
Seorang mukmin ketika dipuji atau mendapatkan pujian, ia (justru) akan merasa malu kepada Alla subhanahu wata'ala, karna ia dipuji dengan sifat atau kondisi yang tidak ia saksikan hal itu terdapat dalam dirinya.
Ibnu Atha'illah Assakandary.
🌹
Malam ini, Rehan tidak tidur di Rumah ia lebih memeilih tidur di doctor dormitory,entah kenapa perasaannya ia ingin ingin sekali tidur di Rumah sakit, seperti ada perasaan yang menariknya untuk tidak jauh-jauh dari rumah sakit.
Ke esokan harinya, Rehan memeriksa beberapa pasien rawat jalan, karna saking sibuknya ia jadi tidak ingat untuk memeriksa pasien rujukan alias Ita. Sedangkan Ita, kali ini keadaannya sudah mulai pulih, ia sudah bisa untuk sekedar berjalan, meskipun ia tidak tahu kapan kepalanya akan terasa sakit kembali, dan kemungkinan ia kejang tiba-tiba juga masih ada karna Ita belum mendapatkan operasi.
Entahlah apa yang Ita pikirkan, ia seperti tidak ingin dioperasi karna Ita takut akan mengalami gangguan bicara dan penglihatan.
"Dokter Ita" panggil laki-laki dibalik tirai yang mengelilingi ranjang Ita, Ita yang tengah duduk menghadap jendela sontak saja langsung menoleh ke sumber suara.
"Ya??" Jawab Ita juga berbisik.
Rangga kemudian masuk saat Ita melihatnya, rangga melihat wajah sayu Ita, ia tersenyum namun Rangga tau pasti hatinya sangatlah rapuh, tak ada satupun orang yang ia sayangi menemani masa sulitnya, ia pasti merasa sangat kesepian.
"Ada apa dokter Rangga??" Tanya Ita yang melihat Rangga malah melamun.
Rangga mengerjapkan matanya dan segera sadar dari lamunannya, rangga mengambil posisi duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang, "dokter..." Panggil Rangga dengan suara kasihan.
"Hm??."
"Dokter harus beritahu keadaan dokter kepada dokter Rehan, anda tidak bisa melelui ini sendiri, saya yakin dokter Rehan akan kecewa kalau dokter Ita tak memberitahu keadaan anda yang sebenarnya."
Ita terdiam sebentar, sebenarnya Ita tidak peduli dengan kekecewaan Rehan, kalauoun ia memeberitahu Rehan, ia inginRehan menemaninya, melalui hal seperti ini sendirian bukanlah hal yang mudah, ia butuh seseorang yang selalu membisikkan hal-hal positif juga yang selalau menemani Ita.
"Entahlah kenapa dokter ingin menyembunyikan ini dari keluarga, tapi ingatlah ketika sesorang sudah menemukan belahan jiwanya, disaat itulah segala sesuatu harus kalian bagi berasama jangan dilakuin sendiri-sendiri" ujar Rangga, meskipun terasa berat mengucapkan itu, namun melihat orang yang kita sayangi merasa sendiri dan menderita juga akan membuat kita semakin menderita, tak ada yang bisa Rangga lakukan kecuali menyatukan dokter Ita dan Rehan krmbali.
Ita mengangguk, ia memang harus egois dalam hal ini, ia harus membagi rasa sakitnya dengan seorang yang telah berjanji untuk bersamanya sampai akhir. Rangga tersenyum melihat senyum mengembang dari Ita.
"Saya akan menemuinya segera." jawab Ita dengan suara yang sedikit berat ia ucapkan.
Rangga menagngguk tersenyum getir.
"Terimakasih, kau tumbuh begitu cepat, kau telah tumbuh menjadi laki-laki yang dewasa sekarang" ujar Ita kepada Rangga.
"Terimaksih juga dokter, karna telah membuat saya menjadi seperti ini, memberi pelajaran bagi saya untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak di takdirkan untuk saya."
Ita mengangguk menimpali ucapan Rangga.
"Apa dia hari ini ada operasi??."
