
Sayyidina Ali berkata : "barang siapa menyangka bahwa sesuatu tanpa usaha akan berhasil, maka ia golongan orang yang berangan-angan. Dan barang siapa yang menyangka sesuatu dengan mengerahkan usaha akan berhasil, maka ia golongan orang yang kaya."
Imam Ghazali
Ayyuhal walad, 5
🌹
Bagi Rangga, penolakan Ita kali ini memang bis membuat hati Rangga hancur, namun rasanya Rangga sudah mempersipakan hatinya, lagipula Ita sendiri yang secara tidak langsung telah melatihnya patah hati, jadi bagi Rangga, ini juga bagian dari latihan patah Hati tersebut.
Ita kali ini bisa menolak Rangga, tapi untuk kedepannya, Rangga akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan hari Ita, tak peduli bagaimapun perbedaan Rangga dan Ita. Tapi bagi seorang laki-laki, berhenti selamanya hanya karna satu penolakan adalah hal yang memakukan.
Meskipun Ita sudh memutuskan untuk menghindari Rangga, namun perasaan Rangga teraplah sama kepada wanita yang mampu membuatnya terkesan disaat pertemu pertama mereka.
"Apa ini karna perbedaan kita?" Gumam Rangga menatap kosong ke arah pintu, bayangannya rancau memtar kembali kenangannya bersama Ita.
"Aaakhhhhh" Rangga mengusap rambutnya frustasi.
🌹
Pukul 3 dini hari, setelah Ita sempat tidur sebentar di doctor dormitory, Ita terbangun untuk melaksanakan sholat tahajud. Ia blpergi ke musholla rumah sakit untuk melaksanakan sholat tahajud.
Dari kejauhan, ita melihat Rangga yang terduduk termenung di tangga musholla, rasanya pengecut sekali kalau Ita tidak jadi sholat tahajud hanya karna ada seorang laki-lqki yang beru saja ditolaknya.
Jadi Ita tetap memutuskan untuk sholat Tahajud, Ita berjalan melewati Rangga, dan seperyinya Rangga melamun sampai pandangannya benar-benar kosong dan tidak mebgetahui kalau dirinya baru saja lewat.
"Apa dia sungguhan patah hati??" Gumam ita sembari melepas sepatunya.
"Mau sholat apa? Bukankah ini belum shubuh?" Ucao Rangga dengan oandangan kosong ke depan tanpa melirik ke arah Ita.
Ita tidak bisa mengabaikna seseorang yang bertanya prihal ilmu, selama ini Rangga selaku bertanya soal agama, dan itu yang memhuat Ita sangat senag dengan kehadiran Rangga seperti adik yang masih polos tak tahu apa-apa.
"Tahajud" jawab Ita singkat.
Ja aban Ita mempu membuat Rangga membalikkan tubuhnya ke arah Ita, "apa itu? Aku baru dengar" tanya Rangga polos.
Dan kali ini Ita tidak jisa mengabaikan pertanyaan macam itu,
"Sholat malam adalah waktu terbaik untuk merayu Allah, kalau kau ingin keinginanmu terwujud, selain berusaha, kau juga harus berdoa, dan salah satu waktu yang tepat adalah disepertiga malam dan itu adalah saat sholat malam," jawab Ita dengan senyum mengembang.
Setelah menjawab pertanyaan Rangga, Ita kemudian menaiki tangga dan mulai melaksanakan sholat malam, seperti biasa, tanpa Ita ketahui, Rangga selalu memperhatikan gerakan sholat Ita dari belakang.
"Kalau memang Tuhan akan mengabulkan permintaanku, apakah aku harus sholat tahjud?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul di hati Rangga.
Setelah Ita selesai sholat, ini lah yang Rangga tunggu, mendengarkan lantunan ayat suci alquran dari Ita, yang selalu membuat hari Rangga berdesir, entah berdesir karna si pembaca atau memang karna Agungnya Kalam Allah.
Tapi keinginan Rangga kali ini tidak bisa terwujud karna Rangga melihat Ita tidak mengambil alquran di rak seperti biasanya. dalam pengamatan Rangga, setelah sholat, Ita selalu duduk lama mungkin sedang berdoa, kemudian ia mengambil alquran bersmapul hijau dan membacanya dengan indah, tapi kaliini langsung merapikan jilbabnya dengan terburu-buru.
