You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
44



12.


Lebih rendh-rendahnya syukur ialah seseorang tersebut menyakini nikmat dari Allah, ridha dengan sesuatu yang diberikan-Nya, dan tidak menggunakan nikmat itu untuk melanggar atau mendurhakai Allah


Imam Ghazali


Minhajul Arifin, 5


🌹


Ita dan Rehan sampai di ruang praktik dokter kandungan, kali ini Rehan dan Ita harus mengantre untuk mendapatkan informasi kesehatan mengenai janin Ita.


Rehan meminta Ita agar duluan saja, Rehan ingin menelpon seseorang terlebih dahulu, Rehan mencaro kontak seseorang, dan ketemu! "Hammam" Rehan segera menghubimungi hammam yang memang sedang dinas pagi ini.


"Halo asslamualaikum bro?? Ada apa?" Tanya Hammam to the point.


"Wa'alaikumussalam, tau aja kalau gue lagi butuh bantuan" ujar Rehan terkekeh.


"Yaiyalah, dokter sibuk macam lo mana sempat telpon gue kalau bukan karna ada yang penting ang artinya butuh bantuan" ucap Hammam seperti menyindir Rehan.


"Apa sih lu, nggak gitu juga kali."


"Yaudah apa?? Gue bantu deh selagi gue bisa, mau gue jadi pemain ftv lagi juga ayok" cerocos hammam bersemangat.


"Jadi gini, lo tau kan kalau hari ini gue libur akhir pekan?."


"Iya tau, trus kenape??!."


"Jadi gue minta banget sama lo, kalau ada pqnggilan mendadak plisss untuk hari ini aja lo batu gue jangan telpon gue, gue minta lo yang atasi, gue mohon banget bantuan lo mam ya??" Pinta Rehan, ia tidak ingin meninggalkan Ita, kali ni ia ingin bersama Ita sepanjang hari.


"Ah itu mah siaplah, kayaknya hari ini aman-aman aja, jadi lu bisa berakhir oekan dengan nyaman, lo tenang aja, yang penting buat lo sekarang adalah pikirkan untuk menghabiskan akhir pekan bersama, gue tau kalina berdua jarang ngabisin waktu bareng, ngga perbah ngDate" valas Hammam yang terdengar seperti mengejek.


"Lo mau nolong apa ngejek ha??."


"Hahhah, ampun boss!! Yaudah yaa... Lo ngga bisa telponan ama artis lama-lama, ketahuan sama agency gue ntar lo yang kena masalah" hammam tertawa dengan ucapannya sendiri.


"Halu lo, yaudah makasih ya, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


****


Lama sekali Rehan dan Ita menunggu, dari dulu, bagian kesehatan ibu dan anak adalah bagian yang selalu ramai jadi harus ekstra sabar.


"Eumm suster??" Panggil Rehan kepada suster yang sedang memanggil pasien selanjutnya.


"Iya pak??."


"Loh?? Bukannya anda dokter rehan??" Ucap suster membulatkan matanya sempurna karna terkejut melihat top couple sedang mengantre di dokter kandungan.


"Ah iya-iya" ucap Rehan memberikan tanda agar si suster diam saja, Rehan tau dia pasti akan menerocos prihal kehamilan Ita.


"Apa pasiennya masih banyak??" Tanya Rehan.


Suster tersadar dari imajinasinya, "ah iya dok, masih banyak, mungkin untuk dokter Rehan dan Ita akan dipanggil 1 jam lagi" jelas si suster.


"Oh gitu, makasih ya."


"Oya pak" ucap si suster yang kembali lagi ke dalam ruangan praktek.


"Masih lama, gimana kalau kita tunggu sambil makan aja" ajak Rehan.


"Ah ngga usah, ntar malah kelewatan lagi" tolak Ita karna tau kalau Rehan sudah makan pasti akan lupa jam karna sibuk mengobrol dengannya.


Ita dan Rehanpun memutuskan untuk tetap menungg sampai giliran mereka dipanggil. Sampai Rehan merasa kalau pasien yang tadi dipanggil tidak kunjung keluar, lebih lama dari pasien yang lain.


