You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
27



Hukumlah orang yang dengki kepadamu denagn perlakuan baik kepadanya.


~ Al Hikam Ali bin Abi Thalib.


🌹


Setelah Pras beranjak meninggalkan Ita dan Rehan di ruang tamu tanpa rasa bersalah, Rehan rasanya ingin sekali membedah otaknya, apa yang salah diotaknya sampai tidak bisa berpikir apa yang telah ia lakukan.


Rehan menangkap tubuh mungil Ita yang beberapa hari terakhir berat badannya turun, Rehan memegang kedua pundak Ita menghadapkan tubuh ita ke arahnya.


"Heiii... apa yang kau tangisi??" Tanya rehan lembut sembari mengusap air mata Ita.


Ita tak menjawab, ia hanya bisa terisak.


"Jangan menangisi sesuatu yang tidak seharusnya ditangisi."


"Kita lakukan ini bersama, tidak akan pernah ada kejahan yang menang dalam sejarah hidup" Tegas Rehan menguatkan Ita.


Ita mengangguk sembari mengusap air matanya, ia harus bisa menjadi wanita yang tangguh dan tegar untuk masalah kali ini.


Rehan memberikan segaris senyum di bibirmya, "ayo pergi."


Rehan menautkan jari-jarinya ke jari Ita, menggenggamnya erat dan mulai berjalan ke luar rumah.


"Bisa nyetir sendiri?" Tanya Rehan sewaktu di depan mobil Ita.


"He'em" Ita mengangguk pasti.


"Bagus, kau harus fokus saat menyetir" Rehan membukakan pintu mobil Ita, juga memasangkan sabuk pengaman.


"Aku akan berjalan di belakangmu" Rehan menepuk lembut pucuk kepala ita kemudian menutup pintu mobil Ita.


Kedua mobil mereka mulai beriringan pergi keluar dari halam rumah lama Ita.


🌹


"Akhirnya kalian berdua pulang, Ummi kita kalian tidak pulang lagi malam ini" ujar Yasmin melihat kedatangan Ita dan Rehan.


Rehan menghamoiri Yasmin dan langsung mencium pipi Yasmin,


"Apa Ummi rindu Rehan?apa ummi mau buatkan Rehan jamuan selamat datang setelah tidak pulang 2 hari?."


Yasmin mencubit perut Rehan, "Ya! Ummi akan membuatkan kamu jamuan, tapi sepertinya ummiharus beri pelajaran kamu dulu" Yasim menjewer telingan Rehan.


"Ata ta taa umi sakit" pekik Rehan, Ita yang sedari sedang tidak mood kini sesikit bisa tertawa melihat Rehan yang selalu kalah dengan umminya.


"Bisa-bisanya kamu meninggalkan Ita sendiri ha?? Bukannya kamu sudah janji akan selalu menemaninya dan menjaganya ha??" Yasmin semakin mengeraskan jewerannya dan Rehan juga semakin mengeraskan pekikannya.


"Jangan buat Ita tidak bisa tidur hanya karna menunggumu" Sentak Yasmin sembari melepas jewerannya.


Rehan mengusap daun telinganya yang mungkin sekarang memerah karna jeweran Yasmin.


"Kenapa ummi setega ini?" Gerutu Rehan sembari mulai berjalan masuk.


Yasmin menghampiri Ita dan memapak Ita untuk segera masuk.


"Ummi harusnya tidak usah terlalu keras dengan kak Rehan" ujar Ita yang tak tega melihat daun telinga suaminya memerah karna jeweran.


"Tidak, umki tidak sungguhan menjewer Rehan Ita, Rehannya aaja yang lebay" jawab Yasmin dengan tawa renyahnya.


Hari ini Rehan dan Ita ingin menghabiskan waktu di Rumah saja, lagipual Ita juga harus mengganti tidur malamnya, sore nanti Ita harus kembali ke Rumah sakit.


Ita berjalan ke arah suaminya yang terduduk di ranjang sembari mengusap telinganya yang masih merah.


Saking sibuknya Rehan mengusap daun telinganya, sampai tak sadar kalau Ita sudah duduk di sebelahnya, tangan dingin Ita menyentuh daun telinga Rehan.


Ita menagkupkan tangannya ke daun telinga Rehan yang memerah, "tidak apa?" Tanya Ita.


