You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
50



Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan Apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya."


HR. MUSLIM no. 2999


🌹


Ita hendak melepaskan infusnya, namun seseorang masuk ke ruangannya secara tiba-tiba membuat ia harus mrngurungkan niatnya.


Rehan masuk ke ruangan ita, ujung rambutnya basah, kemejanya nampak rapi meski sudah seharian bekerja, tebakan Ita kali ini adalah Rehan baru saja menyelesaikan sholat malam.


"Kak Rehan??" Panggil Ita.


Rehan terhenti saat mendengar suara Ita, ia melihat Ita tengah duduk di ranjangnya, Ia tersenyum lebar menyambut kedatangan Rehan.


"Akankah senyumnya bisa terus bertahan saat aku memberitahukan kabar buruk ini?? Ataukah justru senyumnya tak bisa kembali lagi??" Batin Rehan dalam hari saat melihat wajah sumringah Ita.


"Ita??" panggil Rehan menghampiri Ita saat mengetahui ita sudah sadar.


"Gimana? Ada yang sakit??" Tanya Rehan saat ia sudah duduk di sebelah Ita, ia mengelus pipi Ita lembut.


"Perut Ita sakit, tapi bukan sakit karna mulas" keluh Ita kepada Rehan.


Ita meraih tangan kanan Rehan dengan lembut, kemudian meletakkan di atas perut Ita, seolah Ita ingin Rehan merasakan janin yang ada di perut Ita.


"Coba kakak yang bilang supaya ia cepat tumbuh, biar kita bisa cepat bertemu."


Leeesss begitu hati Rehan saat mendengar ucapan Ita. suunyi, tak ada jawaban dari perkataan Ita yang ia lontarkan, Rehan juga tak ingin mengatakan seperti yang ita minta.


Perih, begitulah perasaan Rehan, saat Ita begitu mendambakan janinnya. Rehan tak bisa menolak tangan Ita yang ia letakkan diatas punggung tangan Rehan yang berada di perut Ita.


"Ita setuju."


Rehan masih melamun tak bisa fokus mendengarkan apa yang Ita ucapkan. "Kaak.."panggil Ita.


Satu kedipan berhasil menyadarkan Rehan dari lamunannya, "ya??."


"Ita setuju" Ita mengulang ucapannya sembari tersenyum lebar menatap perutnya.


"Setuju apa,?" Sahut Rehan.


"Setuju kalau anak kita nanti kita beri nama hanin, baby H, Ita suka." Terlihat wajah bahagia Ita mengucapkan hal itu, ia melihat ke arah Rehan sekilas.


Namun tak ada sedikitpun rona bahagia pada wajah Rehan, yang ada hanyalah rona kesedihan yang berusaha ia tutupi di depan Ita.


"Baby H, cepat tumbuh dan lekaslah lahir, Bunda ingin sekali bertemu denganmu" ujar Ita sembari mengelus perutnya, pandangannya tak pernah lepas dari perutnya.


Rehan menelan ludah sebelum ia bicara, dengan berat hati, Rehan harus menyampaikan kabar ini kepada Ita. "semoga kita bertemu di kehidupan yang lain" Ucap Rehan lirih sembari menggigit bibir bawahnya, air matanya lolos begitu saja.


Tik... Waktu seakan berhenti saat Rehan mengucapkan hal itu, tangan Ita seketika lemas, sampai melepas pegangannya pada tangan Rehan.


"Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya, di akhirat kelak," Rehan mengulang ucapannya, tanpa ia sadari, Air mata Rehan menitik begitu saja.


Pandangan Ita seketika kosong, dunianya juga seakan begitu saja terguncang. "Apa maksutnya?" Tanya Ita menatap Rehan dengan tatapan yang sayu, rona bahagia yang tadi begitu terpancar kuat, kini lenyap seketika.


Tanpa ingin menjelaskan lagi, Rehan langsung memeluk Ita, memeluk tubuh mungil Ita, Rehan memeluknya dengan Erat.


Terdengar suara isakan tangis Rehan di telinga Ita, "kaakk" panngil Ita dengan suara yang parau, ia juga menahan tangisnya.


"Ita mau pulang..."