Tak ingin ketahuan memperhatikan dirinya, dengan segera Rangga pergi musholla. Sejurus dengan Ranggga yang telah meningglkan mushola, Ita barusaja keluar dari pintu mushola dan mulai berjalan menuruni anak tangga.
Ita kemudian berniat untuk pulang sekarang, ita berjalan menuju parkiran dengan semangat, pagi ini adalah akhir pekan, dan Ita akan menghabiskan akhir pekan bersama Rehan, tentu itu adalah hal yang sangat menggembirakan bagi Ita.
Ita membuka kunci mobilnya, baru saja Ita mau masuk ke mobil, seseorang menyapa Ita, "dokter Ita akan pulang?? Apa saya kawal saja dari belajang?" Ucap Rangga menawarkan bantuan.
Ita terdiam sebentar, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sikap Rangga kali ini, membuat Ita mengetahui sesuatu, kalau Rangga tidak menyerah begitu saja, untuk Itu, Ita akan benar-benar akan ucapannya, ia kan menjauhinya, padahak Ita sempat berpikir tidak akan menghindarinya namun setelah Ita menyadari kalau Rangga masih mebharapkan dirinya, tentu Ita harus melakukannya tampa harus memotong tali silaturrahim.
"Saya harus pulangnsekarang, permisi assalamualaikum" pamit Ita yang langsung masuk mobil tanpa menjawab tawaran Rangga.
Rangga menatap kosong ke arah mobil Ita yang sudah kelur dari parkiran, Rangga kini menyadari satu hal, Ita akan meladeni Rangga saat dirinya bertanya tentang agama, dan akan bersikp dingin saat Rangga menawarkan bantuan atau berbicara selain pekerjaan atau agama. Kini Rangga sadar akan hal itu.
Rangga tersenyum dan juga mulai masuk mobil untuk pulang juga, malma ini adaah malma yang melelahkan bagi hati Rangga, akan lebih baik jikania segera beristirahat.
🌹
Ita melajukan mobilnya kencang, jalanan kota selalu lengah dijam segini. Memang benar, seseorang akan merasa sangat bahagia ketika bisa bersama orang ynag sayangi, bahkan saat mereka belum bertemu sekalipun, kebahagiaan sudah menyelimuti hati.
Kring.. kriing.. suara nada dering gawainIta berbunyi, gawai Ita yangbmemang ia sudah sambungkan dengan earphone, jadi Ita bisa mengankat telepon dengan tetap fokus menyetir.
"Halo asslamualaikum" sapa Ita memhuka obrolan.
"Wa'alaikumussalam."
"Kak Rehan!!!" Suara Ita terdengar bahagia saat bisa mendenagr suara Rehan.
"Iya.. gimana?? Udah mau pulang??."
"Iya ini betar lagi sampe" jawab Ita semangat.
"Oekyy, hati-hati ya, tetap fokus nyetir, kakak tutup telponnya, see u sayang."
"Hueekk..." Tiba-tiba saja Ita mendadak mual dan ingin sekali muntah, Rehan yang mendengar Ita mau mutah, tentu saja mendadak membuatnya khawatir.
"Ta??."
"Hueek..."
"Tata ngga apa-apa, tata minggirin mobilnya dulu ta jangan lanjut, kakak jemput kamu sekarang" ucap Rehan yang segera mengambil jaketnya.
"Kak ngga usah" tolak Ita.
"Kamu dimana?kakk jemput sekarang!."
"Kak ngga usah kak! Ita ngga apa-apa."
"Kamu share location sekarang, minggirin dulu mobilnya."
Rehan sama sekali tak mebdengarkan ucapannya supaya tidak usah menjemputnya, Rehan terus saja mengoceh tak mendengarkan Ita.
"KAK!!!" Teriak Ita karan Rehan terus mebgkhawatirkannya dan tak mendenagrkan Ita, akhirnya membuat Ita memanggilnya dengan nada tinggi.
Di rumah, Reha langsung mebghentikan langkahnya yang sedang menuruni tangga saat Ita memanggilnya dengan keras.
Ita menghela napas panjabg saat Rehan sudah berhenti berbicra, kini Ita ingin didengarkan oleh Rehan, "Ita ngga apa-apa, sebentar lagi Ita sampai Rumah."
Rehan menghembuskan napas mencoba tenang, "kau serius?."
