You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
56



"Demi Allah, seandainya engkau benar-benar putus asa dari makhluk hingga engkau tidak berharap sedikitpun dari mereka, niscaya Allah akan memberimu semua yang engkau inginkan."


(Jami'ul Ulum wal Hikam, hal. 264)


🌹


Alya menatap Ita dengan pandangan sendu, ia tidak bisa melihat pasiennya terus mersakan kesakitan, ini sama saja Alya membunuhnya klau tak segera di ambil tindakan, Alya tidak bisa diam saja seperti ini.


Alya merogoh ponsel di saku snellinya, ia mencri kontak dokter Rehan, "ayoo plis angkat dokter" gumam Alya harap-harap cemas.


"Iya halo gimana al?." Akhirnya Rehan mengangkat telpon dari Alya, kini alya bisa menghembuskan napas lega.


"Dokter, keadana pasien yang kemarin saya bicarakan."


"Iya kenapa?."


"Sepertinya kita harus memutuskan dengan cepat, pasien tersebut sepertinya tidak punya wali, dan dia keukeuh untuk di bawa ke Rumah sakit rujukan dan sekarang keadaan pasien semakin memburuk, hari ini dia pingsan dan kejang" jelas Alya mencemaskan pasiennya.


"Apa sudah dicari tahu keberadan kelurganya??" Tanya Rehan.


"Dia sudah berstatus menikah, namun sampai saat ini suaminya tak pernah datang menjenguk,"


"Bagaiman dokter?? Apa kita akan terus biarkan seperti ini??" Tanya Alya membutuhkan saran dari Rehan.


"Aishh suami macam apa yang meninggalkan istrinya disaat sakit seperti itu" gumam Rehan geram dengan perlakuan suami terhadap istri.


"Gimana dokter??" Tanya Alya yang remang-remang mendengar ucapan Rehan.


"Ha? Nggak nggak apa-apa, yasudah begini saja, saya yang akan tanggung jawab atas pasien, bagaimanapun juga keselamatan pasien adalah yang terpenting, cepat pindah pasien ke Angkasa Hospital Center sekarang untuk mendapat perawatan segera."


"saya sendiri yang berkomunikasi terhadap pasien nantinya apabila ia terus menolak rumah sakit rujukan, ini untuk kebaikannya dan apa yang kita lakukan itu benar, jadi saya rasa tidak akan ada masalah."


"Aaiihhh melting, ini baru laki-laki yang bertanggung jawab" gumam Alya dalam hati, dari dulu dokter Rehan memang sosok laki-laki idaman, namun sayang Alya tak pernah ada kesempatan untuk mendekati Rehan, lagipula dulu Rehan juga sangat tertutup dengan wanita.


"Baik dokter, pasien akan segera dirujuk ke Angkasa Hospital Center seketir pukul 7 malam" ujar Alya yang kemudian menutup telponnya.


Kini Alya bisa benapas lega, karna Rehan sendirilah yang akan bertanggung jawab atas Ita, "tolong segera pindah pasien bernama Atma Anindhita kamar nomor 112 ke Angkasa hospital Center" titah Alya pada salah satu perawat.


"Siap dokter."


****


"Dokter, malam ini anda ada jadwal operasi untuk pasien bernama Keira" ujar Rangga memberitahukan jadwal Rehan.


"Aahh iya." Rehan baru ingat kalau dirinya ada jadwal malam ini, kemungkinan akan selesai tengah malam.


"Eumm dokter Rangga??."


"Ya?."


"Nanti sekitar jam 7 malam, akan ada pasien rukukan dari Seruni hospital, tolong anda segera tangani pasien tersebut, seharusnya saya sendiri yang akan memeriksanya tapi ternyata jadwalnya bertabrakan dengan operasi malam ini."


"Bisa kah??."


Pikiran Rangga pergi jauh saat Rehan menyebutkan nama Seruni hospital, sudah 2 hari Rangga tidak ke Rumah sakit tersebut, bagaimana dengan keadaan dokter Ita?? Apa dia baik-baik saja, begitulah pikiran Rangga saat mendengar Seruni Hospital.


"..." Rangga malah melamun saat Rehan menjelaskan.


"Halo dokter Rangga" Rehan melambaikan tangannya di depan wajah Rangga, hingga akhirnya Rangga berhasil mengerjap dan sadar dari lamunannya.