"Ita mau istirahat" ucap Ita, suaranya semakin terbata-bata karna menahan tangis.


"Dokter bilang Ita harus banyak istirahat,"


"Ita harus pulang istirahat" lanjutnya lagi.


Rehan tak bisa mengatakan apapun, bahkan untuk bicara saja rasanya sulit sekali karna begitu sesaknya dada Rehan, ia hanya bisa memberikan pelukan kepada Ita sembari air mata yang mengucur deras.


"Hiks.. hiks... Hikss.." pecah jua, tangis yang darintadi Ita tahan, akhirnya pecah juga.


Iylta bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti kalimat dari Rehan, Ita mengerti, namun hatinya yang menolak akan kebenaran ini.


"Aha haaaa hiks.. hikss.. hikss... Ini nggak mungkin kaaakk hiks.. hikss.." Ita memukul tubuh Rehan yang sedari tadi memeluknya.


Ita terus memukul punggung bidang Rehan, namun semakin Rehan erat memluk Ita, tangis ita semakin pecah, begitu pula Rehan yang semakin tak sanggup melihat Ita menangis tergugu seperti ini.


"Ini tidak mungkin huaaa haaa hiks.. hiks.." Ita terus meronta dan memukuli Rehan.


"Kita pasti bisa melewati ini semua, kita hadapi, jangan jadi pengecut karna tak bisa menghadapi kenyataan" ujar Rehan, meskipun ia tau, apapun yang Rehan katakan sekarang, tak akan bisa membuat Ita tenang hanya dengan kata-kata.


Luka ini hanya butuh waktu, sampai Ita bisa menerima kenyataan ini dan kembali ke kehidupan seperti biasanya.


Begitulah malam itu berlalu, berlalu penuh dengan air mata, Ita hanya punya Rehan yang mendekapnya erat sepanjang malam, Ita menangis sampai matanya lelah mengeluarkan air mata, pada akhirnya Ita tertidur di pelukan Rehan.


🌹


Beberapa hari berlalu, Rehan tak susah sekali fokus dengan pekerjaannya, ia juga meminta tolong hammam untuk menggantikan beberapa operasi besar yang akan ia pimpin.


Syukurlah, ada sahabat seperti hammam yang selalu membantu dan memberikan dukungan kepada Rehan.


Sedangkan Ita, ia tak pernah sekalipun meninggalkan kamarnya, ia mengurung dirinya di kamar,


Tok.. tok.. tok.. kamar Ita diketuk, namun seperti biasanya, Ita tak pernah menyaut, hingga Yasmin masuk untuk membawakan makanan.


Lagi-lagi Yamsin melihat ita yang tidur di bawah beralaskan karpet, ia terus menangis sampai matanya bengkak.


"Ta.. ayo makan sayang, kamu belum makan siang" pinta Yasmin begitu lembut, Yasmin mengangkat kepala Ita.


Dan Ita hanya mengikuti gerakan apapun yang orang sekitar berikan, ia tak menolak, namun pandangan kosong, wajahnya kusut tak seperti biasanya.


"Makan dulu ya" Yasmin mulai menyuapi Ita, syukurlah Ita tetap mau membuka mulutnya.


Yasmin sangat khawatir dengan kondisi psikologis Ita, melihat keadaan Ita saat ini, memang sangat miris, membuat hati Yasmin tersayat.


Yasmin menyuapi Ita suapan terakhir, "apa ini semua salah Ita" ucap Ita secara tiba-tiba, terdengar seperti melantur karna pandangan ita juga kosong menatap ke depan.


"Apa Ita yang membuatnya meninggal?? Ini salah Ita??" Ita melirik ke arah Yasmin.


Tentu saja yasmin langsung menggeleng.


"Ini salah Ita, ini salah Ita, KATAKAN UMMI!!KATAKAN! INI SALAH ITA!! hiks..hiks..hikss..."


Yasmin menghirup napas panjang, pertanyaan ini selalu Yasmin dengar, Ita terus saja menyalahkan dirinya.


Yasmin membelai rambut Ita yang terurai panjang, "tidak, ini bukan salah Ita, ini sudah ketetapan dari Allah."


ita menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya, "pergi ummi, ita ingin sendiri."