"Yasudah, kakak tunggu di depan rumah, jangan matikan telphonenya, kakak akandiam dan kamu fokus menyetir" titah Rehan sedikit was-was namun apa daya saat Ita melarang menjemputnya.
Ita menuruti permintaan Rehan, ia tidak mematikan telephone dan tetap fokus menyetir. Hanya butuh waktu 10 menit, Ita sudah sampai di kompleks rumahnya.
"Ita sampaiii" ucap Ita gembira saat memasuki gerbang rumah, tentu Rehan mendengar suara Ita di sambungan telpon yang belum dimatikan.
Setelah memarkirkan mobil di garasi rumah, Ita segera keluar dari mobil, tubuhny a langsung menghambur ke pelukan Rehan.
"Uwuuwuwuu Ita kangeeennn" ucap Ita bahagia saat memluk Rehan.
Ita dan Rehan berpelukan seperti teletubbies,sangat erat Ita memeluk Rehan, begitu juga Rehan.
"Kau menungguku??" Tanya Ita manis dalam pelukan Rehan.
"Kau merindukanku??" Tanya Rehan balik, peluknnya semakin erat.
"Hmmm tentu saja" keduanya kompak menjawab, tak salah kalau oran-orang di rumah sakit menjuluki mereka couple uwu.
"Kau tida apa??" Tanya Rehan yang merangkul Ita mulai masuk ke rumah.
"Ngga tau, Ita akhir-akhir ini suka tiba-tiba mual dan pingin muntah, tapi ngga ada yang mau diuntahin" jelas Ita bersender di bahu Rehan sembari berjalan.
"Jangan bilang perut kamu kosong, kamu ngga makan dari tadi siang??" Tanya Rehan menyelidik.
"Nggak, Ita malah akhir-akhir ini sering banget makan banyak, nggak kaayk biasanya" jawab Ita yang merasa aneh dengan dirinya.
"Ita juga lebih sensitif" tambah Ita lagi.
"Oh iya?? Tata yang suka bodoamat sekarang jadi lebih sensitif?? Wah kayaknya kakak harus lebih hati-hati sama kamu, takutnya pas lagi sensitif trus kaka ganggu, kamunya malah makan kakak" ujar Rehan terkekeh geli.
"Hisssshhh" ita mencubit perut Rehan.
Sontak Rehan mengaduh, entah kenapa wanita selalu menggunakan senjata cubit perut setiao kali kesal.
"Gimana kalau nanti pagi kita ke ruma sakit?? Kita periksa kedaan kamu, bukan apa-apa, kakak takut aja kalau ini maslah serius" Rehan memberi saran kepada Ita.
Ita tersenyum ke arah Rehan, menatap mata Rehan lekat, "tata ngga apa-apa, paling masuk angin."
"Kamu tadi nggak tidur sama sekali?" Tanya Rehan. Kalau Ita memang tadi tidak tidur sama sekali, mungkin itu sebabnya Ita ingin mutah, karna kurang tidur dan semalaman begadang.
"Ita tidur kok tadi, sekitar 3 jam" jawab Ita.
"Aduuh, istri kakak ini pasti kecapean sekali, sini duduk dulu" Rehan mendudukkan Ita di pinggi tempat tidur.
"Mau kemana kak?."
"Buat teh" jawab Rehan.
Mendengr jawaban Rehan, aita langsung berdiri, "biar Tata aja yang buatin" ujarnya.
"Eehh.. eh, duduk kamu" rehan kembali mendudukan tubuh Ita yang lemas.
"Kan kakak mau buatin buat kamu, masa kamu yang buat, udah kamu disini aja" ujar Rehan.
"Aahh soswittt... Makasih kak." Ita tersenyum lebar keoada Rehan, saat badannya terasa lelah, memang Rumah adalh tempat terbaik untuk kembali, disini kau akan bertemu orang yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya, ia akan terus bersamamu insyaAllah.
Tak perlu menunggu lama, Rehan sudah datang membawa secangkir teh kepada Ita, "makasih."
Sebelum meminum, ita terlebih dahulu menikmati aroma dari minuman tersebut, aroma yang bisa menenangkan, ita mengucao basmalah sebelum meminumnya.
