You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
13



Bertanyalah seperti orang-orang bodoh bertanya. Menghafalah seperti orang-orang cerdas menghafal.


Ali bin Abi Thalib


Al Hikam Ali bin Abi Thalib, 94


🌹


Pagi ini ita tidak akan mengulangi kesalahannya yang kemarin, yaitu datang terlambat, kalau dia datang terlambat, bisa-bisa ia ditelan hidup-hidup oleh ichal.


Ita datang tepat waktu, ia segera ke ruang kerjanya, membereskan file catatan medis para pasiennya.


"Permisi." Seorang perawat datang, ia mnyerahkan stopmap berwarna kuning kepada ita.


"Ini hasil tes dari pasien Anya" ucap perwat itu.


"Oh iya makasih ya sal" ucap ita ramah.


"Iya dokter ita, yasudah saya permisi dulu dokter ita, Dokter Airin, Selamat bekerja" pamitnya sebelum menghilang di balik pintu ruangan.


Ita senang sekali saat hasil tes Anya keluar lebih cepat dari dugaanya, ita harus cepat memberikannya pada Rehan, tapi sebelum itu ia harus menyelesaikan berkas pasien yang lain.


"Tata" panggil Airin yang mulai mendekat ke mejanya, Tata adalah nama panggilan Airin kepada ita sejak mereka kuliah.


"Hmmm."


"Gue ada hot news ta, sumpil ini hot news parah."


"Pagi-pagi jangan gosip deh" sahut ita malas menanggapi ocehan sahabatnya.


"Ah kalo ini dijamin lo bakal kaget, ini si parah." Airin berusah membuat ita penasaran, tapi ita tak begitu penasaran dengan gosib akhir-akhir ini.


"Tentang apa?." Ita masih membaca catatan pasiennya.


"Ini tentang dokter Rehan."


Pandangan ita beralih ke Airin yang sudah duduk di depannya sejak tadi. Ita mulai penasaran jika itu menyangkut Rehan, tapi ia masih menutupi rasa penasarannya, dengan sok sibuk melanjutkan aktifitasnya.


"Jadi tadi malam, gue lihat pake mata kepala gue sendiri."


"Lihat apa?." Ita semakin penasaran, sampai ia lupa kalau ia harus pura-pura tidak peduli.


"Ah lo,bilangnya ngga peduli, padahal aslinya lo kepo banget kan"sindir Airin.


"Ih airin, tinggal ngmong juga" ita mendengus kesal.


"Iya-iya, gue lanjutin,"


"Jadisemalam gue lihat mobilnya Dokter Rehan itu parkir di depan butik pengantin ta, lo bayangin ta, butik pengantin, itu si pasti berarti dokter Rehan mau nikaaaah,"


"Aduuuh itaa, rumah sakit ini bakal kehilangan satu oppa." Ucapan Airin tetdengar merengek.


"Gue yakin banget itu mobilnya dokter Rehan, gue hafal betul nomer platnya" ucap airin dengan yakin.


"Lo ngapain ngapalin plat mobil dokter Rehan."nada ita terdengar nyolot.


"Ngegas lu bambank" semprot Airin, mendengar jawaban ita yang nyolot.


Ita menghela napas panjang,mencoba menjaga emosinya, ia berniat akan memberi tahu semua rekan kerja tentang pernikahannya dengan Rehan saat menyebar undangan saja.


"Ta, kok lo ngga kaget si, ini yang mau nikah dokter Rehan lo,"


"Aduuh, ngga bisa bayangin, pasti yang jadi calon istrinya dokter Rehan itu cantik, pinter dan sholihah sampe dokter Rehan mantab milih dia,"


"Beruntung banget tuh cewe, jadi penasaran."


Airin menatap sahabatnya dengan tatapan bingung, Airin sedang memuji calon dokter Rehan, tapi kenapa dia yang senyum-senyum, wajhnya juga sekarang berubah merah padam.


"Woy" gebrak airin yang berhasil menyadarkan ita.


"Ngapain lo cengar-cengir kek gitu." Airin merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini.


"Lo yang sabar ya ta, emang berat ditinggal nikah ama doi" Airin mengelus pundak ita.


""Siapa yang ditinggal nikah, orang kita nikahnya bareng" ceplos ita yang kemudian pergi meninggalkan Airin. Airin menatap kepergian sahabatnya dengan tatapan bingung, maksut ucapannya tadi apa?.


"Halu." Itulah yang Airin ucapkan untuk sahabatnya yang baru saja keluar.


🌹


"Permisi dok, Assalamualaikum" salam ita saat memasuki ruangan Rehan.