Kalau satu pasien ini saja lama sekali seperti ini, bisa jadi waktu ita untuk dipanggil akan mundur lebih lama. Rehanpun kembali memanggil suster yang berjaga di depan pintu.


"Suster!!" Panggil Rehan.


"Kenapa lama sekali!!" Protes Rehan, namun tetap dengan nada yang santai, namun tak bisa menutupi kekesalannya.


"Euumm itu..." suster itu tidak bisa menjawab.


Sampai suara tangisan seorang ibu terdengar sampai ke luar ruangan periksa, Rehan tidak mengerti kenapa seorang wanita menangis sekencang tanpa segan saat semua orang bisa mendengar tangisnya??.


(Di ruangan praktek)


"Bagaimana keadaan bayi saya dok?? Kapan saya bisa melahirkan anak saya??" Tanya seorang calon ibu dengan penuh semangat kepada dokter perempuan yang memeriksanya.


Namun sang dokter tak cepat menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa dokter?? Apa jadwal persalinannya kemungkinan akan mundur??" Tanya pasien lagi.


"Euum bukan itu buk" jawab dokter dengan wajah penyesalan.


Si ibu mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"Kami baru saja memeriksa keadaan janin ibu, namun saya sungguh meminta maaf karna kali ini detak jantung janin tidak bisa dideteksi," wajah dokter penuh dengn penyesalan, seakan tak ingin melanjutkan ucapannya, namun ia harus mengatkan semuanya.


"Dengan sangat menyesal kami harus mengatakan kalau janin meninggal dalam kandungan."


"Ha?" Wajah pasien berubah 180 derajat, dari mulai datang sampai memerikasakan kandungannya, ia selalu tersenyum sembari mengajak bicara pada janinnya.


Dan kini wajahnya terlihat sangat murung, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya menolak percya dengan perkataan dokter, "dokter bilang pemeriksaan kali ini untuk menentukan tanggal perslinan saya" ucap si ibu dengan senyum getir .


"Tapi apa yang dokter katakan" air matanya mulai menetes satu persatu-satu.


Dokter tak menjawab pertanyaan pasien, lebih baik jika pasien bisa tenang dan menerima kenyataan tanpa paksaan.


Dokter mengambilkan tisu dan ia berikan pada si ibu, ia menerima tissue tersebut dan seketika tangisnya pecah.


"Anakku hiks.. hiks..hikss" tangis yang sedari tadi tertahan akhirnya pecah, air mata menetes deras tanpa henti.


Ia juga tidak bisa mengontrol suara tangisnya, yang akhirnya suara tangisnya terdengar sampai ruang tunggu yang berada diluar.


Dokter membiarkan pasien menangis, ia melarang suster untuk memanggil pasien sebelumnya, meski akan  membuat yang lain tidak nyaman, namun perasaan pasien adalah yang terpenting, perasaan seorang ibu saat kehilangan janin yang sudah ia nanti-nantikan.


***


"Wuaahh kenapa dia menangis kencang di dalam??" Gumam Rehan saat mendengar tangisan pasien di dalam.


Rehan tidak tau apa yang terjadi di dalam, tapi rasanya tidak baik membuat pasien lain menunggu, kalau memang yang terjadi di dalam adalah ia menerima kabar buruk, maka tenang saja di luar tidak usah membuat yang lain merasa tidak nyaman dengan menunggu, itulah yang dipikirkan Rehan.


Suara tangis ibu itu terus menggema, semua menghentikan obrolan mereka saat mendengar rintihan tangisnya.


Rehan hendak berdiri dari duduknya, namun dengan segera Ita menahan bahu Rehan, memberi isyarat agar Rehan tidak mengganggu ibu yang ada di dalam.


"Apa? Kamu tidak bisa menunggu lagi" ujar Rehan dengan raut kesal.


Ita menjawab hanya dengan gelengan kepala, Rehanpun menurut, ia kembali duduk di tempatnya.


