
"Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi"
HR. MUSLIM No.2653, dari Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash
🌹
Setelah seharian berkutat di tempat khas dengan ambu obat yang membuat dada sesak, kini rehan tengah melajukan mobilnya untuk segera pulang.
Sampai di rumah, setelah ia bersih-bersih, rehan dipanggil oleh abinya,
"iya abiii" sahut Rehan bergegas turun dari kamarnya.
sekarang yusuf tengah berada di ruang keluarga bersama yasmin.
"Ada apa bi?" Tanya Rehan, dan yusuf hanya memberi isyrat rehan untuk duduk di sebelahnya.
Yusuf merangkul pundak bidang anak laki-lakinya itu, dan menepuk lembut.
"Han, kalau sudah waktunya jangan kamu mengulur waktu, abi mau kamu segera menikah" ucap yusuf mulai serius.
"Ah abi, kan rehan bilang, rehan ngga ada calon" jawab rehan apa adanya.
"Abi mau kamu menikah dengan anak om pram, abi yakin dia wanita yang tepat untuk kamu" kata yusuf to the point ingin menjodohkan rehan dengan anak pram yang tak lain adalah ita.
"Abi jangan becanda, kenal anaknya om pram aja ngga, boro-boro kenal, ketemu anaknya aja ngga pernah bi" elak rehan ketika ia ingin dijodohkan, entah kenapa rehan tidak setuju dengan keinginan abinya itu, dihati rehan ia ingin sekali mencari sendiri wanita yang akan menyempurnakan imannya.
"Abi mau, dua minggu lagi kamu harus melamar anak om pram."
"Biiiii" rehan memelas.
"Abi yakin dia yang terbaik untukmu." Ucapan yusuf seakan sudah menjadi putusan hakim yang tidak bisa diganggu gugat.
🌹
Rehan merenungkan nasibnya di kamar, menatap langit-langit atap kamarnya. Dan entah kenapa, sosok wanita itu muncul dipikirannya.
"Hah? Apa-apaan ini" tolak rehan dengan spontan menutup matanya ketika sosok ita muncul dalam pikirannya.
Rehan menghela napas panjang, ia bangun dari rebahannya, pergi mengambil air wudlu, menggelar sajadahnya dan melaksanakan sholat istikharah.
Rehan meminta petunjuk kepada Allah tentang keraguaannya akan pilihan abi yang akan menjodohkannya. Setelah itu,rehan tidur, sampai pagi pun rehan tak bermimpii apapun.
Memang tidak semua jawaban akan langsung diberikan pada sholat pertama, jadi rehan memutuskan untuk sholat istikharah lagi untuk nanti malam. Untuk sekarang, rehan bergegas untuk berangkat ke rumah sakit.
🌹
(Rumah Ita)
"Ta?" Panggil ayahnya.
"Iya yah."
"Ayah mau bicara sama kamu."
Ita berjalan mendekati ayahnya dan duduk disebelahnya.
"Ayah mau menjodohkan kamu ta" ucap ayahnya tanpa bas-basi.
Ita terkejut bukan main, bagaimana tidak, ayahnya sebelumnya tidak pernah membahas masalah pasangan untuknya, dan kini dengan tiba-tiba ia akan menjodohkannya.
"Kenapa ayah mau jodohin ita?" Nada ita terdengar tidak terima dengan keputusan ayahnya.
Ayah ita, mengelus lembut kepala putri tunggalnya itu.
"Ta, ayah ngga mungkin melepaskan kamu dengan sembarang laki-laki, tentu ayah akan memilih laki-laki yang terbaik untukmu, ayah sudah mengenal laki-laki itu dengan baik, jadi kamu tidak perlu khawatir" jelasnya.
Ita memang tak khawatir dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, tapi yang ia khawatirkan adalah perasaannya, mungkin kalau ita belum jatuh hati pada rehan,mungkin ita akan mantap mengiyakan keinginan ayahnya. Tapi kali ini, hati ita sudah ia tetapkan untuk rehan, laki-laki yang selalu ia sebut dalam doa di sepertoga malamnya.
"Ita? Kamu bersediakan?." Ucapan ayahnya memecah lamunan ita.