"Ada, tapi nanti malam sepeti biasanya, operasinya juga tidak terlalu besar jadi akan selesai sekitar 3 jam an" jawab Rangga.
"Terimaksih sekali lagi, saya tidak akan lupa dengan kebaikan-kebaikanmu" ucap Ita tulus dari hati.
****
Setelah cukup lama dari perginya Rangga dari ruangan Ita. Ita kemudian mulai menurunkan kakinya, ia sendiri yang akan menemui Rehan, ia akan bicara soal kondisinya, dengan susah payah Ita berdiri, tak lupa ita memakai jilbab dan juga masker supaya tidak ada orang yang melihat dan mengenali wajah Ita.
Ita mulai berjalan keluar dari ruangannya, syukurlah tak ada yang menyadari jadi tak ada yang memanggil Ita, setelah keluar, ia melihat jam yang menempel di dinding, waktu menunjukkan jam 1 siang, jam segini mungkin Rehan baru makan siang.
Langkah Ita menuju ke ruang kerja Rehan, hari ini dokter Hamam sedang tidak tugas, jadi sekarang Rehan pasti makannya ada di ruang kerja. Dengan penuh kehati-hatian Ita berjalan berharap tidak ada mengenalinya.
"Permisi" panggil seorang perempuan dari belakang. Ita seketika menghentikan langkahnya, "apa ada yang mengenaliku?" Batin Ita dalam hati, Ita tak membalikkan tubuhnya, dan perempuan yang memanggilnya kini berjalan dan berada tepat di depan Ita. Tentu saja ita langsung menunduk jangan sampai ia melihat mata ita, karna bisa jadi ia mengenali Ita.
"Salwa??" Ucap Ita dalam hati, jangan sampai ia mengenali Ita.
"Anda mau kemana?? Biar saya antar" ujar Salwa menawari bantuan.
Ita berdaham mencoba mengubah suaranya, "ekhm tidak usah, saya bisa sendiri."
"Ah.. tidak apa-apa biar saya antar anda mau kemana??" Tanya Salwa lagi, ia masih bersikukuh mengantar Ita.
"Em suster, tadi di ruang saya ada pasien yang membutuhkan bantuan suster" ujar Ita masih saja menunduk jangan sampai salwa mengenali Ita.
"Oh iya??." Salwa yang sigap langsung clingukan, "Kalau begitu saya pergi dulu ya?!" Salwa langsung berlari pergi meninggalkan Ita. Huuhh akhirnya Ita bisbernapas lega saat Salwa meninggalkannya.
Satu sisi yang sudah lama ita tidak rasakan dari salwa yaitu kasih sayang salwa yang begitu perhatian kepada pasiennya, tidak! Salwa tidak hanya perhatian terhadap pasiennya dengan siapapun salwa adalah sosok yang baik hati, Ita jadi teringat waktu salwa begitu khawatir dengan luka di tangan Ita waktu itu.
Ita melanjutkan kembali langkahnya, ia sudah hampir sampai, mata ita berbinar saat menatap pintu ruang kerja dr.Al Rescha Ilham Maulana.
Sebelum Ita masuk, ia melihat terlebih dahulu dari laca pintu Rehan, retina Ita menangkap sosok Rehan, namun ia juga menangkap sosok perempuan yang tengah duduk di depannya, perempuan itu menggunankan snelli itu artinya dia juga seorang dokter.
"Siapa dia??" Batin Ita. Sepertinya mereka sedang berbicara santai, bahkan sesekali Ita melihat Rehan yang sesekali tersenyum menanggapi ucapan dokter itu, "apa lagi ini??" Gumam ita melihat pemandangan seperti ini, saat ita mau memberi tahu keadaannya kepada Rehan, namun sepertinya Rehan sudah tak peduli lagi dengannya.
"Apa dia sudah tidak menganggapku?? Gumam ita lagi, tanpa ia sadari sebulir air mata menetes dari pelupuk mata Indah ita, dengan berat hati Ita meninggalkan ruangan Rehan, tenaganya sudah habis saat melihat mereka berdua, memang terlalu terburu-buru kalau ita menyimpulkan wanita itu disaat Ita hanya melihat wanita itu dari belakang.