Ita memang tidak tau kabar buruk apa yang ibu itu terima, namun yang Ita ketahui adalah, tidak mungkin seorang wanita menangis dengan sangat kencang, meluapkan kesedihannya di depan orang lain kalau bukan karna sesuatu yang telah menyakiti hati dan jiwanya, kabar buruk itu pasti sesuatu yang bisa menghancurkan hatinya.


Ita mengelus perut yang sekarang ada kehidupan di dalamnya, Satu kemungkinan kabar buruk yang bisa menghancurkan hati seorang calon ibu adalah saat kehilangan calon anaknya...


Begitulah keadaan ruang tunggu, berjejer para ibu hamil yang sedang menunggu bersama suaminya atau mereka yang datang sendiri.


tak ada yang mengganggu keadaan di dalam, mereka hanya mengelus perut buncit mereka sembari terus berdoa agar tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada calon anak mereka.


****


Lebih dari satu jam berlalu, ibu tadi sudah keluar dari ruangan satu jam yang lalu, dan setelah pasien di dalam, giliran Ita dan Rehan yang akan masuk.


"Ny.Ita" panggil suster agar Ita dan Rehan segera masuk kedalam.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokterpun menjelaskan keadaan Ita.


"Selamat ya dokter" dokter membuka ucapannya dengan senang.


"Panggil saya seperti pasien lain saja dok," sela Ita.


"Ah iya, selamat bu Ita telah positif hamil" ujar dokter.


Meskipun sudah mengetahuinya di rumah, namun tetap Ita dan Rehan tak bisa berhenti saling memberi pelukan satu sama lain saat mendengar kehamilan Ita.


"Alhamdulillah" ucap Ita.


"Usia kandungan ibu saat ini berusia 5 minggu, saya sarankan agar ibu bisa perbanyak istirahat, makan teratur, jangan mudah lelah, karna saya tau pekerjaan ibu, jadi saya sarankan agar ibu bisa ambil cuti untuk kehamilan" dokter memberikan saran kepada Ita, mengingat Ita adalah dokter teladan yang sangat sibuk.


"Tuh dengerin" Rehan mencubit hidung mancung Ita.


"Iya" jawab Ita singkat terpaksa.


"Terimakasih dokter" ucap Ita tulus berterimakasih.


"Sama-sama, dokter bisa datang kemari satu minggu lagi."


"Ah iya siap dokter." Rehan kemudian memapah Ita untuk bangun dan berjalan keluar saat mereka sudah pamit ke dokter Kia yang tadi memeriksa kandungan Ita.


***


Ita dan Rehan sudah berada di mobil, mereka berdua akan segera pulang, seperti saran dokter, Ita harus banyak istirahat.


Ita dan Rehan melewati bioskop yang tadinya menjadi tujuan mengisi akhir pekan mereka. "Kak mampir, bentar lagi filmnya bakal diputer masih ada waktu" ucap Ita segera saat melewati bioskop tersebut.


"Nggak, kamu harus istirahat wajib" tolak Rehan tanpa basa basi.


"Huuuuhh" Ita mendengus kecewa.


Tak ingin melewatkan momen nonton bareng, Itapun mencoba mencari alasan. Dan ya! Ita menemukan ide.


"Yaah kak, nggak tau kenapa, Ita tiba-tiba pingin banget nonton, ngga tau kenapa, kayaknya keinginan debay deh" ucap Ita sembari mengelus perutnya.


"Oh ya??" Rehan ikut mengelus perut Ita, "kamu pingin nyenengin ibu kamu yaa, uwuuh pinternya" Rehan mengusap perut Ita.


Ita tersenyum bahagia saat bisa merasakan perutnya dielus Rehan karna ada darah dagingnya di dalam perut Ita.


Rehan memutuskan untuk putar balik kembali ke tempat bioskop menuruti permintaan calon buah hati mereka.


"Kayaknya kalau anak ini lahir kakak bakal lebih sayang deh sama debay, buktinya tadi Ita minta ngga dibolehin, giliran debay minta langsung dituruti" ujar Ita yang merasa cemburu.