Ita tidak bisa menjawab apa-apa, ia hanya bisa terdiam, ia tidak mau menyakiti hati ayahnya dengan menolak permintaan ayah yang selama ini selalu mencurahkan kasih sayangnya tulus untuk ita.
"Ita berangkat ke rumah sakit sekarang" pamit ita yang langsung mwncium punggung tangan ayahnya dan segera pergi saat telah mengucap salam.
-
Ita masuk ke mobil, Tak tahu mengapa, air mata ita lolos begitu saja dari pelupuknya. Sakit sekali saat harus berhenti memperjuangkan rehan dengan menyebut namanya dalam setiap doa ita, nama seorang laki-laki yang mampu membuatnya terkesan saat pertama kali bertemu.
Saat ita menerima perjodohan itu, tentu tidak pantas lagi ita menyebut nama rehan dalam setiap doanya.
"Allah, kenapa sakit sekali" suara ita terdengar terisak
🌹
"Dokter, hari ini ada jadwal operasi bedah syaraf untuk pasien bernama ameera" ucap seorabg perawat memberitahu jadwal untuk rehan.
"Sudah siap ruang oprasinya?" Tanya rehan.
"Sudah dok, tapi dokter hammam tidak datang hari ini."
Anak itu bisa-bisanya tidak datang disaat ada jadwal oprasi. Rehan berpikir sebentar, mencari nama untuk menjadi asistennya di ruang oprasi.
"Beritahu dokter ita untuk ganti baju operasi sekarang, operasi akan dilakukan 10 menit lagi" perintah rehan.
Entah mengapa kali ini rehan memilih dokter yang menurutnya dokter ceroboh menjadi asisten di Operasinya kali ini.
-
"Dokter ita, anda dapat tugas untuk jadi asisten dokter rehan di oprasinya kali ini" ucap seorang perawat yang tadi mencari keberadaan ita.
"Operasinya 10 menit lagi" ucap perawat yang kemudian pergi setelah pamit permisi pergi.
Ita masih terpaku, ia masih tidak percaya Rehan menunjuknya sebagai asistennya.
Ita segera bergegas ganti pakaiannnya dan mencari keberadaan dokter rehan, pertama tempat yang ia tuju adalah ruang rawat pasien bernama ameera, ternyata benar, ita dapat menemukan rehan disana.
Kali ini ita hanya membuka setengah pintunya, dan memilih berdiri disitu saat mendengar rehan dan ameera sedang mengobrol. Ameera adalah gadis kecil kelas 2 SMP.
"Nah ameera, sudah siap kan?" Tanya rehan ramah kepada ameera.
"Mira ngga akan mati kan dok, kalau otak mira dibelah?" Tanya ameera plos.
Rehan tersenyum menaggapi ucapan gadis polos itu.
"Ameera percaya sama dokter kan?, ameera ngga mati justru setelah itu ameera akan sembuh, ameera ingin segera sembuh kan" ucap rehan merayu.
Ameera mengangguk mengiyakan.
rehan mengulurkan tangannya untuk tos dengan ameera, dan disambut ramah oleh ameera. "Tos dulu dong."
Allah, lagi-lagi dia membuatku terkesan, ya Allah, jauhkanlah hamba dari perasaan yang datangnya dari syaitan, jika dia memang bukan jodohku, ita mohon hapus perasaan ita untuknya ya Allah ~ doa ita dalam hati.
Ita memutuskan masuk ke ruangan ameera. "Permisi" ucap ita ketika masuk.
Rehan spontan melihat siapa yang datang. Rehan tersenyum saat melihat ita dataang, tapi tentu saja ia sembunyilan senyumnya didepan ita.
"Sudah siap?" Tanya rehan kepada ita.
Ita menimpali pertanyaan rehan dengan anggukan pasti.
🌹
Oprasi dimulai, pananggung jawab anstesi sudah melakukan pekerjaannya, hingga ameera kini sudah tak sadarkan diri.
Rehan nampak sangat serius, kini ia mulai mengoprasi syaraf ameera, pandangannya tetap fokus pada objek yang ia oprasi, dan ita membantu memberikan benda apapun yang rehan butuhkan.
