You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
37



Semakin kecil suatu dosa dalam pandanganmu, semakin besar dosa itu dalam di sisi Allah. Dan semakin besar suatu dosa dalam pandanganmu, semakin kecil dosa itu disisi Allah.


- Ibnu Qayyim Al Jausiyyah -


🌹


Ita segera menemui Salwa, dari kejauhan Salwa melihat Ita yang sudah datang, salwa melambaikan tangan untuk memberi isyrat keberdaannya. Ita segera berlari ke arah Salwa.


"Siapa wali pasien?" Tanya Ita sembari berjalan cepat kepada Salwa.


"Pak Arga dokter" jawaban Salwa menghentikan langkah Ita.


Ita sontak menoleh ke arah Salwa, "siapa?."


"Iya dokter, pak Arga pemilik Angkasa medical center, dia anak pemilik Rumah sakit ini" jelas Salwa.


"Wuahh.." Ita menggelengkan kepala.


"Bagaimana bisa dia kecelakaan motor dinihari seperti ini?."


"Ada yang bilang, dia kabur dari Rumah, keadaannya sangat stress saat meninggalkan rumah, hingga membuatnya jadi tidak konsendan akhirnya kecelakaan,"


"Keluarganya akan segera datang dokter."


Dengan jalan yang begitu cepat, Itapun sampai di depan ruangan CT ternyata sudah ada keluarga orang paling disegani di rumah sakit, ia sudah menuggu di depan pintu. Tapi itu bukan pak Arga melainkan istrinya.


"Dokter?!" panggil ny.Arga khawatir langsung meraih tangan Ita.


"Selamatkan putra saya, saya mohon" ujarnya sembari menangis.


Ita menggenggam tangan ny.Arga dengan lembut "Kami lihat hasil CTnya terlebih dahulu, untuk tindakan selanjutnya, akan pasti akan segera kami sampaikan ke pihak keluarga" ujar Ita dengan senyum yang meneduhkan.


Ita mengurai genggaman ny.Arga dan segera masuk ke ruang CT.


Sembari mempersiapkan Ruang operasi, Rangga yang kebetulan ada di Ruang CT, ia memperlihatkan hasil CT scan dari pasien kecelakaan.


Tidak seperti dengan yang lain, Ita merasa canggung bila dengan Rangga.


"Ini hasil CT dari pasien" ujar Rangga memperlihatkan layar monitor.


Ucapan Rangga menyadarkan Ita dari rasa canggungnya, "ah.." ita tersadar dan mulai fokus dengan pasien.


Ita kini fokus menatap layar monitor bergambar hasil CT otak pasien, ia mangamati dengan betul.


"Terjadi perdarahan subdural akut dibagian kiri retakan, hematoma telah menyebabkan hernia otak dari otak kiri hingga kanan sekitar 3 sentimeter, kita harus singkirkan hematoma subdural akut terlebih dahulu dan lihat apa dia sadar" ujar Ita dengan pandangan yang masih melekat ke arah monitor.


"Salwa?" Ita mengalihkan pandangannya ke Salwa.


"Ya?."


"Apa dokter Rehan masih operasi?" Tanya Ita.


"Masih dok, operasinya selesai 2 jam lagi" jawab Salwa.


Ita kini menggigit bagian bibir bawahnya, ada yang dicrmaskan oleh Ita.


"Bagaimana dengan dokter Hamam?" Tanya ita lagi.


"Dokter hammam sedang ada di luar kota, mungkin besok baru mulai kembali ke Rumah Sakit."


Ita mendengus, "aiishhhh" ita menggigit kuku jarinya, ia terlihat sangat panik.


"Kenapa dokter? Bukankah kita harus segera melakukan operasi?" Tanya Rangga.


Ita mencoba mengatur napasnya agar tenang,


"Aku tidak pernah memipin operasi seperti ini sendiri, selalu ada dokter Rehan atau dokter Hammam," Ita melirik ke arah Salwa.


"Dokter.." panggil Salwa. Dan Ita masih menggigit kuku jarinya sembari berpikir.


"Dokter tidak ada waktu berpikir, kalau dokter belum pernah melakukannya sendiri, itu artinya hari ini dokter harus melakukannya sendiri" ujar Rangga.


Sontak pandangan Ita dan Salwa mengarah kepada Rangga.


"Dokter, Pasien harus segera dioperasi" ujar Salwa.


