sedang Rangga lihat, ternyata sorot mata Rangga terruju pada meja dikter Rehan dan Ita yang menikmati makan siang bersama.
"Oohh dari tadi merhatiin dokter Rehan sama dokter Ita too.." sindir kiki denga suara keras.
Sintak saja, Rangga menutup mulut lemes kiki, "sssttt... Brisik lu."
Kiki menepis tangan asin Rangga segera, "hih asin tau nggak tau nggak tangan lo!!" Protes kiki.
"Makanya jangan brisik dasar kiko!!."
"Jah!!." Setelah Kiki berhenti dan mulai makan, Rangga kembali memperhatikan ke meja Rehan Ita. Koni semakin jelas di mata Kiki kalau Rangga suka dengan dokter ita.
"Perhatiian dokter Reha sama Ita atau lagi perhatiin dokter Ita aja nihh..." Goda Kiki dengan keras lagi.
Rannga langsung menyumpal mulut Kiki dengan tissue dideonnya, "buuah beeehh" Ita mencoba mengeluarkan Tissue yang hancur di mulutnya sata Rangga mengerjainya.
"LO bisa diam ngga sih" ucap Rangga dengan rahang yang mulai mengeras, pertanda ia mulai kesal.
"Ya makanya, jangan perhatiin mereka terus, apalagi sampe punya niat mau ngambil dokter Ita dari dokter Rehan" ucap Kiki.
"Ki.." panggil Rangga mulai serius, memang dilur jam keja Rangga akrab memanggil kiki dengan namanya saja.
"Ya?."
"Bukannya dokter Ita nggak mau pacaran ya?? Terus kenapa dia deket banget sama dokter Rehan??" Tanya Rangga dengan tingkat pennasaran 100 persen.
"What!!!" Teriak Kiki tak percaya, sontak Rangga menutup kembali mulut Kiki dengan tangannnya, "bisa pelan nggak sih lo kalau ngmong!!."
"Uhukk.. uhuk.. ekhem.. ya jelaslah mereka delet, malah mereka itu deket banget kayak perangko, jadi maaf ya ngga, kataknya lo ngga bisa ngrebut dokter Ita dari dokter dokter Rangga" jelas Kiki memberi oencerahan agar Rangga jangan coba-coba ada niatan itu.
"Eh lo!! Tau ngga orang bilang kalau selama janur kuning belum melengkung, maka masih ada kesempatan buat gue, secara ganteng gini banyak yang minat" ucao Rangga dengan bangga sembari memainkan kerah kemejanya.
"Dih" sahut Kiki ilfeel lihat tingkah Rangga.
"Nah itu masalahnya ngga, JANURNYA UDAH KEBURU MELENGKOONG!." Ucap Kiki jelas, da jelas ucapan kiki erhasil membuat Rangga potek.
Rangga membulatkan matanya lebar "Hah?? Maksud loh??!."
"Ya seperti dugaan llo, mereka berdua sudah menikah, dan Lo!!!" Kiki menunjuk tepat ke muka Rangga.
"Lo ngga bisa dapetin dokter Ita, kenapa?? Karna mereka adalah couple uwu di rumah sakit ini mereka adalah rehan best couple!!" Jelas Kiki dengan semangata yang menggebu-gebu.
"J j jadi mereka??" Ucapan Rangga terdengar terbata-bata karna masih tidak percaya kalau mereka sudah menikah.
"Iyaa... Mereka udah menikah, mereka itu pasangan halal" tegas kiki.
"Hah!!." Rangga mendengus kesal, ternyata selama ini Rangga menyukai istri orang, Rangga pikir perbadaan mereka yang membuat benteng besar untuk hubungan mereka, namun ternyata ada benteng lebih besar dan kokoh lagi yang membuat hubungan Rangga dan Ita menjadi semakin tidak mungkin. "Pupus." Gumam Rangga sembari mengaduk aduk acak makanannya.
"Wp yang pupus?" Tanya kiki yang mendengar gumamqn Rangga.
"Apa sih lo kepo amat."
"Jih."
🌹
Sesui dengan janji Ita dengan Rehan untuk mulao m ngbil cuti mulai besok, jadi hari ini Ita mulai memastikan kondisi pasien, Ita juga tetap berniat akan memantau pasien dari rumah, toh Ita bisa tanya tentang kondisi pasien kepada kiki atau Rangga.
Setelah makan siang bersama Rehan, Ita kemudian meleanjutkan tugas terakhirnya ia melakukan round visit di malam hari. Seperti biasanya ia di temani Rangga dan kiki yang selalu setia berjalan di belakang Ita menemani Ita.
"Kita ke bangsal anak ya" ajak Ita keoada Rangga dan kiki.
"Iya dokter" jawab mereka berdua serempak.
****
"Hallo Yanaa... Gimana kabar yana hari ini??" Tanya Ita pada anak perrmpuan yang tengah berbaring di ranjang pesakitannya.
"..." Naum sayangnya sapaan ramah Ita dan di balas oleh gadis berusia 9 tahun itu, ia justru terlihat murung saat melihat Ita.
"Yana.. disapa dokter, dibalas dong, harus sopan" ucap mama yana yang yang selalu menemani hari-hari Yana di rumah sakit.
Ita tersenyum kepada mama Yana,"ah ngga apa-apa bu" ucap Ita agar mamanya tidak memaksa Yana untuk membalas sapaan Ita.
Ita kemudian mencoba mendekatinya, Ita duduk di sisinya, sembari mengelus poni rapi dari anak itu. "Yana kenapa? Ada yang sakit??."
Yana menggeleng pasti, ia tampak tidak suka dengan kehadiran Ita.
"Yana mau sesuatu??" Tanya Ita lagi.
"Dokter kesini pasti mau nyuntik Yana kaann" bocah cantik itu akhirnya buka suara, namun ucapannya diiringi demgan nada tergugu menahan tangisnya.
"Hiks..hiks..hiks.." tangis Yana, gadis kecil itu memang sering sekali mrnangis saat harus berurusan dengan jarum suntik.
"Ssstt... Cup ,cup cup" Ita mencoba menenagkan Yana agar tak menangis, di saat seperti inilah naluri keibuan Ita mulai muncul, "okey okey, Yana jangan nangis, kalau Yana nggak sedih lagi dokter bakal kasih hadiah gimana??" Ucap Ita mencoba menenangkan Yana.
Gadis itu mulao mencoba menghentikna tangisnya, ita mengusap air mata anak perempuan imut tersebut, "apa dokter??" Tanya Yana menanyakan hadiahnya.
"Hadiahnya hari ini Yana nggak bakal disuntik yeyy" ucap Ita dengan semangat, senyumnya lebar sekali hingga membuat Yana juga tersenyum karna bahagia dengan hadiah ita.
"Sungguh??" Mata Yana berbinar, senyumnya mulai kembali merekah.
Ita mengangguk pasti, senyumnya tak bisa berhemti melihat kebahagiaan Yana anak itu kemudian duduk dan memeluk erat Ita, "terimakasih dokter" ucap yana.
"Iya-iya, tapi Yana harus janji sama dokter pokoknya harus semangat terus ya."
"He emm" Yana menganghik dalam pelukan Ita, begitu sederhananya kebagiaan.
Bagi Ita, bahagia itu kita yang ciptakan, yang terpenting adalah bersyukur atas hal kecil apapun itu.