
Yang menjadi fokus perhatian bukanlah masalah amalnya, akan tetapi yang menjadi perhatian adalah bagimana menjaga amalan tersebut dari perkara-perkara yang akan merusaknya dan menggugurkannya
- Ibnu Qayyim - Al wabilus Shoyyib, 29
🌹
Ita keluar dari ruangan Rehan dengan hati yang jengkel, Tidak biasanya dirinya merasa seperti ini. Dalam hati Ita sendiripun menyadari kalau ada yang aneh dengan dirinya, ia tisak biasanya terlalu sensitif seperti ini.
Ita berjalan keluar sembari mencoba tenang, namun tetap saja, dadanya masih terasa sesak. Sampai halaman Rumah sakit, Ita melihat sosok Eza yang tengah berdiri di pos satpam, melihatnya Ita langsung saja menghampirinya.
"Eza!" Panggil Ita sedikit mengagetkan Eza.
"Tante dokter" mata Eza berbinar melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu.
"Udah lama nunggu tante?" Tanya Ita.
"Karna tadi siang Eza sudah dapat makan siang, jadi Eza ngga perlu capek-capek ngamen buat makan siang" ucapnya dengan riang.
"Lah?? Eza belum makan malam?" Tanya Ita khawatir.
Eza menggeleng pasti dengan senyum riangnya, "Eza ngga pernah makan malam."
Lagi-lagi Ita dibuat sesak dada oleh bocah ini, "tunggu sini sebentar, tante ambil mobil dulu."
****
Kini Ita sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang bersama Eza yang duduk di sebelahnya. "Kita cari makan dulu ya" Ita membelokkan mobilnya di pedagang martabak kaki lima.
Ita dan Eza keluar dari mobil, ita berjongkok pada Eza untuk menyamakan tingginya pad bocah kecil itu.
"Anggota keluarga Eza totalnya ada berapa? Ayah? Ibu? Kakak? Adik?."
"Ngga ada." Eza menggelengkan kepalanya.
Ita dibuat bingung dengan anak itu, "oohh.. jadi maksutnya Eza tinggal sendiri??."
Eza menggeleng.
"Ha? Trus?."
"6 pak martabaknya" ujar seseorang dari belakang Ita yang menyela antrian, padahal Ita sedang bertanya jumlah anggota keluarga Eza untuk menentukan jumlah martabak yang akan ia beri.
"Kak rangga" panggil Eza dengan gembira kepada laki-laki yang berdiri dibelakang Ita, tak lain ia adalah yang memesan martabak tadi.
Merasa penasaran dengan yang dipanggil Eza, Itapun berbalik arah. Dari posisinya yang jongkok, pandangannya merayapi tubuh laki-laki tinggi yang kini berada di depannya.
"Dokter Ita?!" panggil Rangga kaget melihat perempuan yang jongkok di bawahnya.
Mata Ita membulat sempurna melihat Rangga yang berdiri didepannya, dengan segera Ita berdiri.
"Dokter Rangga? kenapa bisa disini?" Tanya Ita kikuk, "ah maksutnya ngapain disini?" Ralat Ita, tapi pertanyaannya semakin tidak masuk akal, tentu saja ia mau beli martabak, kenapa ia bertanya seperti itu. "Eh nggak, maksutnya..."
"Ah ya itulah" ita semakin selah tingkah.
Rangga terkekeh melihat Ita yang salah tingkah, "ekhm.. maaf dokter" Rangga meminta maaf saat ia terkekeh karna Ita.
"Panggil aja kak, atau mbak, ngga usah formal-formal banget lah" jelas Ita.
Rangga terdiam sebentar, rasanya umur Ita jauh dibawah Rangga karna wajahnya yang baby face, jadi seperti tidak pantas di panggil mbak.
"Aaahh iya-iya" Rangga mengangguk paham.
"Ohiya, btw kok bisa disini" tanya Ita.