Ita semakin tak karuan, ia tidak bisa memutuskan ini, ia tidak ada pengalaman mengoperasi sendiri kasus seperti ini, apalagi dia adalah putra dari pemilik rumah sakit, "bagaimana ini?" Tangan Ita semakin dingin juga gemettar.


"Dokter!? Kita tidak bisa menunggu 2 jam, kita tidak bisa menunggu dokter Rehan" Sentak Salwa.


"Hah!"


Ita mengutarakan kecemasannya, saat Rangga dan Salwa terus mendesak Ita.


"Kau tau, dia putra pemilik Rumah Sakit, karier dokterku akan hancur kalau operasi ini gagal" ceplos Ita sembari terengah-engah, memang egois, tapi itu yang menggangu pikirannya.


Salwa dan Ranggapun dibuat kaget dengan pernyataan Ita yang lebih mementingkan karier dokternya dibanding keselamatan pasien, dia bukan dokter Ita yang Salwa kenal.


"Tidak ada jaminan operasi itu akan berhasil" tambah Ita.


"Dokter, lalu apa dokter akan membiarkan pasien seperti ini??" Secara tersirat Salwa menentang pernyataan Ita.


Ita semakin tak karuan, Ita juga tidak bisa diam seperti ini, "aahh gila, bagaimana ini!" Ujar Ita semakin cemas. Ia terus menggigit kuku jarinya yang ikut bergetar.


Ita mengusap kasar wajahnya, "Ah! Oke! Kita lakukan sekarang!" Tegas Ita yang segera keluar dari ruang CT menuju ruang ganti.


Pundak Salwa yang menegang akhirnya bisa rileks kembali saat Ita memutusakan akan mengopetasi pasien, "oke, kita bersiap sekarang" Ucap Salwa kepada Rangga.


Ranggapun ikut gelisah dan semangat karna ini operasi pertamanya, ia segera mengikuti salwa.


Saat Ita keluar dari ruangan CT, ia melihat ny.Arga yang masih menangis di depan ruang CT, Ita berhenti di ambang pintu, dia adalah salah satu alasan ia mengiyakan operasi ini, Ita teringat ny Arga yang menangisi putranya, mana tega Ita membuat sang ibu teris menangis cemaa akan keadaan putranya? Itu adalah alasan Ita melakukan operasi ini. Sebisa mungkin, ia akan berusaha mengembalikan senyum ny.Arga lewat kesembuhan putranya.


Ita menghembuskan napas pelan sebelum bicara, Ita memegang pundak ny.Arga, "saya akan berusaha keras, tolong doakan yang terbaik untuk putra nyonya" ujar Ita.


Pandangan ny.Arga langsung bertemu dengan kedua bola mata Ita. Ita mengangguk agar itu percaya semua akan baik-baik saja. setelahnya, Ita langsung pergi begitubsaja meninggalakn ny.Arga.


Ita mengganti baju operasi, ia kemudian segera masuk ke Ruang operasi, dua orang menghampiri Ita sembari memakaikan jubah operasi juga sarung tangan latex.


-di Ruang Operasi-


"Saya dokter bedah saraf Atma anindhita akan meminmpin operasi ini, saya minta bantuan kalian semua" ujar Ita sebelum memulai operasi.


"Bagaimana kondisi vitalnya?" Tanya Ita.


"Tekanan darah saat ini 130, detak jantung stabil 70-80" jawab Rangga.


"Baik."


Ita menghela napas panjang, ia sudah berucap kepada ny.Arga untuk tidak khawatir karna semua akan baik-baik saja. bagi Ita, apa yang ia ucapkan adalah sebuah janji, jadi dengan penuh fokus dan hati-hati Ita memulai pembedahan dengan membuka tempurung otak pasien.


Segera Rangga memberikan alat yang Ita butuhkan.


Dengan berhati-hati, ita mulai membuat sayatan di kepala pasien.


"Irigation."


Mata Ita 100 kali lebih tajam saat berada di ruang operasi, berharap tidak ada kecelakaan dalam operasinya kali ini.


"dissector."


"Kapas."


"Jepit."


Tut.. tut.. tut...


"Pendarahan" ujar Rangga panik. Mengetahui terjadi pendarahan, Ita tetap mencoba fokus meski hatinya sangat cemas.


"Sedot" ujar Ita, matanya tetap fokus pada objek operasinya.