Sembari Ita meminun teh buatan Rehan, Rehan sedari tadi memoerhatikab wajah pucatvIta, ia pasti kelelahan hari ini, wajahnyansampai terlihat pucat, matanyapun terlihat seperti mata panda karna setiap hari harus kekurangan tidur yang cukup, juga makan yang tidak teratur.
Sampai saat ini, Ita masih tidak ada biatan untuk berhenti dalam pekerjaannya, melihat wajahblelah dari Ita, itulah yangbmemhuat Rehan kadang tak sanggup dan ingin sekali Ita berhenti, namun ia selalu bersikeras menolak, mungkin Rehan harus pelan-pelan untuk membujuknya.
Tangan Rehan mulai menyentuh rambut depan Ita yang menutupi wajah cantik Ita, Rehan menata rambut Ita, pandangannya lekat menatap wajah Ita yangbmenikmati teh buatannya.
"Kenapa kak?" Tanya ita saat Rehan terus melihatnya dengan tatapan iba.
"Kakak tidak bisa melihat wajahs eperti ini lahi" ujar Rehan.
"Maksutnya?? Kakak ngga mau lihat wajah ita?? Atau apa wajah ita terlihat kusam?" Crocos Ita panik saat Rehan muali membicarakn penampilan.
"Lebih buruk dari itu, lebih buruk dari wajah kusam karna belum mandi," rehan membelai rambut Ita yang terurai.
"Kakak tidak bisa melihat wajah lelahmu, dan juga mata pandamunkarna harus seharian terjaga, kakak tidak bisa terus-terusan melihat itu."
Ita yang tadinya menatap Rehan lekat, kini pandangannya mulai turun, ia mulai menunduk. Ita tau arah pembicaraan Rehan, dan Ita lebih memilih tidak menanggapi atau mengalihkan pembicaraan.
"Ta.." rehan memegang pundak Ita, "kakak masih berharaonkamu segera berhenti bekerja, biarlah kakak saja yang bekerja" tutur Rshan lembut.
Lagi-lagi Rehan tidak mengerti bagaimana perasaan Ita terhadap pekerjaan ini, butuh perjuangan untuk mendapatkan gelar dr. Kemudian ia melanjutkan spesialis, banyak perjuangan dan kenangan yang membuat Ita jatuh hati pada dunia medis, dan sepertinya rehan tidak akan mengerti meskipun ia menjelaskannya, toh dulu Ita juga pernha menjelaskannya pada Rehan, tapi apa,?? Sekarang ia meminta hal yang sama.
"..."
"Taa.." rehan membelai rambut Ita.
"Bagimana kalau hari ini kita nonton kak? Pagi ini kita nonton, siangnya Ita pingin rebahan aja, kitabrebahan bareng" ujar Ita tersenyum lebar mengalihkan pembicaraan Rehan.
Lagi-lagi permintaan Rehan diabaikan oleh Ita. Benar, Rehan harus pelan-pelan dalam membujuk Ita, tidak bisa labgsung, namun Rehan harus bisa memastikan agar Ita berhenti bekerja, ini demi kesehantannya, Rehan tidak hisa melihar wajah lelah Ita karna bekerja, rasanya Rehan tidak berguna sebagai suami.
Rehan menimpali pertanyaan Ita dengan senyum lebar, "eeumm.. oke, kita ninton pagi ini, dan siangnya kuta rebahan, kita nonton jam 10 pagi??" Tanya Rehan.
"Eeumm atau jam 12 aja kali ya kita nontonnya, nangung jam 10"sahut Ita.
"Hei.. kan kuta belum beli tiket, jadi nanti antri tiket sekalian popcorn pas deh kita nonton jam siang" sahut Rehan.
"Tapi emang tau mau nonton apa?" Tanya Ita lagi sembari rerkekeh geli.
"Nggak" jawab Rehan yang juga terkekeh, beginilah saat mereka merencanakan kencan yang selalu mendadak, tidaka da persiapan apapun, yang terpenting bagi mereka adalah "yang penting jalan hehehh."
Ya beginilah nasib couple super sibuk satu sama lain, smapai tidak ada waktu untuk rebahan, bahkan rebahan adalah liburan paling menyenangkan, berlibur di pualu kapuk bersama adalah sesuatu yang selalu Rehan dan Ita inginkan.
Hari-hari biasa akan sangat berharga bagi mereka berdua, karna sedikit hari biasa yang mereka dapatkan.