"Tadi saya habis dari Seruni hospital ketemu sama teman saya, trus saya lihat mbak lagi nanya-nanya tentang jumlah keluarga Eza, saya pikir mbak tanya seperti itu larna mau membelikanya untuk keluarga Eza, jadi saya pesankan 6 porsi untuk Eza, itu cukup" jelas Rangga.
"Kamu" ita menunjuk Rangga dan Eza.
"Kenal sama Eza?."
Rangga mengagguk sembari merangkul bahu kecil Eza yang kini berdiri disebelahnya.
"Aaahh... Kenal rupanya, tau rumahnya Eza juga?" Tanya Ita.
"Mau saya antar? Saya juga sekalian mau ke tempatnya Eza" Sahut Rangga.
"Kalau memang mau sekalian kesana, ya.."
"Okelah" lanjut Ita.
Setelah mengiyakan ucapan rangga. Ita, rangga dan juga Eza segera bergegas untuk pergi ke rumah eza.
ita melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan mobil rangga berada di depan mobil ita.
Mobil rangga berhenti di sebuah kolong jembatan. Rangga segera turun dari mobil diikuti dengan ita yang ikut turun saat melihat rangga turun.
"Nah sudah sampai" ucap Rangga kepada Ita.
"Iya ini rumah eza" sahut eza dengan semangat.
Ita sempat dibuat kaget saat berhenti di kolong jembatan karena sebelumnya eza pernah bilang kalau rumahnya sangat mewah atapnya terbuat dari beton. Dan ternyata ini maksud eza atap dari beton yaitu flyover.
Lagi-lagi dada kita dibuat sesak oleh eza. Tak lama setelah kedatangan rangga dan Ita, seluruh anak di dibawah kolong jembatan tiba-tiba langsung berhamburan mengerubuti ngi rangga, seperti mereka telah kenal dari lama. "Kak ranggaaaa..." Panggil anak-anak itu.
"Ah iya-iya, sabar ya" ujar Rangga pada anak-anak yang mengerubungi Rangga.
"Ka Rangga pasti bawa makanan" cletuk salah satu dari mereka.
"Maaf hari ini ka rangga nggak bawa makanan, tapi tante ini bawa makanan banyak untuk kalian, tara sebuah martabak banyak loh" ujar rangga dengan bersemangat.
Sontak semua anak-anak menatap Ita, dan itu membuat Ita sedikit kaku.
Ita hanya bisa diam dengan senyumnya yang mengembang.
"Kenalkan semuanya, ini teman kak Rangga, namanya dokter Ita" Rangga memperkenalkan Ita kepada anak-anak jalanan tersebut.
Setelah Rangga memperkenalkan dirinya, kini Ita yang harus menyapa mereka semua, "halo semuanya" sapa Ita.
". . ." Diam, tak ada satupun yang membalas sapaan Ita.
Krik-krik. . . Sepertinya anak-anak tak tertarik dengan sapaan Ita.
"Aah.. ini, tante bawa martabak buat kaliannn!!" Ucap Ita dengan semangat sembari memperlihatkan martabak yang ia tenteng.
"Huwaaahhh" ucap mereka serentak.
"Mau mauu."
"Aku juga mau."
"Aku dulu tante."
"Nggak, aku dulu tante.."
"Sabar yaa".
Allah, begitu nikmat sekali saat Engkau memberi nikmat cukup bagi kami sehingga bisa ikut berbagi dengan yang lain. Ita bahagia sekali hanya dengan melihat mereka makan dengan lahap.
Tanpa Ita ketahui, sedari tadi Rangga selalu memperhatikan tingkah seniornya itu. Semua tingkahnya, gerak tubuhnya, senyumnya, tawanya, rasanya mampu membuat Rangga tersihir olehnya, ia wanita yang yang mampu menarik hati sejak pertama melihatnya.
"Rangga, tau enggak hal yang paling menyenangkan dalam hidup yaitu saat kita bisa saling berbagi, Allah sangat senang dengan yang namanya sedekah, sedekah itu bisa menolak bala' juga bisa melipatgandakan rezeki kita."