Tut.. tut..tut ...


Sementara Ita sedang berusaha semaksimal mungkin. Salwa segera keluar dari Ruang Operasi, Saat ini, dokter Rehan mungkin sudah menyelesaikan operasinya.


Salwa berlari sekuat tenaga mencari keberadaan Rehan, akhirnya Salwa bertemu Rehan di Loby sedang berjalan keluar dari Rumah Sakit.


"Dokter!? Dokter Rehan!!"panggil Salwa terengah-engah.


Merasa terpanggil, Rehan segera berbalik badan. "Ada Apa nurs?."


"Dokter Ita sedang melakukan operasi darurat, pasien saat ini mengalami perdarahan, pasien butuh bantuan dokter" jelas Salwa.


Tanpa berkata apa-apa, Rehan segera menuju ruang operasi Ita, Rehan kini sudah memakai baju operasi lengkap, juga mencuci tangannya dengan antiseptic sebelum masuk ke ruang operasi.


Tut.. tut..tut..


suara pendeteksi jantung itu terus saja bergema seperti berusaha membuat fokus Ita buyar. suasana di ruang operasi saat ini sangat tegang. pendarahan masih terjadi, dan Ita masih terus berusaha mengatasinya sampai Rehan masuk ke dalam ruang operasi.


"Dokter Ita, Biar saya ambil alih" ujar Rehan saat melihat Ita seperti kualahan.


". . ." Ita tidak menjawab, ia tak merubah posisi duuduknya sama sekali, ia masih fokus dengan operasinya. ia berusaha menanganinya.


"Dokter Ita?!" panggil Rehan sekali lagi.


". . . " Dan sama tak ada jawaban, hanya suara alat pendeteksi jantung yang terus bergema.


"Apa dokter ingin membunuh pasien!" Sentak Salwa yang mulai geram, "berikan saja pada dokter Rehan" tambahnya.


Rehan menatap Ita lekat, ia percaya kalau Ita punya kemampuan, ia pasti bisa menanginya, jadi Rehan berhenti meminta Ita untuk menyerahkan operasi itu kepadanya, tapi ia mulai menyemangati Ita.


Rehan mengusap dahi Ita yang mulai berkeringat, "fokuslah" ucap Rehan lirih.


Sedari tadi, Ita tak mendengarkan ucapan orang disekitarnya, tapi saat Rehan mengucapkan kata itu, Ita kini mulai menata kembali fokusnya. Ia yakin bisa menyelesaikn ini dengan kemampuannya.


Dan tak lama kemudian, pendarahan bisa diatasi, operasi pun selesai dengan lancar, bahu Ita yang sedari tadi menegang, akhirnya bisa turun saat ia bisa menghembusakam napas lega.


Begitu juga seluruh tim operasi, mereka serentak menghembuskan napas lega, "hufftt syukurlah."


Ita melirik ke arah Rehan, "apa dokter mau menyelesaikannya?" jika biasanya Rehan yang menawari hal seperti ini, kali ini Ita yang menawari Rehan.


Rehan tersenyum ke arah Ita, meskipun Rehan tau kalau Ita juga tidak mengetahui kalau dia senyum karna menggunakan masker.


"Tidak, ini operasimu jadi selesaikan sampai tuntas" titah Rehan dengan hati lega dan bangga.


Rehan keluar terlebih dahulu dari ruang operasi saat semua sudah terkendali, hanya kurang menjahit sayatan saja, Ita sudah berhasil menyelesaikannya dengan baik.


Rehan menunggu Ita di samping bagian luar ruang operasi.


Sampai saat Ita selesai, Ita berjalan keluar melewati pintu, ia berhenti saat sudah beberapa langkah di depan pintu operasi, Ita menarik lengannya ke atas, ke samping kanan dan juga kiri, ia ingin merilekskan semua ototnya yang tegang, ia tidak menyedari kalau Rehan sedang berada di belakangnya.


"Ekhem" rehan berdaham, sontak Ita menoleh ke belakang, Ita melihat wajah yang begitu menenangkan bagi Ita.


"Dokter Ita" Rehan memberi salam kepada Ita, ia selalu bersikap Formal kepada Ita saat di Rumah Sakit, lebih-lebih kalau diluar ruangan Rehan.