"Wa'alaikumussalam."


Tanpa dipersilahkan duduk, ita sudah duduk terlebih dahulu, ia sangat bersemangat memberitahukan tentang hasil tes Anya yang sudah keluar.


"Ini dokter,hasil tes pasien Anya" ucap ita sembari menyodorkan stopmap kuning.


Rehan mengambil laporan itu dan membaca secara teliti. Dan ita yang harusnya keluar saat ia sudah memberikan laporan itu, nyatanya ia malah masuh terduduk di deoan Rehan. Rasa penasaran ita sangat tinghi tentang kasus itu.


Rehan membuka laporan itu di depan Ita, meminta Ita untuk memperhatikan hasil tes itu.


"Apa diagnosamu?" Tanya Rehan pada ita yang sedang serius melihat gambar otak Anya di monitor.


"Dia berumur kurang dari 30 tahun,jadi tidak mungkin itu gejala kemunduran" ucap Ita.


"Jadi itu Resting Tremor atau Action Tremor?" Tanya ita sembari melihat Rehan sekilas.


"action Tremor" jawab Rehan yakin.


"Intention Tremor atau essential Tremor?" Tanya ita semakin penasaran.


Rehan senang melihat semangat ita dalam mencari tahu sesuatu "Pertama itu intention tremor, tapi sekarang tangannya gemetar tiap hari kecuali tidur" jelas rehan.


"Apa penyebab kedua tremor itu?" tanya rehan seakan sedang menguji Ita.


"Intention tremor terjadi saat ada masalah di otak kecil, essential tremor belum diketahui penyebabnya" jawab ita dengan mantap.


"Pengobatannya?" Tanya Rehan lagi.


"Kebanyakan pasien biasanya diobati dengan obat seperti propranolol atau primidone."


"Beri aku jawaban neurosugery?" Tanya rehan lagi.


"DBS ( Deep Brain Stimulation )" jawab Ita.


"Benar."


menajawab semua pertanyaan Rehan debgan tepat.


Ita terdiam sebentar, seperti ada yang ia pikirkan.


"Apa dokter akan melakukan oprasi saat pasien sadar(Awake Surgery)?" Tanya ita penasaran.


"Ya" jawab Rehan tegas.


Mata ita berbinar saat mendengar rehan akan melakukan oprasi itu, ita berharap dia akan dipilih sebagai asistennya.


"Apa saya bisa jadi asisten anda?" Tanya Ita penuh harap.


"Tentu saja" ucap rehan dengan senyum mengembang.


Ita senang sekali mendengar hal ini "hah? Seriuss? Saya ngga pernah melakukan itu dokter, dan sekarang saya senang sekali bisa melakukannya" ucap ita begitu gembira saat diberi kesempatan langka seperti ini.


"Terimakasih dokter." Ita masih belum bisa menahan senangnya, kalau saja Rehan itu sudah halah bagi Ita, tentu Ita sudah meremas tangan Rehan, tapi karna mereka belum halal, jadi ita hanya bisa meremas tngannya sendiri.


"Persiapkan dirimu dengan baik" ucap Rehan pada ita yang begitu bahagia.


"Ya ya pasti dok"ita mengangguk pasti.


"Eemmm ita, kalau misal ngga ada orang seperti ini, jangan panggil saya dokter" printah Rehan yang ingin dipanggil mas atau semcamnya. Tapi ita masih belum mengerti maksut rehan, bukannya tidak sopan ia memanggil dokter seniornya dengan panggilan selain dokter?.


"Bukankah 5 hari lagi kita akan menikah?" Ucap Rehan berharap Ita mengerti maksutnya.


Rehan ingin Ita mulai membiasakan dirinya dengan panggilan selain dokter.


"Aah iya dokter, jadi dokter ingin dipanggil apa?" tanya Ita serius.


Pertanyaan ita benar-benar diluar dugaan Rehan, rehan pikir ita akan langsung menentukan panggilannya, tapi ia malah bertanya ingin dipanggil apa, itu membuat Rehan grogi dan salah tingkah.


"Hah?,"


"Sudahlah lupakan, kamu bisa keluar sekarang" titah Rehan tak ingin Ita sadar kalau ia sekarang sedang salah tingkah.


Ita menahan senyumnya saat mengetahui Rehan sedang salah tingkah, ia kini seperti sedang pura-pura mwnulis tapi tak tahu apa yang ditulis, itu membuat ita menahan senyumnya.


"Iya kak, ita keluar dulu,"


"Assalamu'alaikum" salam ita yang kemudian menghilang dari balik pintu.