Ita mencoba menahan tangisnya, ia tidak boleh menangis di sini, harus ia tahan sampai ia sampai di ruangannya.
*****
Tock.. tok.. tok.. suara pintu kerja Rehan diketuk saat Rehan hendak makan siang.
"Masuk" ujar Rehan, ia mengurungkan niatnya untuk makan.
Dan siapa yang masuk?? Seorang wanita dengan jilbab marun menutupi rambutnya, rehan seperti pernah melihtnya namun tidak ingat siapa dia.
"Siapa?" Tanya Rehan saat wanita itu sudah masuk ke ruangnnya.
Dengan wajah sumringah dan semangat, wanita itu duduk di hadapan Rehan, padahal Rehan belum mempersilahkannya duduk.
Rehan mencoba mengingat wajah itu, memang tidak asing namun tetap saja Rehan tidak mengenalinya, "siapa ya??" Tanya Rehan polos.
Alya menghela napas panjang, bisa-bisanya ia lupa dengan adik tingkat sewaktu kuliah, adik tingkat yang begitu tetkenal se fakultas bahkan se kampus karna kecantikannya, "huh, saya Alya."
"Alya??" Rehan masih berusaha mengingat nama Alya, namun tak kunjung ketemu, "alya siapa??" Tanya Rehan lagi.
"Asataghfirullah, Alya dokter, alya adik tingkat dokter sewaktu di kampus" ucap alya memperkenalkan diri dengan bangga.
Rehan masih mengingat-ingat, Alya adik tingkatnya sewaktu kuliah, "ooohh Alya.." ucap Rehan semangat juga diiringi tawa saat akhirnya mengingat orang didepannya.
Saat itulah, Ita melihat Rehan tertawa didepan wanita lain, ita tak tahu apa yang mereka bicarakan, namun rehan nampak bahagia berbincang dengan wanita itu, hingga ita memutuskan untuk pergi dari depan ruangan rehan, menyisakan rasa sakit yang baru.
*
"Ada urusn apa kemari??" Tanya Rehan to the point.
Dan sekarang Alya kikuk dibuatnya karna, karna Rehan menanyakan alasan apa ia kemari, padahal Alya kemari hanya ingin melihat Rehan.
"Halo??" Rehan melanbaikna tangan di depan wajah Alya yang melamun melihatnya sembari senyum-senyum sendiri.
"Ah" Alya sadar dari lamunannya, "gimana dokter??" Tanya Alya yang memang tidak fokus dari tadi.
"Ada apa kemari??" Tanya Rehan.
"Oh itu, saya mau memastikan keadaan pasien rujukan kemarin, bagiamana dokter keadaannya??" Tanya alya sedikit gugup.
"Saya belum memeriksa keadaan pasiennya langsung, namun dokter Rangga sudah memeriksanya, keadaanya baik-baik saja, saya akan segera menjadwalkan untuk operasinya karna operasi saya seminggu kedepan penuh, kalau keadaannya tidak bisa menunggu seminggu kedepan, nanti pasti akan dokter Hammam yang menangani operasinya" jelas Rehan.
"Aaahh" alya mengangguk mengerti, sebenarnya Alya ingin membicarakan sesuatu yang tidak formal namun Rehan sepertinya tidak ingin membicarakan sesuatu yang diluar pekerjaan.
"Masih ada yang ingin dibicarakan??" Tanya Rehan.
"Ah itu, apa.." Alya mencoba mancari topik pembicaraan lagi.
"Apa dokter sudah menikah??" Ceplos alya karna saking penasarannya.
"Apa??" Rehan memastikan pertanyaan Alya, kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu??.
"Iya apa dokter sudah menikah??" Alya mengulang pertanyaannnya.
"Kalau tidak ada masalah pekerjaan yang mau dibicarakan lagi, saya mau pergi sekarang" ujar Rehan.
"Jadi benar dokter belum menikah??" Tanya Alya sata Rehan menghindar dari pertanyaan Alya.
"Tidak, saya sudah menikah" jelas Rehan.