Ita menangis tersedu-sedu di balik lipatan tangannya, rasa bersalah Ita bisa saja membuat Ita gila.


🌹


Pukul 7 malam, Rehan sudah pulang ke rumah, akhir-akhir ini rumah sudah tidak seceria dulu, Rehan yang selalu mengucap salam keras sampai seluruh penghuni rumah mendengar,kini ia hanya mengucapkannya secara pelan tak ada semangat.


Rehan berjalan menuju lantai atas, ia mulai membuka kenop pintu, dan yang pertama ia lihat adalah sosok wanita yang kini tubuhnya begitu lemah, dan penampilan yang tak pernah ia urus.


Ita sedang terduduk di lantai, bersandar ranjang, ia menatap kosong ke arah luar jendela.


Rehan berjalan menghampiri ita, Rehan ikut terduduk disebelah Ita. Ikut menatap ke arah luar jendela.


"Bagitu besar kekuasan Allah, yang dengan kasih sayangnya kita diberikan kebahagiaan yang tak terkira, lalu kemudian dengan mudahnya Dia mencabut kebahagiaan tersebut" ucap Rehan.


Ita menelan ludah, ucapan Rehan begitu lembut masuk ke telinga Ita dan dengan mudahnya menyentuh hati Ita.


Perlahan hatinya mulai bisa menerima apa yang sudah terjadi, ini semua sudah kehendak Allah, tak baik terus menyalahkan diri sendiri.


Ita mulai menyanderkan kepalanya di pundak Rehan, akhirnya Rehan bisa berkomunikasi dengan Ita, setelah beberapa hari kemarin Ita tak pernah merespon ucapan Rehan, kini ita mulai merespon Rehan.


Sedikt senyum terlukis di sudut bibir Rehan, meskipun rasa sakit masih ada di hati Rehan.


****


Seminggu berlalu, Ita mulai bisa membuka diri, ia mulai kelura dari kamarnya, namun ia masih tidak bisa untuk melakukan aktivitas sebagi dokter, ia masih belum bisa fokus.


Meskipun tak seceria dulu, namun Yasmin tetp bersyukur melihat Ita yang kini sudah mau keluar dari kamarnya, banyak perubahan yang terjadi pada Ita, ia kini jadi pendiam tak banyak bicara, da tak seceria dulu.


"Hari ini ummi masak soto, kata Rehan kamu suka benget sama soto" ujar Yasmin sembari menaruh semangkuk soto di meja makan.


Ita hanya menangguk pelan menanggapi ummi, ia tak bicara sepatah katapun.


"Ummi ambilin nasinya ya" yasmin hendak mengambilkan nasi untuk Ita namun segera yasmin ambil alih tanpa bicara.


Ia mengambil sedikit nasi, kemudian memakannya, tak ada raut bahagia di wajah Ita, mungkin ia makan hanya untuk menyenangkan hati Yasmin, juga agar Yasmin tidak terlalu khawatir akan keadaan Ita.


Setelah makan, Ita kemudian kembali lagi ke kamarnya. Ita kembali ke kebiasaan barunya yaitu tiduran sembari melamun.


Klunting... Suara nada pesan gawai Ita, sudah lama ita tak pernah menerima pesan. Dengan tanpa semangat, ita meraih pinselnya dan melihat chat dari siapa yang masuk.


Ternyata dari kontak yang ia beri nama, "suami♥️"


Ita membuka chat dari Rehan.


"Kita makan malam di luar mau?? Sudah lama nggak dinner."


Raut wajah Ita yangbtadinya datar, kini mulai nampak sudut senyum di wajanya, ini kali pertama Ita bisa tersenyum lagi.


"Iya kak, Ita mau" tulis Ita.


"😊 Kalau begitu, kakak tunggu di restoran biasanya, kakak tunggu jam 8 malam, see u sayang :* ."


Ita sedikit bisa terhibur dengan Rehan, ini sudah waktunya untuk Ita kembali lagi seperti dulu, lagipula tak baik terus menerus berlarut dalam kesedihan.


Setelah isya, Ita segera bersiap-siap, ia sangat semangat dengan makan malam kali ini.


Ita memilih gamis yang ia tak pernah pakai sebelumnya, yaitu gamis berwarna abu-abu pink yang manis di tubuh Ita.