"Ah iya dokter, akan saya tangani pasien rujukan dari Seruni hospital."


"Bagus," rehan bangkit dari duduknya, dan melepas snellinya, "saya siap-siap untuk operasi dulu."


****


Pukul 7 malam, Rehan memulai operasinya. Di sisi lain, Ita yang masih tak sadarkan diri langsung dibawa menggunakan mobil ambulance, Alya juga ikut menemani Ita, niat lain dafi Alya adalah ia ingin melihat Rehan yang sudah beberapa tahun lamanya tak beetemu, Alya sangat tidak sabar meliht perubahan dari Rehan, "dia pasti jadi sangat tampan" gumam Alya pelan.


Wiu wiu wiu wiu... Suara sirine ambulance yang mulai terdengar jelas, ambulance sudah sampai di depan Angkasa Hospital Center, Rangga sudah memeberitahukan perawat apabila ada pasien rujukan segera arahkan menuju ruang 455, ruangan yang berisi 3 pasien lainnya.


Alya segera datang menemui suster yang ada di depan, "apa itu pasien rujukan??" Tanya suster.


"Iya" jawab Alya jelas.


"Kalau begitu langsung bawa ke kamar 455" titah suster yang langsung berjakan cepat mengarahkan perawat lainnya untuk membawa pasien tersebut.


Untunglah saat ita dilarikan ke ruangannya, tidak ada perawat yang sadar kalau pasien yang dibawa adalah Ita, semua sibuk dengan tugas masing-masing, bahkan hanya untuk memahami wajah pasien yang dilarikanpun rasanya tidak sempat, begitulah kesibukan di Angkasa Hospital Center.


Alya juga ikut menemani Ita, ia akan pulang saat Ita sudah diperiksa oleh dokter disini.


"Dokter Rangga, pasien rujukan sudah smapai di kamarnya" ujar suster dalam sambungan telponnya dengan Rangga.


"Ah iya." Rangga segera berlari menuju ke ruang pasien. Baru sampai di depan pintu kamar 455 Rangga terkejut dengan siapa yang datang.


"Bukankah anda??" Ujar Alya saat Rangga berada tepat di depannya, ia juga kaget melihat orang yang menolong Ita waktu itu.


"Jadi anda dokter disini??" Tanya Alya yang melihat Rangga berseragam dokter


.


Rangga mengingat wajah dokter ini, bukankah dia dokter yang menangani dokter Ita, Ah iya rangga ingat sekarang. "Apa mungkin yang di dalam??" Rangga membulatkan mata sat ia berpikir yang di dalam adalah Ita.


Tanpa menjawab pertanyaan Alya, Rangga langsung saja masuk kedalam. Dan benar saja, Sosok Ita yang tengah terkulai di ranjang pesakitan adalah Ita, dengan segera Rangga menutup tirai yang mengelilingi ranjang Ita, tidak boleh ada yang sadar keberadaan Ita di rumah sakit ini, begitulah pesan Ita kepada Rangga.


Rangga segera memeriksa kedaan Ita, memriksa tekanan darah, juga tanda vital Ita, semua menunjukkan baik-baik saja, ia akan sadar beberapa saat lagi, dokter Rehan hanya ingin Rangga memastikan itu. "Apa dokter Rehan tau kalau pasien itu adalah dokter Ita?? Gumam Rangga, tapi kalaupun tau, tidak mungkin dokter Rehan sesantai tadi, Rangga yakin Rehan sendiri yang akan memastikan keadaan Ita, jadi kemungkinan besar dokter Rehan tidak tau kalau pasien itu adalh dokter Ita.


Baru saja Rangga mau meninggalkan ruangan ita, tapi urung saat melihat pergerakan jari jemari Ita, "dokter Ita??."


Ita mengerjao beberapa kali sampai ia akhirnya bisa membuka mata.


"Anda bisa mendengar saya?? Kedipkan mata jika anda mendengar saya."


Ita kemudian mengedipkam matanya sekali, pertanda ia mendengar ucapan Rangga.


"Siapa namamu??" Tanya Rangga memastikan ingatan Ita.


"Atma anindhita" jawab Ita dengan lemah.


Ita kemudian menggerakkan jadi jemarinya meski masih terlihat lemah.


"Coba angkat kaki kanan anda perlahan."