Ita diam, ia tidak balik menyapa Rehan,ia hanya menatap Rehan dengn tatapan lekat, matanya juga terlihat berkaca-kaca.


"Selamat dokter, operasinya berjalan lancar, hari ini dokter Ita sangat memukau" puji Rehan pada istrinya itu. Senyum Rehan juga tak hentinya terus mengembang, meskipun tak dibalas senyuman oleh Ita.


Hening, tak ada jawaba dari Ita, ia hanya diam tak bergeming dihadapan Rehan, jarak mereka berdua sekitar 3 langkah.


"Buukk" suara hantaman tubuh Ita yang langsung memeluk Rehan, sontak Rehan kaget bukan main saat tiba-tiba Ita memeluknya, dalam suasana yang sepi, Ita langsung memeluk Rehan, bebannya terasa hilang saat berada di dada bidang laki-laki tampan itu.


saat adegan pelukan mereka didepan ruang operasi seperti ada lagu 'Percayalah' Afgan dan Raisa sedang diputar


tentu bukan hal biasa Ita memeluk Rehan saat diluar ruangan Rehan. Meskipun tidak ada orang saat itu, tapi tetap saja akan ada kemungkinan orang akna tiba-tiba datang. Beda kalau di ruangan Rehan, setiap orang yang masuk akan izin terlebih dahulu kepada Rehan.


"Ada apa ini dokter?" Rehan masih berusaha bersikap formal, tapi Ita justru semakin mengeratkan pelukannya, jadi Rehan membiarkan Ita terus memeluknya sampai ia sendiri yang mengurainya.


Terdengar suara isakan dari Ita, "Ita butuh kakak" ujar Ita mengeratkan pelukannya.


Suara Ita begitu manis mesuk ke telinga Rehan dan cukup mulus bisa sampai ke hatinya, itu membuat Rehan luluh, Rehan kemudian mengulurkan tangannya menerima pelukan Ita.


Rehan menepuk lembut punggung Ita, "kamu sudah bekerja dengan baik, kakak bangga dengan kamu" ujar Rehan menggunakan bahasa sehari-hari dengan Ita.


Sayang sekali, pelukan mereka harus berakhir saat Rangga keluar dari ruang operasi. Rangga terkejut melihat pemandangan seperti ini, "bukankah itu dokter Ita? Kenapa ia dipeluk laki-laki? Bukannya dokter Ita anti bersentuhan dengan laki-laki" gumam Rangga.


Ia berpikir kalau Rehan memaksa Ita untuk berpelukan, padahal sudah jelas kalau Ita juga sangat erat memeluk Rehan. "Wah ga bener ini, kudu di pisah" ujar Rangga yang memang tidak mengetahui kalau Ita dan Rehan adalah suami istri.


"Ekhemm" Rangga berdaham keras sampai Ita dan Rehan tersentak dan segera melepas pelukan satu sama lain.


Ita yang terkejut kalau Rangga yang berdaham, mendadak Ita jadi salah tingkah dibuatnya, ia menggaruk belakang kepalanya, padahal tidak gatal.


"Euumm... Itu tadi" ita mencoba menjelaskan, tapi langsung dipotong oleh Rangga.


"Iya dokter Ita, memang laki-laki yang tidak sopan terhadap wanita harus ditindak tegas" ujar Rangga debgan lirikan tajam ke arah Rehan.


Sontak Rehan memasnag muka beg0, ia tidak mengerti apa yang bocah ini katakan, siapa yang ia sebut laki-laki tidak sopan?? Disini yang laki-laki hanya dia dan Rangga.


Rehan menggragapi apakah ada ynag slha dengan dirinya?? Kenapa bocah itu menatap Rehan dengan pandngan sinis sekali.


"Sudah dokter, kita harus segera pergi dari sini, bukankah kita harus segera menemui keluarga pasien memberitahukan hasil operasinya?" Ucap Rangga dengan tatapan yang masih mengarah ke Rehan dengan sinis.


Ita juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakna Rangga, mungkn dia salah paham, tapi Ita lebih memilih diam tidak menjelaskn apapun. Rasanya lucu melihat Rangga melirik tajam Rehan, sedangkan Rehan dengan tatapan polosnya tidak mengerti apa-apa ia seperyi terdzolimi.


Ita terkekeh melihat perang dingin mereka berdua, "ah iya dokter Rangga, mari kita beritahu keluarga pasien terlebih dahulu."