Rehan menatap Ita, kedua bola mata mereka bertemu cukup lama, tangan dingin Ita mampu mendinginkan daun telinga uang panas karan jeweran,


"akan baik-baik saja jika kau yang mengusapnya" ujar Rehan dengan senyum mengembang.


Dengan senang hati Ita mengusap daun telinga Rehan, lagipula ini juga sudah kebiasaan Ita yang kemarin ia tidak bisa lakukakn karna Rehan pergi.


Baru juga beberapa menit berselang, ponsel Rehan berbunyi, Rehan segera mengangkat panggilan itu.


"Ya?."


"Oh, Iya saya kesana sekarang" ujar Rehan yang segera mecari jas dokternya.


"Mau ke Rumah sakit sekarang?" Tanya Ita memperhatikan tindakan Rehan.


"Harusnya jam 4 sore kakak kesana, tapi ada kedaan darurat yang mengharuskan kakak kesana sekarang" ucap Rehan sembari mengancingkan kemeja putihnya.


Ita hanya mengangguk pasrah dengan rutinitas macam ini.


"Kakak tunggu di sana ya,assalamu'alaikum" Rehan mencium kening Ita dan berlalu pergi keluar kamar dengan tergesa-gesa.


"wa'alaikumussalam." Ita menarik napas panjang, melepas kepergian suaminya.


Ita memilih untuk tidur siang untik mengembalikan lagi energinya.


🌹


Beberapa hari ini, hidup heni bisa sesikit tenang saat ia tak menerima telpon dari orang yang selama ini mengancamnya, menjadikannya alat untuk menghancurkan keluarga Rehan.


Jadi heni bisa sedikit bernapa lega saat tak menerima telpin ancaman dari laki-laki lucknut itu.


"Bi??" Panggil Yasmin.


"Iya nyonya?" Heni segera menghampiri Yasmin yang berada di dapur.


"nyonya mau kemana?" Tanya Heni yang melihat Yasmin membawa tas beriai beberapa pakaian.


"Saya mau nginap di rumahnya sabil bebrapa hari, tolong kalau Ita sudah bangun, beritahu kalau saya ke Rumahnya Sabil diantar pak supir" Jelas Yasmin.


Heni mengangguk mengerti, "iya nyonya nanti saya sampaikan."


Yasmin segera pergi ke rumah sabil diantar supir pribadi.


-


Ita baru bangun dari tidur siangnya dijam 3 sore saat ia mendengar adzan ashar berkumandang, tanpa mengulur waktu, ita bergegas mengambil wudlu dan sholat Ashar, setelahnya Ita mandi dan bersiap-siap ke Rumah sakit.


Ita melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah jam 3 lebih tapi Ita masih sibuk mencari ikat rambutnya, ia lupa menaruhnya, Ita harus berangkat segera tapi ia juga harus segera menemukan ikat rambutnya terpebih dahulu.


Ke Rumah sakit tanpa mengikat rambut panjangnya yang akan tertutup jilbab tentu akan membuat Ita merasa tidak nyaman.


"Ya Allah dimana sih" Ita masih sibuk membuka sati persatu laci namun tak ditemukan. Ita kemusian membuka bantal, selimut dan lainnya namun tetap juga tidak ia temukan ikat rambut satu-satunya.


Ita kembali lagi melirik jam tangannya, "aaiissshhhhh... sudahlah" Ita mulai menyerah.


Ita langsung menutup rambutnya dengan jilbab tanpa mengikatnya terlebih dahulu, Ita merapikan jilbabnya di depan kaca, setelah merasa sudah rapi, ita segera keluar dari kamar.


"Bu heni, Ummik mana?"tanya ita sembari menuruni tangga.


"Nyonya beberapa hari kedepan mau menginao ke rumah mbak sabil non, ibu tadi berpesan untuk memberitahukan ke non Ita."


"Aah ya, kalau begitu saya berngkat dulu ya bu" Ujar Ita yang kemudian beranjak ke Rumah Sakit.


🌹


Sesampainya di Rumah Sakit, Ita menemui Kiki yang berada di meja resepsionist.


"dokter Ita, sudah datang" sapa kiki saat melihat kedatangan Ita.


"Sudah pindai CT-scan pasien Alma?" Tanya Ita pada kiki.


"Ya sudah dokter" jawab Kiki.


"Apa sudah ganti perbannya?" Tanya Ita lagi.


"Ah, akan saya lakukan sekarang" sahut Kiki bergegas ke Ruangan pasien untuk mengganti perbannya, hampir saja kiki lupa melakukannya.