Ita menuruti lagi, dengan susah paya ita mengangkat kaki kanannya, "cukup!." Rangga menyudahinya.


Huuhhh Rangga menghembuskan napas panjang saat Ita bisa merespon semua yang Rangga pinta. "Dokter harus banyak istirahat, agar keadaan dokter bisa segera membaik."


Ita seakan ingin bicara, namun ia beluk bisa bicara banyak, ia hanya memberi kode kepada Rangga tentang kekhawatirannya.


"Tenang dokter, saya akan berusaha agar dokter Rehan tidak mengetahui keadaan dokter Ita, apa itu yang dokter inginkan??" Tanya Rangga.


Ita membalas pertanyaan Rangga dengan kedipan mata pertanda ia mengiyakan pertanyaan Rangga, Ita tersenyum kepada Rangga. "Aaauuuh cukup, jangan senyum seperti itu, senyummu bisa meruntuhkan benteng yang sudah susah payab ku buat" batin Rangga dalam hati saat Ita tersenyum kepadanya, meskipun Rangga yakin senyuman itu hanya berarti ungkaoan terimakasihnya tidak lebih.


"Saya permisi dulu dokter" ucap Rangga yang kemudian mulai berjalan leluar dari ruangan, tapi sebelum itu, Rangga harus memastikan ia menutup tirai yang mengelilingi ranjang Ita.


"Dikter belum kembali??" Tanya Rangga saat mendapati dokter pwrempuan itu masih menunggu di luar ruangan 445.


Alya segera berdiri dari tempat duduknya, "kenapa anda yang memeriksanya?? Eum tidak! Maksudku adalah kemana dokter Rehan??" Tanya Alya sedikit kikuk.


"Ohh dokter Rehan sedang ada operasi, jadi dia meminta saya yang memeriksa pasien di dalam.


"Ahhh, apa dokter Rehan akan segera keluar?? Maksudku adalah apa operasinya masih lama?."


"Operasi yang sedang dilakukan dokter Rehan biasanya bisa selesai 6 jam, namun karna ini dokter Rehan yang melakukannya jadi mungkin 5 jam sudah selesai" jawab Rangga.


Alya melirik jam yang melingkar di lengannya, saat ini pukul 8 malam, 5 jam dari sekarang adalah jam 1 dinihari, huhh mana bisa Alya menunggu selama itu.


"Tolong katakan saya akan datang lagi nanti siang" ucap Alya sebelum pergi.


"Em maaaf!" Ucap Rangga menahan Alya pergi.


Alya menoleh lagi kebelakang, "Ya?!."


"Ada urusan apa anda ingin menemui dokter Rehan?? Karna sebaiknya anda buat janji dulu karna dokter Rehan itu super sibuk."


Dyaarrr... Alya dibuat kikuk dengan pertanyaan Rangga, tidak mungkin juga Alya bilang kalau ia hanya ingin bertemu dengan Rehan, mau ditaruh mana muka cakepnya!.


"Em itu anu."


"Yaaa??."


"Tentu saja mau membicarakan pasien tadi" ceplos Alya saat ia tak kunjung mendapat alasan.


"Bukankah pasien sudah tanggung jawab rumah sakit kami?? Anda tidak perlu khawatir, kami akan lakukan yang terbaik untuk pasien" ujar Rangga, ia sepertinya mencium bau-bau tidak beres dengan perempuan satu ini.


"Hei! Ini urusan saya dengan dokter Rehan, jadi kamu tidak perlu tahu masih ada yang oerlu sampaikan mengenai kondisi pasien, jadi sampaikan saja kalau saya akan menemuinya besok siang!!" Tandas Alya dengan nada kesal, ia kemudian melanjutkan langkahnya.


"Em Maaf!!" Panggil Rangga lagi, dan lagi-lagi berhasil menghentikan langkah Alya. Ia menghela napas panjang, semoga ia masih diberi kesabaran menghadapi laki-laki satu ini.


Alya membalikkan badannya lagi, "apa lagi!!!."


Rangga meringis sebelum berbicara, "siapa nama anda?."


Ah sialan laki-laki ini, "apa kau tidak mengenaliku??!" Alya ingin menyombongkan diri dengan ketenarannya, namun ia segera ingat kalau ini bukan rumah sakit tempatnya bekerja, jadi pastinya tidak ada yang mengenalinya.