"Allah sudah menjamin setiap rezeki dari setiap makhluk-Nya, jadi tidak ada namanya rugi dalam bersedekah, semua akan nikmat saat bisa berbagi kebahagiaan dengan yang lain" ujar Ita sembari terus menatap anak-anak didepannya.
Rangga diam ya tidak bisa membalas perkataan ita, rasanya terlalu sulit membicarakan soal agama karena rangga bukanlah seorang yang taat dalam agama.
Jadi rangga hanya diam ia hanya terus menatap dalam wajah cantik Ita tanya begitu menenangkan bagi Rangga.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, ita ikut bergabung dengan mereka, ikut duduk melingkar dengan mereka, ita juga ikut larut dalam kebersamaan, tawa dan kebahagiaan sederhana dari mereka.
Saat sedang bersenda gurau dengan para anak-anak tiba-tiba ponsel ita berbunyi menandakan ada pesan masuk, ita yang tengah sibuk memperhatikan para anak-anak yang sedang lahab makan akhirnya terbesar dari saat mendengar bunyi ponselnya.
"Ita di mana kamu sayang" tulis Rehan dalam chatnya.
"Lagi ada sama anak-anak kak yang tadi siang, kan itu sudah bilang mau kerumahnya eza" tulis Ita.
"Tata sama siapa?" balas Rehan.
Ita pun terdiam, ia melihat di sekelilingnya, Ita baru sadar kalau ia pergi dengan laki-laki lain yang bukan maharamnya.
Astaghfirullahaladzim mau ita jawab apa ini pesan tadi kakak rehan.
Akhirnya kita pun mencoba mengalihkan pembicaraan rehan.
"Kakak masih di Rumah sakit?."
"Enggak kakak udah pulang kamu cepat pulang ya udah malem juga"
"Atau kakak jemput sekarang ya" lanjut Rehan.
Waduh ngga mungkin juga kalau kak rehan jemput ita sedangkan sekarang Ita lagi sama laki-laki lain, lagipula kak Rehan juga belum kenal Rangga.
"Gak usah kak kita juga udah mau pulang, kakak tunggu di rumah aja ya♥️."
Ita mengakhiri chatnya dengan Rehan, ia harus segera pulang sekarang karna rehan pasti sedang mengkhawatirkan nya.
"Emm dokter Rangga maaf ya aku harus pulang duluan" pamit Ita bangkit dri duduknya sembari membersihkan bajunya.
Aku? Dia barusan bilang 'aku' biasanya dia selalu mengatakan 'saya' untuk menyebut dirinya sendiri.
"A saya antar ya dok" Rangga segera memberi tawaran. Namun segera ditolak oleh Ita, ini adalah kesekian kalinya Ita menolak Rangga.
Dan karna sudah kesekin kalinya di hari pertama mereka bertemu Ita sudah banyak menolak Rangga, jadi ini bukanlah suatu yang mengejutkan bagi Rangga.
Waktu menunjukkan jam setengah sepuluh malam, ita melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, lagi pula jalanan waktu itu cukup lengah.
Ita ingin segera bertemu dengan suaminya, bisa bersama rehan rasanya adalah suatu hal yang susah didapat akhir-akhir ini, ia begitu sibuk.
Hari ini Ita pulang ke rumahnya dulu, sudah lama Rumah Itu tidak ditinggali. Lagipula umi kemarin meminta kami untuk pulang ke rumah Ita menemani mbok jah.
"Asalamualaikum" salam ita saat memasuki rumah, ia sekarang masuk dan belari ke lantai dua, tempat kamar Rehan dan Ita.
Sebelum masuk ke kamar ita mengetuk pintu, kemudian segera membuka kenop pintu, ia sudah tidak sabar bermanja-manjaan dengan Rehan.
"Assalamualaikum kak Rehan? tata pulang" ujarnya saat membuka pintu.