"Hust... Kan kakak nglarang juga ada alasannya, kakak ngga mau kamu kecapean, lagipula ngga baik ngomong kayak gitu," tutur Rehan lembut.


***


Rehan memarkirkan mobilnya, keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ita, mereka berjalan beriringan, Rehan tak bisa melepas genggamannya dari Ita.


Rehan akan memastikan dirinya selalu ada untuk Ita, "duduk sini ya" ucap Rehan meminta Ita untuk duduk dan biar Rehan yang mengantri tiket bioskopnya.


Kurang lebih 20 menit Rehan antre dan Rehan sudah mendapatkan tiketnya, Rehan juga sudah membawa 2 popcorn untuk Ita dan dirinya.


"Awas kalau kakak nonton film terus ketiduran!" Ancam Ita pada Rehan yang seringkali kedituran saat nonton bareng Ita.


"Ya kan biasanya nonton di laptop, mana film yang kamu pilih mellow lagi, kan aku ngga suka, jadi aku ngantuk, kalau ini di bioskop, layarnya lebar, rame, sambil makan popcorn, filmnya horror jadi kakak ngga ngantuk deh, kan kakak juga harus jaga satu orang lagi" Rehan mengelus kembali perut Ita.


"Hih kakak omongannya kayak ngga pernah ke bioskop aja" ejek Ita, memang benar ini pertama kalinya Ita dan Rehan pergi ke bioskop bersama karna kesibukan mereka satu samalain.


Setelah percakapan mereka, filmpun segera dimulai, Rehan dan Ita duduk di bangku tengah.


"Awas jangan tidur!" Ita kembali memperingatkan Rehan.


"Yess mulai" seru Rehan yang nampak sangat bersemangat dengan film yang akan diputar kali ini.


"Sebenernya kakak udah pernah nonton film ini ta, tau ngga nanti adegan yang horror banget, jadi kalau tata takut, bisa pegang tangan kakak erat kayak gini" Rehan mengangkat tangannya yang sedang menggandeng tangan Ita.


"Ah iya-iya, kamu kalau takut bilang ke tata, nanti tata suruh pihak bioskop buat cut adengan itu" balas Ita dengan sombongnya sembari terkekeh.


"Yee.. emang siapa elu wleee" ledek Rehan dengan tawa renyahnya.


"Sssttt diem udah mulai" Rehan membenarkan posisi duduknya dan mulai fokus menatap layar lebar.kali ini fil kesukaanmya akan diputar, dan fiom horror adalah film yang pas diputar saat nobar bareng pasangan, karna kalau takut tinggal peluk aja eaak.


Baru juga mau fokus nonton, telpon Ita tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk.Ita mengambil ponsel yang ada di tasnya, menatap layar ponselnya, ada nama Rangga tertulis, ternyata dari Rumah Sakit.


Dengan segera Ita menjawab telepon dari Rangga, "iya dokter ada apa??" Tanya Ita to the point.


"Maaf dokter saya terpaksa menelpon dokter padahal saya tau ini bukan jadwal piket dokter, tapi kali ini saya masih belum bisa membuat keputusan, saya masih ragu dengan keputusan saya" ujar Rangga dalam sambungan telponnya.


"Bukannya Kiki ada disana?" Tanya Ita.


Rangga kemudian memberikan telponnya kepada kepada kiki, "mmaf dokter, sayapun masih belum berani mengambil keputusan tanpa arahan dokter" ujar Kiki.


Ita menghela napas panjang, dan mengelurkannya perlahan. "Apa tidak ada dokter lain disana?" Tanya Ita. Kali ini ia benar-benar tak ingin diganggu, Yang harus kalian tau, Ita juga manusia biasa yang butuh waktu berdua dengan orang tersayangnya. Namun Ita baru saja melupakan kesalahan kalau Ita sampai menolak panggilan ini.


"Dokter??" Panggil kiki tak percaya saat ita tak menanyakan kondisi pasien, tapi justru menanyakan dokter lain.


13.