Gawat, jantung Rehan kini berdetak lebih cepat dari biasanya, Rehan memijat bagian jantungnya, merasakan detak yang abnormal. "Barusan dia panggil apa? Kak?."


Jantung Rehan sedang dibuat tak normal oleh Ita, ia tak pernah seperti ini sebelumnya.


🌹


Berbeda dengan Rehan yang sekarang sedang dibuat tak karuan denganpanggilan 'kak' yang diberikan oleh Ita. Sekarang ita sedang tak karuan senangnya karna diberi kesempatan ikut Awake Surgery yang pertama kali ia akan lakukan.


Di sepanjang perjalanan Ita dari ruangan Rehan sampai ke ruangannya, ia selalu menebar senyum dan sapa.


"Halo, gimana kabarmu?" Sapa Ita ramah pada salah seorang pasien yang sedang keluar dari kamarnya.


"Baik dok" jawabnya.


"Alhamdulillah, jangan lupa minum obat ya" ita tersenyum sambil mengelus rambut bocah itu dan kemudian berlalu menyapa yang lain.


Kini ita bsrhenti di tempat administrasi. Karna kedaan yang lumayan lengah, jadi ita kesana untuk sekedar mengobrol dengan petugas medis disana, lagipula ia juga melihat Airin disana.


"Haiii semua" sapa ita kepada 2 perawat yang bertugas di administrasi, 2 dokter yabg tak lain adalah Airin dan Kiki.


"Halo dokter ita" jawab yang lain.


"Lagi ngapain?" Tanya ita.


Salwa kemudian memberikan satu tusuk sate pemberian keluarga pasien.


"Ini dari keluarga pasien Ameera, keluarga baik sekali dok" puji salwa.


Ita mencari tempat duduk sebelum ia memakan satu tusuk sate itu, ia memilih duduk di sebelah salwa.


"eeuuum enak banget,"


"Ngga ada lontongnya?" Tanya ita, rasanya akan lebih nikmat kalau makan sate beserta lontong, yah itu mmebuat Ita lapar sekarang.


"Seneng banget ta, habis dapat apa?" Tanya Airin penasaran melihat sahabatnya dari tadi yang terus mengembangkan senyum.


"Ekeehmmm" ita berdaham mengatur suara sebelum ia menceritakan alaaan ia bahagia hari ini.


"Jadii gue dapat kesempatan Awake Surgery" ucap ita bahagia dengan nada sedikit menjerit.


"Terus?" Tanya kiki, ia merasa tak ada yang special dati oprasi, kiki hanya merasa berada dibawah tekanan saat berada di ruang operasi.


"Ya ki, inikan awake surgery pertama gue, jadi ya gue exited banget lah" balas ita.


"Tunggu-tunggu, emang seniornya siapa?" Tanya Airin penasaran.


"Dokter Rehan."


"Aaah pantes aja lo seneng banget, lah lu jadi asistenya dokep" sindir Airin.


"Dokter ita berintung banget sih, bisa jadi asistennya dokter Rehan pas Oprasi, Salwa juga pengen."


"Pengen apa?" Tanya ita pada salwa yang seperti sedang menghayal.


"Pengen jadi istrinya dokter Rehan" jawab Salwa dengan Pd.nya.


"Enak aja" gebrak Ita, ia menggebrak meja administrasi, sontak semua memperhatikan tingkah ita yang sangat sensitif.


Tanpa mereka ketahui, Rehan juga menyaksikan adegan ita menggebrak meja saat salwa ingin menjadi suaminya, tingkah ita kembali membuat jantung Rehan berdegub abnormal lagi.


Sejurus setelah ita menggebrak meja, kini meja itu digebrak kedua kalinya, tapi bukan digebrak Ita, melainkan harimau Rumah Sakit.


"Sejak kapan Rumah Sakit ini ada komunitas ngrumpi ha?" Sentak Ichal yang membuat semua bergidik ngeri.


"Maaf dok" ucap Kiki.


"Dari tadi haha hihi, balik cepat" titah ichal dengan sentakan khasnya.


Dengan segera Ita dkk meninggalkan meja administrasi dan segera melakukan kegiatan keliling bangsal, menurut ita, ini adalah bagian yang menarik sekaligus melelahkan untuk Ita,


Menarik karna ia bisa berinteraksi lengsung dengan pasien juga keluarga pasien yang berbeda-beda, banyak pelajaran yang selalu ita dapat dari kegiatan kelilingnya ini.


Melelahkan karna ia harus kelilibg jalan kaki mengelilingi Rumah sakit besar ini. Andai saja keliling rumah sakit boleh pakai scooter, pasti ita sudah membawa secooter di rumah yang tidak terpakai.