Ita juga mulai bermake-up setelah sekian lamanya ia tak memakai riasan di wajahnya, jam 7 ita mulai berangkat ke restoran, ia tak ingin membuat Rehan menunggu.


Semoga ini awal yang baik untuk Rehan dan Ita memulai hidup yang baru, lembaran yang baru, dan menerima kenyataan yang sudah berlalu.


🌹


Ita menunggu Rehan di meja nomor 9, seperti sudah kebiasaan Rehan dan Ita, dan setiap Rehan dan Ita datang juga meja itu selaku kosong, seakan sudah pertanda kalau meja itu diciptakan untuk Rehan dan Ita.


"Ita sudah sampai, di meja 9 ya kak" ketik Ita.


Sembari menunggu Rehan, Ita melihat pesan-pesan terdahulu yang pernah Rehan kirimkan untuk Ita, semua pesan masih lengkap tidak ada yang Ita hapus.


Sampai ia menemukan chat sewaktu Rehan membicarakan nama untuk bayi mereka, dan dihari itu juga Ita kehilangan janinnya.


Meski rasa sakit seperti kembali terulang, namun tak ada gunanya terus disesali, waktu tak pernah berhenti menunggumu, ia akan terus berjalan.


Kurang dari jam 8, rehan sudah datang, Ia melambai ke arah Ita, Ita menyambut lambaian tangan itu dengan senyum namun masih belum terlihat lepas.


"Sudah pesan?."


"Sudah, kakak juga sudah Ita pesenin, sebentar lagi juga datang."


Rehan tersenyum, "makasih ya."


"Heem."


Sembari menunggu makanan datang, pandangan Ita beralih kepada meja yang ada sedikit jauh di seberangnya, di meja itu ada suami juga ibu yang tengah mengandung.


"Kalau saja kandunganku masih ada, tentu saat ini aku sudah bisa merasakan gerakannya di perutku" ita mengelus perutnya.


Rehan menghela napas panjang,menaggapin ucapan ita.


"Kalau saja waktu itu aku tidak kehilangannya, mungkin hari ini aku akan membicarakan nama untuknya."


Ita mengelus lagi perutnya, ia ingin merasakan kehadiran janin diperutnya segera, "kalau saja masih ada, aku pasti akan menjaganya dengan penuh hati-hati."


Rehan mulai muak dengan kata 'kalau saja' yang Ita ucapkan, semua itu sia-sia karna nyatanya tidak seperti itu.


"Kalau saja! Kalau saja kalau saja!" Rehan menggeprak mejanya tiba-tiba, sontak Ita kaget dibuatnya.


"Kenapa kau terus ucapkan kalau saja saat semua sudah terlambat!? Kenapa kau tidak menjaga dari dulu ha!!?."


"Kalau saja kau menjaga kandungan itu, kalau saja kau dengarkan kata-kataku sekali saja, dan kalau saja kau tidak egois, tentu kita tidak akan kehilangan bayi kita!" Ucap rehan kesal, ia terbawa emosi karna terlalu banyak kata andai yang sudah terlambat diucapkan.


Leeeesssss. Ucapan Rehan berhasil melukai hati Ita yang mulai sembuh, namun kini Rehan membuka luka itu, luka yang susah payah ita menutupnya, dan dengan sabar Ita mengobatinya dengan lamanya waktu berputar.


"Kak" ucap Ita tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Rehan, Ita berharap itu salah dengar.


"Kenapa??! Kau masih ingin melanjutkan andaimu ha?! Kau tau betapa aku kecewa denganmu saat janin yang kita tunggu sejak lama,akhirnya hilang karna ke egoisanmu!"


"Sebegitu pentingkah pekerjaan itu sampai kau menaruhkan janin yang sudah kita nanti!!" Rehan masih belum bisa mengontrol emosinya.


Air mata kembali memenuhi pelupuk indah mata Ita, kata-kata Rehan beggitu menusuk di Hati Ita, memang benar ia terlalu egois sampai melupakan hak yang sangatlah penting.


"Apa kakak mengajak makan malam hanya untuk memaki-maki ita? Melimpahkan segala kesalahan, Ita tau ini semua slah Ita, karna ita terlalu egois."