
Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia imi berharga ; melainkan hanya seperti seseorang yang mencelupkan jarinya di tengah laut. Kemudian mengangkatnya dan melihat apa yang menempel dijarinya. . .
( H.R. Muslim ; 2868 )
🌹
Ita kini tengah duduk di taman Rumah Sakit,menunggu Rehan yang tadi ijin pergi beli sesuatu.
Sesekali Ita memainkan smartphonnya haya untuk sekedar melihat instastory followingnya.
Sampai Rehan datang menyodorka satu cup susu dingin kepadanya.
"Aah makasih" mata Ita berbinar melihat apa yang Rehan berikan, minum sesuatu yang dingin kali ini memang cocok dengan hawa panas di jakarta sekarang.
Rehan mengambil posisi duduknya,
"Tenang, itu susu kok bukan santan" goda Rehan melihat Ita yang tak kunjung minum.
Ita tersentak kaget mengetahui Rehan tau aibnya yang pernah minum sebotol santan.
"Tau dari mana?" Selidik Ita sesikit kesal.
"Tau apa? Kan cuma bilang itu susu bukan santan" goda Rehan berlagak tidak tahu dengan wajah menahan tawa.
Ita mendengus kesal, tangannya mencubit perut Rehan hingga Rehan memekik kesakitan.
Kini ita tertawa puas melihat Rehan yang mengaku salah. Memang berbeda saat kita sudah punya kekasih halal, semua terasa lebih indah bersama.
"Ita" panggil Rehan dengan nada serius.
"Ya?."
"Aku mau cerita sama kamu."
Ita mulai memebenahi posisi duduknya, menyiapkan telingannya yang biasa eror karna tidak fokus. Ita siap mendengar cerita pertama suaminya.
"Jadi waktu itu ummi sempat cerita kalau ummi ngerasa kematian abi itu mendadak, karna awalnya abi bener-bener sehat, tapi waktu itu kakak yakinin ummi aja kalau itu memang sudah takdir Allah, tapi setalah tujuh hari meninggalnya abi, kakak sudah pergi bekerja, nah wakru itu hammam juga bilang ke kakak kalau kematian abi itu sangat menegjutkan, karna abi waktu itu benar-benar sehat,"
"Lalu?."
"Ya hammam bilang ada kejanggalan, karna setelah di rumah sakit bebrapa hari,keadaan abi sudah membaik, kemudian saat anfal langsung 20 menit kemudian sudah tidak ada, hammam bilang ada kejanggalan sampai hammam pengen nyaranin otopsi, tapi ngga berani ngomong" jelas Rehan dengan raut sedihnya.
Ita tau apa yang suaminya rasakan, merasa ada yang tak beres dalam kematian orang tua, Ita juga merasa ada yang tak beres dari kecelakaan 12 tahun silam yang merenggut Ibunya, ada keinginan besar Ita untuk menyelidiki tapi semua orang sudah terlanjur menganggap itu hal yang wajar.
Ita mulai merangkul pundak bidang Rehan, menepuk lembut.
"Apapun keputusan kakak, Ita akan mendukung dan ikut membantu, kalau kakak ingin menyelidikinya, Ita akan bantu kakak" Ucap Ita diakhiri senyuman mengembang.
Sebenarnya Itulah kata-kata yang selama ini Ita ingin dengar dari mulut seseorang untuknya, tapi untuk kali ini, ita yang mengucapkannya,lain kali setelah ini selesai, Ita juga akan bercerita pada Rehan tentang masalahnya.
Rehan menatap Ita dengan tatapan Terimakasih, "Terimakasih sayang" ucap Rehan mengecup kening Ita.
Ita menimpali ucapan terimaksih suaminya dengan segaris senyum di bibirnya.
"Jadi, kita mulai dari mana?" Tanya antusias mebgusut kasus ini, sepertinya Ita akan pindah profesi jadi detektif.
"Okey,kita mulai di Rumah dulu,"
"Kita pulang dulu ya,kasihan umi di rumah sendirian" Ucap Rwhan berharap Ita bersedia pulang ke Rumahnya.
"Tentu saja, Ita juga kangen sama umi."
Rehan tersenyum lagi, sepertinya kini ia punya gud vibe baru dalam hidupnya, yaitu Ita.