"Alya! Namaku Alya" ucap alya dengan kesal, ia mendengus kesal sembari melanjutkan lagi jalannya, baru beberapa langkah Alya berjalan ia membalikkan badannya lagi, padahal Rangga tak memanggilnya. "Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi??" Tanya Alya dengan nada kesal.


"Oh? tentu saja tidak, silahkan pergi" ucap Rangga dengan santainya.


Alyapun juga mulai berjalan kembali dengan santai seakan belum sadar akan ucapan Rangga.


"tunggu! Silahkan pergi?? Apa itu kata-kata mengusir?? Apa dia mengusirku!!?" Gumam Alya kesal saag menyadari ucapan laki-laki tadi..


"wuuah dasar!!" alya melangkah dengan menekan kakinya, ia benar-benar dibuat kesal dengan Rangga.


****


Pukul 12 sini hari, Rehan berhasil menyelesaikan operasinya dengan lancar, setelah dari runag operasi, Rehan berniat akan memeriksa kedaan pasien rawat jalan, Rehan memastikan sendiri keadaan pasien tersebut.


"Dokter!! Dokter Rehan??!" Panggil seseorang dari belakang, tentu saja Rehan langsung menoleh kebelakang, ternyata Rangga yang yang memenggilnya.


Rangga terlihat begitu terburu-buru untuk mendatangai Rehan, "kau bisa terjatuh kalau berlari seperti itu'" ucap Rehan saat Dangga sudah berada di depannya.


"Ah dokter ini" Rangga memukul manja pundak Rehan, "soswittt banget sampe peehatiin saya lari" ujar Rangga dengan nada yang diimut-imutin.


"Dih, saya itu cuma ngga mau kamu nambah-nambahin pasien di rumah sakit ini," ujar Rehan bermaksud bercanda dengan Rangga.


"Malu banget ngungkapin sayang" sahut Rangga menggoda Rehan, bukannya makin sayang, Rehan malah illfeel sama kelakuan Rangga.


"Ah udahlah, ada apa??" Tanya Rehan to the point.


"Dokter sendiri mau kemana??" Tanya Rangga kepada Rehan.


"Mau periksa pasien yang tadi datang, dia sudah ada di rumah sakit inikan??" Tanya Rehan memastikan.


"Oh ita sudah dokter, tapi lebih baik dokter jangan kesana sekarang??."


Rehan mengernyitkan dahinya, "kenapa??."


"Doktr lihat ngga ini jam berapa?? Ini itu sudah tengah malam, apa dokter mau ganggu istirahat pasien??" Rangga berusaha mencegah Rehan agar tak ke ruangan Ita.


"Saya bukannya mau ganggu, saya cuma mau lihat aja."


"Sudhlah dokter, apa dokter yakin pasien tidak akan terganggu?? Atau bahkan bisa saja pasien lain yang terganggu karna doktet datang tengah malam??."


Setelah dipikir-pikir, memang benar ucaoan Rangga, kalau ia ke duangan oasien sekarang, bisa jadi pasien lain terganggu. "Tapi kamu sudah check keadaannya kan??" Tanya Rehan memastikan .


"Sudah dokter, semua aman terkendali."


"Ah yasudahlah, saya mau tidur dulu" pamit Rehan, ia menepuk punggung Rangga sebelum pergi. Rehan memutuskan untuk tidur di dormitory, lagi pula Rehan tidak sanggup kalau harus menyetir dengan kondisi ngantuk dan capek seperti ini.


"Selamat istirahat dokter" ujar Rangga saat Rehan mulai pergi. Ternyata kalau Rangga pikir-pikir, dokter Rehan dan Ita adalah pasnagan yang sangat cocok, setelah beberapa hari bersama dokter Rehan, Rangga menyadari sisi baru dari dokter Rehan, ia sangat baik dan perhatian persis sekali dengan Ita.


Jadi pantas saja kalu mereka best couple di rumah sakit ini. Saat ini Rangga harus bisa menta harinya agar tak ada rasa cinta kepada Ita selain karna rasa cinta dari seorang adik untuk kakkanya, ya! Rangga memutuskan hal itu. Ia justru harus membuat hubungan Ita dan Rehan kembali lagi, manabisa Rangga membiarkan Ita sendirian menghadapi masa tersulitnya sedangkan suaminya tak tau apa-apa.