"Ya, Airin kenapa disini?, kau tak perlu seperti ini, ini adalah pasienku" ucap Ita yang melihat Airin sudah ada di ruangan pasiennya.


Airin tersenyum melihat kedatangan Ita, "Aku sudah mengatur infusnya" ujar Airin.


"Sudah seperti biasanya, pasienmu juga pasienku, bukankah kita sering berganti pasien" lanjut Airin sembari menyenggol pundak Ita.


Ita tersenyum menimpali ucapan Airin, ia sudah terlalu banyak membantu Ita.


"Kalau begitu, aku yang akan memeriksa pasienmu" ujar Ita.


-


Setelah menyelesaikan kunjungan kepasien yang berada si ruang ICU pasca operasi, Ita berniat menemui Rehan yang sedari tadi belum ia jumpai, pasti ia sedang sangat sibuk.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk" Ita segera masuk ke ruangan saat rehan sudah mempersilahkan masuk.


"Lah, bukannya kau sudah punya kartu vip untuk masuk ke Ruanganku tanpa ketuk pintu??" Ujar Rehan saat mengetahui Ita yang barusan mengetuk pintu.


Ita tersenyum senang mendengar hal itu, "aku hanya melakukakn apa yang kemarin aku lakukan" ita mulai membahas sisi dingin Rehan kemarin.


"Mau balas dendam?" Sindir Rehan.


"Aahh, aku pendendam dokter" sahut Ita dengan tawa renyahnya.


Ita menggeliat di kursi depan Rehan, Ita juga mulai mengggaruk-garuk kepalanya yang sedari tadi gerah karna tidak pakai ikat rambut.


"Apa masih ada pasien?" Tanya Rehan.


"Tidak, tapi akau masih harus melakukan round visit " jawab Ita sembari menggeliat dan menggaruk bagian dalam jilbabnya.


Ita tak pernah melakukan ini kalau bukan di depan Rehan, setidaknya mau bagaimanapun Ita, Rehan tidak akan illfeel saat melihat Ita bertingkah seperti ini.


"kalau begitu istirahat saja, aku yang akan menggantikanmu melakukan round visit" Ujar Rehan.


Ita segera menolak saat Rehan akan menggantikannya, "Aah tidak usah, Itu sudah bagian Ita,jangan dokter ambil."


"Astaghfirullah, AC nya matinya kak?" Ungkap ita sembari mengipas-ngipaskan jari jemarinya.


Rehan menaikkan satu alisnya, di malam seperti ini biasanya Rehan tak menghidupkan AC ruangannya, tapi saat Ita masuk, ia sendiri yang langsung mengambil remote AC dan menghidupkannya.


"Malam-malam gini masih bilang gerah?? AC juga kau sendiri yang menhidupkan" ujar Rehan.


Ita tak menanggapi ucapan Rehan,ia sibuk mengelap leher yang tertutup jilbab yang berkeringat karna rambut lebatnya tergerai.


Rehan sedari tadi melihat Ita seperti tidak nyaman, Rehan kemudian bangkit dari duduknya, dan bersiri di hadapan Ita yang masih sibuk menggaruk-garuk.


"Sejak kapan kamu sering garuk-garuk seperti ini ha?" Ucap Rehan sembari melepas peniti jilbab Ita, dan menyampirkan jilbab Ita di kursinya.


"Haaahhhh..." ita veenapas lega sembari mengelap lehernya yang lembab.


Rehan menatap Ita dengan senyuman jahil, Ita terlihat sexi bagi Rehan saat sedang mengiba-ngibas kan rambut panjang nan lebat miliknya.


Rehan mengambil sesuatu di saku celananya, ia mulai pindah posisi dari mulanya berdiri di depan ita menuju belakang badan Ita.


Rehan mulai mengumpulkan rambut Ita menjadi satu.


"Mau ngapain?" Tanya Ita reflelks saat rehan menyentuh rambutnya.


"Tenang saja,kakak sudah latihan kok"


Rehan mulai mengikat rambut panjang Ita dengan penuh perhatian, Ita tak pernah membayangkan Rehan akan mengikat rambutnya. Ita membiarkan Rehan mengikat rambutnya, ia hanya senyum-senyum sendiri.


"Dah selesai" ucap Rehan.


"Tidak terlalu buruk kan?"tanya Rehan.