Dan krik-krik, tak ada satupun orang di kamar.
"Lhah... Tadi katanya udah pulang."
Itapun turun ke bawah mencari Rehan siapa tau ia ada dilantai bawah, namun nihil, Ita tak menemukan Rehan. Ita juga baru menyadari kalau mobil Rehan tidak terparkir dibagasi.
"Haaahhh" Ita menghela napas panjang, ia ke dapur untuk mencari mbok jah, tapi ternyata mbok jah sudah tidur, mana tega ita menggangu tidurnya mbok jah.
Ita memutuskan kembali ke kamarnya, Haaahh... ya Allah, kenapa susah sekali untuk bertemu suami sendiri.
"Ini lagi, kata udah pulang, tapi mana?!! Hah!" Omel Ita sembari menggedor pintu kamar saat masuk, hal yang baru pertama kali Ita lakukan, ita juga tidak tahu kenapa ia menggedor pintu dengan Keras, Rasanya bukan dirinya sendiri yang melakukan.
Saat sedang berjalan ke dapur, Ita melihat kertas yang tertempel di lemari baju. Ita mengambil kertas tersebut, ada sebuah pesan di kertas itu.
"Tata sayang, maafin kakak ya, tapi kakak tadi dapat panggilan mendadak, jadi kakak harus pergi lagi ke Rumah sakit, maaf ya... 🙂 Sayang tata:* "
Begitulah tulisan yang tergores dalam kertas itu. "Hah, sok sibuk" gerutu Ita memaki pada kertas yang ia pegang.
Ita menghamparkan tubuhnya di kasur, menikmati punggungnya saat menyentuh kasur. Sungguh nikmat.
🌹
Rehan memberi tahu kepada ita agar ia bisa tidur secepatnya tidak usah menunggu rehan pulang, karena kemungkinan rehan akan pulang shubuh setelah operasi yang berlangsung 8 jam.
Melihat pesan dari Rehan, ita memutuskan segera tidur todak menunggu Rehan pulang, lagipula badannya juga rasanya sudah lelah sekali butuh istirahat.
Ita terbangun seperti biasanya, di sepertiga malam kita bangun untuk mendirikan shalat tahajud dilanjut dengan membaca alqur'an hingga shubuh.
Namun kali ini Ita bangun tidak seperti jam biasanya Ita bangun jam empat namun kali ini Ita sudah bangun jam 03.00 dini hari.
setelah menyelesaikan bacaan surah alkahfi, kita berniat akan melanjutkan bacaan surah al-mulk, namun ia tunda saat nada gawainya terus berbunyi.
Itu adalah panggilan dari salwa, hari ini ia kebagian siff malam.
"Halo assalamualaikum gimana sal?."
"Haaaaahhhh alhamdulillah dokter angkat" terdengar keras Salwa membuang napas lega.
Dokter, ada pasien kecelakaan, sepertinya ada benturan keras di kepala, dokter saraf yang sedang siff sedang sibuk dengan operasinya dokter" jelas Salwa dengan cemas.
"Sudah CT scan?."
"Sudah dok, ada pendarahan di otaknya."
"Bagaimana dengan tekanan darahnya?" Tanya Ita sembari mengambil baju, ia harus ganti baju tidurnya dan bergegas ke Rumah sakit.
"160."
"okay, saya akan segera sampai, segera siapkan ruang operasi" titah Ita.
"Siap dokter."
Ita segera mengambil jilbabnya, baru saja Ita memegang kenop pintu, ia teringat sesuatu, Ita kembali masuk ke kamar, ia mencari bolpoin dan kertas di nakas.
Karna ia akan operasi jadi, tidak ada waktu untuk mengabari suaminya, untuk itu, Ita menulis surat kepada Rehan dan ia tempelkan di Almari seperti yang Rehan lakukan.
Setelahnya, Ita segera bergegas keluar dan menuju ke Rumah sakit.