🌹
"Assalamualaikum ummiiiiiikkk." Begitu melihat Yasmin keluar untuk menyapa, Ita langsung berhambur ke pelukan Yasmin, sosok ibu yang selalu Ita rindukan, kini Ita dapat rasakan dalam pelukan Yasmin.
"Ita, ummi senang kalian kesini" ucap yasmin sembari memeluk Ita erat.
Rehan baru keluar dari mobil, bukannya disapa sama umminya, malah dicuekin, "Iyalah, ummi lupa sama anaknya" Ucap rehan sinis sembari mengangkat barang-barang bawaan ke lantai atas.
Ita dan yasmin saling beradu tatap mendengar Rehan yang cemburu dengan Ita.
"udah, kamu pasti capek kan, istirahat dulu ya" Titah Ita yang kemudian dituruti oleh Ita, lagi pula Ita juga sudah tidak sabar melihat kamar dokter cuek macam Rehan.
Ita membuka kenop pintu sembari mengucapkan salam, "assalamualaiku?- hwaaah" ucap ita yang baru membuka pintu.
"Wah jadi gini kamar dokter Rehan, banyak kali bukunya." Ita berjalan ke arah rak lemari besar milik Rehan, mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya.
"Lah ada buku psikiater juga, kakak dulu pengen jadi dokter jiwa ya" oceh Ita.
(. . . )
Ita kemudian berjalan lagi ke arah jendela balkon "subahanallah,bagus kak, bangun tidur langsung bisa lihat pemandangannya."
(. . . )
"Tapi kak, kenapa catnya warna gelap, kan kayak kurang bersemangat gitu,"
"Dan meja, harusnya meja kerja taruh deket jendela kali ya kak, biar ngga terlalu suntuk."
(. . . )
Dari tadi Ita mengoceh tapi tak ada balasan dari Rehan, ia hanya mendengarkan tanpa ingin menjawab, lagipula gimana mau jawab kalau Ita terus-terusan nrocos.
"Kak, kayaknya gordennya ganti aja deh" ucap Ita mengomentari yang lain, tapi tiba-tiba Rehan memeluknya dari belakang,Ita terdiam menghentikan ocehannya, ita memegang tangan Rehan yang melingkar di pinggangnya.
"Jadi kakak harus giniin kamu baru kamu bisa diam?" Ucap Rehan dengan nada menggoanya tepat di telinga Ita.
Ita membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan, jaeak mereka sangat dekat, sampai ita bisa meresakan deru napas Rehan. Tabgan Ita di tangkupkan di wajah tampan Rehan. "Cup" satu kecupan diloloskan Ita ke bibir Rehan.
Rehan terpaku dengan kelakuan istrinya, detak jantung Rehan berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Ohh udah berani ya" ucap Rehan yang kini mulai menggelitiki pinggang Ita. Ita terkekeh tak bisa menghentikan tawanya saat Rehan terus menggelitikinya.
"kakak udahh, Ita nyera" pinta Ita tak sanggup menahan lagi gelitikan Rehan.
"Ta?" Panggil rehan dengan nada serius.
"Ya?."
"Nanti mas coba cari tahu soal abi dari ummi, kakak ingin tau keadaan terakhir abi waktu itu" ucap Rehan.
Ita menimpali ucapan suaminya dengan senyum yang mengembang dari Ita, pertanda Ita akan selalu mendukung suaminya.
"Ini kakak lakukan bukan karna kakak masih tidak ikhlas dengan perginya abi, tapi kakak melakukan apa yang seharusnya kakak lakukan,jika memang ini adalah kasus kriminal, bukankah memang harus diusut?" Jelas Rehan agar Ita tak menganggapnya masih belum ikhlas dengan kepergian abi.
Ita menangkupkan tangannya di wajah Rehan, "Ita tau, dan Ita akan selalu mendukung kakak."
🌹
Malam ini, setelah makan malam, Rehan menemui uminya di kamar,sebenarnya Rehan sedikit ragu akan menanyakan ini pada Yasmin, karna Rehan takut akan membuat umimya sedih lagi. Tapi rasa penasaran Rehan tak bisa ditahan lagi.
"Umik?." Panggil Rehan mendapati Uminya sedang duduk di tepi ranjang sembari memutar bulir-bulir tasbih.
"Han."