Ita menata rambut bagian depannya yang tidak ikut terikat, biasanya kalau seoerti ini Ita akn mengulang ikatan rambutnya sampai semua rambutnya terikat, namun karna pekerjaan Rehan, mau seperti ini terus juga ngga apa-apa.


"Ya! Tidak terlalu buruk" Jawab Ita dengan senyum mengembang.


Ita kemudian memakai jilbabnya yang tadi disampirkan Rehan. Ita melihat jam di tangannya sekilas, "Ita round visit dulu ya kak" ujar Ita yang kini sudah berdiri dari duduknya.


"Aku temani, lets go!"sahut Rehan yang langsung berdiri dan mulai berjalan mendahului Ita.


"Ha?" Ita melongo dengan tingkah Rehan, ita habya bisa geleng-geleng kepala.


-


Ita berjalan di belakang Rehan, ini round visit Ita tapi kenapa malah ia yang mengikuti jalannya Rehan?.


"Hei rara?? Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rehan pada rara seorang pasien Rehan.


"Baik dokter" Rara mengangguk pasti.


"Dokter Ita selalu menyempatkan waktu membacakan buku cerita sebelum tidur saat ibu sedang tak ada disini" jelas Rara dengan riang.


Rehan tersenyum lebar mendengar jawaban bocah 6 tahun itu,rehan juga menatap senang ke arah Ita.


"Terimakasih dokter, terimakasih banyak" ucap Ibu rara yang berada di sampingnya malam ini.


"Kalau begitu istirahatlah" ucap Ita membenahkan selimut Rara.


Ita dan Rehan kemudian keluar dari rungan itu, "sudah sejak kapan mendongengkan Rarra?" Tanya Rehan sambil berjalan.


Ita mengingat-ingat saat pertama kali ia membacakan buku cerita untuk rara,


"eumm... 2 hari setelah dirawat" jawab Ita.


Rehan menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Ita hampir saja menubruk tubuh Rehan.


"Aaiishhhh" gerutu Ita.


"Sejak kapan aku memperbolehkanmu membacakan cerita untuk pasien,ha?" Tanya Rehan selerti marah.


Ita mengernyitkan dahinya tak mengerti, "apa, aku salah?" Tanya Ita penuh tanya.


"Itu kan hanya membacakan cerita untuk pasien agar bisa cepat beristirahat" lanjut Ita dengan menundukkan kepalanya.


Rehan mulai tersenyum jahil saat melihat Ita mulai menundukkan kepalanya seperti bentuk dari penyesalannya.


"Kalau kau tidak merasa bersalah,kau seharusnya tidak menunduk seperti itu" ujar Rehan terkekeh geli.


Ita segera mengangkat pandangannya, "apa itu bukan masalah?" Tanya Ita dengan polosnya.


Rehan tertawa renyah mendengar pertanyaan polos Ita, Rehan memegang pundak Ita


"Akan jadi masalah kalau kau tidak menceritakan dongeng itu keoada anak kita nanti" ujar Rehan dengan senyum mengembang.


Lagi-lagi Ita tak bisa menyembunyikan senyumnya, mungkin kali ini raut wajahnya sudah memerah saat Rehan terus saja menggoda Ita.


"Kita lanjut lagi" Rehan mulai berjalan kembali mendahului Ita, dan ita mengikuti langkah Rehan dari belakang.


-


Langkah Rehan terhenti di ruang 405 tempat Bagas di rawat,


"apa dia baik-baik saja?" Tanya Rwhan di depan pintu ruang 405.


Ita mengangkat kedua bahunya menandakan ketidak tahuannya,


"aku meminta dokter Airin memantaunya, dua hari yang lalu keadaanya sempat down, dan sekarang aku tidak ingin tahu" ujar Ita yang ingin segera pergi dari deoan ruangan orang yabg sudah ikut andil dalam kecelakaan Ibunya.


Segera rehan menahan Ita agar tidak pergi, "kita harus cek keadaanya" Rehan hendak mengajak Ita masuk ke ruangan.


Ita segera menahan tarikan lengan Rehan, "aah ita mau ke toilet, dokter saja yang masuk" ita muali mencari alasan untuk tidak ikut masuk ke ruangan itu.


Rehan menghembuskan napas,


"sejak kapan Ita jadi pendendam?" Pertanyaan Itu mampu menampar hati Ita, baru saja beberapa jam yang lalu Ita mengatakan kalau ia bukan perempuan pendendam.