Di ruang inilah rehan tampak begitu sexi bagi ita, tubuh gagahnya tertutup jubah hijau, bagian mulut dan hidung tertutup masker, hingga hanya terlihat mata indahnya saja, dan dia tambah begitu sexi saat matanya menatap tajam.
Kini telah selesai, tinggal menjahit bagian yang tadi dioperasi, rehan bangkit dari tempat duduknya, mengulurkan alat untuk ita.
"Mau menyelesaikannya?" Rehan menawari ita untuk meneyelesaikan oprasi ini.
Tentu ini yang dari tadi ita inginkan, ingin ikut andil dalam oprasi ini, ia kira ia tidak dapat kesempatan macam ini saat mengoprasi bersama dokter hebat macam rehan.
Ita segera mengambil alat yang rehan sodorkan dan menyelesaikan oprasinya.
🌹
Rehan keluar duluan dari ruang oprasi. Rasa sesak dan beban saat berada di ruang itu akhirnya hilang saat oprasi dinyatakan berjalan lancar. Rehan memberitahukan hal itu pada keluarga ameera yang menunggu dengan cemas di depan ruang oprasi, senyuman keluaga pasien adalah obat tersendiri bagi rehan.
"Dokter Rehan" panggil seorang perempuan dari belakang. Rehan sekarang hafal suara siapa itu.
Baru saja rehan akan menoleh kebelakang, tapi gadis energik itu kini sudah ada di depannya.
"Dokter keren" puji ita.
Rehan tersenyum mendengar pujian itu,ini bukan pertama kali rehan dipuji perempuan, tapi kali ini, jika ita yang mengucapkan hal itu, rasanya sungguh beda. Macam rehan jadi ngFly.
"Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah" jawab rehan merendah.
"Ini pertama kalinya saya ikut operasi bareng dokter rehan."
"Dan ternyata dokter rehan kalau lagi oprasi itu kelihatan sexi" ucap ita jujur tentang rehan.
Rehan mengernyitakan dahi, kali ini ia merasa risih saat mendengar kata sexi disematkan pada namanya.
"Sexi?" Ulang rehan sambil menaikkan satu alisnya.
Ita mengangguk pasti sambil senyum yang terus mengembang.
"Omong kosong" jawab rehan sambil bejalan berlalu meninggalkan ita.
🌹
(Di ruangan rehan)
"Hah? Sexi? Di pikir aku ini apa? Dasar maemonah" rehan berbicara sendiri di ruangannya.
"Hih?, apa ngga bisa bedain, tubuh sispex sama sexi?! dasar cewe aneh." Rehan melepas paksa maskernya dan membuangnya kasar.
Kini ia mengambil posisi duduknya, meregangkan otot-ototnya dan menenangkan otaknya. Ia masih tidak terima dengan ucapan sexi dari ita.
drrrtttt... drrttt.... Gawai rehan berbunyi,ia segera mengangkat gawainya.
"Segera ke auditorium, ada hal yang mau dibicarakan" ucap seorang dari telepon.
Rehan segera memakai jas dokternya, langkah kaki rehan yang jangkauannya jauh cepat membawanya ke ruang auditorium.
Sampai disana rehan segera mengambil posisi duduk. Mendengarkan dengan seksama pemberitahuan yang akan disampaikan kepala rumah sakit.
"Bagi yang kemarin telah bersedia dalam misi memanusiaan, jadwal keberangkatan kalian akan di percepat yaitu besok pagi" ucap kepala rumah sakit.
"Saya harap, kalian hari ini tidak terlalu memforsir diri kalian, perjalanan dari sini ke venu sekitar 10 jam menggunakan transportasi darat" jelasnya lagi.
Setelah pemberitahuan itu,semua dokter yang mengikuti misi kemanusiaan bisa dipulangkan lebih awal yaitu jam 4 sore. Rehan tak mau membuang waktu, saat jam yang melingkar di tangannya menunjukan jam 4 sore, ia segera pulang untuk mempersiapkan misi kemanusiaan yang akan berlangsung kurang lebih 1 minggu itu.