Rehan berjalan mendekatri umminya, mengambil posisi duduk di sebelahnya. Rehan terdiam sejenak,sampai Yasmin yang kenal baik putranya akhirnya mnyadari kalau ada yang ingin Rehan katakan namun ragu mengatakannya.
Jari jemari lembut Yasmin mulai mebelai lembut kepala putranya, "katakan saja."
"Umi, Rehan mau tanya sesuatu, tapi umi jangan sedih ya" ucap Rehan sebelum membicarakan pasal kematian abinya.
Yasmin menatap lekat bola mata putranya, seakan mengerti apa yang ingin Rehan tanyakan, "apa soal abi?" Tanya Yasmin.
Dan tepat, tebakan yasmin tidak mleset sedikitpun.
"Iya umi."
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui" ucap Yasmin lembut.
"Rehan ingin tahu keadaan persis abi waktu itu" tanya rehan dengan nada serisunya.
Yasmin mulai mengingat kejadian waktu Itu, "abi masih lah abi yang selalu semangat sepnjang hari han, tapi abi masih tidak mendengarkan kata umi untuk meminum vitamin yang umi berikan,"
"Lalu umi pura-pura kesal dengan abi supaya abi mau meminum vitamin dari Rumah sakit, dan hasilnya ya abi meminumnya, tapi umi rasa abi yang tadinya tidak pernah berhalusinasi tiba-tiba sering berhalusinasi, umi tidak tau penyebab abi berhalusinasi seperti itu,"
"Akhirnya umi bawa abi ke Rumah Aakit temoatmu bekerja dan umi mengabarimu waktu itu, dokter bilang harus menunggu tes dulu baru bisa mengetahui kenapa abi berhalusinasi, tapi tengah harinya, abi tiba-tiba anfal dan-" Ucapan yasmin terpotong.
merasa tak mampu meneruskan ceritanya karna kini yasmin sudah terisak, itu adalah part paling memukul batin Yasmin.
Rehan memeluk tubuh uminya,ia tidak akan memaksa uminya untuk bercerita, rehan tau ini part yang susah untuk uminya menyambung cerita.
Sudah cukup informasi yang ingin rehan dapatkan dari uminya.
"Umi, apa masih ada vitamin yang dari Rumah sakit?."
Yasmin mulai menghapus air matanya, bangkit dari dudumnya, membuka laci mencari obat yang Rehan tanyakan, "ini han" Yasmin memberikan obat itu.
🌹
Rehan kembali ke kamarnya, ia memastikan obat itu kepada Ita,karna Ita adalah dokter yang merawat yusuf sebelumnya.
"Ta?" Panggil Rehan saat membuka pintu kamarnya.
"Ya kak?."
Rehan berjalan ke arah Ita yang sedang duduk di meja kerja Rehan.
Rehan menyodorkan obat milik abinya, "apa ini obat yang ita berikat pada abi?."
Ita mengambil obat itu, ita mengamti obat yang kini berada di tangannya.
"Iya kak, waktu itu Ita kasih resep obat ini, tapi ini obat untuk meningkatkan imin tubuh aja kok kak" jelas Ita.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ita penasaran.
"Kakak rasa ini ada kaitannya dengan obat, karna sebelumnya abi tidak pernah meminum obat, dan setelah abi minum obat, keadaan abi malah memburuk" jelas rehan mengenai kecurigaannya.
"Tapi itu hanya obat biasa kak" tandas Ita.
"Kakak ngga percaya sama Ita? Waktu itu, Ita sendiri yang memberika resep obat itu kepada umi untuk segera menebusnya" Ita mulai kesal karna ia merasa Rehan memojokkanya.
Rehan tersentak, mengetahui istrinya tersinggung dengan ucapannya, "ita bukan sperti itu,"
Rehan terdiam mengambil jeda untuk menghela napas, "ya kamu benar, ini hanya obat biasa" raut wajah rehan berubah 180 drajat, saat Ita merasa tidak yamin kalau obat itu penyebabnya.
Ita meraih tangan Rehan, menggenggam erat tangan Rehan, "kak, kita istirahat dulu ya, kita sambung besok saja" ucap Ita mengajak Rehan istirahat.
🌹
( di Rumah Sakit )
Setelah menyelesaikan kunjungan ke bangsal, Ita bergegas ke bagian apotek Rumah Sakit, Ita hanya ingin memastikan obat yang dikonsumsi Yusuf.