Lessss... Hti Alya bak dihantam batu saat Rehan bilang ia sudah menikah, tidak ada lagi yang bisa Alya lakukan.
"Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya harus pergi sekarang" Rehan berdiri dari duduknya dan dengan terburu-buru ia pergi keluar dari ruangannya meninggalkan Alya sendiri di ruangannya.
Saat Alya bertanya dirinya sudah menikah atau belum, seketika itu juga Rehan mengingat Ita, bahkan di Rumah sakitpun Rehan tidak melihat ita, jadi Rehan berniat untuk pergi ke rumah Ita mencari keberadaannya.
Sembari berjalan, Rehan menelpon rangga, "tolong handle apabila ada keluhan pasien, nanti malam sebelum operasi saya akan kembali lagi" ujar Rehan dalam sambungan telponnya.
"Ya dokter siap."
Rehan segera menuju parkiran, ia harus segera menuju ke rumah Ita, Rehan melajukan mobilnya menuju rumah Ita, dari gerbang rumah ita, rehan tak melihat mobil ita terparkir.
"Apa dia tidak ada di rumah?? Tapi kemana dia, di rumah sakitpun tidak ada dirinya" gumam Rehan saat sampai di gerbang rumah Ita.
Rehan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ita, Rehan turun dari mobilnya, mengetuk pintu rumah beberapa kali, mengucapkan salam, juga menekan bel rumah beberapa kali, namun tak ada jawaban apapun dalam rumah.
"Den Rehan??" Panggil suara perempuan dari belakang, Rehan segera berbalik badan melihat siapa yang yang memanggilnya.
Mata rehan berbinar saat melihat mbik jah yang datang dari belakang, "mbok jah??."
"Den rehan ngapain disini?" Tanya mbok jah yang baru pulang dari kampung.
"Mbok jah baru pulang dari kampung!?" Tanya rehan saat melihat barang bawaan mbok jah yang ia jinjing.
"Iya aden, sudah seminggu mbok jah pergi, pas non ita pulang ke rumah aden, jadi saya langung pulang kampung karna saudara saya ada yang sakit" jelas mbok jah.
Deg.. begitulah hati yang Rehan rasakan saat mbik jah bilang Ita pulang ke rumah Rehan, padahal selama ini Ita tidak ada di rumah Rehan.
"Mbok.. bisa bukakan pintunya sekarang?!" Pinta rehan dengan wajah cemas, tangan rehan sudah panas dingin mencemaskan keberadaan Ita.
"Iya aden" mbok jah segera membukakakn pintu saat melihat Rehan begitu khawatir, seakan ada sesuatu yang terjadi.
Mbok jah segera membukakan pintu, secepat mungkin Rehan masuk ke dalam rumah, dengan berlari Rehan menuju ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar ita dan Rehan saat tinggal disini.
Kosong, rapi, itulah yang rehan lihat saat masuk ke dalam kamar, tak ada ita didalam, ita juga tak ada di rumah sakit, sedangkan mbok jah tadi bilang kalau ita pulang ke rumah rehan.
Rehan sedikit demi sedikit mulai melangkah ke dalam kamar, kenangan-antara Rehan dan Itapun kembali terulang, sedikit waktu bersama namun begitu melekat dalam pikiran, ditempat ini, Rehan mendapatkan kabar baik dari Ita saat ia mengandung.
Rehan tersenyum saat kenangan indah itu terulang, begitu juga kenangan saat Rehan dan Ita harus mengikhlaskan calon bayi mereka, tidak! Itu sekarang bukanlah hal yang penting daripada Rehan harus kehilangan Ita.
"Kemanakah dirimu sekarang?? Apa kau baik-baik saja??" Gumam Rehan melihat kamar yang kosong dan rapi, tidak biasanya kamar ini rapi, pasti ada saja buku yang terbuka, kertas yang tersebar.
Pandangan Rehan beralih ke almari sudah banyak kertas yang Ita tempelkan di almari, ini adalah kegiatan ita dan Rehan untuk saling memberi kabar, Ita menulis banyak kertas di almari tersebut.