"Permisi sus, saya mau minta data pengambilan obat pasien 2 minggu yang lalu" ucap Ita.
Petugas apotek kemudian memberikan Ita data yang ia inginkan. Ita menemukan nama Yasmin sendiri yang menebus obat ini, lagipula ini memang bukan obat yang berbahaya, Ita sendiri yang memberika resepnya.
Ita mengembalikan data yang diberikan petugas apotek, "makasih ya sus" ucap Ita yang kemudian kembali ke Rest room.
Ita menyampirkan jas putihnya,mengambil posisi duduk untuk meregangkan otot-ototnya.
Airin yang baru saja membuka pintu, menegur Ita, "kenapa Ta? Capek?" Tanya Airin yang sembari berjalan ke mejanya.
"Aneh ngga sih, obat yang biasa aja, yang cuma buat naikin kekebalan tubuh, malah disangka jadi racun" ucap Ita menjelaskan kekesalannya.
Airin tersenyum melohat raut kesal sahabatnya, "ya mungkin aja obatnya udah terkontaminasi sama zat beracun hahah" Airin menanggapi ucapan Ita dengan bercandanya.
Tapi perkataan Airin membuat Ita terdiam berfikir, meskipun sahabatnya itu bercanda, tapi Ita rasa itu hal yang masuk akal, karna sejarinya zat kimia memang bisa dicampur-campur.
"Rin? Dimana gue bisa ngecek kandungan obat ini?" Tanya Ita serius.
"Ha? Lo percaya sama omongan gue?" Sahut Airin tak percaya.
"Rin, omongan lo itu ada benarnya juga,bisa aja memang ada seseorang yang sengaja mencampurkannya" jelas Ita yang terdengar masuk akal di telinga Airin.
"Kalau lo butuh bantuan buat ngecek kandungan obat itu, gue bisa kok ta" Airin menawarkan diri, karna sebelumnya airin juga pernah menempuh pendidikan farmasi.
Ita kemudian memberika Airin sampel obatnya.
"Gue bakal tes ini diluar jam kerja ya, karna ngga mungkin juga waktu kerja gue gunain buat yang lain."
Ita tersenyum karna bersyukur punya sahabat seperti Airin, "makasuh ya rin."
"Sans aja lah, restoran depan Rumah Sakit juga ngga apa-apa." Ya Airi tetaplah Airin yang tak bisa jauh-jauh dari makanan.
"Dasar otak perut" Ita menimpuk Airin dengan kertas yang sedang ia pengang.
🌹
"Kak?" Panggil Ita saat melihat perawakan tubuh suaminya dari belakang.
Lakii-laki yang merasa Ita panggil, membalikkan badannya.
Ita segera menghampiri Rehan, kini mereka berdua tengah berhadapan di loby Rumah Sakit.
"Masih sibuk?" Tanya Ita.
Rehan tersenyum, "iya ita, kakak ngga bisa pulang sekarang."
"Aah yaudah, Ita pulang duluan berarti" jawab Ita dengan nada sedikit kecewa, sebenarnya ita pantas kecewa, karna kenyataannya memang Rehan masih sibuk, tapi entah kenapa Ita ingin selalu bersama Rehan, sampai ngga bisa lama-lama jauh.
Rehan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya,masih ada sekitar 20 menit waktu jeda sebelum ia bertemu pasien.
"Kakak ambil mobil dulu, kakak antar kamu" ucap Rehan yang langsung membalikkan badannya, sejurus dengan itu,Ita segera menarik lengan suaminya,
"kakak ngga usah, ngapain coba, Ita bisa pualng sendiri" jawabita tak mau merepotkan Rehan.
"Sudah malam ta, kakak antar aja ya, kakak masih ada waktu kok."
Ita mengenggam tangan Rehan, "apa kakak yakin akan datang kesini tepat waktu?."
Pertanyaan Ita berhasil meluluhkan Rehan, tidak mungkin juga Rehan membiarkan pasiennya menunggu saat mereka sudah membuat janji dijam itu.
"Yasudah hati-hati ya, kalau ada apa-apa -..."
"Segera telpon kakak, iya Ita tau kok" lanjut Ita memotong ucapan Ita.